merajut mimpi

karena masih ada yg nggak percaya kalau saya bisa merajut, maka saya akan membuat blog sendiri berjudul merajut mimpi. nah, sementara blognya dipersiapkan (sekalian buat jualan, hihihi) saya kasih spoiler hasil karya saya dulu ya.

ini adalah syal pertama saya, namanya syal Rani. saya memang memberi judul sebuah syal berdasarkan pada nama orang yang saya buatkan. aduh… bahasanya mulai berlibet. waktu itu syal ini saya persembahkan pada Rani sebagai kenang-kenangan karena dia resign dari FeMale Semarang dan bergabung dengan Greenpeace.

cantik kan, syalnya? eh, maksud saya… tentu saja syal ini jadi cantik karena dipakai sama Rani. hehehe…

← nyanya nari
7 things about me →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

  1. Merajut syal atau taplak meja lebih mudah daripada merajut cinta ya,mbak.Sekarang langka lho ada putri yang mau merajut,mereka lebih senang beli jadi di pasar atau mall
    maju terus dengan rajutannya.
    Salam

  2. hmm..mungkin itu namanya crocheting(merenda) mbak dee..klo merajut yg merajut..pake 2 tongkat, nah klo yg itu susah bgt..hehe..pengen kursus yg benar, biasanya aku bisa krn meng-uwel2 benang ..yg klo bosen ngelanjutin..trus jadi lupa caranya πŸ˜€

  3. @rina: sama2 rinaaa

    @uke: ah… sama aja. saya juga dulu sampe kejepit jarinya. tapi lama2 lancaaaarrr ayo… ayoo

    @p’dhe: iya… ayo, siapa yg mau saya rajuti cinta?

    @mb wanda: hihihi… bodohnya aku ini *pentung-pentung* ga bisa beda’in crochet sama knitting

  4. eh, itu rani temennya temenku yang sekarang lg kuliah di Albania bukan yo? *blas ra mbahas rajutane*

  5. @frozzy: kalo masang kancing, saya juga ga bisa πŸ˜‰

    @dee: wah, senang bertemu dengan dian yg lain, boleh… mau pesen syal warna apa? *mata duitan*

  6. Jadi inget banyak WIP crochetting yang belum disentuh2 hehehe
    eh, itu crochet atau knit jeng?
    pengen bisa deh knitting.. susah ga ya

  7. syalnya kuran9 jelas jenks..
    tapi ba9uss.. oran9nya ju9a cantiks.. πŸ™‚

    selamat merajut mimpi yaaa..
    sakseesss.. πŸ™‚

    makasi suda sin99ah πŸ™‚

  8. ehm..ehm…gimanaaa gituuu…godong waru padamu lah jeng…ayooo..rajut2an yang lain diteruskan dengan gagah, bergas…lan bianteerrrr…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai β€˜anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, β€œJangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak β€œIyooo…” menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca β€œini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →

Sekolah Kids Zaman Now

Sudah seminggu ini anak saya terlihat lebih sering murung di dalam kamar dan menolak menjawab kalau ditanya kenapa. Ini sungguh mengkhawatirkan buat saya. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bermain-main di kepala saya, sembari membayangkan diri saya sendiri ketika seusia dia. Enam belas tahun. Salah satu masa rawan. Hal hal...

Read More →