my baby’s poetry

How can I not be so proud of my little baby. She wrote lots of poetry. And there are that I’ve got today:

And also this one:

I wonder, which best friend that inspire her to write this poem. Now, ladies and gentlemen… Hold your breath… and prepare to read the next one:

I’m a proud and blessed mother. Alhamdulillah…

← Vanya kelas 2 & the Marie Antoniette Award
don't let them terrorize us →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

  1. subhanallah si vanya…
    kecil2 udah pinter nulis puisi…
    kalo udah besar pasti nge-blog juga kayak mama-nya… πŸ˜€

  2. Yang hebat bukan hanya anaknya, tapi tentu Ibunya, karena bisa mendidik anak menjadi sebegitu istimewanya πŸ™‚

    Semoga…. kelak saya menjadi Ayah yang hebat pula πŸ™‚

  3. – ibu mana yg ndak terharu disayangi anaknya

    – guskar, amien. semoga demikian ya

    – yoan, hahaha… mungkin dia akan membuat majalah sendiri πŸ˜‰

    – lala: nuwun bu

    – sakurata: haduh… itu anaknya yg hebat. juga eyangnya yang membesarkannya lbh banyak daripada ibunya sendiri. jadi malu… aku yg dapat pujian

    – ade: nanti giliranmu akan tiba jeng..

  4. Subhanallah Vanyaaa.., Bundo aja baru tulis puisi usia 32 tahun
    halah.. halah, gawat neeehh.. bundo punya saingan berat.. πŸ˜€

    tititp sun buat vanya ya Dian..

  5. baru aja meh komen, kalo aku jadi kamu, pasti dah nangis karena malu baca puisi terakhir itu….anak2 memang slalu punya cara untuk membuat ibunya merasa beruntung. Bagaimanapun kamu juga hebat telah mengambil keputusan untuk ‘menitipkan’nya pada bu tut. She’s the right person 4 taking care of vanya dalam posisimu sekarang ini….tanpa bermaksud meremehkan yang laen, you know what i mean…luv you and her and her and her too

  6. aaahhh lutuuu heuhuheuheuhe
    jadi inget dulu waktu masih kecil juga aku suka nulis puisi di diary warna warni yang wangi πŸ˜€

  7. – fadhil: makasih, aku link juga ya

    – nat: iya, punya vanya juga wangi2

    – zen: sama2

    – yanti: terima kasih say

    – p’de: she’s 7. hopefully she’s better than rendra πŸ˜‰

    – liyak: confirm!!

    – bundo: iya bundo, nanti diciumin anaknya

  8. Moga Vanya menjadi anak yang solihah, cerdas, dan kaya (hehehehe, kayak judul buku yg dipromosiin FeMale :D)
    Amiiin…

  9. wah Tenk, dia sekarang bahkan sudah bisa mendongengiku tentang kenapa kita tidak dianjurkan makan tomat dengan gula, dan hal-hal ajaib di dunia yang aku sendiri gak tau sebelumnya.

    ibunya? ih… masih sibuk aja mencari bapak baru nih πŸ˜‰

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi; g. Kawin Muda

Hari itu akhirnya datang juga. Hari dimana akhirnya aku menyerah karena sudah satu tahun berlalu sejak bujukanku pada simbah. Dua laki-laki yang disodorkan pertama padaku, kutolak mentah-mentah. Bangkotan! Sama sekali tidak menarik. Untung mereka tidak langsung datang bersama keluarga dan membawa mahar yang menyilaukan perut keluargaku, jadi aku masih bisa...

Read More →

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai β€˜anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, β€œJangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak β€œIyooo…” menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca β€œini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →