Arisan FeMale X

The date was November 27th, 2008. The event held on Square Resto Novotel Semarang. And the program was, Arisan Sehat dan Cantik with Teh Botol Sosro Less Sugar. Srrlllpp…


I was there with hundreds of beautiful, charming and healthy young ladies from all over Semarang. Look at them, didn’t they look cool?

The talk show with dr. Witjitra and Sindy Maurina was cool. DR Witjitra brought something, I don’t know what’s the name of the tools that can show us, how fat we are. Let’s call it fat meter then, haha.

Rio from Body Zone was cool, doing the single salsa. I was thinking that salsa is a couple dance. But, since Rio did it pretty well, so I forgive the missing partner of him. But then again, all the audience danced together with Rio as a spontaneous instructure. Hup… right… hup left… step step… don’t jump.

Then the happy winner photo session. The orange ladies holding Teh Botol Sosro Less Sugar with hearts, haha…

And I coudn’t stop saying thanks to Vica, Nina, Rani, Vina, Yanti, Indah, mb Linda, Farid my man, Tyas, Ditto, Ara, Andi, Bian the rookie, all the FeMale crew, mas Ade the outsider and of course, the only one who hide her teeth under her smile, Rina Paramita. Hehehe… We’re a perfect team, buddy!! Keep it that way.

← new year's eve
officially patah hati →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

  1. happy bgt bisa join di Arisan FeMale,,

    benar2 pengalaman yg tak terlupakan,,

    sukses yaw wat Radio FeMale SMG.. 😉

    acaranya krenz abeeeezzz…

  2. are you for real???
    you’re the master, sist!!!
    we’re still look up on you.
    thanks for the support anyway 🙂

  3. claudy, kalo mau ikut next time tinggal daftar aja ke radio FeMale
    jadi, mesti rajin2 dengerin radio ya (96.1 FM), biar tau kapan mau ada arisan lagi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai ‘anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, “Jangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak “Iyooo…” menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca “ini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →

Sekolah Kids Zaman Now

Sudah seminggu ini anak saya terlihat lebih sering murung di dalam kamar dan menolak menjawab kalau ditanya kenapa. Ini sungguh mengkhawatirkan buat saya. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bermain-main di kepala saya, sembari membayangkan diri saya sendiri ketika seusia dia. Enam belas tahun. Salah satu masa rawan. Hal hal...

Read More →