Ambar Margi; h. Sandal Jepit

Yudi, nama suamiku. Dia adalah orang pertama yang berada sedekat ini denganku. Sebelumnya aku tidak pernah merasakan pelukan dari orang yang kusayangi. Aku tidak pernah memiliki pacar, seperti teman-temanku yang kutahu sejak kelas 5 SD sudah berdekatan dengan teman lelaki lain. Aku lebih suka menghabiskan waktu untuk lompat karet dan berlarian di pematang sawah mengejar layang-layang putus, ketimbang cekikikan mencoba menarik perhatian anak laki-laki. Mereka bukan untuk dipacari. Mereka adalah teman berlari.
Akibatnya aku sendiri yang sering kali menjadi penyampai pesan. Teman-teman perempuanku menitipkan salam pada teman bermainku, begitu pula sebaliknya. Aku tidak peduli kalau satu per satu teman-temanku berkurang setelah menemukan kekasih mereka, karena aku selalu bisa mendapatkan teman baru. Mereka selalu laki-laki. Aku merasa lebih senang berteman dengan laki-laki. Mereka tidak banyak bicara sepertiku.
Aku dan Yudi menjadi lebih seperti teman dibanding suami istri. Aku tidak membuatkannya minum kopi atau teh di pagi hari, aku bahkan jarang memasak untuknya, aku tidak tahu apakah dia lebih suka kopi atau teh, sarapannya lebih senang dengan telur dadar atau ceplok, aku tidak tahu sama sekali. Pokoknya apa yang ibuku masak di rumah, kusuguhkan padanya. Kalau di rumah tidak ada makanan, aku minta ke simbah. Yudi tidak banyak protes, dia diam saja dan cenderung menurut. Yang kutahu, kalau dia tidak cocok dengan makanan di rumah, maka diam-diam dia akan pergi ke rumahnya sendiri dan memenuhi perut dengan masakan ibunya. Aku tidak keberatan sama sekali. Mertuaku juga tidak terlalu cerewet, dia kadang membawakan lauk dari rumahnya untukku. Aku beruntung memiliki suami Yudi. Kupikir, pilihanku tidak salah. Tapi entahlah, kenapa rasa cinta seperti yang digambarkan oleh teman-temanku itu tidak datang-datang juga. Aku tidak pernah merasakan rindu pada Yudi, aku juga tidak berdebar-debar mendengar namanya disebut, menantikan kehadirannya. Tidak sama sekali. Kami tidak pernah mengumbar cinta. Yang kami bicarakan tidak jauh dari persoalan ladang, sawah dan selepan padi. Aku rasa aku bukan satu-satunya orang yang merasakan hal ini. Yudi juga seperti tidak terlalu berminat dengan hubungan kami.
Satu-satunya waktu dimana aku sangat merindukan kehadirannya adalah satu sampai dua minggu sebelum menstruasi. Aku sangat menginginkannya berada di dalam tubuhku. Aku bisa memitingnya dengan kedua pahaku sehari tiga kali, ketika darah di dalam perutku akan muncrat. Begitu ada bercak di celanaku, meliriknya saja aku malas. Dia sendiri sangat menginginkanku kalau selesai nongkrong tidak jelas dengan teman-temannya. Kudengar dari si Ali, mereka suka duduk-duduk di rumah yang sedang kosong dan menonton film perempuan dan laki-laki telanjang dan kawin mawin. Bahkan lebih dari sepasang saling berganti-gantian.
Aku sering kali heran, kenapa kita berdua berada di dalam rumah yang sama dan saling menyebut satu sama lain pasangan hidup, jika nyatanya kami berdua hidup di dunia yang berbeda. Dunia kami yang sama hanya di sekitar selangkangan dan dada.
Setahuku, berpasangan itu seperti sandal jepit. Kalau salah satu tak ada, maka tak berfungsi yang lainnya. Tapi kami tidak. Aku dan Yudi lebih mirip seperti dua orang yang sedang mengikuti acara Penghuni Terakhir di TV. Kita ditempatkan di satu rumah untuk memperebutkan entah apa.
Pernah satu kali Yudi tidak pulang ke rumah tanpa meminta ijin, aku tidak merasa kehilangan sama sekali. Biasanya dia menginap di rumah teman-temannya untuk melihat film tentang kawin mawin, dan besoknya akan pulang membawa gaya baru ketika menindihku. Tapi tentu saja aku tidak bisa bilang begitu ke ibuku.
“Lagi ke rumah ibunya. Katanya malam ini dia mau tidur di sana.” Jawabku asal.
“Kowe ra melu ?” Ibuku mengejar.
“Males. Kadohan nek meh nang kebon sesuk .”
Sampai di sini baru titik.
Ibuku tidak mengejar lagi, dan Yudi semakin sering melakukannya. Kalau di rumah, aku tidak punya uang untuk memasak, dia pulang ke rumah ibunya, alih-alih berusaha mencari uang untuk berbelanja. Buatku, ini seperti sinyal bahwa akulah yang harus lebih keras berusaha untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Maka seperti anak ayam yang berusaha mematuk-matuk tanah untuk mendapatkan cacing, aku mempelajarinya dari ibuku, dari bapakku.
Kalau kebun sedang tidak digarap, aku bekerja menjadi kuli kasar di selepan beras. Aku suka melihat mesin mol itu bergerak menggerus gabah melahirkan beras. Tapi setiap kali aku memandanginya dengan mulut ternganga, aku mendapat lemparan dari juraganku. Tidak, dia tidak marah. Tapi dia senang menggodaku. Dia melemparkan beberapa butir beras atau gabah ke arah mulutku.
Kalau sadar bahwa ada yang memperhatikanku, biasanya aku baru mulai bekerja lagi. Semua pekerjaan kulakukan, mengangkat karung berisi gabah, memindahkannya dari tumpukan di tanah ke dalam mesin yang menggilingnya, memilahkan beras-beras itu dan memasukkannya ke dalam karung. Terus menerus seperti itu sampai tiba-tiba aku sadar bahwa aku sering kali kepayahan untuk mengangkat ini itu. Suatu hari aku pingsan. Pertama kalinya di dalam hidupku aku kehilangan kesadaran. Ketika membuka mataku, begitu banyak orang mengelilingi. Ada yang tangannya terus bergerak mengipasiku, sementara beberapa yang lain menggosok-gosokkan entah minyak apa saja ke perut dan bawah hidungku. Malu rasanya menjadi tontonan orang.
“Kamu meteng Mbar. Wis, besok istirahat dulu. Nggak usah kerja dulu…” Kata bu Jarot, pemilik selepan beras.
Aku bingung. Dari mana dia tahu kalau aku hamil. Apakah karena dia memiliki delapan orang anak, maka dia jadi hafal ciri-ciri orang hamil tanpa perlu memeriksakan diri ke puskesmas?
Yudi lebih bingung lagi ketika sesampainya di rumah, kuceritakan tentang peristiwa siang itu. Ibuku tidak berekspresi apa-apa. Tapi sepertinya aku membaca raut lelah di wajahnya. Mungkin dia pikir, akan bertambah satu lagi nyawa di rumah ini, bertambah beban, tanggung jawab, dan mulut yang harus diberi makan. Hanya bapakku yang luar biasa kegirangan waktu tahu aku hamil. Dia langsung bersiap nama untuk cucu pertamanya. Dia seyakin matahari yang akan bersinar lagi esok hari, ketika menebak jenis kelamin cucu pertamanya. Dia merasa pasti bahwa anakku laki-laki.
Aku menikmati masa-masa kehamilanku. Bayi di dalam perutku tidak bisa diajak diam. Kalau aku diam sedikit saja, perutku malah melilit. Jadi aku memohon pada bu Jarot untuk diijinkan tetap bekerja di selepannya selama kehamilanku. Dia mengijinkan dan aku malah mendapat banyak keringanan. Aku diijinkan bekerja sesuka hati, dan diam-diam dia memberiku upah tambahan setiap hari. Tentu saja diberikannya dengan tangan kiri, karena kalau tangan kanannya tahu, nanti pekerja-pekerja lain bisa marah.
Herannya, semenjak tahu kalau aku hamil, malah Yudi yang berbuat aneh. Dia tiba-tiba menjadi beberapa kali lipat lebih pemalas dariku. Dia gampang menangis. Di siang hari, kadang-kadang dia memintaku melakukan hal-hal yang layaknya dilakukan oleh perempuan yang ngidam. Dia memintaku pulang hanya untuk menyiapkannya makanan yang harus dibawakan dari rumah ibunya. Di lain hari dia minta dibuatkan es kweni, tapi dengan jumlah es yang dia sendiri yang menentukan. Untuk keluarganya, ini menjadi cerita lucu, tapi mereka tidak melihatnya dari sisiku. Aku yang sedang hamil, tapi aku yang harus bekerja keras bahkan dua kali lipat dari biasanya untuk memenuhi kemanjaan Yudi, yang menurutku terlalu mengada-ada.
Aku tidur memunggunginya dengan alasan tidak nyaman menghadap ke arah kanan. Kalau dia mau menyetubuhiku diketuk-ketuknya punggungku. Aku pura-pura tidur. Hal paling aman yang bisa kulakukan. Dia tidak memaksa, tapi kemudian kudengar isakan. Awalnya aku berbalik badan dan melapas pakaian. Jadi patung saja ketika dia sibuk memenuhi napsunya di atasku.
Aku memang tidak pernah mencintai Yudi. Dan saat ini, semakin sulit rasa cinta itu akan tumbuh. Mereka sudah patah jauh sebelum tumbuh.
Aku menjalani kehamilanku sendiri dan mulai merancang-rancang hidup berdua saja dengan anakku. Perceraian di desa kami adalah hal yang wajar. Beberapa teman kecilku sudah menjanda di usia 14 tahun. Lebih parah lagi, sebagian kecil diantaranya menjadi janda gantung. Janda tidak resmi. Janda tanpa surat. Mereka ditinggalkan begitu saja oleh pasangannya, dengan ditinggali satu dua orang anak. Aku tidak mau seperti itu, aku akan menggugat cerai Yudi, akan kukembalikan dia pada orang tuanya. Kalau bersuami justru aku jadi pontang-panting lebih berat baik siang dan malam hari, aku memilih sendiri.

← Ambar Margi; g. Kawin Muda
Ambar Margi; i. Witing Tresno Jalaran Soko Kulino →

Author:

Dian adalah penulis novel Kita dan Rindu, Rahasia Hati, Ketika Ibu Melupakanku dan 5 buku lainnya. Lahir 1976, menyelesaikan kuliah di Komunikasi STIK Semarang & Kriminologi UI. Anak ke-2 dari 4 bersaudara. Ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan anak-anak lain. Child Protection Advocacy Specialist di Yayasan Sayangi Tunas Cilik. #dianspoint #geocaching #lifeofawriter #lifeofatraveler #workhardtravelwell #luckybastardian #moviegoer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

figur

Edisi Figur ini akan menjadi chapter baru di dalam hidup blog saya, di mana semua yang ada di dalam kategori ini merupakan persembahan penuh pada orang-orang yang: - Benar-benar ada (bukan tokoh fiksi) - Sangat saya cintai - Berpengaruh dalam hidup saya - Lucunya nggak termaafkan - Memiliki kehidupan yang...

Read More →

Tips Tetap Waras di Dunia yang Menggila

Terpapar informasi-informasi getir tentang terorisme dan bagaimana anak ikut dieksploitasi dilibatkan didalamnya, lalu anak-anak kembali menjadi korban, mau gila rasanya. Lebih gila lagi karena membaca komen-komen di media sosial baik yang pedih getir prihatin dengan kejadian ini, maupun yang nyinyir salah tempat dan akhirnya malah ditangkap yang berwajib. Tergoda untuk...

Read More →

Ambar Margi; n. Ujian Pertama

Hari itu matahari bersinar ragu-ragu di kota kecil kami. Aku adalah seorang istri salihah di antara para lelaki di dalam keluarga besar kami. Hari itu aku memakai celana panjang warna hijau tentara, kemeja hitam berhias bunga merah di dada, kerudung merah dengan manik-manik keperakan menempel di kepalaku. Bukan jilbab. Helaian...

Read More →