jauh

Jauh
“Berjalanlah… jarak tidak akan tertempuh tanpa kau jalani…”
Tinggi
“Mendakilah… karena ketinggian hanya bisa didaki.”
Dingin
“Sedekaplah… peluk dirimu sendiri.”
Licin
“Berpeganglah agar kau tidak tergelincir.”
Bagaimana aku harus bersedekap dan berpegangan dalam waktu yang bersamaan?
“Satu tanganmu bersedekap bergantian dengan yang lainnya.”
Lelah
“Istirahatlah… kendurkan semua ototmu tapi tidak otakmu.”
Gelap
“Nyalakan lenteramu…”
Berat
“Jangan menyerah…”
Tertatih
“Berpeganglah pada yang lebih kokoh…”
Terjatuh
“Bangun!!”
Sampai kapan?
“Sampai kau ada di puncaknya dan menjadi lebih tinggi darinya.”
Berapa lama lagi?
“Cuma kau sendiri yang tahu berapa lama lagi kau akan mencapainya.”
Kalau aku menyerah?
“Cuma kau sendiri juga yang tahu bahwa kau kuat. Kau menyerah karena memang tidak menginginkan berada di puncaknya.”
Tapi aku tidak lemah
“Tidak ada yang mengatakan kau lemah kalau kau tidak sampai di puncaknya. Tapi kau memang lemah kalau kau tak mau sampai ke puncaknya.”
Jalannya terjal
“Di puncaknya batu akan jauh lebih tajam, walaupun mereka sangat lembut. Halus. Mungkin panas. Tapi percayalah kau akan senang berada di sana.”
Apa yang akan kutemui di sana?
“Apapun yang kau harapkan ada di sana dan apa yang tidak pernah kau bayangkan akan kau temui.”
Adakah Edelweis di puncaknya?
“Kalau kau mau sedikit berjuang ke jurang-jurangnya, kau akan temui mereka bersembunyi di sana.”
Bolehkah aku membawa mereka pulang kalau berhasil kutemui?
“Apakah kau juga akan membawa pulang terang matahari pagi yang kau lihat di puncaknya?”

“Apakah kau juga akan membawa 6º Celcius dinginnya dan menyimpan mereka dalam kulkasmu?

Jadi apa yang bisa kujadikan bukti bahwa aku telah sampai di puncaknya?
“Hanya gambarnya dalam ingatanmu.”
Aku akan memeliharanya
“Dengan kau berikan pada perempuanmu? Bunga-bunga yang tak pernah layu itu?”
Kusimpan sendiri
“Lalu bagaimana kau akan simpan sunrise dan kebekuan puncaknya?”
Aku tak bilang aku akan mengambil mereka
“Tapi kau diam tadi.”
Karena sebenarnya aku ingin
“Kau tidak bisa mempertahankan sunrise seperti mempertahankan edelweis.”
“Alam menyimpan mereka dengan caranya.” “Hidup…”
Jadi apa yang akan membuatku senang berada di sana? Kalau tak ada sedikit apa yang boleh bubawa serta.
“Kalau kau tidak akan menyenanginya, kau tidak akan berjalan sejauh ini.”
Bagaimana kalau ini semua semu belaka?
“Kau tidak bisa kedipkan matamu, dan kau akan kembali ke tempatmu berasal.”
Jadi aku harus bagaimana?
“Kau sudah berjalan sejauh ini dan kau tahu resiko yang kau hadapi.”
Tidak semua sepenunya mauku.
“Jadi untuk siapa kau ada di sini?”
Untuk apa aku ada di sini?
“Untuk mempercayai apa yang ingin kau yakini.”
Dan mereka
Kalau aku ada di puncaknya, apakah semua akan tunduk di bawah kakiku?
“Tidak tahukah kau arti bawah dan atas?”
Adakah artinya?
“Tidak pahamkah kau kalau bumi itu bulat?”
Adakah artinya?
“Artinya kau tidak pernah tahu kapan kau ada di atas atau di bawah. Bahkan gunung tertinggipun ketika kau daki akan menjadi alas kakimu. Dan pada saat yang sama kau juga harus mengemban seluruh beban dunia bersamamu. Tidakkah ini berarti bagimu?”
Kenapa?
“Tidakkah banyak orang yang mengikuti perjalananmu ke puncak gunung ini memberikan arti buatmu? Tidakkah setiap semangat yang mereka bawa menjadi nyawamu?”
Aku toh tidak mengenal mereka.
“Tapi mereka mengenalmu. Mereka melihatmu karena kau yang berada di puncak. Sebagian mereka di sisi Timur gunung mengharapkan perlindunganmu dari teriknya matahari, sementara yang ada di sisi Barat justru memohon padamu untuk sudi membagi sinar matahari.”
Apa yang harus kupilih?
“Karena kau yang ada di puncak sekarang, kau tidak bisa memilih. Kau harus rengkuh keduanya.”
Tanganku cuma dua
“Karena kau memang bukan Btara bertangan enam.”
Lalu bisa apa aku dengan keterbatasanku ini?
“Kau bisa merubah dunia dengan tanganmu. Kalau kau mau.”
Mampukah aku?
“Memang akan ada yang tercecer, tapi setidaknya kau tidak meninggalkan sampah bekas makan dan minummu di sepanjang jalan yang kau lalui.”
Tapi telapak kakiku tertinggal di sana dan aku tidak mungkin membawanya?
“Hanya jejak itulah yang boleh kau jadikan kenangan untuk mereka yang tertinggal di belakangmu. Biarkan mereka mengikuti langkahmu selama kau tidak menyesatkan mereka.”
Tapi aku pernah terjatuh
“Dan kau bangun.”
Mereka tidak melihat jejakku terbangun karena memang tidak ada jejaknya
“Tapi siapapun dapat merasakan kekuatanmu berdiri dan sekarang berada di puncak ini.”
Kuberi tahu sesuatu,
Aku takut ketinggian
“Karena kau belum pernah berada di puncak maka kau bilang takut ketinggian.”
Aku benar-benar takut
“Puncak ini masih bukan puncak yang tertinggi.”
Jadi masih ada yang lebih tinggi lagi?
“Tidakkah kau ingat kalau di atas langit masih ada langit. Surgapun bahkan dibuat berlapis.”
Aku masih harus mendaki lagi?
“Dan memang jangan pernah berhenti.”
Sampai kapan?
“Sampai waktu mengatakan saatnya kau turun.”
Jadi aku tetap harus turun?
Kalau begitu aku akan berhenti di sini saja. Toh nanti aku akan kembali ke tempat ini.
“Bahkan bayi yang lahir lemah diciptakan untuk menguat, sampai di puncak dan melemah lagi…”
Jadi semua memang harus begini?
“Jangan banyak bertanya.”
Hanya dengan bertanya aku bisa menemukan semua jawaban
“Jawabannya ada di setiap langkahmu. Jadi kau akan berjalan atau berhenti dan bertanya-tanya sendiri?”
Aku perlu teman
“Lebih mudah kalau kau mencari musuh.”
Aku tidak perlu mencari mereka
Mereka datang sendiri dengan senang hati
“Kau akan menemukan teman kalau kau mengenali musuhmu.”
Siapa mereka?
“Dirimu sendiri.”
Sudahlah
“Sudah apanya?”
“Ayo mendaki lagi, atau aku akan berhenti dan merasa kepayahan sendiri di sini, tanpa pernah melihat puncaknya.”
“Ayo, kau mau temani aku dan menjadi saksiku atau berhenti di sini dan pulang sendiri?”

15 Juli 2004

← my favorite part
sang pencari →

Author:

Dian adalah penulis novel Kita dan Rindu, Rahasia Hati, Ketika Ibu Melupakanku dan 5 buku lainnya. Lahir 1976, menyelesaikan kuliah di Komunikasi STIK Semarang & Kriminologi UI. Anak ke-2 dari 4 bersaudara. Ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan anak-anak lain. Child Protection Advocacy Specialist di Yayasan Sayangi Tunas Cilik. #dianspoint #geocaching #lifeofawriter #lifeofatraveler #workhardtravelwell #luckybastardian #moviegoer

  1. hmm… seperti dialog dengan diri sendiri.
    jadi ingat seleksi alam,,
    survival… yang menang yang bisa bertahan. adaptasi atau mati. hiperboliskah?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

figur

Edisi Figur ini akan menjadi chapter baru di dalam hidup blog saya, di mana semua yang ada di dalam kategori ini merupakan persembahan penuh pada orang-orang yang: - Benar-benar ada (bukan tokoh fiksi) - Sangat saya cintai - Berpengaruh dalam hidup saya - Lucunya nggak termaafkan - Memiliki kehidupan yang...

Read More →

Tips Tetap Waras di Dunia yang Menggila

Terpapar informasi-informasi getir tentang terorisme dan bagaimana anak ikut dieksploitasi dilibatkan didalamnya, lalu anak-anak kembali menjadi korban, mau gila rasanya. Lebih gila lagi karena membaca komen-komen di media sosial baik yang pedih getir prihatin dengan kejadian ini, maupun yang nyinyir salah tempat dan akhirnya malah ditangkap yang berwajib. Tergoda untuk...

Read More →

Ambar Margi; n. Ujian Pertama

Hari itu matahari bersinar ragu-ragu di kota kecil kami. Aku adalah seorang istri salihah di antara para lelaki di dalam keluarga besar kami. Hari itu aku memakai celana panjang warna hijau tentara, kemeja hitam berhias bunga merah di dada, kerudung merah dengan manik-manik keperakan menempel di kepalaku. Bukan jilbab. Helaian...

Read More →

Lucky Bastard Ep. 1; Hadiah Ulang Tahun ke Bali

Seri Lucky Bastard ini adalah cerita tentang anak manusia yang super beruntung. Nggak cantik-cantik banget, nggak pinter-pinter banget, nggak gigih-gigih amat, kadang baper, kadang semau udelnya. Tapi seluruh dunia suka gitu aja ngasih dia kado yang dia pengenin. Nggak semuanya juga sih. Karena kalau semua yang dia minta dikasih, sekarang...

Read More →