soulmate

“Maaf, aku nggak bisa bersenang-senang denganmu selama 5×24 jam tanpa interupsi.” Aku hampir saja berteriak mendengar Sulung mengatakan itu. Apa maunya dia? Dia sendiri yang memintaku mengambil cuti seminggu agar kita bisa menghabiskan waktu berdua saja di negeri antah berantah tanpa sedikitpun diganggu pekerjaan. Sekarang, disaat ijin sudah di tangan, dan tiket jelas-jelas tidak bisa dibatalkan, dia berdiri di depanku, di pintu lobi apartemen dan mengatakan itu.

I lost for words.

Hanya mataku saja yang mendadak berkabut.

Tapi Sulung tetap tidak berkata-kata. Dia menunggu reaksi verbalku.

“Jadi? Gimana ini?”

Hanya tiga kata. Itupun sudah maksimal. Kalau tidak air mataku yang akan menggantikan semua yang tak terucap.

“Aku mau seumur hidup.” Kata Sulung sambil mencari jawaban diantara kabut di dalam mataku.

Kabut itu hilang. Dia berganti menjadi hujan yang sangat lebat. Deras. Bukan cuma mataku yang basah, tapi seluruh tanah kering yang tandus di dalam hatiku, yang kupikir tidak akan pernah basah karena siraman air seperti ini, mendadak lembab, basah. Tidak ada lagi retakan di dalamnya. Entah sampai kapan. Aku tidak mau tahu. Hanya ini yang kutunggu selama ini. Pintu Sulung yang terbuka untukku. Menggantikan dia yang tak mungkin termiliki olehnya.

Aku menghambur ke peluknya.

I do. I do. I do.” Aku tidak yakin apakah ini ucapan yang benar. I do. Diulang sampai tiga kali. Padahal Sulung sama sekali tidak menanyakan apapun.

Dalam perjalanan ke bandara aku menelpon mama. Hanya dia partner in crime yang kupunya sekarang. Aku bilang aku pamit mau jalan-jalan. Mungkin ketika pulang nanti, aku akan membawakannya menantu. Mama masih berpikir aku bercanda sampai Sulung sendiri yang meminta ijin mama.

Aku tahu mama menangis di sana. Bahagia.

 

***

 

Aku tidak pernah percaya bahwa soulmate itu ada. Tepatnya, soulmate itu tidak nyata untukku. Karena setelah menunggu selama tiga tahun, nyatanya kata-kata itu hanya membuatku ingin muntah sekarang. Terutama jika keluar dari mulut Sulung. Aku membencinya mengatakan soulmate. Bukan karena pronounce-nya yang kacau balau, juga bukan karena dia salah grammar. Sulung tidak perlu diragukan bahasa Inggrisnya termasuk pemilihannya untuk menempatkan kata soulmate. Justru karena dia sangat pandai berbahasa Inggrislah, kata soulmate itu jadi semakin menyakitkan di telingaku. Aku menyesali hari mengatakan i do.

 

Di hari ketika dia memintaku untuk menghabiskan waktu bersamanya seumur hidup itu, di hari yang paling membahagiakan seumur hidup hubungan kami berdua, dia membuat satu permintaan yang sama sekali tidak besar tampaknya saat itu. Dia memintaku untuk tidak marah ketika dia tetap menyebut mantan kekasihnya sebagai soulmate. Sebuah permintaan sederhana. Sesederhana puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Sesederhana belaian angin di anak rambutku ketika kami berdua mengikat janji di sebuah pantai di Albany hanya dengan dua saksi. Sangat sederhana sampai-sampai aku tidak memikirkan bahwa sederhana adalah segalanya.  

Waktu itu kupikir, apalah makna soulmate dibandingkan aku yang memiliki Sulung pada akhirnya. Menjadi seorang istri. Mengikat janji setia sehidup semati. Disaksikan samudra. Diiringi nyanyian dewi laut. Dihadiri seluruh kekuatan yang berada di dasarnya dan udara yang mengepung asin di sekitar kita. Aku yang pada akhirnya mendapatkan Sulung. Tapi rupanya aku salah. Sulung tidak pernah benar-benar berada di sisiku. Tulang rusuknya yang hilang mungkin lebih dari satu.

 

”Jadi, kalau menurut soulmate-ku dulu, Ellen DeGeneres adalah pembawa acara terbaik bahkan di atas Oprah.” kami sedang membahas show Ellen yang mewawancarai anak-anak luar biasa. Aku sungguh setuju dengan apa yang dikatakan Sulung, tapi di detik yang sama aku merasa Ellen sama sekali tidak bagus lagi. Aku malas menanggapi. Aku menunggu acara berganti.

 

”Sulung…” sambil membelakanginya dan membenamkan diri di bawah selimut aku mencoba membuka pembicaraan.

Hanya dehaman panjang yang terdengar.

”Belum tidur?”

”Belum.”

”Menurut kamu, terjemahan bebas dari soulmate itu apa sih?”

”Belahan jiwa.” suaranya menunjukkan kalau dia malas diajak berdiskusi. Atau mungkin temanya yang membuat dia malas.

”Kalau suami istri, itu udah pasti soulmate bukan?”

”Darling, can we talk about it later. I’m sleepy. Let’s just go to zzzland.”

“And find the answer there, right?” sindiranku tidak kena. Tidak pernah kena. Ini bukan pertama kalinya aku mencoba membicarakan tentang soulmate. Selalu bouncing.

 

***

 

“Ya ampun… cuma masalah itu aja lu marah sama Sulung Drew?” Aci mencibir padaku. Cuma padanya aku bisa lari. Aci adalah sahabatku yang paling lengkap. Secara fisik dia laki-laki, tapi di dalam dirinya ada lebih banyak jiwa-jiwa pelindung dan pemelihara yang sering kali kubutuhkan melebihi sahabat perempuan. Dan dadanya itu, jika dalam keadaan mendesak, masih enak juga disandari karena waktu yang dihabiskannya di gym lebih lama dari teman-temanku yang lain.

“Sekarang bayangin Ci, dia menyebut-nyebut mantan pacarnya dengan kata soulmate di depanku. Setiap saat. Selalu.”

“Kamu udah pernah bilang sama dia?”

“Nggak berhasil.”

“Kamu cemburu?”

“Lebih dari itu.”

“Dalam hati perempuan yang cemburu, ada iblis yang sedang marah.”

“Menurut lo, gue salah nggak, Ci?”

“Drew, kalau gue bilang, lu bersyukur deh, punya laki kayak Sulung. Gue aja mau punya laki kayak dia. Apa sih yang nggak lu dapat dari Sulung? Semua lu dapat. Dia juga sayang banget sama lu kan?”

”Iya.”

”Ranjang masih aman kan?”

”Mau tau aja lo!”

”Eh, itu indikasi lho, jangan salah! Kalau ranjang udah nggak bergoyang, ati-ati aja.”

Aku cuma diam. Aku dan Sulung memang tidak punya masalah apapun dalam hubungan kami. Hampir satu tahun kujalani peran sebagai istrinya. Istrinya. Bukan soulmate-nya. Karena julukan soulmate itu masih tetap untuk mantan kekasihnya. Seharusnya istri juga adalah soulmate. Itu yang kebanyakan terjadi di muka bumi ini. Tapi tidak dalam rumah tanggaku. Menghadapi pertanyaan Aci, aku bahkan sekarang berpikir, jangan-jangan selama ini Sulung bercinta denganku sambil terus membayangkan soulmate-nya.

Bagai terbelah pisau jantungku membayangkan perkawinan yang indah ini ternyata hanya kulit belaka. Aku tidak pernah benar-benar ada. Yang ada hanya soulmate itu walaupun invisible.

 

***

 

Sampai di ulang tahun pernikahan pertama kita. Di sebuah acara kencan romantis, niatku untuk mengakhiri penderitaan kumulai juga.

”Sulung, can I ask you something?”

”Tonight all is yours. Ask me anything.”

Aku harus menunggu beberapa jenak untuk memulainya. “Aku tahu pasti kalau kamu mencintaiku, karena aku bisa merasakannya. It’s been a wonderful year for me.”

”I’m waiting the ’but’…”

“Terlalu beratkah kalau aku memintamu mengganti sebutan soulmate?” akhirnya terucap juga permintaanku.

Alis Sulung terangkat. Sedikit. Tapi aku tahu pasti.

”Aku tahu ini menyalahi satu-satunya request yang kamu minta padaku sebelum kita menikah. Tapi dalam satu tahun ini. Aku harus menanggung deritanya sendiri. Aku tahu kamu memberikan semuanya. Good husband, lover and best friend. Tapi setiap kali kamu menyebut soulmate, rasanya ada yang tertikam di dalam sini.”

Sulung menunduk. Dalam.

Can we really bury her? Tentu saja pertanyaan itu hanya kuucapkan dalam hati. Dan aku mendengar jawaban Sulung.

Yes of course, dear. Deep in my heart. Juga dalam hati.

← dian, nama sejuta umat
mirip = jodoh?? →

Author:

Dian Purnomo adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dian lahir 19 Juli 1976 di Salatiga.

  1. Bagooossssss, tapi agak utopis gak sih klo kita bilang truelove, meski dengan versi gak straight (musti ke mantan dia dulu) kayak cerita di sini?

  2. bagusss…
    trus knapa tiba2 sulung bisa bilang yes of course dear? knapa dulu soal soulmate itu yang jadi satu2nya permintaan sulung? 😀

  3. Hi Dian!
    Thanks buat mampir ke blogku dan berkomentar di sana.
    You have a good blog here 🙂

    Tulisanmu tajam-tajam dan setelah kulihat di “About Me” aku jadi nggak heran karena kamu adalah seorang penulis buku…

    Aku rada telat tahu blog ini!
    Kupanthengin deh!

  4. oooo to tweet… it reminds me a story @ Siesta. but, finnaly his wife could make herself to be his soulmate forever, till he is realize that his wife couldn’t be his side anymore. sorry, cik…enggresnya blepotan…

  5. hiks…
    itulah indahnya dunia, kadang kita nggak syukuri apa yang kita miliki. giliran kehilangan baru deh sadar…
    kwiiikwiiii…

  6. @wenny: kan itu dicetak miring, itu percakapan hanya terjadi dalam hati. di dalam hati si Drew sendiri. Ksian yak..

    @uchan: iya… demikianlah drama kehidupan.

    @DV: thanks atas kunjungan baliknya, aku juga akan menjadi pengunjung setiamu 😉

    @jengipee: semoga gak gitu ya, kejadiannya. *jleb*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Logan, Perlindungan Anak dan Alzheimer

Minggu lalu saya nonton Logan dengan anak saya. Ya, saya boleh disalahkan karena Vanya belum 17 tahun dan dia ikut nonton film penuh kekerasan itu, dan saya mengizinkannya. Tapi rupanya dia punya mekanisme menghindari nonton adegan kekerasan. Tiap ada adegan kekerasan dia memalingkan seluruh wajahnya ke HP dan scrolling entah...

Read More →

Perempuan Tidak Sama dengan Ibu

Selamat Hari Perempuan Sedunia! Hari ini berbeda dari hari-hari lain ketika saya menggunakan google untuk mencari informasi. Biasanya saya selalu senyum senang melihat doodle yang lucu-lucu dan super kreatif. Tapi kali ini, doodle yang muncul agak membuat saya berpikir keras. Doodle hari ini adalah 8 ilustrasi yang menggambarkan perempuan dan...

Read More →

The Last Page

Pagi ini saya berharap bangun pagi dan mendapat keceriaan hari Minggu yang paling berhak saya dapatkan. Tapi rupanya berita yang pertama masuk adalah berita duka. Tommy Page meninggal dunia. Yang bikin lebih miris lagi adalah penyebab meninggalnya karena bunuh diri. Saya segera mencari tahu apa yang terjadi, tetapi kebanyakan informasi...

Read More →

Secret Sender

Malam ini neneknya Vanya menanyakan ke saya, apakah saya mengirim bunga untuk anak saya. Hmmm... sore tadi kita nonton Logan bareng, jadi kayaknya agak aneh kalau saya mengirimkan bunga setelahnya. Kalau ada yang mau saya kirim ke anak saya, adalah makanan. Biar dia nyemil sambil belajar atau baca buku/novel/apapun. Kayak...

Read More →

Simposium Lingkungan Ramah Demensia

Kembali semesta memberi saya kado istimewa tahun ini. Perjalanan ke Nagoya ini seharusnya ditujukan pada kolega saya, DY tetapi karena dia sendiri harus berkeliling Eropa untuk memenuhi undangan pertemuan Dementia Council, maka saya yang mendapat keuntungan. Sebuah perjalanan ke negara yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, serta belajar langsung dari...

Read More →

Selingkuh

Akhirnya saya memutuskan mengakhiri selingkuh setelah bermalam-malam mengalami kesulitan tidur dan produktivitas terganggu karenanya. Yang di atas itu adalah headline untuk mendapatkan traffic tinggi bagi website para artis atau politisi. Kalau saya, berita sesungguhnya adalah: Saya baru saja menyelesaikan membaca novel Selingkuh yang ditulis oleh Paolo Coelho setelah bermalam-malam lembur...

Read More →

Lucky Number Two

Beberapa hari lalu saya iseng apply ke sebuah web semacam ramalan berdasarkan tanggal lahir & apa yang saya inginkan di masa depan. Tanggal lahir saya tentunya tidak berubah, tetapi ketika disuruh memilih informasi apa yang ingin saya dapatkan, saya mulai galau. Pilihannya adalah: cinta, uang, pekerjaan, yang lainnya saya lupa....

Read More →