Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca “ini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus berlari dari lembar satu ke lembar lainnya, dengan mencari lajur-lajur yang diperintahkan di tulisan sebelumnya. Aku lebih suka berlarian di lajur-lajur pematang sawah. Mereka tidak pernah membuatku tersesat.
Kenapa koran itu tidak mempermudah pembacanya dengan membuat berita pendek-pendek saja. Tidak perlu terlalu banyak nama dan kata-kata. Jika ingin memudahkan kami mengerti, beri gambar yang lebih banyak dan besar-besar. Tapi bukan gambar perampok yang ditutup matanya. Mereka membuatku merinding. Manusia tanpa mata. Hih..
Tapi kata simbahku, memang semua ada tujuannya sendiri-sendiri. Menurut perempuan yang merawatku sejak kecil ini, yang menggantikan bapak ibuku ketika mereka sibuk di kebun ini, koran diciptakan supaya pedagang sayur di pasar sepertinya tidak perlu membeli kertas pembungkus makanan berwarna coklat yang harganya mahal. Kalau koran bekas kan masih terjangkau. Belinya bisa per kilo, kalau ada orang baik yang berlangganan koran di rumahnya, kadang bisa dapat koran bekas secara gratis. Sejak saat itu aku jadi tahu bahwa berlangganan koran itu baik untuk orang kaya dan orang miskin. Orang kaya butuh beritanya, orang miskin butuh kertasnya. Koran-koran yang bertumpuk di tenggok simbah menjadi bermanfaat sebagai pembungkus sayuran, kacang, nasi bungkus, dan diam-diam jadi bungkus pembalut bekas. Sungguh multi guna sekali.
Tadinya kupikir koran yang menjadi bungkus kacang itu, adalah koran baru yang cacat cetakan sehingga dijual lebih murah, tapi ternyata tidak. Dia memang koran yang dengan kualitas sama seperti yang dibeli para pelanggannya, hanya saja dia sudah selesai menunaikan tugas utamanya, sebagai pemberi informasi, maka dia lengser menjadi pembungkus kacang seperti sekarang.
Di sekolah aku diajarkan kalau manusia adalah mahluk hidup dengan derajat paling tinggi. Kurasa pelajaran itu tidak sepenuhnya benar. Saat ini aku dan sebagian teman-temanku merasa bahwa kami tidak jauh berbeda dengan koran bekas yang jadi bungkus kacang atau pembalut berdarah. Terlebih lagi kami yang mendekam di balik terali besi ini.
Beberapa tahun lalu aku si gadis pemberani di lereng pegunungan di tengah-tengah pulau ini, berubah menjadi terlalu berani dan berakhir di koran-koran. Wajahku bermunculan selama beberapa hari menjadi sorotan kamera. Aku jengah. Tapi pelan-pelan bisa kunikmati. Giliran terbiasa dengan jepret kamera dan tidak lagi silau oleh sinarnya, para wartawan itu berhenti menguntitku. Palu diketuk, aku masuk penjara ini. Persis seperti koran bekas, aku menjadi bungkus kacang yang segera basah terkena uap kacang hangat, lalu robek dan dibuang begitu saja.
Hari-hari pertamaku di penjara, kuhabiskan untuk meminta mencuri-curi lihat apakah masih ada wajahku dipampang di koran. Tapi menurut Sutiani, tamping administrasi, namaku terakhir kali ada di koran sudah berbulan-bulan lalu. Sementara wajahku? Hanya minggu-minggu pertama saja dia mengingatnya.
“Waktu itu aku udah tahu, kamu bakalan segera jadi teman kami.” Kata Sutiani sambil melemparkan koran ke arahku. Tidak ada satupun berita tentangku di situ. “Kamu lihat lembar kriminal itu!” perintahnya, “Nah, yang lagi pake rompi kuning itu, sebentar lagi jadi teman kita. Tapi bloknya di sana!” tangannya menunjuk blok paling mewah. “Dia koruptor. Beda sama kita, criminal.”
Koran bekas itu segera menjadi temanku. Seandainya dulu aku rajin membaca, mungkin aku tidak berakhir di sini. Dulu yang kunikmati hanya komik. Gambar dan gelembung-gelembung kata-kata mereka selalu membuatku terkekeh geli.
Aku sering membayangkan seandainya di dunia nyata setiap orang yang berbicara kalimatnya tercatat di atas kepalanya dalam bentuk gelembung-gelembung. Mungkin dunia akan lebih sunyi, karena kita hanya perlu melihat ke atas kepala orang lain untuk tahu apa yang mereka pikirkan.
Aku terpaksa membaca di sini, meskipun tidak terlalu suka dengan buku-buku yang ada. Tidak ada gambar-gambar kartun dengan gelembung-gelembung kata di atas kepala mereka. Yang ada kebanyakan adalah buku-buku agama, novel tebal-tebal yang isinya tentang dunia percintaan atau tentang pembunuhan. Aku sama sekali tidak berniat membaca tulisan tentang dunia percintaan. Aku tidak percaya lagi pada cinta. Begitu juga dengan pembunuhan. Bukan aku tidak percaya pada pembunuhan, tapi kisah-kisah di dalam novel itu sudah bisa kutebak semua akhirnya.
Semua pembunuh akan tertangkap, semua akan melakukan kesalahan kecil yang menggagalkan rencana mereka. Atau kalau mereka tidak melakukan kesalahan, maka detektifnya terlalu pandai memecahkan kasus. Aku ingin membaca cerita pembunuhan atau kejahatan dimana penjahatnya tidak pernah tertangkap.
Aku tahu itu tidak mungkin. Novelnya tidak akan laku. Tapi di dalam sini, kurasa aku dan teman-temanku akan bertepuk tangan kalau ada cerita seperti itu. Iya, kami orang-orang yang berharap dan menggantungkan mimpi pada cerita-cerita fiksi. Karena kami sudah tidak memiliki kehidupan lagi.
Tentu saja aku masih bernafas, makan, minum, berak, tapi hampir semuanya diatur oleh orang lain.
Teng teng teng teng
Mandi!
Teng teng teng teng
Makan
Teng teng teng teng
Merumput
Tidak ada lagi kebebasan.
Kami bahkan tidak bisa memilih mau ditemui oleh siapa.
Sejak resmi diketukkan palu hakim di meja berbalut taplak hijau itu, aku bahkan sudah lengser entah berapa derajat ke bawah. Kalau koran lengser masih berguna sebagai pembungkus kacang, aku tidak tahu apakah aku bisa menyamakan keberadaanku sekarang dengan koran.
Aku dikunjungi hanya di hari Raya Idul Fitri, atau kalau orang rumah punya uang lebih, mereka menambah satu hari lagi dalam setahun yang kapan waktunya, sama sekali tidak bisa kuperkirakan. Seperti teman-temanku, aku tidak yakin apakah di luar sana orang masih menyebut kami anak, kakak, adik, keponakan, atau ibu. Karena sering kali lebih mudah menganggap kami tidak ada. Keberadaan kami menimbulkan bermacam perasaan tidak nyaman. Dari malu, marah, kesal, sedih, sampai mau muntah.
Itulah kenapa beberapa dari kami lebih suka dianggap tidak ada sama sekali. Menjadi pembungkus kacangpun rasanya tidak pantas kami ini. Ada temanku yang bahkan bilang, kalau dia merasa lebih rendah dari sampah.
Teng teng teng
Ambar, dibon ke BP!
Siapa gerangan yang memanggilku sekarang. Ini bukan lebaran jadi pasti bukan keluargaku!

← Posesif
Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai ‘anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, “Jangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak “Iyooo…” menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca “ini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →

Sekolah Kids Zaman Now

Sudah seminggu ini anak saya terlihat lebih sering murung di dalam kamar dan menolak menjawab kalau ditanya kenapa. Ini sungguh mengkhawatirkan buat saya. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bermain-main di kepala saya, sembari membayangkan diri saya sendiri ketika seusia dia. Enam belas tahun. Salah satu masa rawan. Hal hal...

Read More →