Catatan Perjalanan Baduy

28 – 29 Juli 2012 akan saya kenang sebagai sebuah perjalanan yang alami. Sungguh-sungguh alami karena dirancang sedemikian rupa secara spontan, disuarakan pada khalayak sejak mulai direncanakan, mendapatkan 6 peserta pada awalnya, lalu satu persatu berguguran juga untuk alasan-alasan yang alami, akhirnya saya, seorang tokoh lain bernama Indra dan Ari berangkat juga ke Baduy. Padahal, seandainya salah satunya juga dengan alami membatalkan diri, saya tetap akan berangkat sendiri. Meskipun ternyata Ari juga berpikiran sama πŸ™‚
Perjalanan diawali dengan dua orang yang terlambat, yang singkatnya membuat saya harus membayar suplisi alias denda commuter line 50 ribu rupiah. Ini harga KRL termahal saya πŸ™

Sebagai catatan, kalau teman-teman ingin melakukan perjalanan ke Baduy, dari stasiun Tanah Abang temukan kereta ke Rangkas Bitung. Disarankan dengan kereta Rangkas Jaya, bayar 4000 rupiah, berangkat jam 7.50, menempuh kurang lebih 1,5 jam perjalanan. Sesampainya di stasiun Rangkas Bitung, jalan keluar lalu belok kiri mentok, naik angkot biru ke terminal Aweh. Dari Aweh naik minibus 3/4 ke Ciboleger. Bayarnya 15 ribu, rasanya semacam naik roller coaster di Dufan. Untung saya sedang jaim, jadi saya bisa menahan mual dan mau muntah. Sampai di Ciboleger jam 11.30-an.

Di Ciboleger, kami sudah dijemput oleh dua teman dari Baduy Dalam. Safri dan Juli. Dua anak muda berpakaian bawahan samping aros atau semacam rok bergaris hitam dan atasan berlapis, dalaman putih luaran hitam, serta telekung atau ikat kepala putih dan bertelanjang kaki. Ini yang membedakan Baduy Luar dan Dalam. Baduy Luar bertelekung biru, sedangkan Dalam putih.
Setelah makan siang di warung kami berangkat jam 12-an. Sepanjang perjalanan, doa salah adalah: Tuhan, beri kami kekuatan, beri kami kemanfaatan atas perjalanan kami, sederhanakan keiginan-keinginan kami, biarkan semuanya berjalan alami dan beri teman yang sedang mengecek kondisi kakinya paska kecelakaan futsal di belakang saya itu ~ kekuatan. Saya benar-benar kuatir dengan kondisinya. Jadi pertanyaan saya selalu, “Apa kabar kaki?” Yang hampir selalu dijawab dengan ‘aman’. Lega mendengarnya. Karena saya tidak bisa membayangkan kalau jawabannya tidak aman:(
Perjalanan kami melewati beberapa kampung Baduy Luar. Mereka menata rumahnya jauh lebih rapi dan teratur dibanding Baduy Dalam. Dinding anyaman bambunyapun memiliki corak, setiap rumah punya teras dari kerai bambu tempat mereka menenun atau duduk-duduk bersosialisasi dengan tetangga maupun tamu lain. Rata-rata rumah Baduy luar sudah memiliki kamar mandi yang terbuat dari bilik-bilik bambu, walaupun belum semuanya memiliki sendiri. Leuit atau lumbung padi berjajar rapi diantara kampung-kampung tempat mereka tinggal. Konon padi yang diletakkan di leuit bisa bertahan sampai puluhan tahun. Jadi sementara kita sibuk dengan ekspor impor beras, mereka tenang dan damai karena di lumbungnya sudah ada persediaan makan sampai tahun depan.

Kemudian kami bertemu sebuah jembatan bambu bernama Gazeboh yang melintasi sungai Ciujung. Ujian pertama dimulai. Saya yang takut ketinggian harus berjuang sendiri melawan ketakutan saya. Lolos.. Lalu perjalanan kurang lebih 4 kilometer lagi. Menanjak dan menurun bergantian. Sampailah di jembatan bambu berikutnya, masih melintasi sungai yang sama, nama jembatannya Tambayang. Tambayang adalah batas Baduy Luar dan Dalam. Dari sini kami sudah harus mengantongi handphone dan kamera atau alat apapun yang bisa mengambil gambar. Kami tidak lagi diijinkan mengabadikan gambar. Saya, Ari dan ‘Indra’ harus menggunakan indra kami yang sesungguhnya yaitu mata (as eyes) dan mata jiwa.
Tanjakan Cinta menyambut kami. Saya dan Ari yang sudah memberikan kehormatan pada Safri dan Juli untuk membawa ransel kami, tetap saja tidak bisa menjajari langkah dan kegesitan mereka. Bahkan bocah Baduy Dalam yang berjalan beriringan dengan kami melesat jauh lebih cepat dari kami. Jembatan Cinta menghajar kami kurang lebih 200 meter tingginya tanpa ampun. Tinggal pilih, batu yang menonjol curam atau tanah merah yang seperti serbuk pasir membuat kami mudah tergelincir? Menurut Safri dan Juli, kalau musim hujan lebih seru lagi. Well yeah.. Baiklah, musim hujan nanti kami akan datang lagi untuk membuktikannya πŸ™‚
Singkat kata, jam 16.30 kami sampai di Baduy Dalam, di kampung Cibeo tepatnya. Saya tidak langsung masuk rumah, tapi duduk di teras memandangi rumah-rumah yang jauh lebih sederhana dibanding di Baduy Luar. Dinding bambunya tidak dianyam dengan motif tertentu, atapnya dari daun kirey, kayu-kayu penopangnya tidak dipaku sama sekali, tetapi dipasak atau diikat satu sama lain, rumah panggung itu menurut Ari mengikuti prinsip tahan gempa. Mereka tidak ditanam ke tanah, tetapi ditumpukan pada batu datar.
“Kelak saya mau punya rumah semacam ini kata saya dalam hati,” lalu tiba-tiba teman di sebelah saya sambil senyum-senyum bilang, “Aku pengen nduwe omah koyo ngene.”
Halah! Nggak penting banget mas Indra ini. Kok nyama-nyamain terus lho πŸ™‚
Setiap orang yang lewat memandang kami dan menyapa. Tapi 70% kami jawab dengan, ‘iya, dari Jakarta.’ Padahal ternyata pertanyaannya bukan itu. Hehehe.. Ada yang sok tau.

Lalu jam 18.30 kami mandi. Aturan baku di Baduy, no sabun, no sampo, no deterjen, no odol. Tapi kami masih diijinkan memakai sikat gigi, sementara penduduk asli memakai sabut kelapa saja untuk membersihkan giginya. Saya membawa kain sendiri untuk melilit tubuh ala Nawang Wulan menanti Joko Tarub di kali. Tapi ternyata saya melakukan hal yang sia-sia. Perempuan-perempuan mandi telanjang, di belakang kami ada sebuah jembatan, yang tidak seorangpun ketika lewat di sana menengok ke arah kami. Tuhan, indah sekali dunia ini, kalau semua orang seperti ini.
Pengalaman Ari lucu lagi. Dia mandi sendiri. Kebetulan wilayah para lelaki sedang sepi. Dia yang sudah bersiap telanjang malah grogi hingga akhirnya memutuskan untuk memakai celana pendeknya saja berbasah-basah. Hahaha.. Kurang pede πŸ˜›
Selesai mandi, makanan sudah dimasak oleh Safri. Nasi yang berwarna kekuningan dimasak dengan keras, menurut Safri ini adalah masakan nasi pertamanya-jadi dia minta dimaklumi-padahal nasinya enak sekali, mie instan, sambal muncang (kemiri basah) dan sarden. Oh.. nikmatnya. Kerupuknya adalah pangsit bawaan kami plus kol mentah sebagai lalapan. Klop. Biasanya penduduk asli makan beralas daun pisang, tapi kami agak menyesal malam itu, karena Safri berniat menghormati kami dan menyuguhkan makanan dengan mangkok. Untung esok harinya kami makan dengan beralas dan bersendok daun pisang.
Jam 7 malam kami berkunjung ke rumah mertua adiknya Safri. Adiknya yang berusia 16 tahun baru menikah minggu lalu. Di sana perempuan dinikahkan umur 16 – 18 sementara laki-lakinya umur 18 – 20. Perjodohan orang tua rata-rata menjadi awal pernikahan mereka. Tentang ini saya akan tulis di note lain.
Di rumah itu kami bermain kecapi. Saya sudah bisa memainkannya dengan apik pada sentuhan awal saya, karena katanya memang tidak ada lagu atau nada tertentu dalam kecapi. Mainkan kecapi dengan hati, maka akan muncul kidung merdu. Dan karena saya memainkan dengan hati, artinya kidung saya sudah merdu πŸ˜›

Jam 20.30 kami pulang ke rumah Safri. Kami mulai merebahkan diri di keheningan. Lampu berbahan bakar minyak goreng masih menyala redup. Sungguh sangat alami. Saya tidak berhenti bersyukur diberi kekuatan bisa menyatu dengan alam di Baduy. Tidak lama, terdengar dengkuran Safri dan Juli yang kepalanya berada 20 cm dari kepala saya. Hanya saja arahnya yang berbeda. Kaki saya menghadap Timur, kaki mereka menghadap Barat.
Saya, Ari dan Indra ke-6 masih berbisik-bisik sampai jam 11. Ada banyak hal yang perlu kami bicarakan setelah berpuluh tahun tidak bertemu.
Baduy Dalam benar-benar ditelan malam. Suara tangis bayi berlomba dengan suara ibunya yang mencoba menenangkan. Suara obrolan di salah satu rumah tetangga bisa kami dengar dengan jelas. Saya dan Ari terus berusaha memelankan suara sampai akhirnya dia menghilang duluan. Sepi. Saya jadi ingat pertanyaan Ari pada Safri sore tadi, “Eh, kalau tinggalnya masih serumah sama orang tua dan tidur di ruang yang sama, kalau mau itu-itu gimana?”
Hahahaha… Pertanyaan bodoh. Tapi sebenarnya saya juga penasaran. Sungguh. Bahkan suara daun bergesekan saja bisa saya dengar dengan jelas.

Seperti biasa, saya tidak bisa tertidur dengan orang asing di sekeliling saya. Saya hanya terlelap beberapa menit ketika lampu minyak kehabisan minyaknya dan padam. Gulita. Bahkan cahaya bulan hari ke-8 saja tidak sanggup menembus sela dinding bambu. Mungkin 2-3 jam saya mencoba menikmati gelap dan dingin, sampai akhirnya ada yang terbangun dan mengambilkan saya minum karena saya sangat haus. Hehe.. PR gila, mencari minum dalam kegelapan.
Sekali lagi, ini adalah perjalanan yang sangat alami. Gelap, dingin, haus, pengen pipis tapi takut, berbicara dalam volume yang sangat rendah, persahabatan, juga perlindungan. Tentang perlindungan, ini saya temukan ketika melihat Juli dan Safri bergelung di dalam tikar daun pandan. Mereka berlindung dari dingin tanpa selimut. Ari berlindung dari dingin dengan lemaknya, sementara saya yang sudah manja berlindung di balik sleeping bag saja, masih menggigil disko karena suhu yang dingin. Lalu perlindungan para sahabat yang menggenggam tangan saya di luncuran pasir. Kali ini saya tidak peduli apakah jarinya lebih gendut dari jari saya atau lebih kurus. Terima kasih, Juli untuk melindungi saya dari tergulung di turunan itu.

Baiklah, cerita gelapnya malam kita skip saja ke pagi harinya.
Setelah pipis ke sungai di dalam kegelapan, dengan telanjang kaki karena mencoba lebur dengan Baduy, kami mengambil air dengan ’ember’ yang terbuat bambu yang dipotong seperti kentongan dengan dua lubang di sisi pinggir bambu bagian atas, kami duduk-duduk di teras rumah. Menyapa satu persatu mereka yang pergi ke ladang.
Ohya, penduduk Baduy yang sudah berkeluarga harus memiliki ladang dan rumah sendiri di ladang. Kami tidak berhenti kagum, menganalogikan mereka memiliki kantor dan villa sendiri. Di sini satu pertanyaan terjawab, jika mereka ingin bermesraan tanpa terganggu atau mengganggu yang lain, ya tinggal menginap saja di rumah ladang. Selesai kan? πŸ˜‰

Dari rencana pulang jam 7 yang mundur ke jam 8, jam 8 yang masih ogah-ogahan, bahkan berniat tidur lagi setelah makan, akhirnya jam 9 kami harus memaksa diri untuk beranjak. Setelah berpamitan pada orang-orang di sekitar, perjalanan kami mulai. Berat rasanya meninggalkan Baduy Dalam. Sayangnya tamu memang tidak diijinkan menginap lebih dari satu malam di sini. Kalau di Baduy Luar masih boleh.
Kami melalui rute yang berbeda. Kali ini, tidak ada kampung Baduy Luar yang kami lewati. Hanya ladang, turun sampai ke kali kecil, lalu naik lagi dengan terjal, lurus sedikit, lalu turun lagi, sungai lagi, lalu naik lagi, terus seperti itu rutenya. Sekali lagi saya memanjatkan doa yang serupa untuk teman saya yang bekas jahitannya masih terlihat jelas di mata kaki kanannya.
Kami berjalan super cepat kali ini. Dalam tiga jam harus sudah sampai Ciboleger karena kami mengejar bus 3/4 yang berangkat jam 12, agar kebagian kereta jam 4 sore ke Jakarta. Tapi kami sempat mampir sebentar di danau kurang lebih 15 menit sebelum Ciboleger. Seandainya punya cukup waktu, saya ingin mencoba berakit sedikit ke tengah. Tag! Itu agenda saya next time berkunjung ke sana.

Semua berjalan dengan alami. Tuhan memudahkan perjalanan kami. Bus 3/4 tidak hanya berhenti di Aweh, tapi dia mengantar Kami langsung ke stasiun. Jam 2 siang kami sudah di atas kereta ekonomi menuju Stasiun Senen. Berat rasanya mengakhiri perjalanan kami.
Ada yang tertinggal di Baduy. Kearifan berpikir mereka yang jauh dari obsesi duniawi, menyatunya masyarakat adat dengan alam, kedekatan setiap orang yang ada di dalamnya, kesederhanaan mereka, semuanya membuat saya merasa tergodam berkali-kali dengan palu yang tidak tampak. Saya mungkin tidak bisa mengambil apa yang ditinggalkan oleh hati saya di Baduy, tapi diam-diam ada yang menggumpal dan berjanji akan belajar lebih banyak untuk menjadi searif dan sesederhana mereka.
Kalau orang Baduy percaya bahwa Tuhan menciptakan mereka sebagai pancernya bumi, penjaga kedamaian dan keseimbangan, maka saya akan membantu mereka untuk mewujudkannya.

Di awal perjalanan, saya dan Ari berpikir bahwa kami adalah the only traveller at the moment. Dan mungkin juga itu yang dipikirkan oleh setiap tamu yang datang ke Baduy atau ke tempat lain seperti gunung, laut atau yang lain lagi. Tapi di akhir perjalanan, kami berpikir berbeda. Bukan kami traveller itu. Dalam hal Baduy, para pemuda Baduylah traveller sesungguhnya. Mereka yang ke Jakarta hanya sesekali, mungkin dalam hitungan satu atau dua kali dalam setahun, tapi hafal setiap kelok yang pernah mereka lalui. Mereka menemukan sahabat-sahabat yang datang dan kemudian menetap di dalam hati masing-masing. Mereka bisa menemukan tempat yang belum pernah mereka datangi. Mereka yang tidak beralas kaki dan setiap kali harus menerima tatapan curiga atau menuduh, tidak berhenti melakukan perjalanan.

Semakin dalam perenungan, semakin sadar ada banyak hal yang harus saya pelajari dari mereka. Dan sekarang, kerinduan itu menendang-nendang di dalam perut saya. Saya rindu pulang lagi. Ke pelukan alam yang tenang.

Jadi, pada perjalanan berikutnya, siapa yang mau secara alami bergabung dengan kami?

NB: Foto akan di upload menyusul πŸ™‚

← tak ada yang abadi
kesederhanaan dalam kerumitan →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

  1. Mba Diaaaannn,, pa kabaarrr…
    Msh ingatkah dgn Vina, dulu anak magang di female yg paling rajin. Hehehe…
    Seneng bgt baca tulisanmu mba, tentang perjalanan hidup ke berbagai tempat.
    Kalo pas waktunya match, ak pgn gabung mba.
    Bolehkah? :))

  2. Vinaaa..
    Kabar baik. Tentu saja aku mengingatmu dengan baik. Kutunggu kau bergabung denganku dalam perjalanan-perjalanan selanjutnya πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Wong Fu Kie

Dia menarikku turun dari taksi online yang sudah setengah jam tidak bergerak di keramaian pasar, tepat di depan toko yang penuh sesak dengan mainan. Keputusan tepat, hanya lima menit waktu yang kami butuhkan untuk sampai di tujuan. Tetapi dengan mobil, mungkin bisa lebih dari satu jam. Kami meliuk-liuk ala Gal...

Read More →

Banda, Jejak yang Gelap dan Dilupakan

Saya mengaku dosa dulu sebelum menulis ini ya. Sudah lama sekali saya nggak nonton film buatan Indonesia. Saya merasa berdosa, sombong, angkuh, sok Hollywood, name it lah! Saya minta maaf. Setelah ini saya janji akan lebih banyak berinvestasi di XXI dengan nonton film buatan anak negeri. Amin. Baiklah, saya ceritakan...

Read More →

Pasola, Sebuah Budaya Kekerasan

Hari Senin, 20 Maret 2017 adalah salah satu hari keberuntungan saya di awal tahun ini, selain banyak hari-hari lainnya. Dalam perjalanan kerja ke Sumba, tim OnTrackMedia mendapat kesempatan untuk menonton Pasola di Wainyapu Kodi. Sebetulnya kami berniat mengikuti prosesi dari dini hari ketika orang mencari nyale di laut, tetapi kami...

Read More →

Logan, Perlindungan Anak dan Alzheimer

Minggu lalu saya nonton Logan dengan anak saya. Ya, saya boleh disalahkan karena Vanya belum 17 tahun dan dia ikut nonton film penuh kekerasan itu, dan saya mengizinkannya. Tapi rupanya dia punya mekanisme menghindari nonton adegan kekerasan. Tiap ada adegan kekerasan dia memalingkan seluruh wajahnya ke HP dan scrolling entah...

Read More →

Perempuan Tidak Sama dengan Ibu

Selamat Hari Perempuan Sedunia! Hari ini berbeda dari hari-hari lain ketika saya menggunakan google untuk mencari informasi. Biasanya saya selalu senyum senang melihat doodle yang lucu-lucu dan super kreatif. Tapi kali ini, doodle yang muncul agak membuat saya berpikir keras. Doodle hari ini adalah 8 ilustrasi yang menggambarkan perempuan dan...

Read More →

The Last Page

Pagi ini saya berharap bangun pagi dan mendapat keceriaan hari Minggu yang paling berhak saya dapatkan. Tapi rupanya berita yang pertama masuk adalah berita duka. Tommy Page meninggal dunia. Yang bikin lebih miris lagi adalah penyebab meninggalnya karena bunuh diri. Saya segera mencari tahu apa yang terjadi, tetapi kebanyakan informasi...

Read More →