patah

January 18th, 2008

Haruskah langit mendung untuk menggambarkan perasaanku yang hancur saat ini. Matahari bahkan bersinar begitu cerah. Sudah tiga minggu hujan tidak turun. Udara pagi yang indah ini sama sekali tidak bisa kunikmati. Tidak kicau burungnya, tidak juga hangatnya sinar matahari, bukan merekahnya bunga melati. Tidak. Tak ada satupun yang terasa indah di indraku. Yang kuingat masih nafas berat itu. Yang setiap pagi diiringi batuk karena alergi dingin. Bahagiakah aku terbebas dari beban setiap pagi harus membetulkan selimutnya, mematikan pendingin ruangan? Senangkah aku karena tidak harus terbangun setiap kali dengkurnya mengeras?
Bahkan arti senang dan bahagia mulai kabur bagiku saat ini. Rumah indah dengan pagar tanaman seperti mimpi masa kecilku? Tidak lagi setiap jengkal tanah telanjangnya membuat bulu halus di tengkukku meremang. Barang-barang elektronik yang ditanam rapi ke dalam dinding agar membuatku bernafas lega dan debu harus berjuang untuk menyentuh mereka? Barang-barang yang sedang kupandangi saat ini? Adakah mereka membuatku senang? Rasanya aku ingin mengeluarkan mereka satu persatu, memecahkannya agar berhamburan. Setiap incinya memantulkan gambar Garna. Tidak ada satu barangpun yang kumiliki di rumah ini tanpa memasukkan ide Garna di dalamnya. Ini semua, adalah cerminan Garna dan aku. Kami berdua melebur di dalam rumah ini. Memandang dan meresapi setiap langkah di dalam rumah ini, berharap memberi energi dan bukan patah hati. Yang kuharapkan sekarang hanyalah bisa menjalani pagi biasa kembali setiap hari.
Garna. Dia memutuskan untuk pergi. Kusyukuri akhirnya dia berani memilih. Walaupun tak pernah berhenti kutangisi hingga kini pilihannya. Aku tidak yakin, mana yang lebih membuat kran air mataku menganga lebar. Kepergiaan Garna atau kenyataan bukan menjadi yang terpilih. Dibandingkan dengan perempuan itu, aku mungkin memang tidak ada apa-apanya. Dia memiliki semua yang tidak bisa kuberikan pada Garna. Kecantikan, kesederhanaan berpikir dan kemudaan. Tidak ada satupun yang bisa kubeli di pusat perbelanjaan kelas dunia sekalipun tiga kriteria ini. Seharusnya aku sudah tahu bahwa Garna memang akan berakhir pada perempuan ini.
Aku yang membawa perempuan itu masuk dalam hidup Garna, Olivia adalah anak kesayanganku. Maksudku tentu saja, dia pernah menjadi anak kesayanganku. Suara emasnya yang belum terasah, wajah yang menjual untuk menjadi penyanyi baru di dunia yang memang masih silau dengan bentuk dan warna, ketenangan menghadapi masalah. Semua dari dirinya menarikku untuk menjadikannya lebih dari sekedar murid kelas vocal seperti yang lainnya. Aku bahkan memasukannya ke dalam agenda pribadiku. Menonton bersama di tengah minggu sebelumnya adalah agenda berdua dengan Garna. Semenjak mengenal Olivia, aku berperan sebagai ibu dan kekasih. Olivia tidak pernah berada di antara kami. Dia berada di belakang, menjadi bayang-bayang.
Olivia adalah sosok kehidupan yang tidak hidup. Tidak sedikitpun kudengar ceritanya tentang masa lalu. Dia menjalani apa yang tampak di depan mata. Sesuatu yang selalu ingin kupelajari semenjak dulu. Aku adalah orang yang selalu memusingkan kehidupan dibanding menjalaninya. Bahkan noda lipstick di cangkir kopi bisa membuat hariku berubah menjadi neraka. Satu nada sumbang dari murid vocal berusia 10 tahun bisa mengantarku menemui malam-malam panjang dengan mimpi buruk tentang pelatih vocal yang gagal. Bayangan akan kegagalan, mimpi buruk akan angan yang tak kesampaian selalu menjadi agendaku setiap kali malam datang. Dan itu semua berakhir ketika Garna datang.
Konselor terapi yang baru saja menyelesaikan S2 psikologi klinis di Belanda itu menyerap semua energi negatifku. Usianya boleh 5 tahun lebih muda, tapi caranya berpikir membuatku selalu merasa bahwa aku adalah reinkarnasi anak kecil berkepang dua yang selalu berlarian di padang rumput seperti dalam serial Little House in the Prairie.
Bersama Garna aku belajar mempercayai garis kehidupan, melepaskan ketakutan, menyerahkan hidup pada Yang lebih menguasainya. Tiga tahun perjalanan cintaku dengan Garna seperti sebuah petualangan. Mendaki, menuruni, kadang berlari, sering kali harus sembunyi-sembunyi. Kerap Garna merasa lelah mengikuti langkahku. Lebih sering aku yang terseok dan terjerembab menampa kenyataan dan ketakutan akan sebuah ikatan. Ikatan yang selalu ditawarkan Garna.
Aku pernah gagal. Di usia yang terlalu muda. Di saat teman-teman sebaya sedang asik mencari dan menemui siapa calon pasangan mereka, aku harus berada di ruang dingin berjeruji bernama sendiri. Garna datang memberi makna dari kata sendiri. Dia datang dan mulai mengisi nada-nada yang tadinya sepi. Musik itu bermain lagi dan kali ini penuh dengan harmoni. Hidup dengan Garna membuat nafas yang tercerabut sebagian, seperti kembali lagi. Aku merasa Garna seperti dementor dalam versi positif. Dia menyerap energi negatifku. Aku mengenal kembali apa arti bahagia. Aku bahkan merasa lebih menikah ketimbang sebelumnya.
“Moethi, untuk ke sekian kalinya, kutanyakan padamu, maukah kamu berkomitmen denganku?” Bukan sekali dua Garna menawarkan kelambu emas itu. Yang buatku masih tampak seperti sangkar. Jawabku tidak berbeda dari waktu ke waktu,
“Beri aku waktu. Tidakkah hidup kita sudah indah dengan keadaan seperti ini saja?”
Aku tidak menyangka kalau dalam kamus hidup Garna ada kata menyerah dan mundur. Tepat sebulan yang lalu, aku mulai merasakan Garna yang berbeda. Naluri perangku mengatakan jika ada ancaman. Tidak pernah kusangka kalau ancaman itu kuciptakan sendiri. Kuundang masuk dalam wujud malaikat suci yang membutuhkan bantuan untuk bisa menginjakkan kaki di bumi sebagai manusia sejati. Olivia.
Aku tidak menyalahkanmu Olivia. Percayalah. Juga bukan Garna.
Garna datang dalam hidupku menjadi juru selamat, seperti itu juga Olivia untuk Garna. Dia menerima tawaran kelambu emas itu. Kelambu yang samar tertutup bayangku ditariknya lembut, pelan sampai aku sendiri tidak lagi merasakannya membelai kulitku.
Bisa apa aku sekarang? Merebutnya seperti anak kecil merengek karena mainan kesayangannya hilang. Pasti itu sudah kulakukan. Hasilnyapun sudah kutahu semenjak aku belum melakukannya. Aku gagal mendapatkan Garnaku lagi.
Yang bisa kulakukan sekarang adalah kembali surut ke dalam sel gelap bernama sendiri. Meyakinkan diri lagi seperti yang pernah terjadi. Menulis lagu tentang patah hati. Dan nadaku kini, kuyakin jauh lebih indah dari semua yang pernah kutuliskan.
Tak kan kembali air ke hulu
Perahu kecil mengikuti alirnya
Satu hati yang ku tahu pasti
Semua akan bertemu di muara
Kan kutunggu kau di sana
Sederhana
Karena air tak punya banyak pilihan

6 november 2007 jam 5 pagi

Leave a Reply