so close

From Disney’s Enchanted movie
Composed by: Alan Menken
Sung by: Jon McLaughlin

You’re in my arms
And all the world is gone
The music playing on
For only two
So close together
And when I’m with you
So close to feeling alive

A life goes by
Romantic dreams must die
So I bid mine goodbye and never knew
So close was waiting,
Waiting here with you
And now forever I know
All that I wanted to hold you
So close

So close to reaching that famous happy end
Almost believing this one’s not pretend
Now you’re beside me and look how far we’ve come
So far we are so close

Oh, how could I face the faceless days
If I should lose you now?
We’re so close
To reaching that famous happy end
Almost believing this one’s not pretend
Let’s go on dreaming for we know we are
So close
So close, and still
So far …

Yes, makasih mas Gat yang ngasih lirik ini pada akhirnya, untuk mengingatkan kalau aku bukan satu-satunya orang yang tidak mendapatkan cintaku.

Anyway mas, kenapa nggak kita ubah kata tidak mendapatkan menjadi, belum mendapatkan? Atau menjadi, mungkin kita sedang dikasih ujian kesetiaan sama yang punya hidup? Hiii… kok terus membawa-bawa Tuhan ya..

Thanks anyway. Bandungnya???? Next honeymoon aku gak mau ketinggalan pokoknya. Awas aja!!

← What are you gonna be when you’re old?
H-A-T-I →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

  1. yah Yan… gimana ya… pengen sih katanya aku ubah menjadi “belum mendapatkan” cuma takutnya pas ketika aku mendapatkan dirinya, akunya udah lelah dan mulai melihat ada cahaya di tempat lain 🙂

    ayo ikut ke bandung… masalah kantong jangan kuatir, kita nge-gembel aja di sana. numpang tidur kanan kiri, kalau perlu ngamen buat makan… kapan lagi jalan ke bandung sama orang kayak aku ini… hayuk! Apa jadinya honemoon tanpa my honey hihihihi 😉

  2. kantong kan ga perlu dibawa..emang kanguru 😛 yg perlu dibawa itu..perasaan bosan dan capek..abis tu ditinggal ajah disana :D..heuheu..ga perlu kantong 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai ‘anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, “Jangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak “Iyooo…” menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca “ini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →

Sekolah Kids Zaman Now

Sudah seminggu ini anak saya terlihat lebih sering murung di dalam kamar dan menolak menjawab kalau ditanya kenapa. Ini sungguh mengkhawatirkan buat saya. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bermain-main di kepala saya, sembari membayangkan diri saya sendiri ketika seusia dia. Enam belas tahun. Salah satu masa rawan. Hal hal...

Read More →