Ambar Margi; i. Witing Tresno Jalaran Soko Kulino

Sembilan bulan kujalani masa kehamilanku dengan kulit leher, perut dan tetek menghitam. Menurut orang-orang di sekitarku, memang seperti itu kalau perempuan sedang hamil. Tetapi untukku ini semua tampak aneh dan aku ingin segera melahirkan anakku. Bukan saja karena aku ingin ruam-ruam hitam di beberapa bagian tubuhku hilang, tapi juga karena aku ingin segera bertemu anakku. Dia pasti akan menjadi teman yang baik. Dia akan kudidik untuk menjadi anak yang hebat dan sehat dan rajin. Tidak seperti bapaknya. Sejak di dalam perut dia sudah kubawa mengerjakan apa saja untuk mempertahankan api di dapur kami tetap ngebul. Kusyukuri penglihatan yang baru akan didapatnya setelah lahir nanti. Karena kalau dia melihat bapaknya hanya bermalas-malasan saja kerjanya, mungkin itu yang akan ditirunya nanti.
Gilang anakku, lahir dengan mudah ke dunia ini. Dia benar-benar anak yang hebat karena tidak ingin menciptakan rasa sakit tambahan untukku. Aku melahirkannya begitu saja, setelah orang-orang di selepan melihat air ketuban mengalir di kakiku waktu aku memasukkan gabah ke mesin. Lek Suni dan anak laki-lakinya meletakkanku di gerobak dan mendorong sampai ke puskesmas. 10 menit saja terlambat, anakku akan lahir diantara gabah dan dami.
Gilang kemudian menjadi tempatku berlari ketika sangat lelah di siang hari. Dia benar-benar seperti namanya, gemilang. Anakku adalah cahayaku. Sejenak aku lupa dengan rencanaku menghentikan perkawinan. Aku sibuk menyusui anakku. Aku punya alasan untuk menyingkirkan mulut Yudi dari pentilku. Gilang menjadi penyelamatku.
Sementara itu bapaknya berperan menjadi malaikat yang duduk saja bermalasan di rumah dan berbuat seolah-olah dia sudah melakukan segalanya, dengan menggendong Gilang setiap hari membawanya ke sana kemari. Orang-orang yang melihatnya menggendong Gilang selalu memuji dan mengatakan betapa bersyukurnya aku memiliki suami yang mau membantu merawat anak.
Oh, tentu saja aku bersyukur Yudi mau merawat gilang. Tetapi mereka lupa, atau mungkin tidak tahu, bahwa asap dapur ngebul tanpa andil Yudi sama sekali. Kalau dia tidak mau menggendong Gilang, itu keterlaluan namanya.
Berkali-kali sudah, dengan memakai mulut sendiri atau meminjamnya dari simbah dan ibu, aku mencoba mengingatkan Yudi untuk mencari pekerjaan, agar dia tidak menganggur saja setiap hari, tetapi jawabnya tidak pernah seperti yang kuharapkan. Dia tidak marah atau merasa tersinggung, atau merasa disepelekan. Yudi adalah orang paling keras kepala yang pernah kutemui. Kalau aku sendiri yang memintanya untuk segera mencari pekerjaan, dia akan mencubit pipiku dan bilang,
“Kan kamu udah kerja. Nanti siapa yang jaga Gilang?”
Kalau ibuku yang dingin itu yang menyindirnya untuk bekerja, dia akan menjawab,
“Saya sama Ambar udah sepakat kok bu, kalau salah satu aja yang mau kerja. Nanti kalau dia sudah di rumah, gentian saya yang kerja.”
Bapakku sudah kehabisan kata. Simbah yang tidak berhenti ngomel. Tapi dia tidak pernah menanggapinya.
Di rumahnya sendiri, Yudi diperlakukan seperti raja. Setiap kali datang ke rumah dengan menggendong cucu kesayangan orang tuanya, Yudi akan segera disuruh beristirahat dan Gilang berpindah ke gendongan tangan orang lain. Pekerjaan terberat Yudi adalah menyangga piring di tangannya. Dia menyangga piring berisi nasi segunung dengan lauk pauk memenuhi lerengnya –seperti penari piring menjaga harta paling berharganya agar tidak jatuh tumpah dan pecah. Kalau sedang melihatnya seperti itu, ingin rasanya kulempar dia dengan sandalku.

Suatu hari, ketika kelelahanku melihatnya duduk-duduk dan menganggur saja sudah sampai di puncak, aku ingat Gilang sedang belajar berjalan ketika itu, aku memutuskan untuk tidak lagi pergi ke rumah bu Jarot. Aku mengikuti apa yang dilakukan Yudi. Duduk di rumah setiap hari. Bukan main pegalnya kaki dan tanganku. Beberapa kali perutku terasa kram karena tidak melakukan apapun, tetapi kutahan semua itu. Kupaksa Yudi keluar rumah untuk bekerja.
Tapi apa yang terjadi? Dia memang pergi keluar rumah, tetapi tidak untuk bekerja. Dia nongkrong di pinggir jalan bersama teman-temannya yang lain. Mengobrol ngalor ngidul setiap hari, minum kopi di siang hari, lalu kadang berlanjut menonton film orang kawin. Itu yang dikerjakannya. Sampai aku sudah benar-benar putus asa, tidak memiliki uang sama sekali, akhirnya terucap juga apa yang selama setahun lebih kutahan.
“Yud, aku njaluk pegat.” (aku minta cerai)
Dan ini jawabnya sambil menangis berurai air mata.
“Ojo Mbar… Jangan tinggalin aku. Selama ini aku nggak pernah merasa berarti. Cuma sama kamu aku merasa jadi laki-laki yang sesungguhnya. Lagipula, sekarang ada Gilang. Apa kamu tega lihat anak kamu nggak ada bapaknya?”
Aku diam. Kalau dia mengatakannya dengan keras, pasti aku akan lebih tegas. Tapi melihatnya menangis, tak urung luluh juga hatiku.
“Tolong beri aku kesempatan sekali lagi Ti, tolong. Aku bukannya senang bermalas-malasan di rumah. Aku juga ingin punya pekerjaan, aku pengen kamu kayak Simak (ibu), yang dibelikan mas-masan sama bapak, aku pengen belikan Gilang sepeda. Aku pengen melakukan itu semua Ti. Tolong.”
Air matanya tidak berhenti mengalir. Dia memeluk kakiku erat sekali. Laki-laki itu bersimpuh di kakiku. Yang kudengar dari banyak orang, laki-laki letaknya bukan di kaki. Kalau marah mereka memukul, kalau tersinggung mereka menendang, dan kalau kaya mereka semena-mena. Tapi tidak dengan Yudi. Aku jadi iba. Aku menyerah. Niatanku untuk menceraikannya luntur lagi. Malam itu dia memperlakukanku seperti ratu. Setelah dipijatnya seluruh tubuhku yang memang sedang pegal karena tidak melakukan apapun, dijilatinya setiap jengkal tubuhku. Dan aku megap-megap.
Esok paginya, dibuatkannya seisi rumah teh dan kopi.
“Ti, aku mau narik ojek ya. Aku pinjam motornya pak’e boleh ndak ya?” tanyanya pagi itu. Motor bapakku adalah motor tahun 80-an yang sudah butut. Tapi kalau dia bisa menjadi berkah Yudi untuk mencari nafkah, rasanya aku tidak keberatan untuk meminta ke bapak, agar diijinkan meminjam motornya.
Akhirnya, seperti yang sudah kuduga, bapak meminjamkan motornya, asalkan Yudi bersedia menjemput dan mengantar bapak kalau dia perlu ke ladang yang jaraknya 10 menit naik motor dari rumah. Aku senang sekali. Untuk sesaat niatku untuk hidup sendiri tanpa Yudi kulupakan. Satu, dua bulan setelah dia narik ojek, Yudi mengajakku bicara.
“Ti, kalau misalnya kita kredit motor baru, gimana ya?”
Mataku melotot. “Kredit dari mana?”
“Ya kredit motor kayak orang-orang itu lho. Di pasar itu kan suka ada mobil yang jualan motor itu. Katanya uang mukanya cuma 500 ribu.”
“Uang mukanya memang cuma segitu, tapi cicilannya siapa yang mau bayar Yud?”
“Kita pinjam simak untuk uang mukanya, nanti nyicilnya bareng-bareng kita cari.”
“Bareng-bareng?”
“Gilang kan udah bisa jalan. Dia dititipkan ke simak saja. Nanti kamu mulai kerja lagi, gimana?”
Aku diam.
“Soalnya kalau narik ojek pake motor pak’e, jarang yang mau Ti. Orang-orang pasti milihnya sama yang pake motor baru-baru itu.”
Alasannya masuk akal.
Beberapa hari kupikirkan permintaan Yudi. Kubahas sambil lalu dengan bapakku. Ibuku diam saja. Dia tidak banyak bicara, seperti biasanya. Sambil menyuap makan sore di latar rumah simbah, kutanyakan padanya bagaimana baiknya. Dia mengangguk-angguk saja. Sampai akhirnya, Yudi datang dengan membawa selebaran berisi angka-angka perkiraan cicilan setiap bulan untuk sebuah motor baru yang diimpikannya. Aku tergoda.
Dua minggu berikutnya, Yudi sudah bisa bergaya di depan teman-temannya sesama tukang ojek untuk memamerkan tunggangan barunya. Motor butut bapak kembali ke tugas lamanya, mengantar bapak dan ibuku ke sawah.
Melihat wajah Yudi dengan motor barunya itu, mengingatkanku pada adikku, Yanto, ketika dia masih berusia 6 tahun. Suatu hari, wajahnya tampak bercahaya persis seperti Yudi saat ini. Waktu itu bapak baru saja membelikannya mobil-mobilan besar terbuat dari kayu. Bapak baru pulang dari pasar Ambarawa untuk menjual hasil panen kami. Aku mendapatkan boneka berbaju keemasan dan matanya bisa berkedip-kedip ketika itu. Tapi yang kuingat, wajahku tidak secemerlang Yanto dengan truk kayunya. Mainan baru itu dibawanya kemanapun, termasuk ke atas kasur untuk menemaninya tidur.
Seperti itulah Yudi sekarang. Dia bangun lebih pagi dari sebelumnya, membawa Gilang pergi berjalan-jalan setelah kumandikan, lalu pulang ketika si anak sudah mengantuk lagi. Setelah itu baru dia pergi ke pangkalan ojek, sementara aku bertarung dengan suara derum mesin selep di rumah bu Jarot. Bukan main girangnya dia melihatku memutuskan untuk kembali bekerja di selepannya. Dia pikir, aku sedang bahagia saat ini. Entahlah, mungkin wajahku menceritakan hal itu padanya. Atau mungkin aku memang sedang bahagia, karena akhirnya Yudi bersemangat bekerja. Tapi anehnya, jauh di dalam hatiku aku masih merasa ada yang kosong.

← Ambar Margi; h. Sandal Jepit
Ambar Margi; j. Malaikat itu Bernama Seno →

Author:

Dian adalah penulis novel Kita dan Rindu, Rahasia Hati, Ketika Ibu Melupakanku dan 5 buku lainnya. Lahir 1976, menyelesaikan kuliah di Komunikasi STIK Semarang & Kriminologi UI. Anak ke-2 dari 4 bersaudara. Ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan anak-anak lain. Child Protection Advocacy Specialist di Yayasan Sayangi Tunas Cilik.
#dianspoint #geocaching #lifeofawriter #lifeofatraveler #workhardtravelwell #luckybastardian #moviegoer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What to Read Next

Ambar Margi; n. Ujian Pertama

Hari itu matahari bersinar ragu-ragu di kota kecil kami. Aku adalah seorang istri salihah di antara para lelaki di dalam keluarga besar kami. Hari itu aku memakai celana panjang warna hijau tentara, kemeja hitam berhias bunga merah di dada, kerudung merah dengan manik-manik keperakan menempel di kepalaku. Bukan jilbab. Helaian...

Read More →

Lucky Bastard Ep. 1; Hadiah Ulang Tahun ke Bali

Seri Lucky Bastard ini adalah cerita tentang anak manusia yang super beruntung. Nggak cantik-cantik banget, nggak pinter-pinter banget, nggak gigih-gigih amat, kadang baper, kadang semau udelnya. Tapi seluruh dunia suka gitu aja ngasih dia kado yang dia pengenin. Nggak semuanya juga sih. Karena kalau semua yang dia minta dikasih, sekarang...

Read More →

The Shape of Water, Film Cinta Anti Mainstream

Nonton film kelas Oscar itu biasanya membuat saya tertidur, sehingga kehilangan beberapa scene. Kalau mau maksa banget, saya bisa menonton film-film Oscar beberapa kali, untuk memastikan tidak ada bagian-bagian penting yang saya lewatkan ketika tertidur. Dan itupun biasanya saya tonton setelah nyaris memasuki masa Oscar tahun berikutnya. Tetapi tahun ini...

Read More →

Ambar Margi; m. Aku atau Kamu?

Setelah hari-hari berat pulang balik rumah – rumah sakit yang kujalani, akhirnya ada juga cerita gembira yang bisa kubagi. Bapak pulang dari rumah sakit. Kondisinya sudah jauh lebih baik. Operasinya berjalan lancar. Air yang dikeluarkan dari paru-parunya dua botol minuman ukuran sedang. Aku tidak habis pikir dari mana asal air...

Read More →

Geocaching, Melihat Dunia dengan Cara Berbeda

Baru pertama mendengar kata geocaching? Saya juga baru mendengarnya beberapa bulan lalu. Dan sejak saat itu, agak sulit untuk berhenti memikirkannya. Apakah saya terdengar berlebihan? Yes! Saya memang jatuh cinta pada geocaching, kalau definisi jatuh cinta adalah tidak bisa berhenti memikirkan sesuatu yang kita cintai setiap saat. Apa sih Geocaching...

Read More →