Ambar Margi; j. Malaikat itu Bernama Seno

Sayangnya, senyum di wajahku tidak berumur lama. Dengan serta merta, hanya dalam hitungan bulan, kami sudah mulai berjumpa dengan masalah baru. Musim hujan ketika itu. Jalanan desa menjadi kubangan yang membentang menghubungkan satu rumah dengan yang lainnya. Satu tikungan ke tikungan berikutnya, sawah yang lebih mirip genangan air sejauh mata memandang, dengan kebun yang alum. Orang memilih meringkuk di rumah, membetulkan genting yang bocor, menapi besar agar tidak kutuan.
Beberapa kali Yudi meminta ijin padaku untuk tidak bekerja. Aku tidak bisa melarangnya, bu Jarot sendiri menyuruh kami untuk pulang beberapa hari ini. Matahari sembunyi, tidak banyak yang bisa dilakukan untuk mengeringkan gabah. Untukku, libur dua tiga hari terasa melelahkan. Tetapi Yudi, dia seperti mengingat kembali masa-masa nyaman tinggal di rumah dan bermalas-masalan. Awalnya hanya satu dua hari, tetapi dari simbah aku tahu, kalau diam-diam setelah mengantarkanku pergi ke rumah bu Jarot, dia pulang ke rumah dan tidur atau menonton TV. Ketika kutanyakan padanya, apakah benar yang simbah bilang, Yudi tidak membantah. Dia membuat berbagai alasan, dari mulai kangen Gilang sampai sakit pinggang.
Yudi adalah Yudi, manusia yang hanya menghabiskan energi saja kalau dimarahi. Aku diam. Dia juga diam. Bu’e diam. Yudi tidak merasa didiamkan. Pa’e ikut-ikutan diam. Yudi merasa bahwa dunia di rumahku memang hening. Dia tetap melakukan aktifitas seperti biasa. Tidur dan menonton TV.
Tapi ada yang tidak bisa diam di sini. Kalender di rumah kami terus berjalan, sampai tiba waktunya membayar cicilan kendaraan. Yudi awalnya kelimpungan karena yang menagih adalah teman sendiri. Harga dirinya masih lebih tinggi dibanding kemalasan rupanya. Dia bergerak. Dua hari kulihat dia narik lagi. Tapi setelah uang hasil tarikannya ditambah uang pinjamanku pada bu Jarot terkumpul untuk menutup tagihan, dia kembali bermalas-malasan di rumah.
Aku heran, kenapa otaknya tidak tumpul. Karena berdiam diri membuatku jadi bebal. Kenapa dia tidak. Dia masih bisa tertawa terbahak-bahak dan bercerita ini itu yang terjadi di layar kaca seolah-olah dia benar-benar berada di sana. Di rumah kami, tinggal Gilang saja yang masih menganggapnya ada. Selebihnya, dia adalah angin lalu. Aku melengkung memunggunginya semakin dalam di atas kasur. Tak kugubris lagi ajakannya untuk bersenggama. Satu dua minggu menjelang menstruasi, kutenangkan sendiri bagian yang berisik minta dimasuki dengan jariku.

Tiga belas bulan sudah mainan bermesin dengan dua roda yang kubelikan untuk Yudi itu berada di rumah. Selama enam bulan juga aku pontang-panting mencari pinjaman untuk membayar cicilan setiap tanggal muda datang. Pada bu Jarot aku sudah malu untuk meminjam lagi, sampai akhirnya laki-laki itu datang. Dia adalah saudara jauh bu Jarot. Banyak yang bilang dia penjahat kambuhan. Aku tidak percaya. Padanya kulihat jalan keluar dari masalah-masalahku. Bukan hanya masalah membayar cicilan kendaraan itu, tapi juga masalah kepulan asap di dapurku dan gagalnya panen di sawah Pa’e. Namanya Seno. Umurnya 16 tahun lebih tua dariku. Dia memanggilku nduk.
“Kamu itu cantik lho nduk, mbok mesem .” Katanya tanpa maksud menggoda.
Aku membalasnya dengan tersenyum.
“Lha, nek ngono kan ayu . Suamimu kerja apa nduk?”
“Ndak kerja lek .”
“Mbok manggilnya Seno aja. Apa aku keliatan tua banget to?”
Bu Jarot menyelamatkanku yang kelimpungan membalas permintaan Seno.
“No, istrinya orang lho itu. Jangan digoda.” Kata bu Jarot.
“Nggak papa yu, nanti kalau suaminya marah, biar tak minta sekalian.”
“Lha istrimu mau kamu taruh mana?”
“Istriku tak taruh sebelah kiri, cah ayu iki sebelah kanan.” Katanya lalu tertawa. Dia merasa pernyataannya lucu.
Sore itu, sebelum aku pulang, dia menyalamiku dan meninggalkan lembaran 100 ribu di tangan. Jumlahnya ada lima. Waktu mulutku ternganga dan bersiap meluncurkan pertanyaan, Seno lebih dulu berkata,
“Itu buat Gilang.”
Lalu dia menghilang. Dua minggu sekali Seno muncul dan setiap kali kami bertemu, dia meninggalkan padaku uang. Ketika akan kupakai uang itu untuk membayar hutang pada bu Jarot, majikanku ini menolaknya. Dia bilang, Seno sudah membayar lunas hutangku. Demikian juga dengan hutang-hutangku pada orang lain.
Yudi tidak pernah bertanya bagaimana aku tiba-tiba bisa mempunyai uang sebanyak itu di dompetku. Dia ikut menikmati saja, ketika meminta rokok dan aku tidak mengomel, Gilang merengek minta dipanggilkan topeng monyet dan aku memiliki uang untuk membuat anakku terpingkal-pingkal melihat binatang berlaku seperti manusia. Dia ikut menikmati itu semua. Dia juga tidak ingin tahu kenapa aku tidak lagi risau ketika hari membayar cicilan motor sudah dekat. Dia diam saja. Kupikir, hati suamiku ini terbuat dari batu bata.

Satu bulan lebih, Seno tidak mampir ke rumah bu Jarot. Aku mulai merindukannya. Jujur saja kuakui, aku merindukan selipan-selipan uang di tanganku ketika kami berpisah. Tetapi kalau hanya itu, rasanya pasti tidak seperti ini. Ada letupan-letupan lain yang tidak pernah kurasakan pada Yudi. Tapi aku diam saja. Aku hanya tahu bahwa ada yang layu di dalam hatiku. Sampai saat itu tiba.
Hujan turun deras sekali di desa kami. Padahal sebelumnya matahari bersinar sangat terik. Tentu saja ini membuat kami kalang kabut. Aku dan semua pegawai bu Jarot kewalahan menarik terpal masuk ke gudang dan menyelamatkan gabah yang baru kami jemur. Kalau sampai hujan membasahi mereka, maka habislah kami. Kalau sampai beras yang sudah masuk ke dalam truk itu terguyur hujan, maka kutu akan tumbuh subur di sana. Kami semua bekerja sambil berteriak-teriak seolah-olah suara kami dapat menghalau air yang curah ke bumi. Pontang-panting sampai basah kuyup kami menyelamatkan pengisi perut orang di negeri ini. Sampai akhirnya kami bisa bernafas lega. Tapi keringat dan hujan yang bercampur di tubuh kami membuat para pegawai tidak tahan berlama-lama lagi di gudang bu Jarot. Satu per satu memutuskan pulang. Berpayung daun talas aku menyusuri kubangan-kubangan jalan menuju rumahku.
Aku selalu menyukai hujan. Tak peduli sekeras apa buk’e memarahiku setelah bermain hujan ketika aku masih kanak-kanak dulu, aku tetap menyukai hujan. Sementara yang lain berlarian berusaha menghindari tetes-tetes air dari langit, aku berjingkat-jingkat serupa penari. Di dalam hatiku ada senandung yang entah pernah kudengar dari mana. Sampai di ujung jalan, senandungku berhenti. Hatiku tidak lagi bernyanyi, tetapi dia seperti bertemu malaikat. Laki-laki itu berdiri menatapku entah sudah berapa lama. Dia berada di gardu yang biasa dipakai oleh para lelaki ronda malam. Kulihat senyumnya mengembang ditahan. Mungkin ini yang disebut orang dengan tersenyum simpul. Tubuhnya tampak sedikit lebih kurus dibanding terakhir kali aku melihatnya dulu.
“Nduk…” sapanya ketika aku ikut menepi.
“Kok lama nggak kelihatan…?” Aku masih belum bisa memanggilnya Seno. Menurutku dia lebih pantas dipanggil lek. Usianya mungkin tidak berbeda jauh dengan bapakku.
“Aku tugas luar kota.”
Aku diam.
Dia diam.
“Kok nggak ke rumah bu Jarot?” tanyaku memecah kediaman.
“Ini lagi mau ke sana. Tapi hujan. Jadi aku ngeyup di sini. Tapi kebetulan kamu lewat, jadi aku nggak perlu ke rumah yu Jarot.”
Aku menatapnya menggantikan pertanyaan, kenapa.
“Aku ke yu Jarot kan memang cuma mau ketemu kamu. Udah lama nggak ketemu, aku kangen.”
Kalau yang kulihat di TV-TV itu, laki-laki setengah baya seperti dia, ketika mengucapkan kangen pada perempuan yang usianya jauh di bawahnya, pasti sambil mengulurkan tangan dan meraih pipi atau dagu. Tapi Seno tidak. Dia bahkan tidak menatapku sama sekali.
Aku diam. Lidahku tiba-tiba kelu.
Langit juga diam. Curahan airnya ke tanah tiba-tiba berhenti. Entah kemana mereka semua perginya.
“Yok, tak anter pulang.”
“Nggak usah.” Jawabku cepat.
“Nggak papa.”
Seno memaksa.
“Nanti Yudi marah.”
“Laki-laki yang nggak punya tanggung jawab, nggak punya hak untuk marah.” Ujarnya dingin.
Aku diam. Menurut saja ketika tangannya menuntunku seperti menuntun anaknya pulang ke rumah. Sepanjang jalan menghindari kubangan air, aku berpikir apa yang akan kukatakan pada orang tuaku juga suamiku.
Tapi ternyata, aku tidak perlu berkata apapun. Yudi tidak bertanya apa-apa. Seno memperkenalkan diri sebagai saudara jauh bu Jarot yang kebetulan akan pulang dan berjalan satu arah denganku. Bapak menerimanya dengan baik. Dia bahkan menawarkan diri mengantar Seno ke jalan aspal untuk mencegat kendaraan. Tapi Seno menolak. Dia pulang setelah menghabiskan kopi buatan ibuku. Sebelum pulang, disusupinya tanganku dengan lima ratus ribu. Pada Gilang dipeganginya selembar lima puluh ribu. Di dapur ibuku cerita kalau Seno menyelipkan uang dua ratus ribu padanya. Sejak saat itu, jadilah Seno malaikat di rumah kami. Dia pandai menarik ulur. Tidak setiap datang dia meninggalkan uang, tetapi dia tahu bahwa ada hari-hari dimana uang akan menyelamatkan kehidupan kami. Maka di saat itulah, selipan-selipannya pada buk’e, simbah dan padaku akan terasa seperti telaga di tengah gurun. Mungkin itu istilah yang paling tepat, walaupun aku belum pernah benar-benar berada di tengah gurun.

← Ambar Margi; i. Witing Tresno Jalaran Soko Kulino
Ambar Margi; k. Leo →

Author:

Dian adalah penulis novel Kita dan Rindu, Rahasia Hati, Ketika Ibu Melupakanku dan 5 buku lainnya. Lahir 1976, menyelesaikan kuliah di Komunikasi STIK Semarang & Kriminologi UI. Anak ke-2 dari 4 bersaudara. Ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan anak-anak lain. Child Protection Advocacy Specialist di Yayasan Sayangi Tunas Cilik. #dianspoint #geocaching #lifeofawriter #lifeofatraveler #workhardtravelwell #luckybastardian #moviegoer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

Taj Mahal, Monumen Egois

Lebih dari empat tahun lalu saya mendapat kesempatan melakukan perjalanan ke India, untuk mengikuti Konferensi Alzheimer se-Asia. Thanks to ALZI for this. Dan seperti halnya India 1st time traveler, pasti akan menjadikan Taj Mahal sebagai salah satu tujuan wajib. Karena waktu yang kami miliki tidak banyak, maka menyewa seorang pemandu...

Read More →

Semalang di Malaysia

Setiap perjalanan selalu meninggalkan bekas yang berbeda. Begitu juga dengan perjalanan saya ke Malaysia beberapa waktu yang lalu. Perjalanan ini sama sekali bukan perjalanan wisata. Kami empat orang di dalam satu tim yang sedang mengemban misi untuk pengambilan gambar untuk video training calon Buruh Migran Indonesia (BMI) dengan tujuan Malaysia....

Read More →

Rahasia Hati

Baru sadar banget bahwa saya belum pernah menulis apapun tentang Rahasia Hati, novel saya yang ke-4, terbit 2012. Maka karena udah agak terlalu lama buat mereview tulisan sendiri, saya browsing dan menemukan beberapa tulisan yang merupakan review atau sinopsis novel itu. Silahkan dibaca sendiri dan... terima kasih sudah menulis tentang...

Read More →

Adik Sampai Tua

Hari itu suasana GOR lain dari biasanya. Ibu-ibu baik hati yang memakai seragam biru berkumpul semua setelah beberapa diantaranya menjemput teman-temanku. Temanku juga datang semua bersama ibu-ibu mereka. Tapi aku tidak melihat si Bapak. Kami menyebutnya bapak karena dia seperti bapak untuk kita semua. Sebetulnya dia itu sama seperti ibu-ibu...

Read More →

Lucky Bastard #4: Lahir di Generasi Musik Terbaik

Sejak kecil saya selalu merasa istimewa. Terserah apa kata orang! Pokoknya saya istimewa :) Well, ain’t we all? Maka untuk membuktikan keistimewaan saya, saya sering menghabiskan waktu untuk mencari apa yang membuat saya istimewa. Dimulailah dengan menanyakan pada Google, what happened on 1976. Maka saya menemukan beberapa kejadian berikut (ini...

Read More →

Selamat Ulang Tahun, Pak

Bapak sayang, Hari ini Bapak merayakan ulang tahun di tempat yang berbeda dengan kami. Aku ingat pada suatu hari Bapak menolak ketika Ibuk mau merayakan hari lahirmu. “Nanti saja kalua sudah bonusan, baru dirayakan.” Bonus yang Bapak maksud adalah kalua sudah lewat dari usia 63 tahun Aku tahu dari mana...

Read More →