Elizabeth the Virgin Queen

Boleh dong judulnya diganti menjadi Dian Purnomo the (no more) Virgin President? Pada suatu hari setelah tinggal di Semarang selama belasan tahun, saya menyadari kalau di kota ini begitu banyak orang yang narsis. Mmm… tepatnya semenjak masa kampanye calon pemimpin. Dari mulai bupati, walikota sampai gubernur. Tadinya saya pikir kenarsisan itu hanya dimiliki oleh kami, kaum penghibur, orang yang menghabiskan banyak waktunya untuk bernyanyi, bermain sinetron, siaran di radio, muncul di iklan ini itu, video klip anu, atau sekedar menjadi pendamping artis
saja. Ternyata para calon wakil rakyat ini jauh lebih narsis dari kami.

Well, setidaknya kami tidak pernah memasang foto kami dengan ukuran lebih dari ukuran sebenarnya. Itupun hanya kami lakukan di ruang-ruang yang benar-benar milik pribadi, seperti rumah (sendiri dan pacar).
Berbeda dengan para calon yang memasang foto mereka sebesar-besar raksasa, bahkan jauh-jauh hari sebelum hari pemilihan itu. Foto-foto mereka luar biasa bagus lho, kualitasnya. Dan kata-katanya sangat persuasif.
No no… saya bukan mau ngomongin mereka. Memasang foto sebesar apapun adalah hak siapapun, asal dia punya uang untuk mencetak foto lengkap dengan tulisan-tulisan di bawahnya, dan punya uang cukup untuk membayar pajak, karena mereka memasangnya di ruang milik umum.
Ini adalah tentang pada suatu malam saya terbangun dengan TV masih menyala dan Cate Blanchett berada di dalamnya, dalam film Elizabeth the Golden Age. Saya hampir tidak mengikuti ceritanya sama sekali. Saya hanya mendapatkan dua cut terakhir kalau nggak salah. Tapi saya merasa mendapatkan poin-poin penting dari film itu. Tentang bagaimana Elizabeth memutuskan untuk memotong rambutnya. Mahkotanya sebagai perempuan Inggris yang cantik direlakannya. Tentu saja dia menangis, tapi dia merelakannya. Lalu Elizabeth mengatakan sesuatu yang membuat saya selalu merinding. Kalo nggak salah dia bilang begini, “Now i’m virgin. And I’m marrying England.” Duh… Tuh kan, saya merinding lagi. Lalu film berakhir dan ada tulisan-tulisan sebelum credit title muncul (tulisan itulah poin pentingnya).
Elizabeth memutuskan untuk tidak menikah.
Elizabeth memimpin selama 40 tahun.
Elizabeth membawa Inggris pada masa keemasan mereka.
Dan sebagainya.

Whuuu.. hampir saya menangis. Baru jadi janda satu tahun saja rasanya udah pengin buru-buru cari suami lagi. Nah ini, 40 tahun dan nggak pake acara kegatelan, atau mungkin saya nggak tahu aja kali ya. Selain membandingkannya dengan keberadaan saya, saya juga langsung ingat pada foto-foto para calon pemimpin kita, tentang pemimpin kita yang lain lagi, yang sudah 32 tahun menjabat, tentang keadaan negara ini. Tentang keiklasan mereka. Apa mereka akan rela rambutnya (baca: mahkota) dipotong demi kebaikan negara ini. Rasanya saya langsung mual. Nggak tahu kenapa mesti pake mual.Mungkin karena sebulan yang lalu ada teman luamaaaa sekali SMS saya, meminta saya untuk bergabung dengan partainya Sys NS, waktu saya cuekin karena saya nggak kenal nomernya dan saya pikir dia salah kirim, dia mengirim lagi dengan nada marah, “Ya sudah kalau tidak mau menjadi wakil rakyat dan memperjuangkan suara mereka.”

Saya pikir, mungkin ini jalan saya. Mungkin sayalah orang itu. Yang akan menjadi Dian Purnomo the (no more) Virgin President. Yah, saya kan nggak punya kerajaan seperti halnya Elizabeth. Maka saya akan menjadi presiden. Saya sama sekali tidak senang menjadi presiden. Saya pasti akan tergoda oleh banyak hal. Tapi saya dan mungkin juga anda, sama gatalnya kalau melihat para pemimpin kita. Pak SBY, trust me, I love you. But you can do any better, pls…

Siang itu juga, setelah menonton Elizabeth saya langsung merancang program saya seandainya menjadi presiden.

  1. Pulau judi ==> tujuan untuk mengakomodasi orang kelebihan duit. Yang devisanya bisa dipake untuk membayar kesehatan dan pendidikan yang kurang mampu.
  2. Pulau nudist (no sex) ==> sebagai media untuk para narsis ini. No camera and no taped allowed. Silahkan striptis sesuka hati, lalu pulanglah dan kembali setiap pada pasanganmu.
  3. Membeli rokok hanya bisa dilakukan oleh orang berumur di atas 21 tahun dan tidak dengan uang. Akan ada kartu khusus semacam kartu kredit. Ini agar orang yang punya uangnya cuman cukup beli rokok tidak bisa membeli rokok, tapi lebih realistis dan membeli makan untuk anak dan istrinya saja.
  4. Sekolah dan kesehatan gratis.
  5. Ada departemen film dan musik.

Dan masih banyak lagi.

Setelah melihat daftar kerja saya, saya tahu ternyata memang tidak mudah menjadi presiden. Tidak gampang memimpin negara sebesar Indonesia dengan penduduk sebanyak ini. Jadi, saya memutuskan untuk menjadi pemimpin yang baik saja di rumah saya, di kantor saya, dan terlebih lagi, pemimpin yang baik untuk diri saya sendiri.

Saya yakin, kalau saya mampu memimpin diri saya sendiri dengan baik, tidak merokok, tidak tergoda pada narkoba, tidak pacaran dengan suami orang, tidak korupsi, tidak membentak atau menyakiti orang lain, tidak belanja berlebihan, rajin sholat dan terus mengikuti ajarannya, tidak tergoda untuk striptis tiba-tiba, saya akan bisa memimpin apapun di dunia ini.

Benarkah?

← the Police vs the Dream
What are you gonna be when you’re old? →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

  1. yak, setuju yan. tetaplah setia di jalurmu. mau dibawa kemana negri ini kalo elu presidennya. ***yang tiba2 mual klo dian bener2 jd aparat…***

  2. Betul sekali…
    Striptislah dengan pernencanaan yang matang. Jangan striptis tiba2. Sesuatu yang direncanakan dengan baik, hasilnya pasti akan lebih oke….

    So,
    Kapan mau striptis?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai ‘anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, “Jangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak “Iyooo…” menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca “ini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →

Sekolah Kids Zaman Now

Sudah seminggu ini anak saya terlihat lebih sering murung di dalam kamar dan menolak menjawab kalau ditanya kenapa. Ini sungguh mengkhawatirkan buat saya. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bermain-main di kepala saya, sembari membayangkan diri saya sendiri ketika seusia dia. Enam belas tahun. Salah satu masa rawan. Hal hal...

Read More →