Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, “Jangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa.
Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak “Iyooo…” menyahut panggilan ibu, yang terjadi setelah itu, telingaku terangkat 10 centi ke atas tempat semula dan aku harus berjinjit-jinjit untuk memastikan cupingku tidak lepas dari akarnya sambil berteriak kesakitan. Tapi tidak sedikitpun teriakanku membuat ibu melepas jepitan jari-jarinya di sana.
Yang aku tahu detik berikutnya teman-temanku berubah wajah, dari cekikikan menjadi ketakutan dan lari berhamburan seperti bunga kapas kalau ditiup. Semua lintang pukang ke rumah masing-masing. Setelah itu barulah aku mendapat kata mutiara yang tak pernah kumengerti artinya. “Bocah nakal! Cah wedok, dolan wae !”
Waktu itu aku mengartikan nakal adalah kalau bermain tanpa henti.
“Besok lagi kalau dipanggil orang tua itu langsung datang. Mau jadi apa kamu? Perempuan kok nakal!”
“Jadi kalau aku laki-laki, aku boleh nakal?” Pertanyaan itu membekaskan sebuah tapak tangan di pipiku, diikuti lebam biru di paha. Ibuku menjawabnya dengan bekas-bekas pukulan dan cubitan di tubuhku.
“Kalau dikasih tahu orang tua, njawab ya! Iya! Njawab!”
Itu artinya ibuku sedang berkata bahwa aku tidak boleh menjawab pertanyaan ibuku. Aku seharusnya diam. Lihat, betapa membingungkannya orang dewasa. Aku diam saja tidak menyahut ketika dipanggil, aku nakal. Aku menjawab pertanyaan, diganjar pukulan. Jadi aku harus bagaimana? Aku nakal! Itu saja.
Semua yang kulakukan adalah kenakalan.
Masa kecilku dipenuhi dengan kata nakal tanpa pernah dijelaskan apa itu artinya. Kata nakal juga kadang kala kudengar ditujukan pada adikku. Tapi dia lebih pandai dari aku, sebelum tangan atau sapu mendarat di tubuhnya, dia sudah menangis sekeras petir. Kalau sudah begitu, ibuku akan urung memukulnya. Simbah selalu tergopoh-gopoh datang dan memarahi ibuku.
“Bocah kok mbok gebuki wae to Mi. Dadi cah goblog mengko .” Ujarnya sambil meraih cucunya dan membawa Yanto ke rumahnya. Rumah simbah persis di sebelah rumah bapak ibuku. Kalau ibu dan bapak sedang menghabiskan waktu mereka di sawah atau kebun, aku dititipkan di rumah simbah. Selain simbah, ada adik bapakku yang tinggal di sana bersama istrinya. Anaknya seumuran dengan kami. Lek Fajar dan istrinya kulihat tidak pernah memukul anak-anak mereka. Wati dan Rahmat tubuhnya bersih dari gosong dan memar bekas pukulan. Aku heran kenapa mereka tidak menyebut anak mereka nakal, padahal yang mereka kerjakan sama persis seperti kami.
Kami bergumul di lumpur yang sama di dekat jumbleng di belakang rumah. Kalau hujan turun, berebut kami dorong mendorong dengan yang lain, karena tidak satupun mau menanggung beban menjadi penyebab pesta hujan-hujanan. Tapi anehnya, siapapun yang menjadi penyebab kami bermain hujan, selalu aku yang menjadi tumbal. Kalau ibuku tahu kami bermain hujan dan bertanya siapa yang mulai, semua jari telunjuk mengarah padaku dan aku sudah siap.
Biasanya pesta ganjaran dari ibuku tidak dilakukan di rumah simbah. Mana berani dia melakukannya di sana. Paling dia akan menjewer telingaku dan Yanto lalu memiting kami untuk pulang. Sampai di rumah Yanto tidak berani menangis lagi, dia tahu bahwa tidak ada malaikat bernama simbah yang akan menyelamatkannya. Bermain hujan adalah larangan nomer satu bagi ibuku.
Yanto biasanya akan diganjar dua tiga pukulan lebih sedikit dariku. Entah kenapa ibu senang sekali memberiku bonus. Mungkin dia gemas melihatku yang selalu sudah pasang badan mempermudahnya memberikan ganjaran. Atau mungkin memang begitulah dia mengatur apa yang berhak dan wajib diberikan pada anak-anaknya. Anak sulung mendapat lebih banyak dibanding anak bungsu. Mungkin. Aku tidak mengerti.

← Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol
Ambar Margi; d. Tak Lelo Ledung →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai ‘anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, “Jangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak “Iyooo…” menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca “ini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →

Sekolah Kids Zaman Now

Sudah seminggu ini anak saya terlihat lebih sering murung di dalam kamar dan menolak menjawab kalau ditanya kenapa. Ini sungguh mengkhawatirkan buat saya. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bermain-main di kepala saya, sembari membayangkan diri saya sendiri ketika seusia dia. Enam belas tahun. Salah satu masa rawan. Hal hal...

Read More →