Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon!
Aku benci istilah itu, mengingatkanku pada transaksi utang piutang simbah dengan pedagang sayur, “Aku bon sek ya.” Yang artinya, aku utang dulu ya. Iya, kami sekarang sama dengan barang.
Awalnya aku enggan waktu menerima panggilan dari pengeras suara. Aku paling malas bicara. Sejak dulu aku memang dikenal sebagai Margi yang pendiam. Aku hanya bicara kalau benar-benar perlu. Kosakataku tidak banyak. Aku selalu memakai kalimat yang itu-itu saja. Mungkin ini kudapatkan dari ibuku. Dia juga bukan perempuan yang banyak bicara. Kata simbah dulu, aku baru bisa bicara jelas setelah umur dua tahun lebih. Sebelumnya tidak satu katapun yang kuucapkan terdengar mendekati kata yang kumaksud. Aku menyebut ibu dengan “eh!” memangil bapak dengan “ah!” meminta ini itu dengan “ah-eh ah-eh” yang lain.
Setelah aku ikut simbah, kosakataku baru bertambah. Itu karena dia cerewet dan rajin berbicara. Dia tidak bisa menjadi pendiam. Berbicara adalah salah satu alatnya untuk mendapatkan uang. Bayangkan, ada berapa banyak orang yang menjual sayur yang sama di pasar Manis Purwokerto? Kalau simbah diam saja, mungkin dia akan pulang ke rumah dengan membawa sayur-sayur busuk setiap hari. Tapi simbahku pantang menyerah, setiap orang yang lewat di dekat mejanya, dia akan langsung menawarkan sayurnya. Simbah juga paling royal pada pembeli yang berlangganan padanya. Dari mulai memberi diskon 100 sampai 500 perak, sampai menambahkan bumbu masak sachet sebagai bonus. Bukan sebagai ganti dari kembalian uang logam, seperti yang dilakukan pedagang lain.
==
Perempuan yang ngebon aku ini wajahnya sering sekali kulihat, tapi entah dimana. Aku tidak yakin. Mungkin dia mirip penyiar TV, pelawak perempuan yang muncul sesekali, atau bisa jadi dia pemeran pembantu di sinetron SCTV. Aku tidak terlalu ingat. Mungkin juga karena wajahnya yang pasaran. Dia memperkenalkan diri sebagai peneliti dari Jakarta.
Dia tidak sendirian. Bersamanya ada dua perempuan lain. Mereka memperkenalkan diri. Aku lupa nama-nama mereka. Satu orang yang kuingat dengan baik karena keringatnya mengalir sebesar-besar kacang yang dijual simbah, kalau sudah dikupasi. Mungkin dia merasa kepanasan di penjara ini. Aku terkikik, coba saja dia tinggal di sini setiap hari, mungkin dia akan lebih terbiasa. Sauna setiap hari. Walaupun aku sendiri belum pernah masuk ke sauna yang sesungguhnya, tapi itu yang teman-temanku bilang. Sauna itu panas, hangat, beruap, membuat kita berkeringat.
“Kami di sini untuk melihat kondisi teman-teman yang ada di penjara dan juga kondisi anak-anak dari teman-teman. Baik anak-anak yang ada di dalam penjara maupun di luar. Bagaimana sekolah mereka, siapa yang merawat mereka semua, itu yang sedang kami cari informasinya sekarang, dan akan kami merekomendasikan pada pemerintah agar memperhatikan kondisi perempuan yang ada di dalam penjara dan anak-anak mereka.” Dia terus melanjutkan bla-bla-bla-nya tapi aku tidak mendengar lagi. Aku hanya membaca mulutnya bergerak-gerak dan yang ada di kepalaku adalah sebuah lagu. Pok ame-ame, belalang kupu-kupu, siang makan cadong , malam cadong lagi.
Berikutnya aku dan teman-teman yang tadi dibon dipisah-pisah. Satu orang berbicara dengan satu tamu. Aku kebagian berbicara dengan yang keringatnya sebesar biji kacang. Dia menanyakan banyak hal yang kujawab sesuai dengan apa yang terjadi padaku.
Apakah aku punya anak.
Iya.
Berapa usia anakku?
Tujuh tahun.
Siapa yang mengasuhnya?
Terakhir saya tahu bapaknya. Tapi dengar-dengar dia tidak betah, jadi mungkin sekarang simbahnya. Orang tua saya.
Bagaimana kondisinya?
Saya tidak tahu.
Kapan terakhir bertemu anak?
Lebaran lalu.
Pernah telepon?
Tidak punya uang untuk telpon. Wartel mahal.
Kangen sama anak?
Aku tidak langsung menjawab. Pertanyaan seperti ini seharusnya tidak ditanyakan. Tapi aku akhirnya menjawab juga, setelah melihat raut wajah peneliti yang sekarang basah kuyup ini tidak bermaksud melukai hatiku.
Tentu saja aku kangen dengan anakku. Tapi aku tidak bisa seperti teman-temanku yang lain, yang ketika ditanya tentang anak, mereka langsung menangis. Aku tidak menangis bukan karena tidak rindu pada anakku. Aku tidak menangis karena aku tahu bahwa air mataku sampai berganti darah atau nanah pun, anakku tidak akan tiba-tiba datang di depan mata.
Aku harus menyadari dan mengiklaskan bahwa baru tahun 2016 nanti aku akan berkumpul kembali dengan anakku. Dengan remisi dan pembebasan bersyarat – kalau keluargaku mau jadi penjamin – mungkin bisa tiga tahun lebih cepat. Itu artinya tahun 2020. Lumayan, enam tahun lebih cepat dari seharusnya. Itu artinya anakku sudah umur 17 tahun. Mungkin dia sudah kawin, mungkin dia sudah lupa wajahku, kalau dia beruntung, dia mungkin sudah hampir menyelesaikan sekolahnya. Itu saja yang bisa membuatku terhibur setiap malam. Tapi menangisinya karena berjauhan, aku tidak bisa. Aku tidak mau.
Peneliti itu bernama Suri, dia juga bertanya tentang kasus apa yang membawaku ke dalam sini. Wajahnya langsung berubah dari tertarik menjadi sangat tertarik dan terperangah. Matanya membulat. Aku suka wajah perempuan ini. Kalau tertawa seluruh tubuhnya berguncang-guncang. Sepertinya dia menyukaiku. Dia memanggil perempuan lain yang belakangan kuketahui bernama Laksmi.
Dia menceritakan sedikit tentang kasusku, dan perempuan berbaju putih berambut pendek itu langsung kegirangan seperti anak kecil yang baru saja diijinkan bermain hujan. Dia langsung memintaku mengulurkan tangan kiri. Kuulurkan tanganku, dia menengadahkan telapak tanganku, lalu telunjuk kanannya yang halus menelusuri garis-garis anak sungai di lembah-lembah tangan itu.
“Kamu hidupnya meriah sekali. Banyak pengalaman.” Begitu katanya. Aku tidak tahu maksudnya. Lalu dia meminta tangan kananku.
Aku mengulurkan tangan kanan dan tanpa diminta langsung membuka telapak tangan menengadah ke atas. Kulihat wajah Laksmi terperanjat tapi segera ditutupinya. “Tangan kamu kiri dan kanan berbeda jauh sekali garis-garisnya.”
“Artinya apa?” Tanyaku.
“Kamu pemberani atau penakut?” Laksmi balik bertanya.
“Aku bisa jadi orang paling pemberani di muka bumi, tapi aku juga bisa jadi penakut setengah mati. Aku seperti punya dua kepribadian yang berbeda. Orang yang kenal baik denganku akan bilang bahwa aku orang baik yang terpaksa menjadi penjahat. Tapi orang yang mengenalku sejak kecil berpikir sebaliknya. Aku sendiri nggak mau repot, memikirkan mana yang paling benar untukku. Aku hanya merasa bahwa aku sering hilang. Bangun tidur dan tidak ingat apa yang kukerjakan hari sebelumnya.”
Laksmi mengangguk-angguk.
“Kamu besok saya bon lagi ya. Saya mau kasih pinjam ke kamu buku yang bagus sekali.”
Aku hanya berharap dia tidak meminjamiku buku agama.
Besok paginya Laksmi datang lagi memenuhi janji. Dia memberiku buku tipis berwarna merah. Judulnya Perempuan di Titik Nol. Aku tidak tahu apa isi buku ini. Tapi mungkin itulah kami semua sekarang. Perempuan-perempuan yang kehilangan makna. Nol. Kosong. Guru SD-ku dulu bilang, bahwa titik nol adalah titik beku. Di titik nol, air menjadi beku. Seperti itulah kami, perempuan-perempuan yang selalu digambarkan sebagai berdarah dingin.
“Perempuan kok jahat!”
Kami tidak pernah benar-benar ditanya, mengapa.

← Ambar Margi; Bungkus Kacang
Ambar Margi; c. Nakal →

Author:

Dian adalah penulis novel Kita dan Rindu, Rahasia Hati, Ketika Ibu Melupakanku dan 5 buku lainnya. Lahir 1976, menyelesaikan kuliah di Komunikasi STIK Semarang & Kriminologi UI. Anak ke-2 dari 4 bersaudara. Ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan anak-anak lain. Child Protection Advocacy Specialist di Yayasan Sayangi Tunas Cilik. #dianspoint #geocaching #lifeofawriter #lifeofatraveler #workhardtravelwell #luckybastardian #moviegoer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

Mangga Indramayu dan Exploitasi Tubuh Perempuan

Apa yang muncul di kepala tentang Indramayu? Mangganya yang enak? Perempuannya yang cantik? Atau keduanya secara bersamaan? Dua tahun lalu, pada saat menyelesaikan tugas akhir kuliah, saya menghabiskan beberapa waktu tinggal di Indramayu untuk mengumpulkan data. Indramayu—satu kabupaten di Jawa Barat—bukan tempat yang asing buat saya. Sebelumnya, bersama OnTrackMedia Indonesia,...

Read More →

Ketika Ibu Melupakanku

Lagi-lagi, di saat beberes lapak, saya menemukan bahwa di sini belum pernah tertulis apapun yang berkaitan dengan novel Ketika Ibu Melupakanku. Novel ini diangkat dari kisah nyata DY Suharya yang ibunya terkena demensia. Menurut yang sudah membaca, mengharu biru dan bikin mewek. Saya sendiri ingat beberapa kali nangis dalam proses...

Read More →

Taj Mahal, Monumen Egois

Lebih dari empat tahun lalu saya mendapat kesempatan melakukan perjalanan ke India, untuk mengikuti Konferensi Alzheimer se-Asia. Thanks to ALZI for this. Dan seperti halnya India 1st time traveler, pasti akan menjadikan Taj Mahal sebagai salah satu tujuan wajib. Karena waktu yang kami miliki tidak banyak, maka menyewa seorang pemandu...

Read More →

Semalang di Malaysia

Setiap perjalanan selalu meninggalkan bekas yang berbeda. Begitu juga dengan perjalanan saya ke Malaysia beberapa waktu yang lalu. Perjalanan ini sama sekali bukan perjalanan wisata. Kami empat orang di dalam satu tim yang sedang mengemban misi untuk pengambilan gambar untuk video training calon Buruh Migran Indonesia (BMI) dengan tujuan Malaysia....

Read More →

Rahasia Hati

Baru sadar banget bahwa saya belum pernah menulis apapun tentang Rahasia Hati, novel saya yang ke-4, terbit 2012. Maka karena udah agak terlalu lama buat mereview tulisan sendiri, saya browsing dan menemukan beberapa tulisan yang merupakan review atau sinopsis novel itu. Silahkan dibaca sendiri dan... terima kasih sudah menulis tentang...

Read More →

Adik Sampai Tua

Hari itu suasana GOR lain dari biasanya. Ibu-ibu baik hati yang memakai seragam biru berkumpul semua setelah beberapa diantaranya menjemput teman-temanku. Temanku juga datang semua bersama ibu-ibu mereka. Tapi aku tidak melihat si Bapak. Kami menyebutnya bapak karena dia seperti bapak untuk kita semua. Sebetulnya dia itu sama seperti ibu-ibu...

Read More →