Ambar Margi; g. Kawin Muda

Hari itu akhirnya datang juga. Hari dimana akhirnya aku menyerah karena sudah satu tahun berlalu sejak bujukanku pada simbah. Dua laki-laki yang disodorkan pertama padaku, kutolak mentah-mentah. Bangkotan! Sama sekali tidak menarik. Untung mereka tidak langsung datang bersama keluarga dan membawa mahar yang menyilaukan perut keluargaku, jadi aku masih bisa mengurangi rasa malu yang mungkin ditanggung simbah. Mana laki-laki pertama yang datang itu usianya sudah hampir sama dengan bapakku. Berani sekali dia. Apa dia pikir aku setidak laku itu? Memangnya hanya dengan bekal peci dan mengaku sebagai kyai di pesantren yang namanya juga belum pernah kudengar, dia bisa mendapatkan keperawananku? Enak saja! Kalau sampai dia jadi suamiku, akan kumasukkan senter yang biasa dipakai untuk mencari belut malam hari ke dalam anuku. Mending aku nggak perawan karena senter disbanding menyerah pada bandot itu.
Untung saja segera datang teman SD-ku dulu. Usianya terpaut tidak jauh dariku. Dia tiga tahun lebih tua, tapi kami hanya beda dua tahun di kelas. Itu karena dia pernah tidak naik kelas. Badannya panas tinggi selama hampir sebulan. Dengan daftar absen yang dipenuhi huruf S, mana bisa dia dinaikkan. Tak apalah, dari semua calon yang diajukan keluargaku, dia yang paling masuk akal. Aku berharap dia tidak terlalu pintar, jadi aku masih bisa mengatur dia. Ya sudah, kuterima saja tawaran simbah.
Aku dan suamiku tidak memakai proses pacaran sama sekali. Kami seperti sepasang penganten di dalam arak-arakan karnaval 17-an yang digelar setahun sekali di kotaku. Sesungguhnya kami memang pernah sama-sama menjadi peserta karnaval waktu SD. Dia memakai seragam polisi dan sepanjang karnaval dipamerkannya giginya yang hitam dengan bangga. Aku memakai seragam perawat, yang dipinjam simbah dari mbak Yuni tetangga kami berbadan mungil yang sudah duduk di bangku SMK. Setiap Kamis dia memakai rok putih. Rok itulah yang kemudian dijahit kasar pinggirannya oleh simbah agar muat kupakai karnaval. Atasannya aku lupa simbah dapat dari mana.
Begitu pula di acara perkawinan kami. Setiap menengok ke kanan, ingatanku kembali pada masa karnaval itu. Badan dan wajah kami yang sama-sama belum lepas dari ingus kanak-kanak, tidak menyurutkan niatan orang tua-orang tua untuk segera memadukan kami di kursi pelaminan. Sebulan menjelang 17 tahun usiaku ketika itu.
Kebanyakan teman-temanku memang sudah kawin. Beberapa sudah punya anak bahkan. Aku bukan termasuk yang terlambat, walaupun juga tidak bisa dibilang terlalu cepat. Kalau simbahku bilang, daripada menanggung aib karena aku hamil di luar nikah seperti tetangga kami belakang rumah, lebih baik segera dinikahkan.
Aku tidak habis piker. Jadi ini semua masalah aib. Perawan tua adalah aib, menikah karena hamil juga aib, kadang aku bingung dengan cara orang tua berpikir. Seandainya mereka berpikir bahwa tidak menyekolahkan anak adalah aib, memaksa anak menikah di usia yang masih muda adalah aib, memiliki banyak anak tetapi tidak memikirkan masa depan mereka adalah aib, memukuli anak dan tidak bisa mendidik mereka adalah aib, mungkin aku tidak akan berakhir di sini.
Malam pertama yang aneh kulalui dengan suamiku. Aku mengendap-endap masuk ke kamar simbah dan meringkuk di kakinya agar dia tidak terbangun. Esok paginya aku diusir pagi-pagi sekali untuk masuk ke kamarku sendiri. Suamiku tidak mencariku, belakangan aku tahu kalau dia juga pulang ke rumahnya malam itu. Kami baru benar-benar ‘tidur’ bersama di malam ke-47. Itupun karena Sisri yang mengajari. Selama 47 hari pertama aku pura-pura kramas setiap pagi, menghindari tatapan penuh tanda tanya simbah padaku. Ibuku selalu sudah pergi ketika aku bangun pagi. Dia bukan orang yang kukhawatirkan akan bertanya ini itu. Kalau toh dia ada di pagi hari, dia tidak akan tahu bedanya rambutku basah atau tidak.
Begitu melihat rambutku basah di pagi hari, simbah senyum-senyum sendiri dan aku selamat dari tatapan penuh tanyanya. Padahal selama 47 malam pertama itu, kusuruh suamiku tidur di lantai dengan alas tikar pandan.

← Ambar Margi: f. Perawan Tua
Ambar Margi; h. Sandal Jepit →

Author:

Dian adalah penulis novel Kita dan Rindu, Rahasia Hati, Ketika Ibu Melupakanku dan 5 buku lainnya. Lahir 1976, menyelesaikan kuliah di Komunikasi STIK Semarang & Kriminologi UI. Anak ke-2 dari 4 bersaudara. Ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan anak-anak lain. Child Protection Advocacy Specialist di Yayasan Sayangi Tunas Cilik. #dianspoint #geocaching #lifeofawriter #lifeofatraveler #workhardtravelwell #luckybastardian #moviegoer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

Ambar Margi; o. Mumi

Waktu rasanya begitu panjang tetapi aku tidak benar-benar merasa ada di dalamnya. Yang kuingat hanya kami sampai di sebuah motel di pinggiran kota. Seseorang menghampiri kami lalu menanyakan mau berapa lama kami menginap. Aku tidak memahami sepenuhnya pembicaraan lek Minto dan orang itu. Setelah terjadi kesepakatan, orang itu menunjukkan arah,...

Read More →

Bapak Pulang

Beberapa kali saya menulis draft tulisan tentang Bapak, tetapi selalu terdistrak, sampai akhirnya terlambat. Sekarang Bapak sudah tidak akan membaca tulisan ini. Tapi memang Bapak tidak perlu membacanya. Bapak tahu apa yang dilakukannya dan dirasakan oleh anak-anaknya. Saya dilahirkan di kota kecil Salatiga, dikelilingi oleh orang-orang tua yang membentak anaknya,...

Read More →

figur

Edisi Figur ini akan menjadi chapter baru di dalam hidup blog saya, di mana semua yang ada di dalam kategori ini merupakan persembahan penuh pada orang-orang yang: - Benar-benar ada (bukan tokoh fiksi) - Sangat saya cintai - Berpengaruh dalam hidup saya - Lucunya nggak termaafkan - Memiliki kehidupan yang...

Read More →

Tips Tetap Waras di Dunia yang Menggila

Terpapar informasi-informasi getir tentang terorisme dan bagaimana anak ikut dieksploitasi dilibatkan didalamnya, lalu anak-anak kembali menjadi korban, mau gila rasanya. Lebih gila lagi karena membaca komen-komen di media sosial baik yang pedih getir prihatin dengan kejadian ini, maupun yang nyinyir salah tempat dan akhirnya malah ditangkap yang berwajib. Tergoda untuk...

Read More →