kosong
January 18th, 2008
It was all perfect. Was.
Yosi adalah laki-laki yang sempurna untukku. Sepuluh tahun lebih perbedaan usia kami tampak semakin melengkapi kesempurnaan ini.
Pesta itu. Pesta itu tak henti-hentinya menyunggingkan senyum di sudut bibirku. Bahkan sampai saat ini, setelah lima tahun berlalu dan seharusnya aku mengutuk perkawinan ini, aku masih saja mengenang musiknya, aroma berbagai makanan yang ada, siapa saja tamu yang datang. Semuanya. Pesta itu memang tidak layak disebut pesta sama sekali. Tidak ada gaun pengantin, bunga di sana-sini, gamelan megah, dekor meriah, dandan berlebihan dan aroma parfum pengunjung yang berbaur di sana. Kami hanya mengundang orang-orang yang memang mau menghargai sebuah ikatan sacral bukan sekedar proyek narsis dan buang-buang uang.
Lima tahun lalu, halaman belakang rumah kontrakan Yosi diubah menjadi ajang mini konser. Murid-murid kursus vokalku, teman-teman kuliah, beberapa teman Yosi, para musisi jalanan, sahabat, saudara, semua berkumpul dan bebas melakukan apapun di panggung itu. Pidato, melawak, bermain musik. Bebas.
Tidak ada catering mewah yang dipesan. Semua makanan adalah berasal dari pedagang kaki lima langganan kami. Sate kambing pak Amat Ciledug, roti bakar Edi, Siomay Bandung Slipi, Burjo Warning Blok M, rujak bebek yang suka lewat di depan rumah, Bubur Ayam Sukabumi Radio Dalam.
“Mom, it’s my once in a lifetime party. Let me be my self, please.” Entah berapa kali aku harus berdebat mempertahankan keinginanku membuat acara perkawinan yang aku banget. Mama sendiri tidak kalah ngototnya karena merasa bahwa ini juga akan menjadi kesempatan satu-satunya untuk menikahkan anak. Mantu, istilah jawanya. Karena adikku adalah laki-laki. Menurut adat Jawa hak untuk merayakan pernikahan ada di pihak perempuan. Fathur Cuma senyum-senyum menyaksikan setiap perdebatanku dengan mama. Paling kalau sedang baik hatinya, dia akan memeluk mama dan bilang, “Mom, you’ll be the queen on my party. Just let her go. She’s an artist mom.” Biasanya kalimat itu cukup manjur kalau diikuti dengan acara jalan-jalan ke mal. Stress mama cukup mudah dihilangkan. Mal. Hanya itu jawabannya. Dan Fathur yang lebih banyak menemani mama jalan dibandingkan aku. Aku sering curiga dan menuduh adikku gay, hanya karena hoby belanjanya mengalahkan aku yang perempuan.
Sekarang semua pesta itu sudah berakhir. Yosi suami… uhm, well, mantan suamiku tepatnya, harus menerima akibat dari perbuatannya, aku sering bilang sama dia bahwa aku memang bukan orang yang percaya pada karma. Tapi dunia ini memang berisi hukum sebab akibat. Semua hasil yang diperoleh manusia dan semesta ini selalu memiliki sebab. Alasan. Dan untuk sebuah perbuatan selalu ada akibat. Itu tidak bias ditolak. Dia pikir, berpuluh-puluh test pack yang selalu bergaris satu itu tanpa penyebab? Dia salah. Mungkin saja memang karena aku yang kurang subur, tapi bisa juga karena spermanya yang malas dan kurang giat menemukan sel telurku. Sebagai dokter kandungan, tentu saja Yosi lebih tahu tentang kondisi kandunganku daripada aku sendiri. Tapi di dalam perutnya kan tidak ada kandungan. Jadi apa salahnya kalau aku memaksa dia melakukan test kesuburan.
“Well baby, it’s all done. I’m great, you’re perfect. It’s all about time. Be more patient, ok?” Yosi selalu memintaku untuk bersabar. Aku memang sering disabarkan oleh banyak orang, banyak pasangan lain di luar sana yang bahkan harus menunggu sampai belasan atau bahkan puluhan tahun untuk mendapatkan keturunan. Tapi lima tahun sudah seperti selamanya buatku. Apalagi dengan kondisi yang dinyatakan sehat-sehat saja, baik-naik saja. Bagaimana it semua tidak mebuatku semakin senewen?
Yosi adalah salah satu resident papa. Aku mengenalnya sejak kuliahku masih belum selesai. Tidak pernah sedikitpun terpikir untukku akan mejadi istrinya. Dia tidak mengerti musik sedikitpun. Dia hanya tahu lagu-lagu yang diputar klipnya di TV atau disetel oleh radio yang didengarkannya selama berada di dalam mobil. Menurut Yosi gitar dan bass gitar adalah benda yang sama. Dia bahkan tidak notice kalau jumlah senarnya berbeda. Piano dan organ hanya beda ukuran, dan semua penyanyi adalah sama. Yang membedakan mereka adalah peruntungan dan promosi. “Oh my God, Darling… Kenny G plays saxophone and he doesn’t even sing.” Entah berapa kali aku harus meralat ketika dia menyebut Michael Bolton sebagai Kenny G.
Yang membuatku memutuskan untuk menerima lamaran Yosi adalah ketika kutemukan satu bendel bukti pembayaran SPP milik anak-anak jalanan di dalam mobilnya. Yosi sejak kecil hidup dari beasiswa. Ada yang didapatnya dari Negara, orang kaya yang baik hati, perusahaan rokok, dan masih banyak lagi lembaga yang memberinya beasiswa. Dia membalasnya dengan menjadi orang tua asuh untuk anak-anak yang kurang beruntung. Proses pacaran kami tidak lama. Hanya satu tahun. Aku dengan kemudaan dan impian-impian romantisku tentang keluarga muda. Yosi dengan kematangan dan kemapanan hidup. It’s nothing to worry about. Semua akan berjalan dengan sempurna.
Sampai saat itu datang. Kutemukan satu persatu mimpiku dihempaskan dari tebing yang tinggi.
“I really don’t want to do that, Moethi.” Rajuknya setelah mencoba mengingkari perbuatannya dan tidak berhasil. “You know, last thing I wanna do is to hurt you.”
“And now you do.”
Wajahku sudah beku.
“Since when?”
“This is the first time, trust me.”
Aku tidak pernah bisa mempercayai orang yang sudah pernah membohongiku. Menurutku Yosi pasti akan tetap bilang kalau ini adalah yang pertama. Padahal, siapa yang tahu sejak kapan dia melakukannya.
“I know you will always say that this it the first time. You’re right. The first time you get caught.” Sekarang hatiku yang beku.
Setelah berjanji dan bersumpah, kupikir Yosi tidak akan melakukannya lagi. Aku berharap dia menyesal dan berpikir sama denganku, bahwa karena perbuatannyalah maka Tuhan belum mengkaruniakan keturunan pada kami.
“This girl needs me, darling. She needs me even more. She was raped. I just helped her.” Menurut Yosi, apa yang dilakukannya adalah salah satu bentuk pertolongan, dia berpikir bahwa dia sudah menjadi malaikat, dewa, atau bahkan Tuhan. Dia tidak sadar bahwa dia sedang melakukan sebuah kejahatan. Kalau dia bertahan terus melakukannya entah untuk alasan apapun, maka aku yang akan mundur. Mungkin selama ini aku yang membutakan diri. Aku hanya melihat sisi indah yang ingin kulihat dari Yosi. Suami yang dokter. Dokter yang baik. Kebaikan yang penuh idealisme. Yosi tidak mau membuka praktek di rumah. Alasan Yosi cukup membuatku tenang. Karena dia tidak mau mencampuradukkan pekerjaan dengan urusan rumah. What a husband. Suami yang penuh cinta. Dia juga memenuhi semua kebutuhanku sebagai istri dan perempuan. Dia adalah kepala keluarga yang luar biasa.
Tapi ternyata ada sisi yang tak kulihat di belakangnya. Di balik alasannya menjauhkan praktek dari rumah, ternyata ada permainan yang tidak kuketahui. Pemainan yang akan membawanya ke api neraka. Dan aku memilih tidak ikut bersamanya.
Aku berjuang untuk mendapatkan keturunan dari pernikahan ini. Sementara dia berjuang untuk menghentikan kehidupan yang akan ada di dunia. Yosi membantu perempuan-perempuan yang hamil di luar nikah untuk menggugurkan kandungan mereka. Tidak semua perempuan itu nakal. Kebanyakan dari mereka adalah yang kurang beruntung. Anak jalanan yang tidak mengerti bagaimana menjaga dirinya sendiri, korban perkosaan, anak hasil insest. Walaupun ada juga yang sudah berkali-kali melakukan aborsi karena gaya hidupnya.
“This relationship is not gonna work, Mas. We both walk into different destination.”
“No darling, you just don’t understand me. Yet.”
“Never.”
Saat itu juga kuminta Yosi menceraikanku. Aku bersedia menjaga bersih nama baiknya. Aku juga tidak menuntut apapun dari yang terserak dalam pernikahan kami. Yosi memilih pergi dari rumah. Mungkin dia bermaksud membayar tutup mulutku dengan rumah baru kami. Rumah kosong ini. Yang akan kubiarkan seperti ini. Seperti hatiku.

April 6th, 2008 at 5:19 am
I couldn’t understand some parts of this article g, but I guess I just need to check some more resources regarding this, because it sounds interesting.