bencana = wisata

 One day, my best friend Rani asked me, “Bu, apa sih, komoditasnya Jombang?”
I said, “Apa ya…” cos I really don’t know the right answer.
She replied, “Ryan. Bayangkan, sekarang lingkungannya Ryan itu setiap hari ramai. Orang pada datang ke sana buat ngelihat rumah si Ryan. Lihat polisi ngaduk-aduk tempat yang katanya buat ngubur korban-korbannya Ryan. Gila kan???”
Gosh! Iya juga.

 

Then I imagine that ‘rumah Ryan’ will look like a playground. People sell everything there. Ice cream, candies, coloured and shaped baloon for kids, and lately, there are people who sell Ryan’s photographs. We can take the photograph home with 5000 rupiahs. That’s insane.
Can’t they imagine how hurt is the family of Ryan’s victim, or even Ryan’s family?
What’s wrong with this country? Cos it’s not only happen on Ryan’s case. I saw an accident once. Some people come to help but most of them just standing in the crowd and watching what happen in the TKP. Gila kan?
What for? Sekarang bayangin kalo kita adalah korban kecelakaan itu. How uncomfortable us, being the center of attention while we’re not in a good condition. Bleeding, tearing dress, hurt or even cry. Beda kan rasanya kalo jadi center of attention ketika kita well dressed, good make up, and keep the smile in our face.

Why don’t we go to Dufan or other playland or to a concert to watch the real entertainment. An accident is not an entertainment, hey! Come and help them instead of standing and watching them. Or if we don’t think that helping them is our cup of tea, get rid of that place. Kabur aja!! Pretend like you never there. Pray for the victim of anything is even better then watching and poor them.
If you want to entertain your self, do it right way. Jangan bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Gitu kalo gak salah, kata orang tua kita dulu. Kalo aku, mau bikin istilah sendiri. Like the title of this posting. Jangan berWISATA di atas BENCANA orang lain.

← catatan bali
miles away →

Author:

Dian adalah penulis novel Kita dan Rindu, Rahasia Hati, Ketika Ibu Melupakanku dan 5 buku lainnya. Lahir 1976, menyelesaikan kuliah di Komunikasi STIK Semarang & Kriminologi UI. Anak ke-2 dari 4 bersaudara. Ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan anak-anak lain. Child Protection Advocacy Specialist di Yayasan Sayangi Tunas Cilik. #dianspoint #geocaching #lifeofawriter #lifeofatraveler #workhardtravelwell #luckybastardian #moviegoer

  1. Baiklah.
    Terus.. gimana dong dengan orang yang berprofesi wartawan ato hobi fotografi?
    Wartawan itu seperti mengais-ngais headline diatas penderitaan orang laen (bahkan berharap bencana bakal terjadi) mulai dari berita ekonomi, pembunuhan, kebakaran, hiburan, olahraga, otomotif,dsb.
    Fotografer juga sama. Kadang penderitaan, kesedihan, kemarahan, dan semua hal yang mengandung perasaan negatif itu bisa menjadi obyek foto yang bagus.

  2. ya karena a bad news is good news. hukum alam kan?
    ya yang penting kalo buat jurnalis ya cover both side ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

Lucky Bastard #4: Lahir di Generasi Musik Terbaik

Sejak kecil saya selalu merasa istimewa. Terserah apa kata orang! Pokoknya saya istimewa :) Well, ain’t we all? Maka untuk membuktikan keistimewaan saya, saya sering menghabiskan waktu untuk mencari apa yang membuat saya istimewa. Dimulailah dengan menanyakan pada Google, what happened on 1976. Maka saya menemukan beberapa kejadian berikut (ini...

Read More →

Selamat Ulang Tahun, Pak

Bapak sayang, Hari ini Bapak merayakan ulang tahun di tempat yang berbeda dengan kami. Aku ingat pada suatu hari Bapak menolak ketika Ibuk mau merayakan hari lahirmu. “Nanti saja kalua sudah bonusan, baru dirayakan.” Bonus yang Bapak maksud adalah kalua sudah lewat dari usia 63 tahun Aku tahu dari mana...

Read More →

Apa Kabar Perlindungan Anak di Abad Pertengahan?

Pada sebuah kunjungan ke Kastil Muiderslot - museum tertua di Belanda, pertanyaan itu secara serius ditanyakan Mike pada saya. "Can you imagine working as child protection specialist at that time, liefje? You'll never be home on time." Atau sesuatu semacam itu kira-kira. Seperti layaknya seorang turis di negeri orang, begitu...

Read More →

Ambar Margi; o. Mumi

Waktu rasanya begitu panjang tetapi aku tidak benar-benar merasa ada di dalamnya. Yang kuingat hanya kami sampai di sebuah motel di pinggiran kota. Seseorang menghampiri kami lalu menanyakan mau berapa lama kami menginap. Aku tidak memahami sepenuhnya pembicaraan lek Minto dan orang itu. Setelah terjadi kesepakatan, orang itu menunjukkan arah,...

Read More →

Bapak Pulang

Beberapa kali saya menulis draft tulisan tentang Bapak, tetapi selalu terdistrak, sampai akhirnya terlambat. Sekarang Bapak sudah tidak akan membaca tulisan ini. Tapi memang Bapak tidak perlu membacanya. Bapak tahu apa yang dilakukannya dan dirasakan oleh anak-anaknya. Saya dilahirkan di kota kecil Salatiga, dikelilingi oleh orang-orang tua yang membentak anaknya,...

Read More →