the upcoming novel

bagaimana menurut teman-teman?

Saya ulang lagi, bagaimana menurut teman-teman?

← I've got tagged
grebeg sampah 2010 →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

  1. @aryadevi: ringkasannya sengaja disimpen, mau pamer cover dulu say

    @denhan: diburuuuuu

    @kane: kamu bantu cari permodalannya dulu gih

  2. dan mengapa terbersit dugaan bahwa itu adalah kamu ckckckckckc asal gak di bikin jelas, bodymu oke lho nyah cekekekekeke

  3. @kyaine: horeee… bulan depan ya mas

    @quinie: nanti kontesnya berhadiah yang lebih seru deh πŸ˜‰ tunggu ya

    @liyak: sumprit bu… kuwi dudu awakku. saiki wis ra wani foto koyo ngono. hehe sadar awak

    @monda: bulan depan ya say. makasiiii

  4. @wempi: biar jelas, nanti baca novelnya dulu ya πŸ˜‰

    @willy: makasiiii

    @riyono: belinya langsung aja mas, biar seru. tapi nanti… kalau udah cetak ya πŸ˜‰

    @orange: thanks dear

  5. wuaaahhhhh…. pengennnn mbacaaaa…
    penasarannnn euy…

    semangattt.. semangattt…

    covernya keren.. πŸ˜› πŸ˜›
    *tepatnya menggoda :))

  6. @kucrit: covernya aja, what do you think? πŸ™‚

    @deekkyy: siap… meluncur!!!

    @hanif: makasih. amieennn…

  7. hmm…. cakep tuw gambar πŸ™‚
    cuman klo menurutku agak kelam warnanya, iya gak sey???

  8. Dua sisi bintang, ini perang batin antara seorang perempuan dan seorang public figur kah?

    ceritanya bintangnya masih single atau sudah berkeluarga yah?

  9. @deekkyy: thanks kunjungannya say

    @afank: suram ya… mmm, ok, nanti aku bilang desainerku ya bu’

    @lambang: hahaha… soalnya dikomporin mas, jadi panas deh

    @gema: hahaha… ceritanya belum ada yg berkeluarga. all single tournament jeng

    @nh18: wuah… ada yg tergoda. nuwun

  10. just wanna say, hi…nice blog…!

    kabar2i klo dah rilis ya mba?
    hugs fr fynn πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai β€˜anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, β€œJangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak β€œIyooo…” menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca β€œini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →

Sekolah Kids Zaman Now

Sudah seminggu ini anak saya terlihat lebih sering murung di dalam kamar dan menolak menjawab kalau ditanya kenapa. Ini sungguh mengkhawatirkan buat saya. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bermain-main di kepala saya, sembari membayangkan diri saya sendiri ketika seusia dia. Enam belas tahun. Salah satu masa rawan. Hal hal...

Read More →