Proud is

  • nggak nyolong sesuatu yg jelas-jelas di depan mata dan colongable
  • nggak nyium pacarnya temen kamu, padahal sangat mungkin kejadian
  • jujur sama diri sendiri
  • udah punya pacar and act like one
  • selalu ngomong berdasarkan TRUTH, dan selalu sesuatu yang KIND, dengan tujuan HELPFUL ke orang lain
  • mendapat kalimat ini dari adik yang jujur, “ini bakwan jagung terenak yang pernah tak makan..”
  • berani merasa bersalah dan minta maaf
  • mencium kaki ibumu dan menangis sampai kehabisan nafas di sana
← vaksin campak
kembang goyang →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

  1. Wadduh…
    Blog awal tahun ini kira2 bermaksud apa ya?
    Curhatkah? Resolusikah? Hehehe..
    1. Kalo kecolong bgmn Bu, kan ga maksud cuma keambil aja dikiitt..
    2. Waduh, ini kok ya membatasi HAM. Kalo sama2 seneng gimana?
    3. Susah en yet bener banget.
    4. Kalo pacar gelap? Kalo jadian tp sbnrnya feelingnya ga sesuai status dan belum menemukan waktu yg tepat untuk memutuskan?
    5. Gw bangets! Hahahahaha…
    6. Agak susah Jeung soalnya saya bsianya bikin nasi goreng enak..
    7. Yups.. lagi2 gw banget
    8. I cant imagine this.. too hard for me. I’m sure I have other ways to express same quality feelings.

    Met tahun baru ya, moga makin sukses…

    p.s. Top Yan.. (pelemnya Tom Cruise atau merek oli sih?)

  2. Hahahaha…
    Itu curhat sambil pamer dikit kalo gue bisa masak ternyata, biar ada kesan-kesan domestiknya lah. 😛

    Dan yang terakhir itu Toy, trust me… bakalan bikin semua masalah dalam hidup kita jadi cuma seujung kuku. Enam hari gue keluar masuk kamar nyokap gue dan baru bisa melakukannya di ujung hari ke-6

    Met taun baru juga Toy..

  3. aku sempat cemas…takut kamu nggak sempat lagi dan harus menunggu ‘cuti’ lagi ….membayangkan situasinya saja aku ikut terharu ….
    well…semoga semuanya jadi enteng langkahmu menggapai cita dan cintamu ….

    salamku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai ‘anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, “Jangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak “Iyooo…” menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca “ini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →

Sekolah Kids Zaman Now

Sudah seminggu ini anak saya terlihat lebih sering murung di dalam kamar dan menolak menjawab kalau ditanya kenapa. Ini sungguh mengkhawatirkan buat saya. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bermain-main di kepala saya, sembari membayangkan diri saya sendiri ketika seusia dia. Enam belas tahun. Salah satu masa rawan. Hal hal...

Read More →