13 maret 2008

Hari ini tiga tahun yang lalu, untuk pertama kalinya, setelah bertahun-tahun mati rasa dan tidak percaya pada cinta, aku mulai berani mencinta lagi. Kupercayakan cinta itu padamu. Dengan semua keterbatasan, kelemahan dan ketidakberdayaan kita menjalaninya. Tidak lama, tapi cukup dalam untuk menorehkan bekasnya.

Hari ini, setelah tiga tahun, aku merasakan guratan yang sama. Kali ini aku jatuh lagi di lubang yang berbeda. Dulu, kamu membuatku percaya bahwa cinta ini layak untuk dinyalakan.

Sekarang, kamu memaksaku menyalakannya sendiri. Kamu tahu sayang, angin yang bertiup begitu kencang. Di sini dingin sekali. Aku sangat membutuhkan nyalanya untuk menghangatkan hatiku, tapi pijar ini tak kunjung datang. Satu hal yang ingin kupercaya sekarang, kalau aku tidak akan membeku lagi seperti dulu.

Aku tahu rasanya membeku, menjadi kayu atau batu. Aku tidak ingin begitu lagi. Aku sudah lelah mencari. Kuingin kelak ketika nyala itu datang, dia belum terlambat. Dan dia tidak membakarku dalam dingin seperti ini. Tapi menyentuh jiwaku lagi.

Tepat seperti ketika dia datang pertama kali.

← ada cinta
ayat-ayat cinta →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

  1. jatoeh tjienta berjuta rasa….
    yg pasti tiada kata yg mampu mendeskripsikan indahnya…
    hanya bisa diungkap lewat hati dan pancaran mata…

    welcome back love! 😉

  2. @gempur
    mari jatuh cinta… asyiknya tak terkira….

    Kalau saya mah…”mari bercinta…asyiknya tak terkira” *kata orang2 sih 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai ‘anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, “Jangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak “Iyooo…” menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca “ini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →

Sekolah Kids Zaman Now

Sudah seminggu ini anak saya terlihat lebih sering murung di dalam kamar dan menolak menjawab kalau ditanya kenapa. Ini sungguh mengkhawatirkan buat saya. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bermain-main di kepala saya, sembari membayangkan diri saya sendiri ketika seusia dia. Enam belas tahun. Salah satu masa rawan. Hal hal...

Read More →