Kartini, Sebuah Reminder

Saya baru saja menonton film Kartini hari ini. Sengaja banget saya menonton dengan mama sahabat saya, karena dulu waktu kecil film RA Kartini saya tonton dengan ibu saya, di Salatiga. Jangan tanya tahunnya!

Kartini kali ini membuat saya menitikkan air mata kalau tidak bisa disebut mingsek-mingsek berkali-kali. Bagaimana budaya di kala itu betul-betul tidak berpihak pada perempuan. Dari hal paling sederhana saja, di dalam upacara pernikahan. Dalam adat Jawa ada upacara mencuci kaki pengantin laki-laki yang dilakukan oleh mempelai perempuan. Tradisi ini menggambarkan dengan jelas bahwa letak perempuan itu di bagian bersih-bersih dan jadi abdinya suami. Lalu yang lebih serius lagi, pingitan, poligami, dan ketiadaan akses pendidikan. Perempuan hanya dilahirkan dan menunggu kawin, lalu berakhir sudah hidupnya.

Kartini dan adik-adiknya menolak menjadi bagian dari yang menyerah pada budaya kejam tersebut. Ketiga perempuan yang dijuluki sebagai daun semanggi – karena kekompakannya ini – beruntung karena mereka terakses buku-buku yang membuka cakrawala pandang. Keberanian dan lingkaran pertemanan dengan orang-orang di sekitarnya mendukung Kartini untuk memperjuangkan hak-hak perempuan dan haknya sendiri untuk tidak berada di bawah laki-laki sejak hari pertama pernikahannya. Dia bahkan memiliki nilai tawar agar ketika menyerah dijadikan istri ke-4, tetap bisa memperjuangkan nasib perempuan lain di sekitarnya, termasuk ibu kandungnya.

Lalu saya dan mungkin sebagian besar dari kita jadi berpikir bahwa kalau Kartini bangun lagi sekarang, dia pasti akan sedih. Kondisinya tidak jauh berbeda. Di Indramayu anak-anak perempuan ataupun yang sudah dewasa dieksploitasi seksual untuk membayar hutang. Di NTT dan daerah lain di Indonesia perempuan diberangkatkan ke luar negeri untuk menjadi TKI tanpa pendidikan yang memadai, sehingga mereka dibayar di bawah standar gaji. Mereka juga berpotensi menjadi korban kekerasan di negara penempatan. Perempuan diperkosa, ditutupi kepalanya agar terbatas juga cara berpikirnya. Laki-laki dengan congkak merasa berhak mengatur tubuh perempuan dan negara membiarkan hal ini terjadi.

Lalu di grup-grup whatsapp beredar broadcast yang mengatakan, “Tuh, kalau mau jadi Kartini, ya harus mau jadi istri ke-4. Kartini saja mau diperistri sama bupati Rembang dan menjadi istri ke-4.”

Kalau yang awalnya menulis ini bermaksud serius, saya prihatin dengan sudut pandang yang dimilikinya. Saya juga kasihan terhadap kemampuannya memahami perjuangan Kartini. Kalau dia bermaksud bercanda, saya lebih kasihan lagi karena upayanya gagal. Sama sekali tidak lucu dan tidak sensitif. Anda mau anak anda menjadi istri ke-4 saat ini?

Di dalam film Kartini, salah satu bagian yang saya paling sukai adalah ketika Kartini mengejar pak Kyai sampai ke dekat andongnya, lalu bertanya,

“Apakah di dalam Al-Qur’an ada ayat tentang ilmu?”

Ketika dijawab Iqra’. Ayat pertama yang turun adalah iqra’ artinya bacalah, belajarlah.

Lalu Kartini mengejar lagi, apakah ada ayat yang berbunnyi bahwa yang disuruh belajar hanya laki-laki?

Dan jawaban sang kyai bahwa belajar tidak ada batasannya. Laki-laki dan perempuan sama-sama harus membaca. Belajar. Maka saya jadi miris lagi. Kali ini tidak ada kaitannya dengan gender. Saat ini banyak sekali orang yang tiba-tiba menjadi paling pinter sedunia, tetapi saya tidak tahu sumber bacaannya apakah tepat atau tidak. Kyai di dalam film Kartini mengingatkan saya tentang kebenaran. Setelah menyampaikan pengajian dan ditanya kebenarannya, dia tidak menjawab bahwa yang disampaikannya adalah benar. Kebenaran milik Allah, milik Tuhan. Yang dia sampaikan adalah menyampaikan apa yang dipelajarinya.

Lalu saya berkaca pada kotbah-kotbah yang sudah seperti yang paling benar yang sering kita dengar saat ini. Well, mungkin yang kotbah sudah membaca semua buku kali ya, jadi berhak banget merasa yang paling benar. Anyway, bukan itu poin saya, poin saya adalah kembali ke film Kartini dan perbincangan Kartini dengan sang Kyai, bahwa lebih dari 100 tahun yang lalu sudah ada yang berpikir bahwa kebenaran bukan milik manusia, bahwa yang harus belajar itu bukan cuma laki-laki tapi juga perempuan. Sekarang, di jaman yang semuanya sudah serba maju, sepertinya kok malah banyak yang berpikirnya mundur ke zaman batu.

Baiklah, saya tidak mau lebih sok tahu lagi. Kritik saya untuk film Kartini, karena saya adalah orang Madura-Jawa yang dibesarkan paling banyak di Jawa, maka bahasa Jawa dan dialek yang dipakai di dalam film itu banyak yang membuat telinga saya geli. Tapi sudahlah, dibandingkan dengan alur yang dipilih, penggalan hidup Kartini dan potret perjuangannya, maka bahasa dan dialektika menjadi sangat termaafkan.

Great job, semua orang yang ada di belakang proses pembuatan film Kartini.

Untuk yang belum nonton, ini film super duper wajib tonton!

← Pasola, Sebuah Budaya Kekerasan
Banda, Jejak yang Gelap dan Dilupakan →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Wong Fu Kie

Dia menarikku turun dari taksi online yang sudah setengah jam tidak bergerak di keramaian pasar, tepat di depan toko yang penuh sesak dengan mainan. Keputusan tepat, hanya lima menit waktu yang kami butuhkan untuk sampai di tujuan. Tetapi dengan mobil, mungkin bisa lebih dari satu jam. Kami meliuk-liuk ala Gal...

Read More →

Banda, Jejak yang Gelap dan Dilupakan

Saya mengaku dosa dulu sebelum menulis ini ya. Sudah lama sekali saya nggak nonton film buatan Indonesia. Saya merasa berdosa, sombong, angkuh, sok Hollywood, name it lah! Saya minta maaf. Setelah ini saya janji akan lebih banyak berinvestasi di XXI dengan nonton film buatan anak negeri. Amin. Baiklah, saya ceritakan...

Read More →

Pasola, Sebuah Budaya Kekerasan

Hari Senin, 20 Maret 2017 adalah salah satu hari keberuntungan saya di awal tahun ini, selain banyak hari-hari lainnya. Dalam perjalanan kerja ke Sumba, tim OnTrackMedia mendapat kesempatan untuk menonton Pasola di Wainyapu Kodi. Sebetulnya kami berniat mengikuti prosesi dari dini hari ketika orang mencari nyale di laut, tetapi kami...

Read More →

Logan, Perlindungan Anak dan Alzheimer

Minggu lalu saya nonton Logan dengan anak saya. Ya, saya boleh disalahkan karena Vanya belum 17 tahun dan dia ikut nonton film penuh kekerasan itu, dan saya mengizinkannya. Tapi rupanya dia punya mekanisme menghindari nonton adegan kekerasan. Tiap ada adegan kekerasan dia memalingkan seluruh wajahnya ke HP dan scrolling entah...

Read More →

Perempuan Tidak Sama dengan Ibu

Selamat Hari Perempuan Sedunia! Hari ini berbeda dari hari-hari lain ketika saya menggunakan google untuk mencari informasi. Biasanya saya selalu senyum senang melihat doodle yang lucu-lucu dan super kreatif. Tapi kali ini, doodle yang muncul agak membuat saya berpikir keras. Doodle hari ini adalah 8 ilustrasi yang menggambarkan perempuan dan...

Read More →

The Last Page

Pagi ini saya berharap bangun pagi dan mendapat keceriaan hari Minggu yang paling berhak saya dapatkan. Tapi rupanya berita yang pertama masuk adalah berita duka. Tommy Page meninggal dunia. Yang bikin lebih miris lagi adalah penyebab meninggalnya karena bunuh diri. Saya segera mencari tahu apa yang terjadi, tetapi kebanyakan informasi...

Read More →