goldfish vs clownfish

Goldfish (G): Hey clownfish, is that ok, if i share my heart with you?

Clownfish (C): It’s ok, Goldie… I don’t think you share your heart.

G: But i’m still with my lover when i’m with you.

C: Maybe i’m stupid, deaf or blind, of just as falling in love as Juliet, but everytime i’m with you, i don’t feel that you shared your heart with other. You always make me feel, like, you know, like i’m the only one.

G: But i can’t prmise you anything Clownie

C: I’m not asking you anything. You’re sunshine, moonlite, shining star in the sky. You have the unlimited energy to brighten up the world. There is no reason for you to shine only on me. I’m scared of being burnt if you do that.

G: but this relationship has no destination

C: Should we all have a destination?

G: I think so

C: Have you ever had an unreached destination?

G: *thinking* once

C: What did you do then?

G: I tried t make another visible one

C: If we both don’t bother by any destination, i think we will feel more alive. just do what we want to do.

G: i still don’t get it

C: that’s ok, the only thing i want you to get is, feel my love.

this conversation is a celebration note of an anniversary of the meeting of two fishes from two different places. deep down the sea surrounding by friends n enemies and privacy of bowl.

5th of July 2008

← what a perfect day
long distance plegde →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

  1. Haha… Didut juga kelas berat. Makannya… Yuk, kapan kita makan bareng? Siapa lagi yang mau bakar-bakaran? Makan ikan mas bakar, mungkin?

  2. emangnya ga ada istilah “let’s have some fun” dalam kamusnya si goldfish itu ya? ato… “just follow the flow” gituh?
    bodohnya si goldfish…

  3. hahaha.. oj dilarang emosi!
    ntar juga kalo goldfish-nya udah keluar dari privacy of bowl, akan ada banyak fun…
    yaik!!! ngarep!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai ‘anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, “Jangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak “Iyooo…” menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca “ini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →

Sekolah Kids Zaman Now

Sudah seminggu ini anak saya terlihat lebih sering murung di dalam kamar dan menolak menjawab kalau ditanya kenapa. Ini sungguh mengkhawatirkan buat saya. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bermain-main di kepala saya, sembari membayangkan diri saya sendiri ketika seusia dia. Enam belas tahun. Salah satu masa rawan. Hal hal...

Read More →