Simposium Lingkungan Ramah Demensia

Kembali semesta memberi saya kado istimewa tahun ini. Perjalanan ke Nagoya ini seharusnya ditujukan pada kolega saya, DY tetapi karena dia sendiri harus berkeliling Eropa untuk memenuhi undangan pertemuan Dementia Council, maka saya yang mendapat keuntungan. Sebuah perjalanan ke negara yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, serta belajar langsung dari para pakar lansia dan demensia.

22 – 26 Februari 2016 saya berada di Nagoya untuk mengikuti simposium mengenai masyarakat ramah demensia. Bersama Jepang, Laos, Taiwan dan Thailand, saya adalah satu-satunya peserta dari Indonesia. Bangga? Yes! Sangat. Selama tiga tahun ini Alzheimer Indonesia sangat gigih berupaya untuk melakukan penyadaran masyarakat serta menciptakan lingkugan yang ramah lansia dan demensia dengan berbagai pendekatan. Beberapa kali ALZI juga mendapat undangan untuk berbagi pengalaman tentang upaya melakukan hal ini. Rencana Aksi Nasional, Kota Ramah Lansia dan Demensia, Pasukan Ungu, membuat beberapa negara tersebut manggut-manggut di Nagoya. Taiwan dan Jepang sudah lebih dulu maju memang. Tetapi Laos dan Thailand, masih banyak pekerjaan rumah di bawah meja mereka. Begitu juga dengan Indonesia.

Saat ini Jepang menurut data adalah negara dengan jumlah lansia terbesar di dunia. Batas usia lansia di Jepang juga berbeda dari Indonesia dan kebanyakan negara lain. 65 tahun. Konon kabarnya, para geriatician (dokter spesialis lansia) malah berniat untuk menaikkan batas usia lansia menjadi 75 tahun. What? Saya langsung protes. Itu kan tua banget. Tetapi ternyata ada alasan kuat dibalik permintaan tersebut. Jadi Pusat Geriatri & Gerontologi nasional Jepang yang mengadakan acara ini, pernah melakukan penelitian tentang kondisi kesehatan lansia.

Sepuluh tahun lalu diukur kecepatan berjalan lansia dibandingkan dengan sekarang. Terbukti bahwa orang berusia 70 tahun ke atas saat ini berjalan lebih cepat dibanding 10 tahun lalu. Ini adalah salah satu tolok ukur perbaikan kondisi kesehatan. Menarik ya? Saya jadi bercermin kembali ke Indonesia. Beberapa orangtua berusia di atas 70 tahun yang saya kenal tampak jauh lebih tua dari usianya. Tetapi ada juga yang usianya sudah 87 tahun lebih, masih bermain tenis & golf dengan rutin dan sangat bugar.

Dengan usia harapan hidup yang semakin tinggi, maka bukan hanya tiap individu yang perlu mempersiapkan diri akan menjadi tua yang bagaimana nantinya. Negara juga harus bersiap dengan sistem dan fasilitas yang ramah terhadap lansia, karena hal ini bukan tidak diketahui jauh hari sebelumnya. Di Jepang sudah ada lahan pekerjaan yang diperuntukkan hanya untuk lansia. Di usia 40 tahun, setiap orang dipaksa untuk memiliki asuransi hari tua. Yang terakhir ini rasanya skema yang kita nggak perlu menunggu negara ‘memaksa’ ya. Kita lakukan sendiri saja mulai sekarang. Toh ini adalah praktek baik.

Budaya menarik lain yang juga membuat saya terkagum-kagum adalah budaya berjalan kaki. Setiap hari jalanan penuh dengan orang berjalan kaki. Trotoar dibuat sangat lebar, nyaman dan memiliki fasilitas ubin bertanda untuk tuna netra. Sekedar catatan, di beberapa trotoar di Indonesia juga sudah memiliki fasilitas ini, tetapi sering kali tidak dipahami orang sehingga tertutup oleh motor yang berparkir di trotoar atau menjadi lapak pedagang kaki lima. Di Jepang lansia berjalan menuju subway serta kendaraan umum lainnya. Setiap kali ada lansia yang akan naik kendaraan umum, yang lebih muda akan memberikan jalan dan supir akan menunggu dengan sabar & ramah.

Banyak hal yang bisa kita tiru ya. Semoga catatan awal dari Nagoya ini menjadi reminder untuk setidaknya saya sendiri agar mempersiapkan hari tua yang baik & lebih menghormati orang yang lebih senior.

← Selingkuh
Secret Sender →

Author:

Dian Purnomo adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dian lahir 19 Juli 1976 di Salatiga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Logan, Perlindungan Anak dan Alzheimer

Minggu lalu saya nonton Logan dengan anak saya. Ya, saya boleh disalahkan karena Vanya belum 17 tahun dan dia ikut nonton film penuh kekerasan itu, dan saya mengizinkannya. Tapi rupanya dia punya mekanisme menghindari nonton adegan kekerasan. Tiap ada adegan kekerasan dia memalingkan seluruh wajahnya ke HP dan scrolling entah...

Read More →

Perempuan Tidak Sama dengan Ibu

Selamat Hari Perempuan Sedunia! Hari ini berbeda dari hari-hari lain ketika saya menggunakan google untuk mencari informasi. Biasanya saya selalu senyum senang melihat doodle yang lucu-lucu dan super kreatif. Tapi kali ini, doodle yang muncul agak membuat saya berpikir keras. Doodle hari ini adalah 8 ilustrasi yang menggambarkan perempuan dan...

Read More →

The Last Page

Pagi ini saya berharap bangun pagi dan mendapat keceriaan hari Minggu yang paling berhak saya dapatkan. Tapi rupanya berita yang pertama masuk adalah berita duka. Tommy Page meninggal dunia. Yang bikin lebih miris lagi adalah penyebab meninggalnya karena bunuh diri. Saya segera mencari tahu apa yang terjadi, tetapi kebanyakan informasi...

Read More →

Secret Sender

Malam ini neneknya Vanya menanyakan ke saya, apakah saya mengirim bunga untuk anak saya. Hmmm... sore tadi kita nonton Logan bareng, jadi kayaknya agak aneh kalau saya mengirimkan bunga setelahnya. Kalau ada yang mau saya kirim ke anak saya, adalah makanan. Biar dia nyemil sambil belajar atau baca buku/novel/apapun. Kayak...

Read More →

Simposium Lingkungan Ramah Demensia

Kembali semesta memberi saya kado istimewa tahun ini. Perjalanan ke Nagoya ini seharusnya ditujukan pada kolega saya, DY tetapi karena dia sendiri harus berkeliling Eropa untuk memenuhi undangan pertemuan Dementia Council, maka saya yang mendapat keuntungan. Sebuah perjalanan ke negara yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, serta belajar langsung dari...

Read More →

Selingkuh

Akhirnya saya memutuskan mengakhiri selingkuh setelah bermalam-malam mengalami kesulitan tidur dan produktivitas terganggu karenanya. Yang di atas itu adalah headline untuk mendapatkan traffic tinggi bagi website para artis atau politisi. Kalau saya, berita sesungguhnya adalah: Saya baru saja menyelesaikan membaca novel Selingkuh yang ditulis oleh Paolo Coelho setelah bermalam-malam lembur...

Read More →

Lucky Number Two

Beberapa hari lalu saya iseng apply ke sebuah web semacam ramalan berdasarkan tanggal lahir & apa yang saya inginkan di masa depan. Tanggal lahir saya tentunya tidak berubah, tetapi ketika disuruh memilih informasi apa yang ingin saya dapatkan, saya mulai galau. Pilihannya adalah: cinta, uang, pekerjaan, yang lainnya saya lupa....

Read More →