gitu aja kok repot

Betapa hatiku takkan pilu
Telah gugur pahlawanku
Betapa hatiku takkan sedih
Hamba ditinggal sendiri

Siapakah kini plipur lara
Nan setia dan perwira
Siapakah kini pahlawan hati
Pembela bangsa sejati

Telah gugur pahlawanku
Tunai sudah janji bakti
Gugur satu tumbuh sribu
Tanah air jaya sakti

Gugur bungaku di taman hati
Di hari baan pertiwi
Harum semerbak menambahkan sari
Tanah air jaya sakti

Saya adalah penggemar lagu-lagu nasional, lagu wajib dan lagu kebangsaan. Tapi pagi ini lagu wajib ciptaan Ismail Marzuki ini terdengar begitu mengiris. Saya sedang ada di sebuah ruang karaoke bersama teman-teman ketika jam 7 tadi malam mendapatkan pesan-pesan singkat tentang kepergian Gus Dur. Saya langsung keluar dari kamar bernyanyi itu, menemukan ruang sepi untuk menelpon kantor saya. Berita duka itu segera tersiar dari semua media elektronik. Radio, internet dan TV.

Bukan sekedar ikut-ikutan kalau semua orang merasa kehilangan. Dia yang pernah memimpin negara ini dengan lugas. Dia yang setiap kalimat asal cletuknya sampai akhir hayat masih ditunggu. Dia yang dianggap sebagai wali di Jawa Timur. Dia yang dengan segala keterbatasannya memiliki pemikiran cemerlang. Dia yang pemimpin agama sekaligus berpikiran sangat terbuka. Dia yang pulang dengan tersenyum. Dia yang sudah menunaikan tugasnya. Dia yang “gitu aja kok repot” nya menjadi trade mark. Dia yang saya kagumi tanpa pernah berkenalan muka. Dia yang suatu saat nanti akan kita susul.

Selamat jalan Gus Dur. Saya berjanji untuk tidak repot lagi.

← two face(s)
sexy underwear adalah sebuah investasi →

Author:

Dian adalah penulis novel Kita dan Rindu, Rahasia Hati, Ketika Ibu Melupakanku dan 5 buku lainnya. Lahir 1976, menyelesaikan kuliah di Komunikasi STIK Semarang & Kriminologi UI. Anak ke-2 dari 4 bersaudara. Ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan anak-anak lain. Child Protection Advocacy Specialist di Yayasan Sayangi Tunas Cilik. #dianspoint #geocaching #lifeofawriter #lifeofatraveler #workhardtravelwell #luckybastardian #moviegoer

  1. Amien…
    Beliau pernah bilang, Surga adalah tempat mereka yang menyukai humor.
    I wonder if he’s there already

  2. Beliau adalah panutan dalam semangat pluralisme, dan kini kita semua telah kehilangan sosok beliau yang bisa menjadi pengayom banyak orang tersebut.

  3. hoho… gusdur sampai sekarang pun masih bisa jadi kontroversi. thumbs up buat beliau. semoga amal ibadahnya diterima Allh SWT.

  4. dengan tidak mengurangi rasa hormat, mungkin di alam sana pun almarhum Gus Dur tetap berkelakar, “semua manusia pasti akan mati, begitu pula saya, gitu aja kok repot”

    selamat jalan Gus Dur, semoga bangsa ini tetap menjunjung tinggi pluralisme..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

Mangga Indramayu dan Exploitasi Tubuh Perempuan

Apa yang muncul di kepala tentang Indramayu? Mangganya yang enak? Perempuannya yang cantik? Atau keduanya secara bersamaan? Dua tahun lalu, pada saat menyelesaikan tugas akhir kuliah, saya menghabiskan beberapa waktu tinggal di Indramayu untuk mengumpulkan data. Indramayu—satu kabupaten di Jawa Barat—bukan tempat yang asing buat saya. Sebelumnya, bersama OnTrackMedia Indonesia,...

Read More →

Ketika Ibu Melupakanku

Lagi-lagi, di saat beberes lapak, saya menemukan bahwa di sini belum pernah tertulis apapun yang berkaitan dengan novel Ketika Ibu Melupakanku. Novel ini diangkat dari kisah nyata DY Suharya yang ibunya terkena demensia. Menurut yang sudah membaca, mengharu biru dan bikin mewek. Saya sendiri ingat beberapa kali nangis dalam proses...

Read More →

Taj Mahal, Monumen Egois

Lebih dari empat tahun lalu saya mendapat kesempatan melakukan perjalanan ke India, untuk mengikuti Konferensi Alzheimer se-Asia. Thanks to ALZI for this. Dan seperti halnya India 1st time traveler, pasti akan menjadikan Taj Mahal sebagai salah satu tujuan wajib. Karena waktu yang kami miliki tidak banyak, maka menyewa seorang pemandu...

Read More →

Semalang di Malaysia

Setiap perjalanan selalu meninggalkan bekas yang berbeda. Begitu juga dengan perjalanan saya ke Malaysia beberapa waktu yang lalu. Perjalanan ini sama sekali bukan perjalanan wisata. Kami empat orang di dalam satu tim yang sedang mengemban misi untuk pengambilan gambar untuk video training calon Buruh Migran Indonesia (BMI) dengan tujuan Malaysia....

Read More →

Rahasia Hati

Baru sadar banget bahwa saya belum pernah menulis apapun tentang Rahasia Hati, novel saya yang ke-4, terbit 2012. Maka karena udah agak terlalu lama buat mereview tulisan sendiri, saya browsing dan menemukan beberapa tulisan yang merupakan review atau sinopsis novel itu. Silahkan dibaca sendiri dan... terima kasih sudah menulis tentang...

Read More →

Adik Sampai Tua

Hari itu suasana GOR lain dari biasanya. Ibu-ibu baik hati yang memakai seragam biru berkumpul semua setelah beberapa diantaranya menjemput teman-temanku. Temanku juga datang semua bersama ibu-ibu mereka. Tapi aku tidak melihat si Bapak. Kami menyebutnya bapak karena dia seperti bapak untuk kita semua. Sebetulnya dia itu sama seperti ibu-ibu...

Read More →

Lucky Bastard #4: Lahir di Generasi Musik Terbaik

Sejak kecil saya selalu merasa istimewa. Terserah apa kata orang! Pokoknya saya istimewa :) Well, ain’t we all? Maka untuk membuktikan keistimewaan saya, saya sering menghabiskan waktu untuk mencari apa yang membuat saya istimewa. Dimulailah dengan menanyakan pada Google, what happened on 1976. Maka saya menemukan beberapa kejadian berikut (ini...

Read More →