bee

Lebah?
Bukan

Tapi dia memang terus berdengung di kepalaku. Suaranya nyaring membangunkan malamku. Meramaikan siangku.

 

Mengganggu?
Tidak

Dia hanya mengusik kupu-kupu di rongga perutku. Mengaduknya seperti adonan udara, air dan jiwa.

Apa katanya?

Aku akan menjagamu dari ujung kaki sampai kepala. Aku menyayangimu.

Percaya?

Ini pinjaman dari semesta. Seluruh dunia adalah kumpulan kesementaraan. Tapi tidak semua orang beruntung sepertiku. Jadi, kunikmati saja. Aku menengadah, lalu dia yang jatuh ke tanganku. Dan dia bukan belenggu.

Bahagia?

Tidak kau lihat semu di wajahku?

Lalu mau kemana?

Langkahku tidak berubah. Masih dengan impian dan cita-cita yang sama. Bahkan sekarang jadi lebih berwarna, karena ada BEE.

ย Kota Baru, pagi 14 Oktober 2009

gambar diperoleh di sini

← sewindu anakku
STAND UP, TAKE ACTION →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

  1. y ichh bA6yus B4n6etzzzzzzzz…
    kalo saya bukan i love bee, tapi i love miyabi ๐Ÿ˜€
    mi

    uhuk..uhuk..kamu..uhuk..berasa muda kembali ya? ..uhuk..ah batuk nih

  2. Ngabsen hadiiir….

    Konon katanya, semakin berkualitas puisinya semakin sulit mahaminya… mungkin karena maknanya tersimpan begitu dalam… ๐Ÿ™‚

    Btw, puisinya bagus kok jeng… bangeetzzz… ๐Ÿ™‚

  3. di beranda facebookku, di sorotan, tertulis Dian Purnomo mengganti statusnya dari ‘lajang’ menjadi ‘berpacaran’. bee? akeh tunggale. aku manggil hubby jg bee, dari habeebee atau dari abee….cari panggilan yang laen ngapah? misalnya Kas…

  4. kuwi sing jare nganggep dirimu ‘pujaan hatiku’ nulis komene karo kemropok…jelas terlihat dari batuknya…jg bathuknya…. *NGUAKAKAKAKAKAKAK*

    *tanggapan Dyermaker
    Ora yooo…Hatiku gembira dan ikut bahagia kok. bwahahahahaha.
    kalo kemropok, statusnya blog ini udah bukan dibajak lagi, tapi dihancurkan. bwahahaha.

  5. matur nuwun, matur nuwun sederek2 semua…

    liyak, tenang… janjinya si mas dyer maker wis ora mengharapkan ‘susuk’ kok. hehehe
    bener to coy?

    *tanggapan dyermaker
    yoi coy. Tenang aja. hahahaha.
    iki kok jam segini masih OL…meh ngopo?
    Makanya jangan LDR..bwahahaha

  6. hidup acoy!!! semalem habis pacaran aku.

    edwin, terima kasihhhh

    morshige, sama. saya juga kurang paham ๐Ÿ˜€

    dallco, terima kasih sudah mampir..

  7. andyaaaannn… jelek. aku memang sudah punya anak, tauuu. itu si vanya namanya.

    yoan: iya nih, malu berat, jatuh cinta lagi. yuk yuk yuk.. diikuti jejak langkahku. enak lho, jatuh cinta.

  8. jiah, rangkaian kata yang berkelok menakjubkan.
    paling suka ma bait terakhir

    Langkahku tidak berubah. Masih dengan impian dan cita-cita yang sama. Bahkan sekarang jadi lebih berwarna, karena ada BEE.

    keeeerrrrreeeennnnnn

  9. Thanks Yessi…

    Dream House, ๐Ÿ˜€ iya… jadi riuh rendah menyenangkan nih, karena ada cintaku itu ๐Ÿ˜›

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai โ€˜anak nakalโ€™ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, โ€œJangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!โ€ Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak โ€œIyoooโ€ฆโ€ menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca โ€œini budiโ€ dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →

Sekolah Kids Zaman Now

Sudah seminggu ini anak saya terlihat lebih sering murung di dalam kamar dan menolak menjawab kalau ditanya kenapa. Ini sungguh mengkhawatirkan buat saya. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bermain-main di kepala saya, sembari membayangkan diri saya sendiri ketika seusia dia. Enam belas tahun. Salah satu masa rawan. Hal hal...

Read More →