Ambar Margi; k. Leo

Dengan semua selipan-selipan yang diberikan pada kami, hanya bapak yang tampak tidak terlalu senang. Dia tidak marah, tidak juga menolak, tapi aku melihat raut yang berbeda padanya. Entahlah, mungkin nalurinya sebagai pencarai nafkah di rumah yang tersenggol. Aku tidak tahu.
Belakangan ini Bapak memang jauh berbeda. Bukan hanya karena kehadiran Seno, tetapi juga dari kesehatannya. Batuknya semakin menggila. Kalau dulu orang bilang ini batuk 40 hari, sekarang sudah jauh lewat dari angka itu. Lalu bu Kadus bilang ini batuk 100 hari, aku berdoa semoga memang hanya menunggu hari ke-100 lalu bapak sehat lagi.
Tapi aku salah. Selewat 100 hari, bapak lebih banyak terbatuk ketimbang bicara. Puncaknya adalah ketika ada darah muncrat bersamaan batuknya. Aku tidak diam lagi. Aku membawanya ke rumah sakit dan dia terpaksa menginap di sana. Satu minggu, batuk-batuk bapak tidak membaik juga, sampai akhirnya dokter menyarankan agar kami membawanya ke RS Sarjito di Jogja. Maka dengan ambulance yang membuatku pusing karena bising, aku ditemani ibu dan Yanto pergi ke Jogja mengantar bapak.
Di dalam ambulans, aku dan ibu diam. Di kepala kami langsung menerawang banyaknya angka yang harus kami keluarkan untuk pengobatan bapak. Kami bergantian menghela nafas. Lalu diam. Saling beradu pandang. Lalu diam. Mengelus kaki bapak. Lalu diam.

Benar saja, bapak harus menjalani tindakan untuk menyedot air di paru-parunya. Kata dokter ini tidak apa-apa, tapi kalau dibiarkan, maka akan menyakitkan untuk bapak. Aku tidak paham sama sekali apa yang dikatakan dokter itu. Bagaimana air bisa masuk ke paru-paru, padahal yang dihisap oleh bapak adalah asap rokok. Aku nggak paham, tapi satu hal yang kumengerti adalah bahwa ada banyak kuitansi yang harus kubayar nanti.
Demi melihat bapak menarik nafas dengan susah payah dan batuknya yang tak berkesudahan, maka berapapun yang harus kukeluarkan untuk membiayai pengobatan bapak, akan kulakukan. Dalam keadaan seperti ini, Yudi sama sekali tidak membantu. Dia pernah datang sekali untuk menengok, dan yang diceritakannya adalah betapa payahnya kondisi rumah tanpa ada aku dan ibu, tidak ada yang membersihkan rumah, Gilang rewel, tidak ada yang memasak, padahal dia harus narik ojek. Rasanya ingin kulempar wajahnya dengan piring rumah sakit yang terbuat dari seng. Kenapa bukan dia saja yang tidur di atas amben dengan tangan ditusuk-tusuk jarum infus dan hidung dibantu bernafasannya dengan selang-selang ini? Kenapa harus bapak yang ada di sini? Seandainya tempat bapak digantikan oleh Yudi, mungkin aku tidak akan terlalu peduli. Semakin hari semakin menjadi benalu saja dia buatku. Hanya menunggu waktu sampai aku melepaskannya, karena aku tidak mau kesabaranku habis.
Setiap hari, setiap pagi, selain harap-harap cemas, apalagi yang akan dikatakan dokter tentang penyakit bapakku, aku juga mengkhawatirkan perawat yang datang dan mengatakan kalau aku diminta ke ruang administrasi. Aku tidak terlalu mengerti dengan administrasi, tapi yang aku pahami, administrasi artinya bahwa kita harus mengeluarkan sejumlah uang untuk keperluan tertentu. Obat, infus, biaya kamar, dokter, dan masih banyak lagi.
“Ti, aku tak pulang aja. Aku nggak mau ngerepoti kalian.” Kata bapakku di sela batuknya pagi itu.
“Nggak pa-pa, pak. Aku masih punya simpenan sedikit.” Tentu saja aku berbohong. Bahkan untuk membayar rumah sakit ini saja aku tidak tahu harus menjual apa lagi di rumah.
“Kalau enggak, tanah yang di Selatan kelurahan itu dijual saja. Aku iklas. Pokoknya jangan bikin kalian repot.”
Aku diam saja. Bapak tidak tahu. Tanah itu sudah berpindah tangan sekarang. Yanto yang kuminta mengurusnya kemarin. Hanya laku 15 juta, untuk tanah yang seharusnya bisa dijual dengan harga 30 – 35 juta. Tapi tidak apa-apa. Yang penting bapakku sehat. Tapi sekarang kepalaku sudah kembali pusing. Dokter bilang kalau operasi yang akan dijalani bapak mungkin akan menghabiskan 20 juta lebih. Lalu aku bisa mendapat uang dari mana?
Di saat seperti ini, ada satu nama yang terngiang di kepalaku. Malaikat tanpa sayapku. Seno.
Maka pagi itu, tepat di hari ke-7 bapak berada di Jogja, aku pulang ke kampung. Niatku sudah bulat untuk menuju rumah bu Jarot dan mencari tahu keberadaan Seno.
“Kamu mau apa nyari Seno, Ti?” Tanya bu Jarot.
“Saya mau pinjam uang bu.”
“Duitnya Seno memang banyak, tapi kan dia harus minta ijin sama istrinya.”
Aku diam. Selama ini buatku Seno adalah seorang manusia sendiri. Manusia yang di belakangnya tidak ada embel-embel istri.
“Bu Jarot tahu tempat kerjanya Seno?” aku tidak berhenti berusaha. Di tempat kerjanya, tentulah aku tidak perlu bertemu dengan istrinya.
“Seno bilang, dia kerjanya nggak tentu. Kalau sedang ada proyek luar kota, dia bisa berhari-hari nggak pulang. Tapi kalau sedang sepi proyek, dia bisa ada di rumah terus. Kamu mau tak pinjemin duit dulu apa, Ti?”
“Saya nggak enak sama njenengan bu. Yang satu juta kemarin waktu bapak masuk rumah sakit di sini belum saya kembalikan.”
“Kamu cicil kalau sudah mulai kerja nanti.”
“Tapi saya butuhnya banyak sekali bu.”
Bu Jarot diam saja ketika kusebutkan jumlah angka yang diperkirakan dokter akan kami butuhkan untuk biaya operasi dan pemulihan kesehatan bapak. Dia tidak bisa mengeluarkan uang sebanyak itu saat ini, maka dia memilih menunjukkan arah, dimana aku bisa menemui Seno.

**
Jalan yang harus kulalui tidak mudah. Aku naik bis umum ke arah Secang, turun di sebuah tikungan yang tidak terlalu dikenal, lalu menemukan ojek dan menyebutkan sebuah nama. Leo. Aku sama sekali tidak memiliki rasa takut. Padahal bu Jarot mewanti-wantiku untuk hati-hati. Hari sudah hampir gelap ketika aku meninggalkan desaku. Tapi untukku, mati adalah masalah waktu. Kalau tidak sekarang ya besok. Itu saja. Semua akan berakhir sama. Mati. Dan aku tidak takut mati.
Turun dari bus, hanya tinggal satu orang tukang ojek yang masih mangkal di tikungan itu. Ketika kusebutkan nama Leo, dia mengerutkan dahinya sesaat lalu segera memacu kendaraan tanpa berkata apapun, mengantarkanku ke sebuah rumah yang sangat besar dengan dua mobil terparkir di garasinya. Halamannya luas dan ditanami banyak pohon tinggi. Dari mulai pisang sampai durian, berdiri tegak di sana. Aku merinding ketika berjalan melewati halaman itu. Tukang ojek segera meninggalkanku tanpa menanyakan apakah aku mau ditunggui atau tidak.
“Kulonuwun…” sapaku setelah mengetuk pintu yang tertutup rapat.
Rumah yang bagus di tengah perkampungan yang sederhana. Atau mungkin hanya karena aku tidak melihat rumah-rumah lain dengan jelas saja. Aku tidak mengerti.
Seorang laki-laki berkulit putih bersih membukakan pintu untukku. Dia memicingkan matanya. Sebelum pertanyaan muncul dari mulutnya, segera kusampaikan niatku,
“Mas Seno kerja di sini pak?”
“Kamu siapanya?” dibalasnya pertanyaanku dengan pertanyaan yang lain.
“Saya temannya mas Seno.” Jawabku ragu-ragu.
Dia mempersilahkanku duduk di ruang tamu. Seorang perempuan tidak lama kemudian membawakan minum untukku. Teh panas. Lalu aku dibiarkan menunggu sendiri dengan mata menerawang mencoba mengenali satu persatu benda-benda yang ada di ruangan itu. Sebuah pigura besar dengan foto sepasang suami istri dan anak mereka. Sang istri tersenyum manis dan hangat, sementara laki-lakinya berusaha keras untuk menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Anak mereka mungkin berusia 10 tahun. Dia memakai dasi kupu-kupu. Di bawah pigura itu beberapa benda dipajang di atas sebuah buffet. Benda-benda antik menurutku. Ada sesuatu seperti tanduk rusa atau kerbau dengan ukir-ukiran di seluruh permukaannya, tungku kecil mungkin dipakai untuk membakar menyan atau entah wewangian apa lagi, sebuah stoples kecil berisi air yang sudah menguning dan benda padat kecil di dalamnya. Aku tidak paham apa yang berada di dalamnya, tapi kalau mataku tidak salah melihat, ada semacam janin yang ukurannya setengah kepalan tangan manusia dewasa. Aku hampir muntah karenanya. Setelah melihat isi stoples itu, aku tidak meneruskan lagi melihat benda-benda lain di sebelahnya. Mataku berpindah ke atas meja saja. Yang dipajang di atas meja bukan sebuah asbak cantik atau vas bunga, melainkan lilin-lilin warna merah yang sudah berkerak lelehannya di kiri kanan, beberapa pigura berisi foto hitam putih wajah-wajah yang dingin dan kaku. Mereka menatap lurus padaku. Aku semakin merinding dibuatnya. Pastilah itu kakek-nenek moyang pemilik rumah ini.
Di sinikah Seno bekerja? Perusahaan apa ini? Apakah rumah mewah ini yang membayar Seno sebanyak itu sehingga dia bisa memberiku banyak sekali uang? Kalau aku yang bukan istrinya saja diberi uang sebanyak itu, lalu berapa banyak yang sudah diberikannya pada istrinya?
Semua pertanyaan itu berlompatan perlahan-lahan di atas kepalaku, membentuk jawaban sendiri. Aku juga mau bekerja di sini, kalau memang uang yang dihasilkan sebanyak itu.
Lalu otakku diam. Diam-diam aku berharap laki-laki tadi, yang sepertinya juga kulihat di foto keluarga itu kembali menemuiku saat ini. Akan kuberanikan diri bertanya padanya, apakah masih ada pekerjaan untukku atau tidak.

Tidak lama kemudian, kudengar deru motor meninggalkan rumah. Lalu hening lagi. Kemudian langkah kaki menuju ke arahku. Doaku didengar. Laki-laki itu berdiri di hadapanku, lalu duduk tepat di depanku.
“Jenengmu sopo?” Tanyanya.
“Saya Ambar, pak.”
“Ora meteng to?”
Mulutku melongo. Berapa banyak perempuan yang datang dan mencari Seno dalam keadaan hamil, pikirku. Kepalaku menggeleng sebagai jawaban.
“Kenapa nyari Seno?”
“Saya mau pinjam uang sama dia.”
“Tahu rumah ini dari mana?”
“Dari tukang ojek.” Lalu cepat-cepat kuralat, “Dari bu Jarot, saudara jauhnya mas Seno.”
Dia mengangguk-angguk.
“Mau pinjam duit buat apa?”
“Bapak saya sakit. Saya butuh uang untuk operasi.”
“Kenapa pinjam ke Seno? Kamu pacarnya?”
Aku bingung menjawab pertanyaan ini. Tapi reflek leherku menggeleng.
“Kamu kerja apa?”
“Di bu Jarot. Di selepan berasnya.”
“Punya suami?”
Aku mengangguk.
“Dia kerja apa?”
“Tukang ojek. Tapi dia pemalas.”
“Suruh suamimu ke sini. Biar kerja di sini.” Perintahnya tegas.
“Saya juga mau kerja di sini, kalau masih ada tempat.” Aku tidak menunggu lama lagi, mumpung kesempatan yang sedari tadi kubayangkan datang.
Diangkatnya kepala, matanya menatap langsung ke arahku.
“Kamu mau kerja di sini?”
Aku mengangguk.
Dia berdiri dan masuk ke dalam rumah. Aku tidak tahu apa yang dilakukannya, kudengar dia bercakap-cakap dengan seseorang, lalu keluar lagi menemuiku. Kali ini berdua dengan seorang perempuan. Sepertinya perempuan itu yang ada di dalam pigura. Wajahnya lebih cantik tanpa make up seperti sekarang, walaupun di jidatnya ada dua buah rol yang menggantung mempertahankan poni. Perempuan itu menjulurkan tangan. Kulitnya halus sekali ketika menjabat tanganku. Warnanya putih. Berbeda jauh dengan tanganku yang kasar dan coklat terbakar matahari.
“Lani.” Katanya menyebutkan nama. “Sudah lama kenal Seno?”
Aku mengangguk.
“Bener mau kerja di sini?”
Aku mengangguk lagi.
Perbincangan kami berhenti ketika ada suara motor yang membuat kami harus mengeraskan suara ketika bicara. Aku mendengar suara langkah memasuki rumah dari garasi. Semoga itu Seno. Tapi kenapa dia tidak juga menemuiku. Mungkin aku salah. Tapi kemudian laki-laki tadi, yang belakangan kuketahui bernama Leo, masuk dan berbincang-bincang dengan seseorang di dalam. Kurasa memang benar Seno. Sementara aku dibiarkan duduk dengan Lani. Seterusnya aku diminta memanggil dia Cik.
Cik Lani masuk setelah menanyaiku beberapa pertanyaan berhubungan dengan sakitnya bapak. Lalu Seno keluar menemuiku. Aku tidak tahu kenapa lega sekali rasanya melihat laki-laki itu. Aku berdiri begitu melihatnya dan secara reflek memeluk. Sudah lama aku tidak menangis, tapi malam itu aku merasa sangat capek. Aku menangis di pelukan laki-laki yang bahkan tidak kukenal benar siapa dan dari mana asalnya. Aku hanya merasa nyaman berada di dalam pelukannya dan menumpahkan apa yang tidak bisa kukeluarkan selama ini.
Seno menuntunku untuk duduk kembali. Dia mendengarkanku bercerita tentang bapak dan suamiku yang menjengkelkan. Dia bahkan berbuat seolah-olah menjadi laki-laki paling berjasa karena menunggui anakku di rumah, sementara aku mencari alamat rumah laki-laki yang tidak kukenal dengan baik. Dia memuakkanku. Seno mengelus punggungku dan mengambilkan tisu untuk mengelap ingusku.
Setelah tangisku berhenti dan berganti dengan senyum bodoh, karena menyadari keanehanku sendiri, Seno baru berkata.
“Bosku, pak Leo bilang, dia bisa minjemin kamu uang nduk, tapi nanti sebagai jaminannya, kamu atau suamimu harus kerja di sini.”
“Aku janji, mas. Kalau suamiku nggak mau kerja di sini, biar aku yang kerja. Aku bisa kerja kasar. Aku mau kerja apa aja.”
“Yo wis, nanti aku bilang sama pak Leo. Soalnya aku sendiri nggak punya banyak uang. Ya punya, tapi kan aku harus tanya sama ibuknya anak-anak, nduk.”
Aku menelan ludah, kembali membayangkan banyaknya uang yang diberikan Seno pada istrinya setiap bulan. Tanpa kusadari, aku menarik nafas dalam-dalam.
Laki-laki bernama Leo keluar dari kamarnya beberapa saat kemudian. Di tangannya ada sebuah amplop tebal berwarna cokelat.
Dia duduk di hadapan kami berdua, seraya berkata sambil menepuk-nepuk amplop di tangannya.
“Di sini ada uang 10 juta. Ini kamu bawa dulu. Nanti kalau ada kurangnya, kamu ngomong sama aku. Tak kasih nomer teleponku, kalau butuh lagi, kamu telepon aku.”
Amplop itu diserahkan padaku tanpa menyuruhku menandatangani apa-apa. Tidak seperti perjanjian jual beli atau simpan pinjam seperti yang layaknya dilakukan. Ini semua masih seperti mimpi untukku. Seno segera mengantarkanku pulang malam itu. Kami berdua dengan mengendarai motor menuju Jogja. Rasanya malam ini aku bahkan bisa tidur dengan nyenyak di atas motor. Tidak tahu harus kubalas dengan apa, kebaikan Seno.
Sesampainya di Jogja, sudah hampir jam 12 malam. Aku tidak membangunkan ibuku yang tidur di bawah amben bapak dengan beralaskan tikar. Aku hanya menengok bapak sebentar, menyentuh kepalanya, lalu keluar lagi dari kamar. Ketika pintu menutup, kudengar suara batuknya lagi. Ternyata dia bermimpi, karena matanya tidak terbuka sama sekali. Bapak lebih banyak tidur sekarang. Mungkin dokter memang memberinya obat tidur banyak-banyak agar dia tidak kelelahan terbatuk sepanjang hari. Aku tidak tahu.
Di luar, aku menemani Seno merokok sebentar, lalu kami berdua masuk ke kamar lagi. Seno menggelar koran dan mengalasinya dengan jaket, dia menyuruhku tidur. Aku menurut saja. Malam itu terasa begitu tenang. Aku tidur dengan nyenyak berbantalkan uang 10 juta.

← Ambar Margi; j. Malaikat itu Bernama Seno
Ambar Margi; l. Sang Pahlawan →

Author:

Dian adalah penulis novel Kita dan Rindu, Rahasia Hati, Ketika Ibu Melupakanku dan 5 buku lainnya. Lahir 1976, menyelesaikan kuliah di Komunikasi STIK Semarang & Kriminologi UI. Anak ke-2 dari 4 bersaudara. Ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan anak-anak lain. Child Protection Advocacy Specialist di Yayasan Sayangi Tunas Cilik. #dianspoint #geocaching #lifeofawriter #lifeofatraveler #workhardtravelwell #luckybastardian #moviegoer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

Ambar Margi; o. Mumi

Waktu rasanya begitu panjang tetapi aku tidak benar-benar merasa ada di dalamnya. Yang kuingat hanya kami sampai di sebuah motel di pinggiran kota. Seseorang menghampiri kami lalu menanyakan mau berapa lama kami menginap. Aku tidak memahami sepenuhnya pembicaraan lek Minto dan orang itu. Setelah terjadi kesepakatan, orang itu menunjukkan arah,...

Read More →

Bapak Pulang

Beberapa kali saya menulis draft tulisan tentang Bapak, tetapi selalu terdistrak, sampai akhirnya terlambat. Sekarang Bapak sudah tidak akan membaca tulisan ini. Tapi memang Bapak tidak perlu membacanya. Bapak tahu apa yang dilakukannya dan dirasakan oleh anak-anaknya. Saya dilahirkan di kota kecil Salatiga, dikelilingi oleh orang-orang tua yang membentak anaknya,...

Read More →

figur

Edisi Figur ini akan menjadi chapter baru di dalam hidup blog saya, di mana semua yang ada di dalam kategori ini merupakan persembahan penuh pada orang-orang yang: - Benar-benar ada (bukan tokoh fiksi) - Sangat saya cintai - Berpengaruh dalam hidup saya - Lucunya nggak termaafkan - Memiliki kehidupan yang...

Read More →

Tips Tetap Waras di Dunia yang Menggila

Terpapar informasi-informasi getir tentang terorisme dan bagaimana anak ikut dieksploitasi dilibatkan didalamnya, lalu anak-anak kembali menjadi korban, mau gila rasanya. Lebih gila lagi karena membaca komen-komen di media sosial baik yang pedih getir prihatin dengan kejadian ini, maupun yang nyinyir salah tempat dan akhirnya malah ditangkap yang berwajib. Tergoda untuk...

Read More →