Ambar Margi; l. Sang Pahlawan

Wangi sabun pel lantai. Langkah kaki perawat. Seno tidur sambil duduk tepat di depanku. Pelan-pelan semua inderaku terbangun. Beberapa penghuni kamar yang lain dan keluarganya juga sudah mulai bergerak. Bapak masih tidur. Bahagia melihatnya tidur, karena kalau terbangun yang kudengar hanya batuknya.
Aku segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi. Sekembalinya ke kamar, bapak sudah bangun. Dia sedang bicara dengan Seno di antara batuknya.
“Nggak sengaja bareng Pak. Orang kita ketemu waktu dia keluar dari desa. Daripada naik bis, saya tawari Ambar mbonceng saya,” kata Seno. “Kebetulan saya mau ke Magelang. Dia saya ajak ke Magelang sebentar tadi malam, terus saya antar ke sini.”
Bapak manggut-manggut menahan batuk sembari mendengarkan.
Aku bernafas lega. Aku takut kalau Seno menceritakan kejadian sesungguhnya pada bapak. Aku tidak mau dia kepikiran dan merasa sudah menyulitkan anaknya. Biar saja bapak tahunya semua beres, yang penting dia segera sehat dan pulang ke rumah.
Jam 10 pagi, Yanto datang dengan rombongan penjenguk dari kampungku. Simbah juga ikut. Mereka memaksaku untuk pulang ke rumah dan gantian mengurus Gilang. Aku tidak keberatan. Sebelum berangkat pulang, kuserahkan apa saja yang harus dikerjakan pada Yanto. Termasuk uang yang kupinjam dari Leo malam harinya. Aku hanya berpesan, bahwa kalau ada apa-apa dengan bapak, misalnya harus membeli obat lagi sebelum operasi, dan lain-lain, maka dia harus menghubungiku.
Aku pulang dengan membonceng motor Seno. Aku tidak paham benar dengan apa yang kurasakan selama dalam perjalanan. Darahku berdesir-desir padahal jalanan tidak terlalu naik turun dan Seno juga melarikan motornya pelan. Pelan sekali bahkan. Semoga dia merasakan hal yang sama. Aku menikmati perjalanan dengannya.
Tanganku yang awalnya hanya mencengkeraman kuat di jaketnya, perlahan-lahan maju menjadi pelukan di pinggangnya.
“Nduk, kamu bisa naik motor nggak?” Tanya Seno.
“Nggak bisa Mas. Kenapa?” aku terkejut sendiri dengan panggilan baruku padanya. Bukan lagi lek, tapi mas.
“Aku ngantuk.” Katanya.
“Mau istirahat dulu aja?”
Kami kemudian berhenti di sebuah warung yang menjual kelapa muda, tidak jauh dari Magelang.
“Klekaran (rebahan) dulu aja mas.”
“Nggak usah, nanti kalau ketiduran bener malah susah. Aku susah dibangunin soalnya.”
Takut-takut kutawarkan sesuatu padanya. “Lha, apa mau tidur di mana… gitu?”
“Kamu nggak papa?”
Pipiku memerah. Lalu motor segera melaju ke sebuah motel terdekat. Seno benar-benar tidur setibanya di sana. Entah kenapa, di antara rasa lega dan kecewa, aku merasa bahwa dia tidak seharusnya tidur begitu saja. Dia bisa saja merayuku dan kita melakukan hal-hal yang ingin kulakukan dan sudah lama tidak pernah kudapatkan dari Yudi. Kenapa dia diam saja. Aku pusing memikirkannya. Aku memilih ikut tidur di sebelahnya.
Mataku terbuka beberapa jam kemudian. Kulihat Seno sedang memandangiku tidur. Aku jadi malu. Segera aku beranjak ke kamar mandi untuk mencuci mukaku dan berkumur menghilangkan rasa asam di mulut.
“Nduk, kamu cinta nggak sama suamimu?”
Aku mendengus. “Udah lama hilang mas. Kenapa?”
“Kalau sama aku?”
Aku diam. Aku tidak menyangka bahwa pertanyaan itu akan diajukan Seno padaku. Kupikir dia tidak menyukaiku. Kupikir dia hanya malaikat baik yang menganggapku seperti keponakan saja. Aku tidak merasa nyaman dalam keadaan ini. Aku segera mengajaknya pergi.
Sepanjang perjalanan aku mengutuk diriku sendiri, karena melewatkan kesempatan bercinta menggebu-gebu seperti yang pernah kutonton tanpa sengaja di sebuah film Barat koleksi Yudi. Sekarang aku tidak tahu, apakah kesempatan itu akan datang lagi.

← Ambar Margi; k. Leo
Geocaching, Melihat Dunia dengan Cara Berbeda →

Author:

Dian adalah penulis novel Kita dan Rindu, Rahasia Hati, Ketika Ibu Melupakanku dan 5 buku lainnya. Lahir 1976, menyelesaikan kuliah di Komunikasi STIK Semarang & Kriminologi UI. Anak ke-2 dari 4 bersaudara. Ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan anak-anak lain. Child Protection Advocacy Specialist di Yayasan Sayangi Tunas Cilik. #dianspoint #geocaching #lifeofawriter #lifeofatraveler #workhardtravelwell #luckybastardian #moviegoer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

Taj Mahal, Monumen Egois

Lebih dari empat tahun lalu saya mendapat kesempatan melakukan perjalanan ke India, untuk mengikuti Konferensi Alzheimer se-Asia. Thanks to ALZI for this. Dan seperti halnya India 1st time traveler, pasti akan menjadikan Taj Mahal sebagai salah satu tujuan wajib. Karena waktu yang kami miliki tidak banyak, maka menyewa seorang pemandu...

Read More →

Semalang di Malaysia

Setiap perjalanan selalu meninggalkan bekas yang berbeda. Begitu juga dengan perjalanan saya ke Malaysia beberapa waktu yang lalu. Perjalanan ini sama sekali bukan perjalanan wisata. Kami empat orang di dalam satu tim yang sedang mengemban misi untuk pengambilan gambar untuk video training calon Buruh Migran Indonesia (BMI) dengan tujuan Malaysia....

Read More →

Rahasia Hati

Baru sadar banget bahwa saya belum pernah menulis apapun tentang Rahasia Hati, novel saya yang ke-4, terbit 2012. Maka karena udah agak terlalu lama buat mereview tulisan sendiri, saya browsing dan menemukan beberapa tulisan yang merupakan review atau sinopsis novel itu. Silahkan dibaca sendiri dan... terima kasih sudah menulis tentang...

Read More →

Adik Sampai Tua

Hari itu suasana GOR lain dari biasanya. Ibu-ibu baik hati yang memakai seragam biru berkumpul semua setelah beberapa diantaranya menjemput teman-temanku. Temanku juga datang semua bersama ibu-ibu mereka. Tapi aku tidak melihat si Bapak. Kami menyebutnya bapak karena dia seperti bapak untuk kita semua. Sebetulnya dia itu sama seperti ibu-ibu...

Read More →

Lucky Bastard #4: Lahir di Generasi Musik Terbaik

Sejak kecil saya selalu merasa istimewa. Terserah apa kata orang! Pokoknya saya istimewa :) Well, ain’t we all? Maka untuk membuktikan keistimewaan saya, saya sering menghabiskan waktu untuk mencari apa yang membuat saya istimewa. Dimulailah dengan menanyakan pada Google, what happened on 1976. Maka saya menemukan beberapa kejadian berikut (ini...

Read More →

Selamat Ulang Tahun, Pak

Bapak sayang, Hari ini Bapak merayakan ulang tahun di tempat yang berbeda dengan kami. Aku ingat pada suatu hari Bapak menolak ketika Ibuk mau merayakan hari lahirmu. “Nanti saja kalua sudah bonusan, baru dirayakan.” Bonus yang Bapak maksud adalah kalua sudah lewat dari usia 63 tahun Aku tahu dari mana...

Read More →