sepatu Vanya

Hari Senin seperti biasa, agendaku dan WitRani adalah membaca kolom Samuel Mulia, sebelum memulai aktifitas rutin. Dan minggu ini, Samuel menulis tentang kanvas. Tadinya kupikir Samuel mulia mau mengkritik pada pelukis atau seniman rupa yang lain. Tapi ternyata Samuel was writing about kids-parents stuffs. Tentang trial dan eror yang dilakukan orang tua terhadap anak-anak mereka.

Aku jadi ingat bahwa sesungguhnya bapak dan ibu juga melakukan hal itu pada kami, keempat anaknya. Sepertinya aku dan kakakku diperlakukan tidak sama. Kedua adikku juga diperlakukan berbeda. Nisa rasanya mendapatkan kelonggaran dalam hal membantu urusan rumah, sementara kakaknya yang laki-laki lebih banyak membantu ibu. Ke warung, memarut kelapa, melakukan ini itu. Mmmhh.. kadang aku berpikir, mungkin ibuku sedang belajar tentang kesetaraan gender. Karena pada masaku dulu, mas Didot rasanya tidak banyak menyentuh ranah dapur.

Dari berkaca pada orang tuaku, yang sempat melakukan trial eror sebanyak 4 kali, karena mereka memiliki 4 anak, aku hanya bisa melakukan trial sekali, dan kalau eror, aku boleh menangis sendiri, karena anakku cuma satu. Bukan berarti aku nggak mau punya anak lagi, tapi kalau mau punya anak lagi, urusanku lebih panjang. Harus mencari bapaknya dulu ;P

Liburanku di Cilegon seperti biasa diwarnai dengan kegiatan ke mal. Ke pantai sangat tidak mungkin karena ombak dan angin terlalu kencang. Di mal aku sebenarnya ingin sekali membelikan Vanya t-shirt atau tank top untuk di rumah. Tapi bidadariku ini selalu mengarahkan aku ke rak sepatu dan sandal. Dari berpura-pura memilihkan sandal untukku, sampai akhirnya memilih-milih sendiri sepatu berukuran lebih kecil.

“Dhek Va mau sepatu?”
“Mmm… Sandal?”

Aku agak enggan membelikannya sandal, karena aku tahu eyangnya baru saja membelikan dia sandal dan sepatu baru. Selain itu, ketika berhitung, ternyata koleksi sandal Vanya ada 30-an. Fiuh…
Tapi berhubung itu anak seperti sangat menginginkannya, maka aku tidak punya pilihan. Aku selalu menyebut diriku sebagai holiday-mom, karena aku ada dan menemaninya di saat liburan. Tentu saja lengkap dengan elemen belanja dan bermain di dalamnya.

Setelah membaca kolom Samuel Mulia, aku jadi berpikir dan berdoa. Semoga aku tidak sedang melakukan kesalahan dalam mendidik anakku. Semoga menuruti semua keinginannya adalah sesuatu yang benar.

Aku sering bergidik sendiri setelah melakukan kesalahan. Yang kutakutkan selama ini adalah: kalau aku salah maka orang tuaku akan ikut disalahkan. Padahal aku sendiri yang seharusnya menanggung kesalahan itu. Hiii… seandainya buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, maka percayalah nak, Vanyaku, aku ibumu akan bersedia menjadi teman berbagi untukmu. Aku akan melakukan seperti yang dilakukan ibu dan bapakku. Mendukungku, selalu ada di belakangku untuk memberi dorongan, di depanku untuk melindungi, dan gambar berada di sekelilingku setiap saat untuk mengingatkan. Maafkan aku harus melakukannya sendiri. Tapi percayalah, ibu sendiri akan cukup untukmu.

Haduh… maunya ngomongin sepatu Vanya, malah jadi mellow kemana-mana nih.

← cantikan maia atau mulan
pre wedding →

Author:

Dian adalah penulis novel Kita dan Rindu, Rahasia Hati, Ketika Ibu Melupakanku dan 5 buku lainnya. Lahir 1976, menyelesaikan kuliah di Komunikasi STIK Semarang & Kriminologi UI. Anak ke-2 dari 4 bersaudara. Ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan anak-anak lain. Child Protection Advocacy Specialist di Yayasan Sayangi Tunas Cilik.
#dianspoint #geocaching #lifeofawriter #lifeofatraveler #workhardtravelwell #luckybastardian #moviegoer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi; n. Ujian Pertama

Hari itu matahari bersinar ragu-ragu di kota kecil kami. Aku adalah seorang istri salihah di antara para lelaki di dalam keluarga besar kami. Hari itu aku memakai celana panjang warna hijau tentara, kemeja hitam berhias bunga merah di dada, kerudung merah dengan manik-manik keperakan menempel di kepalaku. Bukan jilbab. Helaian...

Read More →

Lucky Bastard Ep. 1; Hadiah Ulang Tahun ke Bali

Seri Lucky Bastard ini adalah cerita tentang anak manusia yang super beruntung. Nggak cantik-cantik banget, nggak pinter-pinter banget, nggak gigih-gigih amat, kadang baper, kadang semau udelnya. Tapi seluruh dunia suka gitu aja ngasih dia kado yang dia pengenin. Nggak semuanya juga sih. Karena kalau semua yang dia minta dikasih, sekarang...

Read More →

The Shape of Water, Film Cinta Anti Mainstream

Nonton film kelas Oscar itu biasanya membuat saya tertidur, sehingga kehilangan beberapa scene. Kalau mau maksa banget, saya bisa menonton film-film Oscar beberapa kali, untuk memastikan tidak ada bagian-bagian penting yang saya lewatkan ketika tertidur. Dan itupun biasanya saya tonton setelah nyaris memasuki masa Oscar tahun berikutnya. Tetapi tahun ini...

Read More →

Ambar Margi; m. Aku atau Kamu?

Setelah hari-hari berat pulang balik rumah – rumah sakit yang kujalani, akhirnya ada juga cerita gembira yang bisa kubagi. Bapak pulang dari rumah sakit. Kondisinya sudah jauh lebih baik. Operasinya berjalan lancar. Air yang dikeluarkan dari paru-parunya dua botol minuman ukuran sedang. Aku tidak habis pikir dari mana asal air...

Read More →

Geocaching, Melihat Dunia dengan Cara Berbeda

Baru pertama mendengar kata geocaching? Saya juga baru mendengarnya beberapa bulan lalu. Dan sejak saat itu, agak sulit untuk berhenti memikirkannya. Apakah saya terdengar berlebihan? Yes! Saya memang jatuh cinta pada geocaching, kalau definisi jatuh cinta adalah tidak bisa berhenti memikirkan sesuatu yang kita cintai setiap saat. Apa sih Geocaching...

Read More →