kota bahagia

Pernahkah kamu masuk ke kota bahagia? Kalau belum, sekarang kubantu kamu untuk membayangkannya. Pejamkan mata. Fokus pada sesuatu yang membahagiakan. Sesuatu seperti kelahiran, jatuh cinta, atau mendapatkan impian. Jangan buka mata sebelum seluruh inderamu merasa rileks dan setiap sentuhan dapat menciptakan getaran. Jangan merasa berada di dalamnya sebelum kamu dapat mengikhlaskan semua perasaan. Pikirkan apa saja sampai setiap kejadian bisa membuatmu tersenyum. Bukan tersenyum pahit atau sinis, tapi senyum yang diberikan oleh seorang bayi pada malaikat penjaganya.
Mulai punya gambaran?
Yak! Seperti itulah setiap orang yang tinggal di kota bahagia. Selalu tersenyum dan saling sapa satu sama lain. Mereka mengenal dengan baik nama setiap penduduk di kota bahagia.
Di kota bahagia, tidak ada yang disebut moral atau etika. Tidak ada kata boleh atau tidak. Orang-orang di dalamnya adalah mereka yang berusia antara 18 sampai 40 tahun. Profesi mereka sama. Suami dan istri. Mereka belum dikaruniai anak. Tapi tidak kebingungan dan mencari dokter atau dukun untuk bisa memberi anak. Perempuannya cantik-cantik. Ada yang cantik karena kulitnya putih dan guratan-guratan darahnya tampak jelas transparan di bawah kulit, ada yang cantik karena memiliki payudara alami proporsional, bukan terlalu besar seperti milik Pamela Anderson yang setiap saat siap untuk pecah, ada pula yang disebut cantik karena lesung pipitnya melubangi kedua pipi kalau tersenyum.
Laki-lakinya gagah. Semuanya. Mereka adalah the real gentlemen. Yang tidak malu terjun ke dapur kalau istrinya sedang sibuk mengerjakan hal lain. Ohya, dapur mereka tidak meninggalkan jelaga di panci atau bekas hitam di tembok dan langit-langitnya. Laki-laki di kota bahagia semuanya adalah seniman. Ada yang pandai melukis, menyanyi, membuat bangunan rumah, jalan, irigasi, ada yang seni menanam padinya sangat luar biasa. Mereka semua menganggap pekerjaan adalah sebuah seni. Yang patut dikerjakan dengan cinta. Mereka tidak memikirkan bayaran. Untuk mereka bayaran yang telah diberikan kota itu adalah perempuan-perempuan cantik dan kebahagiaan yang mereka tebarkan setiap hari. Itulah mengapa mereka semua pergi bekerja dengan bahagia dan pulang dengan senyum penuh di bibir.
Tidak pernah ada yang melakukan kecurangan pada orang lain, tidak ada korupsi, tidak ada manipulasi, apalagi kolusi. Tidak satupun dari mereka berpikir suatu saat anaknya harus menjadi penerusnya untuk melakukan hal-hal yang sama. Bahkan anakpun mereka belum punya.
Di tengah kota itu mengalir sebuah sungai yang airnya jernih. Setiap pagi perempuan-perempuan mencuci di sungai itu. Beberapa meneruskannya dengan mandi, sementara yang lain saling menggosok badan orang yang sedang mandi. Mungkin ini mengingatkan pada adegan Joko Tarub yang mengintip bidadari mandi kemudian mencuri selendangnya. Tidak! Tidak ada adegan seperti itu di kota bahagia. Siapapun boleh menyaksikan orang lain yang sedang mandi. Tidak ada kata malu di kota bahagia, tapi semua orangnya selalu tersenyum malu-malu.
Di kota bahagia tidak ada polisi, jaksa atau dokter. Tidak ada kejahatan, hukuman atau penyakit di sana. Pernah seorang dokter masuk ke kota bahagia dan tidak pernah keluar lagi. Siapapun yang pernah masuk ke kota bahagia tidak akan ingin pergi lagi.
Tanah di kota bahagia sangat subur. Jatuhkan biji buah di sana, tunggu, dan kita akan memanennya pada saat yang tepat. Airnya tidak perlu direbus lagi karena telah tersaring oleh alam. Rumput yang tumbuh di kota bahagia seperti rumput yang ditanam di stadion Wimbledon. Sangat halus dan lembut. Semua orang memiliki kesadaran untuk merawat dan menjaganya.
Di kota ini tidak dikenal rasa cemburu. Seorang suami bisa kapan saja pergi ke rumah tetangganya yang cantik hanya untuk mencium pipi perempuannya dan mengatakan betapa cantiknya mereka.
Sang istri tidak akan cemburu dan marah-marah pada suaminya, karena dia juga boleh dipuji oleh laki-laki lain. Seorang istri boleh lebih dulu menginginkan percintaan. Mereka bahkan tidak perlu malu untuk bercinta dengan laki-laki lain seijin suaminya. Dan setiap suami akan memberi ijin.
Untuk mereka cinta adalah universal. Tidak hanya antara suami dan istri saja. Perempuan dan perempuan yang sedang bercinta juga hal yang lazim di kota bahagia. Bukankah cinta diciptakan untuk semua.
Eits! Tunggu dulu!
Jangan berpikir kota bahagia adalah kota yang amoral. Memang tidak ada moral dalam kamus kota bahagia, karena di sini juga tidak ada istilah lain yang selalu didoktrin sebagai lawan dari moral.
Tidak ada perselingkuhan, karena semua tahu apa yang dilakukan pasangannya dengan orang lain.
Tidak ada perjudian karena mereka memang tidak punya uang untuk dipertaruhkan.
Tidak ada perzinahan.
Bercinta antara laki-laki dan perempuan yang dimaksud adalah… saling menyentuhkan tangan, memejamkan mata, membayangkan kasih sayang pencipta, lalu tersenyum dan kembali membuka mata.
Mudah bukan?
Itulah esensi mencinta dan bercinta untuk penduduk kota bahagia.

Seorang perempuan boleh meminta bibit dari laki-laki lain yang dianggapnya sempurna untuk menjadi bapak dari anak-anaknya, seorang laki-laki juga boleh memilih perempuan mana yang akan menjadi ibu anaknya.
Mungkin terdengar gila, tapi tidakkah kita bahagia kalau kita memiliki kebabasan untuk memilih dan memiliki?

cerita ini ditulis bertahun-tahun yang lalu, sampai lupa dulu ide awalnya apa 😉

← anyone
saddest poem →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai ‘anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, “Jangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak “Iyooo…” menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca “ini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →

Sekolah Kids Zaman Now

Sudah seminggu ini anak saya terlihat lebih sering murung di dalam kamar dan menolak menjawab kalau ditanya kenapa. Ini sungguh mengkhawatirkan buat saya. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bermain-main di kepala saya, sembari membayangkan diri saya sendiri ketika seusia dia. Enam belas tahun. Salah satu masa rawan. Hal hal...

Read More →