nyanya nari

Yang namanya emak… nggak mungkin nggak bangga ketika ngomongin anak. Dan sekali ngomongin anak, pasti nggak ada habisnya. Iya kan? Hayooo… yang merasa sama, tunjuk tangan!!

Dan ini dia anakku yang membanggakan itu. Yang biarpun idolanya masih Charlie ST 12 dan Hijau Daun, tetapi dia tetap menyukai Diego dan membaca serial 3 Menit dan Bobo. Perpisahan kelas 6 lalu, dia mendapat kesempatan untuk menari. Which actually was her mother dream. Aku diikutkan kelas menari sejak kelas 1 SD sampe dengan kesadaran sendiri ikut ekstra nari SMA dulu, tetep aja nggak ada yang bilang gerakanku luwes. Fiuhh… so here I am, membatalkan diri untuk ikut seleksi Dream Girls karena sudahlah nggak bisa nyanyi, menaripun terseok-seok.

Lihat lihat itu, Vanya sebelah kanan sendiri, yang pake iket pink. Dia luwes kan narinya? Ah… tak salah lagi aku. Mungkin dia yang akan meneruskan cita-cita ibunya menjadi penari. Hihihi… kidding, baby. Jadilah yang terbaik yang kau mau. Tak perlu meneruskan cita-cita ibumu, kalau itu bukan cita-citamu.

Lipstiknyaaaa… nggak kuatttt… Dia pasti menjaga sekali cara tersenyumnya. Hehehe… I love you, baby. You know I do.

← King on FeMale Jogja
merajut mimpi →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

  1. yeap!!! musti inget itu… anak bukan penyambung cita cita ibu… tapi punya jalannya sendiri 😀

    so cute lil girl!! 😀

    eh dear akuh punya PR iseng2 buatmu 😀 😀 😀

  2. anak yg akan tampil di pesta seni, sejak jauh2 hari org tua yg sibuk untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk si buah hati. anak tampil bagus, hati siapa yg tidak bangga ya…

  3. Terkadang anak menjadi “pelampiasan” cita-cita ortunya yang gak kesampean.
    Apalagi kalo ‘pelampiasan itu berhasil membuat anak tersebut suka, wah pasti bangga bgt ortunya.
    Contohnya postingan ini, bener gak, mbak? atau saya sok tahu ya…

    Lam kenal ya

  4. Yang namanya emak… nggak mungkin nggak bangga ketika ngomongin anak. Dan sekali ngomongin anak, pasti nggak ada habisnya…

    Ah… salah satu lagi hal yang menyebalkan dari ibu-ibu…. :mrgreen:

    *kabur*

  5. waduh,anakx dah gede ya mbak..subhanallah,anak saya 2 msh batita dan balita,sy yakin mereka tdk akan nari sperti anak mbak soalnya anak laki,hehe

  6. @rist… liat aja sampe kamu jadi ibu2.. hehe

    @ummu: tunggu saja sampai kelucuan mereka keluar jeng… btw, mau komen di multiply, saya lupa account saya, hehe

    @akmal: janji!! nggak bakal maksa!!

    @ade: iya banget… jarang2 kan, dia bisa pake lipstik

    @hajier: bukan pelamipasan kok… suwer *mata melirik ke atas*

    @usil: ok ok… thanks for the award yah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai ‘anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, “Jangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak “Iyooo…” menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca “ini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →

Sekolah Kids Zaman Now

Sudah seminggu ini anak saya terlihat lebih sering murung di dalam kamar dan menolak menjawab kalau ditanya kenapa. Ini sungguh mengkhawatirkan buat saya. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bermain-main di kepala saya, sembari membayangkan diri saya sendiri ketika seusia dia. Enam belas tahun. Salah satu masa rawan. Hal hal...

Read More →