catatan bali

catatan awal:
Perhatikan pada tanggal penulisannya saja. Karena tanggal yang tercatat di web adalah tanggal diposting, bukan tanggal penulisan. Hehe… maklum, selama liburan, pengen juga libur dari koneksi internet.

Bali, 31 Juli 2008.

Sampe udah malem sih. Jam 9.30 pm waktu Bali. So, gak ada banyak waktu buat jalan. Makan malem aja sama mas Yusuf, mb Yeni dan calon penganten, pak Riyang dan mb Iid.
Malem tanpa basa-basa lagi, langsung ngorok. Eh, tapi sebelumnya sempat menikmati hotel yang kewreeenn

Paginya, setelah ketiduran di pantai karena berjemur dan ternyata mataharinya malu-malu buat bersinar, I ate my breakfast. Dua potong roti, mentega, omelet, sosis, jus jeruk, air putih sebanyak-banyaknya. Yummmeeehh… that’s what vacation supposed to be.
Siangnya, sambil nyari lokasi foto di rice field, tebak, bagaimana orang Bali men-spelling kata-kata itu. Rais pilt.

Hehehe… akhirnya dapat di Ubud. Eh, tapi sebelum foto di sawah, kita makan dulu ding. Yup, makan di Warung Enak. Iya. Namanya Warung Enak. Di Ubud juga tempatnya. Makannya sih biasa aja. Rijsttafel yang enak berisi berbagai menu khas Indonesia enak banget kita santap, mulai asinan betawi, tumis pakis, ikan bakar, sate kambing, dan masih banyak lagi.
Tapi yang lebih seru dari warung enak ini, bukan makanannya. Melainkan kamar mandinya. Yes, the toilet. It’s cracking us up. Pertama masuk toilet cewek mbak Yeni. Dia keluar sambil cekikikan. Dia bilang ada yang lucu di ladies room itu. So Mb Iid and I penasaran dong. We went t the ladies and. Gosh! I swear I never laughed in the public space that loud before. Jadi di toilet ceweknya, ada foto cowok yang jadul banget. Sumpah! Norak banget. Pas kita pikir Cuma ada satu foto, ternyata kita salah.

There are 5 other pictures.

Ada yang cowok berpolem, ada yang tangannya megang dagu, ada cowok dengan potongan ABCD (ABRI bukan cepak doang) ada yang megang piala, ada yang gondang (gondrong dangdut) and I couldn’t stand watching the others. Mau pipis jadi nggak tega. Beneran deh. Kebayang dong, kita lagi pipis diliatin sama cowok-cowok culun itu?

I think that’s the strategy the Warung Enak’s owner to make their toilet clean, smell fresh, and make bloggers like me write this kind of thing. Gila!
Dari Warung Enak kita ke Kuta. Ngejar sunset. Kali ini kisah diwarnai dengan Adel yang kebelet pipis. Hehehe… akhirnya demi hajat yang gak bisa ditahan itu, Adel rela turun entah dimana dan berusaha menemkan sendiri toilet. Mbak Yeni sih udah aman, berhasil menyelamatkan hajat kecilnya di sawah, di deket kandang bebek. Hehehe… aduh, ini sebenernya perlu ditulis gak ya? 😛

Nah, ini dia foto orang yang kebelet pipis itu, dan pada akhirnya nyaru sebagai tukang surf. hehe… lumayan Del, dapat view papannya

Sunset di Kuta seru. Selamat buat Agung yang mendapat tawaran menarik tapi gak diambil. Juga bonus berbikini orange itu. Hehehe…

Kalo sama tante ber-rok orange mau gak Gung? qiqiqiqi…

2 Agustus 2008
Selamat ulang taun Monang…
Diawali dengan agak malas bangun. So me… Tapi akhirnya semangat juga bangun. Then we walked to Conrad. Watching my counsin’s wedding preparation. Hahaha… this is the part I have to write anyone.
Terus jalan ke sebelah kanan. Liat-liat jualannya orang-orang. Mmm… not interested. Since in my itenary, we’re about to go to Erlangga and Joger. Terus ditantangin parasailing. Hahaha… in the real world, sebenernya sama sekali have no guts. Tapi berhubung ada kalimat ditantangin, woo.. jangan salah. Naga gak boleh ditantang. So I flew up. High above up in the sky. It’s less then 10 minutes but by the time the boat roaming bellow, I feel so close to God. I scream His name. again and again. Then I scream somebody else’s name. orang yang hobi menguji nyalinya dengan bungy jumping, parasailing, jetsky, and all that. Hope you listen, dear. Terus teriak juga, “Perth… I’m coming!!”


The person flying is me, trust me!! 😛

Habis parasailing, lari ke jetsky. Karena gak berani sendiri, so I pick one of Bli yang kayaknya paling gak banyak omong. Dengan harapan bisa menikmati speeding on the waves. And I was right. I was so damn right!! Itu Bli gila!! He didn’t say a word but pushing my gas button. Jadi setiap kali jetsky dilambatin, tangannya maju dan nekan gas. He said nothing but pointing right, left, right, left. Dan baru sadar kalo dia selalu ngarah ke ombak yang tinggi. Until I said, “Bliiiii… ampun!! Bli aja yang nyetir…” tahu apa yang dilakukannya? Dia mundur dan Cuma pegangan di my life jacket. He kept me speeding myself. Gilaaaa….
Waktu turun dong, semua orang mikirnya I was that brave. Ngebut dan ke tengah terus. Nantangin ombak. They were wrong. Si Bli made me speeding. Thanks to Bli, so I had my life so so wonderful and colorful and powerful in the same time. Not to mention about what I felt at that time. I thought I was Sandra Bullock, and that Bli is Keanu Reeves. You’re right. Speed the movie.
Abis jetsky, berenang dan jemuran dikit. I just curious, how black can I be, in 3 days showering by sun shine.
Setelah berenang, mandi then we went to Warung Made. Makanannya khas banget. Kali ini Agung yang kebagian rejeki. His order didn’t delivered until we asked the waiters 3 times. Hahaha… makanya Gung, kalo sama makanan jangan pilih-pilih. Hehe… pilih-pilihnya sama cewek aja.
Dari Warung Made, me and mb Yeni jalan di sepanjang Seminyak. Dapat wewangian berbagai aroma untuk persediaan setahun. Hehe… I substitute my addicted to burn tobacco into burning aromatherapy. Isn’t good? Don’t you think?
Abis itu nongkrong di depan Discovery Mal. Nonton syuting film India. So, people, kalau suatu hari nonton film India dan liat wajahku melintas, percayalah, itu benar-benar aku. Hiiieeiiieee…
Janjian sama Mboye, and she showed up jam 7-an kalo gak salah ya Mboy?
We talked a lot like an old friend. Bisa gitu ya mak? Dua-duanya langsung berlomba untuk curcol gitu. Mboye curhat apa, aku curhat apa, dia curhat lagi, aku juga curhat. And most of the curhatan is about male species. Hahaha… juga tentang orang di masa lalunya Mboye yang coboy banget, pake gelang norak waktu masih jadi vokalis band, ikutan lomba baca puisi dan menang, sampe 18 tahun kemudian masih gak berubah juga. Hahaha… we both met thru this person. Person yang belum pernah merasa nyaman being settled in one place. Orang yang suka banget melompat-lompat. Being here there and everywhere. Everywhere…

3 Agustus 2008
Hari ini setengah rombongan pulang duluan ke jogja. Au revoir gentlemen.
Pagi diawali dengan breakfast banyak-banyak. Abis itu berenang. Abis itu jemuran and I think I hurt my self so bad. All the burned skin are hurt. Pedih. Digosok pake sabun rasanya gak enak banget. Hihi… gaya sih!!
Abis itu makan siang di Dapur Menado. Hehe.. jauh-jauh ke Bali masih nyari makanan Menado aja. And as I guessed, kepedesan. Gila! Itu orang Menado, apa gak pada mules tiap hari yak?
Abis makan masakan Menado yang so yummy, again I ate tumis pakis, we went to joger. Gila! Jualan kaos aja ramenya bisa begitu yak? Then to Erlangga. Nah… di sini nih, gak nahan sama sekali. Panik. Abis banyak baju kecil lucu-lucu. I have so many baby girls at home. Not only my born girl ya.
Abis belanja berusaha mencari pesanan Aya dan gak berhasil. I beg u appologize Aya. Wine-nya gak ada. Udah dicari dari kemaren. Maaf… maaf… maaf…
Masih agak sore waktu kita akhirnya memutuskan pulang ke hotel. Packing. Berendam. Now, I’m sitting in front of my laptop, writing all this thing.
Terus, berasa sedih aja…
I have to leave Bali tomorrow. Padahal masih pengen gila-gilaan di sini. Thanks to my supporter of life yang bilang kalo we will go to Bali and spend a crazy holiday together. Hope universe listen and God make it become reality.

Dan thanks paling dalam buat sponsor acara liburan dan mengunjungi kawinan my cousin, RUMAHWEB. Yeyeye… *tepuk tangan super meriah*
Thanks to mas Yusuf and mb Yeni. Selamat buat pengantin berdua. Smoga langgeng ya bo… pengantennya adalah Tony Leung
Qiqiqiqiqi…

← post wedding
bencana = wisata →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

  1. waaa.. pengen liat fotonya.
    tapi kayaknya itu ngopi link dari e-mail ya mbak ? 😀
    jadi ngga keliatan kalau ngga login ke e-mail nya mbak dian.

  2. Di upload saja ke blognya mbak, kan spacenya besar tuh..ataw sekalian di upgrade saja wordpressnya, saya bantuin deh..gimana?

  3. hihi…thank’s a lot…commentnya jeng. Alhamdulillah…seorang Jeng Dian lo.

    Asrinya berangkat tgl. 14..Rirynya jangan-jangan cinta sama bose hihi…

    Tante..baca blogmu menyenangkan sekale…jadi tersanjung neh, nyariin lulurku aja sampe ke bali beneran wkwkwkw…*GR mode : on*

  4. U never laugh in public space loud? ngapusi apa lali? Yg jelas sih aku pernah tengsin berat di wartel telkom jalan pahlawan suatu abis subuh (9-10 th lalu)….gara2nya sahabatku yg kuanterin nelpon pacarnya (dulu hp belum patio usum, jd mruput inlok), nguakak keras n bertubi-tubi di dlm box KBU….eh yang diliatin orang malah aku yang duduk manis tanpa dosa…mata mereka menyemburkan tanya ataupun cela *temenmu tu…* orang jatuh cinta emang gila dan nggilani

  5. hahaha… pacar?
    pacar yang mana ya??
    thanks to technology, yang menemukan sms dan email. hihihi… (sumpah isin tenan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai ‘anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, “Jangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak “Iyooo…” menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca “ini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →

Sekolah Kids Zaman Now

Sudah seminggu ini anak saya terlihat lebih sering murung di dalam kamar dan menolak menjawab kalau ditanya kenapa. Ini sungguh mengkhawatirkan buat saya. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bermain-main di kepala saya, sembari membayangkan diri saya sendiri ketika seusia dia. Enam belas tahun. Salah satu masa rawan. Hal hal...

Read More →