glory glory Manchester United

viagra online viagra prescription

Malam ini saya merasa biasa saja menonton kemenangan Manchester United (MU) atas sebuah perhelatan berjudul Liga Primer. Karena saya bukan penggemar MU dan di atas itu semua, saya bahkan sama sekali bukan penggemar sepak bola. Saya menonton sepak bola belakangan ini, karena saya sedang dekat dengan orang yang berhasil memaksa saya menemaninya menonton setiap laga MU.

Tapi malam ini, melihat seluruh kru yang terlibat membangun MU menjadi sebuah tim hebat berdiri di tengah lapangan, menyaksikan satu per satu manusia-manusia berseragam merah dengan senyum bahagia, melihat wajah datar Van der Saar ketika berpamitan, karena dia tak mampu menahan laju usia, menyaksikan angka 19 sebagai lambang berapa kali MU sudah menjuarai Liga tersebut, membuat saya tidak kuasa untuk ikut terharu.

Lebih dari kemenangan-kemenangan yang pernah diraih oleh MU, saya lebih merasa disentuh dengan keras oleh orang-orang yang mendapat kehormatan membawa piala ke tengah lapangan. Seorang laki-laki berseragam tentara dengan dua kaki yang sudah diganti logam, mata tertutup satu, beberapa bekas luka lain di wajahnya, seorang lagi di sebelahnya berjalan tidak setegap tentara pada umumnya. Saya curiga dia juga memiliki salah satu kaki yang sudah diganti. Ya, mereka adalah korban-korban perang yang hari itu mendapatkan penghormatan dengan membawakan piala kemenangan untuk juara Liga Primer tahun ini. Saya menelan ludah.

Boleh dong, kalau saya bermimpi suatu saat negeri ini memiliki hal-hal indah dari peristiwa yang saya saksikan malam ini di televisi?

  • Sebuah tim – tidak hanya sepak bola – yang solid dan jujur dan berjuang sampai titik darah penghabisan.
  • Sebuah penghormatan terhadap mereka yang berjasa pada bangsanya. Maaf OOT, saya jadi ingat penghargaan yang diberikan oleh RCTI pada Taufik Kemas sebagai wakil rakyat tahun ini. Oh… kalau dibandingkan dengan Jusuf Kalla dan kandidat-kandidat lainnya, saya rasa pak Taufik masih harus berjuang lebih keras untuk mendapatkannya. Anyway…
  • Sebuah loyalitas. Saya ingat Ryan Giggs sudah bermain di MU sejak saya belum boleh nonton bola karena terlalu malam acaranya.

Saya rindu itu semua. Karena ketika saya menengok kembali ke negeri saya. Saya merasa masih jauh dari itu semua. Saya jadi berdo’a semoga ponakan saya yang minta dibelikan seragam MU abal-abal beberapa hari lalu, akan menjadi pemain bola yang tangguh dan orang yang jujur suatu saat kelak.Gambar dari sini 

← satu abad perjuangan perempuan
Kantor Imigrasi Depok →

Author:

Dian adalah penulis novel Kita dan Rindu, Rahasia Hati, Ketika Ibu Melupakanku dan 5 buku lainnya. Lahir 1976, menyelesaikan kuliah di Komunikasi STIK Semarang & Kriminologi UI. Anak ke-2 dari 4 bersaudara. Ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan anak-anak lain. Child Protection Advocacy Specialist di Yayasan Sayangi Tunas Cilik. #dianspoint #geocaching #lifeofawriter #lifeofatraveler #workhardtravelwell #luckybastardian #moviegoer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

Lucky Bastard #4: Lahir di Generasi Musik Terbaik

Sejak kecil saya selalu merasa istimewa. Terserah apa kata orang! Pokoknya saya istimewa :) Well, ain’t we all? Maka untuk membuktikan keistimewaan saya, saya sering menghabiskan waktu untuk mencari apa yang membuat saya istimewa. Dimulailah dengan menanyakan pada Google, what happened on 1976. Maka saya menemukan beberapa kejadian berikut (ini...

Read More →

Selamat Ulang Tahun, Pak

Bapak sayang, Hari ini Bapak merayakan ulang tahun di tempat yang berbeda dengan kami. Aku ingat pada suatu hari Bapak menolak ketika Ibuk mau merayakan hari lahirmu. “Nanti saja kalua sudah bonusan, baru dirayakan.” Bonus yang Bapak maksud adalah kalua sudah lewat dari usia 63 tahun Aku tahu dari mana...

Read More →

Apa Kabar Perlindungan Anak di Abad Pertengahan?

Pada sebuah kunjungan ke Kastil Muiderslot - museum tertua di Belanda, pertanyaan itu secara serius ditanyakan Mike pada saya. "Can you imagine working as child protection specialist at that time, liefje? You'll never be home on time." Atau sesuatu semacam itu kira-kira. Seperti layaknya seorang turis di negeri orang, begitu...

Read More →

Ambar Margi; o. Mumi

Waktu rasanya begitu panjang tetapi aku tidak benar-benar merasa ada di dalamnya. Yang kuingat hanya kami sampai di sebuah motel di pinggiran kota. Seseorang menghampiri kami lalu menanyakan mau berapa lama kami menginap. Aku tidak memahami sepenuhnya pembicaraan lek Minto dan orang itu. Setelah terjadi kesepakatan, orang itu menunjukkan arah,...

Read More →

Bapak Pulang

Beberapa kali saya menulis draft tulisan tentang Bapak, tetapi selalu terdistrak, sampai akhirnya terlambat. Sekarang Bapak sudah tidak akan membaca tulisan ini. Tapi memang Bapak tidak perlu membacanya. Bapak tahu apa yang dilakukannya dan dirasakan oleh anak-anaknya. Saya dilahirkan di kota kecil Salatiga, dikelilingi oleh orang-orang tua yang membentak anaknya,...

Read More →