Parade Adat Internasional

Parade selalu menimbulkan rasa geli di jemari kaki saya. Minta digaruk kalau nggak diikutin. Kalau bisa menghadiri seluruh parade yang ada di muka bumi ini, saya pasti akan lakukan. Minggu, 27 Agustus 2017 saya bangun lebih pagi dari biasanya, menembus dingin bersama babang-babang Go-jek, kemudian dilanjutkan dengan TransJakarta menuju area Car Free Day (CFD) di Sudirman.

Setelah semalam sebelumnya saya bingung mau memakai kain yang mana, akhirnya dibantu oleh adik & anak saya memutuskan untuk memakai kain sarung warna hijau dari Kamboja dan selempang tenun Sumba Timur. Bersama-sama sekitar dua ratusan peserta parade lain, kami berjalan dari Menara BCA sampai Museum Gajah. Percayalah, dalam keadaan bukan parade dan pagi hari saya mungkin tidak akan melakukannya.

Berbagai pakaian daerah dikenakan oleh peserta parade. Yang paling menarik adalah teman-teman dari Bapontar yang berkostum merah menyala berumbai-rumbai, dengan topi serupa burung di kepala, lengkap dengan senjata – parang dam tombak. Aawawawa! Haa! Heaaa! Begitu kurang lebih teriakan-teriakan mereka sembari bergerak dengan gagah seolah menuju medan perang. Suara genderang terus mengiringi langkah. Indah betul.

Sementara di barisan paling depan, teman-teman dari Baduy Dalam berjalan telanjang kaki memimpin kami. Seperti biasa, hanya pakaian berwarna hitam dan putih saja yang mereka boleh kenakan. Sapri Yadi ada dalam barisan itu.

Ketika pertama melihat Sapri Yadi, saya sok akrab menanyakan, “Kakak dari Baduy ya? Kenal Sapri nggak?”

Dijawabnya, “Saya Sapri. Sapri yang mana? Di Baduy banyak nama Sapri.”

Upsie!

Maka kami jadi berbicara panjang lebar tentang Sapri yang saya maksud. Seorang sahabat yang dulu mengantarkan kami masuk ke Baduy Dalam dan memberikan pengalaman berkesan menginap semalam di sana. Kebetulan adik Sapri yang saya maksud juga mengikuti parade ini.

Sekali lagi, saya masih nggak bisa berhenti berdecak kagum dengan kayanya Indonesia. Ini belum benar-benar melihat adat dan budaya langsung di tanahnya saja, saya sudah merinding berkali-kali begini. Bagaimana kalau berkesempatan benar-benar ada di sana, menjelajahi satu persatu pelosok Nusantara? Saya baru menginjakkan kaki di 15 provinsi aja di Indonesia. Oh, shame on me. Semoga segera menyusul ke 19 lainnya.

Hari ini, melihat perbedaan pakaian, nyanyian, kebiasaan yang dimiliki negeri ini benar-benar memukau. Lihat aja di foto-foto instagram saya atau cari #hariadatsedunia deh, dijamin keren-keren. Ini baru teaser untuk membuat kita melangkahkan kaki ke tempat aslinya.

Jadi kalau ada yang dengan sengaja mau membuat perbedaan-perbedaan itu hilang dengan menyeragamkan cara berpakaian, agama, atau entah apa lagi, saya rasa dia pasti kurang piknik dan ikut parade beginian.

← Privacy?
aktivis (01) →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Gelombang dan Tidur

Jika seorang manusia mati di usia 60, maka dia menghabiskan kurang lebih 20 tahun hidupnya untuk tidur. Ini perhitungan kalau rata-rata orang tidur 8 jam per hari. Wow! Kalau ditotal jadi banyak banget ya jatah tidur kita? Tapi memang itu yang disarankan dokter bukan? Karena kalau kita tidur kurang dari delapan...

Read More →

Privacy?

Anda yang punya kartu kredit mungkin sering mengalami apa yang saya alami seminggu ini. Saya: Halo! Dia: Selamat siang dengan ibu Dian, saya dari xxx bank ingin mengkonfirmasi sebentar mengenai kartu kredit ibu Saya: Aduh mas, saya sedang nunggu telepon dari Gojek nanti aja lagi teleponnya ya. Sehari kemudian, karena...

Read More →

Wong Fu Kie

Dia menarikku turun dari taksi online yang sudah setengah jam tidak bergerak di keramaian pasar, tepat di depan toko yang penuh sesak dengan mainan. Keputusan tepat, hanya lima menit waktu yang kami butuhkan untuk sampai di tujuan. Tetapi dengan mobil, mungkin bisa lebih dari satu jam. Kami meliuk-liuk ala Gal...

Read More →

Banda, Jejak yang Gelap dan Dilupakan

Saya mengaku dosa dulu sebelum menulis ini ya. Sudah lama sekali saya nggak nonton film buatan Indonesia. Saya merasa berdosa, sombong, angkuh, sok Hollywood, name it lah! Saya minta maaf. Setelah ini saya janji akan lebih banyak berinvestasi di XXI dengan nonton film buatan anak negeri. Amin. Baiklah, saya ceritakan...

Read More →