olivia dan gadis korek api

January 18th, 2008

Aku tidak mengerti kenapa ibu melakukannya padaku. Setiap kali aku tidak paham apa yang ibu katakan, dia bilang aku bodoh. Padahal sebenarnya aku hanya ingin ibu mengulang sekali lagi perintahnya. Aku sering berpikir ibu tidak sayang padaku. Ibu memang tidak pernah memukulku. Tidak seperti yang sering dilakukan ibunya Ryan atau Fajri kalau mereka pulang sekolah dengan baju dan wajah yang kotor karena baru saja berkelahi. Tapi ibu kedua temanku ini selalu memeluk anak mereka setelah memukul. Kadang aku ingin ibu memukulku, mencubit atau mencakarku kalau ibu mau. Asal setelah itu, ibu mau memelukku.
Aku tidak ingat kapan terakhir kali ibu memelukku. Mungkin memang waktu itu aku belum ingat apa-apa. Mungkin waktu aku masih menyusu. Karena setahuku setiap ibu yang menyusui anaknya pasti akan memeluk anak-anak itu. Ibu melakukannya pada adikku. Maretta selalu dipeluk ibu setiap kali menangis. Ibu juga tampak sayang padanya. Kadang aku ingin membuang Maretta ke tempat sampah, atau mengembalikannya ke rumah sakit, tempat dia diambil dulu.
“Olivia! Kamu ngapain di situ? Air yang di belakang itu sudah dibawa masuk belum? Ini sudah sore. Adikmu perlu dimandikan.” Teriakan ibu membangunkanku dari bayangan dan rencana untuk menyingkirkan Maretta.
Untuk menghemat minyak tanah, ibu bisaa memandikan Maretta dengan air yang dijemur di panas matahari sepanjang siang. Aku yang bertugas menjemur air itu setiap pulang sekolah dan menariknya lagi ke dekat sumur di belakang rumah kalau matahari sudah mulai tertutup dinding rumah Ryan. Menurutku, air di dalam ember itu terlalu berat untukku, sering kali lebih banyak yang tumpah keluar waktu aku menariknya. Tapi kalau bukan aku yang melakukannya, siapa lagi. Menurut ibu tugas seorang anak adalah membantu orang tuanya. Bu guru di sekolah juga bilang begitu. Kalau memikirkan beratnya tugasku di rumah, aku selalu merasa iri pada Maretta. Dia tidak mendapat beban yang sama.
Sebenarnya adikku itu lucu sekali. Tapi aku tidak pernah diijinkan menggendongnya. Mungkin aku memang masih terlalu kecil untuk menggendong seorang bayi. Kata bu guru, aku harus menunggu 3 bulan lagi sampai Maretta bisa duduk sendiri. Tiga bulan itu artinya aku harus menghabiskan 4 kali 3 minggu, karena sebulan isinya ada empat minggu. Berarti aku harus menunggu hari minggu sebanyak 12 kali. Ah, banyak sekali. Rasanya aku sudah tidak sabar untuk bisa menggendongnya agar punya alasan untuk membantu ibu. Ibu selalu bilang kalau aku anak yang tidak berguna. Tidak bisa membantunya sama sekali. Aku memang kasihan pada ibu. Semenjak ayah pergi, dia mengerjakan semuanya sendiri. Ibu harus bekerja di malam hari. Dia bilang ibu bekerja di tempat orang-orang dewasa bernyanyi. Tapi tetangga-tetangga bilang, ibu bekerja sebagai penjaja cinta. Aku tidak tahu apa artinya. Tapi menurutku ibu sangat berjasa. Karena ibu membagikan cintanya pada banyak orang. Sementara siang hari ibu mengerjakan pekerjaan rumah yang memang tidak pernah habis. Memandikan Maretta, memasak untukku, mencuci dan setrika baju-baju kami, membersihakn rumah. Banyak sekali.
Aku tidak tahu kemana ayah pergi. Dia begitu saja menghilang waktu perut ibu masih besar. Setiap kali aku bertanya kemana ayah pergi, jawaban ibu tidak pernah sama. Sekali ibu pernah bilang kalau ayah pergi berlayar. Tapi waktu ibu sedang marah, dia bilang ayah pergi dengan perempuan lain. Sebulan yang lalu ibu bilang ayah masuk penjara. Mungkin ibu jadi pelupa sekali karena banyaknya pekerjaan yang harus dikerjakannya. Aku juga suka lupa pelajaran yang diberikan guruku, kalau dia menerangkan terlalu cepat, atau memberikan pelajaran yang terlalu banyak.
Hari ini ibu didatangi dua orang laki-laki berbadan besar. Mereka berbicara kasar dengan bahasa yang tidak bisa kumengerti. Ibu tampak sangat ketakutan tapi dia sama sekali tidak menangis. Aku dan Maretta kalau ketakutan akan menangis. Aku mau seperti ibu. Semoga ketika sudah besar nanti, aku tidak perlu menangis lagi kalau ketakutan.
Ibu menyuruhku keluar rumah dan dia mengunci dirinya bersama dua laki-laki itu di dalam rumah. Aku tidak tahu apa yang dilakukan ibu. Tidak ada yang bisa memberitahuku apa yang sedang mereka lakukan di dalam. Tapi aku merasa ingin sekali menangis. Maka aku menangis sambil berjalan menjauhi rumah. Menjauhi suara derit amben kayu di kamar ibu.
Jam empat sore aku pulang dan menemui ibu sedang duduk di lantai dengan pandangan kosong. Aku takut mendekati ibu. Aku berharap ayah tiba-tiba dating dan semua masalah kami selesai. Yang kutahu, orang laki-laki banyak menyelesaikan masalah. Waktu ibu tidak punya uang dulu, ayah yang memberinya. Ayah juga yang membayar uang sekolahku. Kepala sekolahku juga laki-laki. Dia selalu menyelesaikan masalah teman-temanku yang suka berkelahi. Tapi sekarang ayah tidak ada. Jadi aku yang harus melakukannya untuk ibu. Aku akan menjadi penjaga ibu.
“Kenapa ibu menangis?” air mataku sendiri masih berbekas di pipi.
Aku mendengar isakan ibu. Inilah untuk pertama kalinya aku mengingat kembali bagaimana rasanya pelukan ibu. Dia memelukku begitu erat. Aku hampir tidak bisa bernafas. Ibu memeluk sambil menangis sesenggukan. Menangis seperti yang kulakukan tadi. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut ibu. Tapi aku tahu ibu pasti sedih sekali. Jarang kulihat dia menangis.
Waktu melonggarkan pelukannya, akhirnya kudengar suara ibu,
“Kalau kamu besar nanti, ingatlah untuk tidak bergantung pada orang lain. Kamu sangat cantik, kamu akan bisa melakukan semuanya sendiri. Jangan percaya pada laki-laki.”
Aku tidak membantah apa yang dikatakan ibu. Tapi aku tetap menyayangi ayah. Dan ibu sepertinya membaca pikiranku.
“Ayahmu adalah laki-laki paling baik di dunia.” Ibu diam sebentar. Dia terisak lagi, “Tapi dia juga laki-laki paling jahat. Jangan pernah berharap ayahmu akan kembali. Tidak ada laki-laki yang akan kembali pada perempuannya, ketika dia sudah memutuskan untuk pergi.”
Aku menangis. Aku sangat merindukan digendong ayah di pundaknya. Aku ingin bermain kuda-kudaan dengan ayah di dalam rumah. Aku ingin bergantung di lengan ayah dan dia memutar-mutarkanku seperti naik komedi putar di pasar malam. Aku tidak mau ayah tidak kembali lagi. Aku mau ayah. Aku mau punya ayah seperti teman-temanku. Aku tidak mau menjadi anak yatim.
Aku menangis. Tapi ibu semakin meyakinkan kalau bukan laki-laki yang dibutuhkan oleh perempuan. Tapi uang.
Malam itu, ibu menitipkan Maretta pada pembantu tetangga seperti bisaanya. Kalau bisaanya ibu meninggalkanku setelah aku tidur, kali ini ibu pergi lebih awal. Aku sedang mengerjakan PR dan ibu berpamitan padaku. Kali ini pesannya berbeda.
“Tidak usah kau selesaikan PR-mu Liv. Kalau mau nonton TV di rumah Ryan, nonton aja. Ibu nggak lama. Tapi nanti jam 9 udah sampai rumah ya.”
Tentu saja dengan hati girang aku mengikuti perintah ibu. Di rumah kami tidak ada TV. Dulu ayah pernah membelinya. Tapi ibu menjualnya setelah ayah pergi. Seperti ibu menjual sepedaku, kalung, gelang, dan kompor gas yang kami miliki.
Aku pergi ke rumah Ryan malam itu dan kami tidak menonton TV. Ryan punya mainan baru dan aku lebih suka mendengarkan semua ceritanya tentang mainan baru itu. Aku tahu aku tidak akan memilikinya. Tapi kalau aku mendengarkan cerita Ryan tentang bagaimana mobil-mobilan itu bisa berubah menjadi robot, mungkin suatu saat aku bisa menceritakan pada yang lain, seolah-olah aku sendiri yang memilikinya.
Tidak lama setelah aku lelah mendengarkan cerita Ryan dan peragaan mainannya, ibu memanggilku pulang. Aku senang ibu pulang awal. Akhirnya setelah sekian lama tidak merasakan dipeluk ibu, aku akan merasakannya. Atau kalau ibu tidak memelukku, aku yang akan memeluknya.
“Oliv, kamu ingat rasanya susu ibu nggak?” pertanyaan ibu malam ini aneh. Tentu saja aku tidak ingat.
Aku menggelengkan kepala.
“Kalau dongeng ibu yang kamu ingat?”
“Gadis Korek Api.” Aku tidak pernah melupakan dongeng itu karena ibu menceritakannya setiap saat, bergantian dengan dongeng tentang Gadis Berkerudung Merah.
“Malam ini, ibu mau berdongeng tentang Gadis Korek Api. Tapi sebelum dongeng ibu selesai, kamu harus sudah tidur. Ibu juga mau membuat susu untukmu. Biar badanmu sehat.”
Aku sudah lama sekali tidak minum susu di rumah. Aku minum susu kalau di sekolah sedang ada pembagian susu gratis. Aku senang sekali malam ini.
Aku ingat menghabiskan susu yang dibuatkan ibu di gelas dalam 5 kali tegukan. Ibu juga membimbingku berdoa. Seperti doa yang setiap hari diajarkan bu guru di sekolah. Setelah selesai berdoa ibu mendongeng tentang Gadis Korek Api sambil mengusap kepalaku. Ibu cantik sekali ketika sedang berdongeng. Aku sering merasa kalau sebenarnya dia adalah ibu Gadis Korek Api itu. Hanya saja rambut ibu tidak pirang.
Mendengar suara ibu bercerita aku seperti terbang. Aku merasa tubuhku semakin ringan dan melayang. Aku bahkan tidak mendengar bagaimana akhir cerita itu. Aku baru sampai pada bagian dimana Gadis Korek Api menyalakan korek terakhirnya. Dia bertemu lagi dengan ibunya. Ibunya memeluknya dan di depan mata Gadis Korek Api itu ada setumpuk makanan lezat dan kehangatan api dari perapian. Aku merasa akulah Gadis Korek Api itu. Merasakan kehangatan semu di dalam dingin.

2 Responses to “olivia dan gadis korek api”

  1. thea Says:

    taukah kamu, itu namaku yang kau sebut di situ

  2. Diyan Says:

    thea? nama yang mana?
    olivia-kah? atau maretta?

Leave a Reply