Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak yang lebih punya hak untuk memutuskan.
Tapi tidakkah seharusnya bapak melihat bahwa ibu terkadang kelewatan. Kalau sedang memukuliku ibu seperti kesetanan. Kadang tanpa kata sama sekali, tapi matanya menusuk langsung ke jantungku sampai berhenti berdetak rasanya. Anehnya, aku tidak merasa sedih atau takut dipukuli seperti itu. Aku merasa bahwa aku mendapatkan perhatian seperti teman-temanku yang lain. Hanya saja bentuk kasih sayang yang dicurahkan berbeda. Kalau teman-temanku dipeluk atau dicium, aku dilingkari dengan ikat pinggang atau dicium dengan sandal japit. Sama saja, kami sama-sama sedang mendapatkan perhatian. Dan aku puas setelah mendapatkan pukulan dari ibuku. Tidak seperti Yanto, dia menangis.
Suatu hari pernah kudengar simbah menasehati bapak. Dia bilang bahwa terkadang menantunya sudah keterlaluan memperlakukan cucu-cucunya. Tapi bapak diam saja. Dia membela ibu, “Kadang Ambar sama Yanto memang suka nakal mbok.” Begitu katanya.
Aku tidak sakit hati, tapi kasihan Yanto. Gara-gara aku yang nakal, dia juga mendapat gelar yang sama denganku. Padahal mungkin dia tidak nakal, karena dia kan laki-laki. Itu yang kudengar dari kebanyakan orang. Kalau laki-laki boleh nakal. Perempuan yang tidak boleh.
Tapi di hari yang lain, aku tidak sengaja mendengar bapak berbisik-bisik pada ibu.
“Kamu kalau mendidik anak mbok pelan-pelan. Kasihan kalau mereka nanti jadi anak yang minderan karena sering dipukuli.”
Aku tidak mendengar jawaban apapun keluar dari mulut ibu.
“Ambar sudah perawan. Kalau dia minderan, nanti dia jadi takut bergaul. Bisa jadi perawan tua dia, kalau nggak punya teman dekat nanti.”
Masih belum ada jawaban dari mulut ibuku.
“Yanto juga sebentar lagi lulus SD. Masak anak udah mau sunat masih kamu perlakukan seperti anak TK.”
Akhirnya kudengar kalimat ibuku, “Terus gimana cara ndidik mereka biar nggak nakal?” Tajam menyentak, diikuti suara keras. Mungkin ibu membanting benda yang sedang digenggamnya. Aku tidak yakin benda apa itu.
Bapak adalah laki-laki paling sabar yang pernah kutemui di muka bumi ini. Aku selalu berharap semua guru-guruku di sekolah seperti bapak, yang tidak asal main pukul kalau ada anak yang tidak mengerjakan PR. Bapak bukan hakim dengan palu hakim yang bebas diketukkannya dengan vonis apapun. Dia tidak pernah menghukum dan menghakimi siapapun. Dia adalah pembela yang bertutur kata halus. Setiap kali aku atau Yanto berbuat salah, ditanyakannya dulu penyebab kesalahan kami.
Suatu hari aku pernah mempermalukan bapak dengan memberinya kehormatan sebagai wali murid yang dipanggil paling akhir ketika penerimaan raport. Kolom berisi tulisan naik/tidak naik kelas selanjutnya masih kosong. Wali kelasku belum mencoret salah satu kata di kolom itu. Nilaikupun masih ditulis dengan pensil 2B. Wali kelasku menjelaskan perkembanganku di kelas dulu sebelum sampai pada pertanyaan intinya.
Dia bercerita bahwa aku sering melamun, kalau mengerjakan PR pagi-pagi sekali di kelas. Walaupun tanpa mencontek hasil pekerjaan teman-teman, tapi mengerjakan PR di sekolah sama sekali tidak sesuai dengan moral PR itu sendiri. PR seharusnya dikerjakan di rumah agar murid memiliki kesempatan untuk memutar kembali memori pelajaran yang diberikan pagi harinya di sekolah.
Wali kelasku juga bertanya, apakah bapak tahu kenapa aku bisa seperti itu. Aku mendengar penjelasan ini dari bapak sendiri, dalam perjalanan pulang dari sekolah ke rumah. Dan ini jawaban dari bapakku untuk wali kelasku.
“Saya tidak menunggui Ambar setiap hari di rumah. Saya kerja di sawah pagi sampai sore hari. Sore biasanya kami bertemu di rumah, itu kalau dia tidak main dengan teman-temannya. Saya tidak terlalu dekat dengan anak-anak saya. Kalau ada kesalahan yang dilakukan anak saya di sekolah, saya rasa saya menyumbang kesalahan dalam mendidiknya.”
Di desaku, seorang laki-laki tidak mengakui kesalahan dalam mendidik anak. Kalau ada anak nakal, maka bebannya langsung ditimpakan pada perempuan. Tugas mengasuh sepenuhnya ada pada perempuan, sementara laki-laki bertugas menjadi pencari nafkah di dalam keluarga. Aku pikir bapak benar-benar mencintai ibu. Dia membelanya mati-matian. Di depan guru sekolah, juga di depan orang tuanya sendiri.
Bapak tidak takut istri, bapak tidak takut siapa-siapa. Aku pernah melihat bapak melawan polisi yang akan menilangnya karena rambu lalu lintas yang tidak jelas. Bapak bahkan pernah berbantahan dengan orang yang sembarangan memasang patok di sawahnya. Dia juga bisa menggertak preman pasar yang mencoba menempelku suatu hari dulu. Bapak sangat mencintai keluarganya, dia sangat mencintai ibu, itu tidak terbantahkan lagi.
Bapak adalah orang pertama yang bisa berbicara dengan ibu. Setelah hidup bersama orang tua yang tidak bisa berbicara, ibu praktis tumbuh menjadi orang yang anti-sosial – begitu kalau tidak salah orang-orang pintar menyebutnya. Dia sulit menjalin hubungan dengan manusia lain. Rumah yang ditempati ibu setiap hari dilalui bapak – ketika masih muda – menuju ke sawah. Dari menghindari bersitemu dengan bapak, sampai mau disapa dan diajak bicara, ibu akhirnya luluh pada kesabaran bapak. Bapakpun segera jatuh cinta pada ibu. Tanpa melalui proses pacaran seperti kebanyakan pemuda desa waktu itu, bapak segera meminta simbah untuk melamar ibu.
Tanpa berpanjang-panjang lagi, ibu segera pindah ke rumah simbah dan belakangan dibangunkan rumah 20 meter jauhnya dari bangunan inti rumah simbah. Rumah dan tanah warisan dari orang tua ibu sendiri dijual dan dibelikan tanah, setelah neneknya meninggal. Tanah itulah yang dikerjakan ibu dan bapak setiap hari sekarang.
Dulu aku pikir bapak adalah laki-laki sempurna, tetapi sekarang aku tahu. Laki-laki sempurna itu seharusnya bisa lebih sempurna lagi seandainya dia bisa mendidik ibuku. Mungkin, mereka berdua bisa menjadi pasangan sempurna.

← Ambar Margi; d. Tak Lelo Ledung
Ambar Margi: f. Perawan Tua →

Author:

Dian adalah penulis yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan kejahatan. Dia menyelesaikan studi Perlindungan Anaknya di UI tahun 2016 lalu. Saat ini sudah 5 novel yang ditulisnya sendiri, dan 3 buku lain ditulis bersama penulis lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai ‘anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi: e. (bukan) Suami Takut Istri

Pernah terpikir di kepalaku bahwa bapak adalah sosok suami takut istri. Dia tidak pernah membelaku atau Yanto dari pukulan-pukulan yang dihadiahkan ibu pada kami. Tapi bukan karena itu. Bapak tidak pernah menyentuh ibu karena menurutnya merawat anak adalah hak ibu. Anak-anak ada di bawah kekuasaan ibu, sementara urusan lain bapak...

Read More →

Ambar Margi; c. Nakal

Sejak kecil aku tidak pernah tahu apa kesalahanku. Ibuku selalu bilang, “Jangan nakal! Dasar anak nakal! Awas kalau nakal!” Tapi dia tidak pernah menjelaskan padaku, nakal itu apa. Waktu aku bermain lompat tali dengan teman-teman di depan rumah, ibu memanggilku. Aku mendengar tapi enggan mendatanginya. Aku hanya berteriak “Iyooo…” menyahut...

Read More →

Ambar Margi; b. Perempuan di Titik Nol

Suatu hari ada seorang perempuan datang ke penjara dan mengebonku untuk berbicara dengannya. Bon adalah istilah untuk para napi, jika ada petugas yang memanggil kami untuk keperluan apapun. Ada yang besuk, mau disidang, diminta tolong memijat, disuruh membersihkan ruang petugas, semua istilah awalnya sama, dibon! Aku benci istilah itu, mengingatkanku...

Read More →

Ambar Margi; Bungkus Kacang

Dulu, aku sama sekali tidak suka membaca. Sejak kelas satu SD dan baru disuruh membaca “ini budi” dan seluruh keluarganya saja, aku sudah berusaha untuk lari dari kelas. Menurutku membaca sangat melelahkan. Karena huruf-huruf yang sama itu seperti berlompatan begitu saja dari kertas. Apalagi membaca koran, jungkir balik rasanya, harus...

Read More →

Posesif

Wajah sang perempuan sudah lebam-Lebam, lehernya berkalung bekas cekikan, tapi dia tetap menemani orang yang meninggalkan bekas luka itu, dengan alasan, "Tanpa saya, apa jadinya dia." Familiar dengan cerita seperti itu? Atau pernah berada di dalam lingkaran gelap itu? Menonton film Posesif membuat saya serasa ditarik pada kejadian 20 tahun...

Read More →

Sekolah Kids Zaman Now

Sudah seminggu ini anak saya terlihat lebih sering murung di dalam kamar dan menolak menjawab kalau ditanya kenapa. Ini sungguh mengkhawatirkan buat saya. Ada banyak kemungkinan buruk yang sudah bermain-main di kepala saya, sembari membayangkan diri saya sendiri ketika seusia dia. Enam belas tahun. Salah satu masa rawan. Hal hal...

Read More →