Ambar Margi; m. Aku atau Kamu?

Setelah hari-hari berat pulang balik rumah – rumah sakit yang kujalani, akhirnya ada juga cerita gembira yang bisa kubagi. Bapak pulang dari rumah sakit. Kondisinya sudah jauh lebih baik. Operasinya berjalan lancar. Air yang dikeluarkan dari paru-parunya dua botol minuman ukuran sedang. Aku tidak habis pikir dari mana asal air itu. Sekarang tinggal memikirkan bagaimana mengembalikan hutang di sana-sini untuk membayar biaya pengobatan bapak. Karena setelah operasi selesai, bukan berarti kami berhenti mengeluarkan biaya. Periksa ke dokter dua minggu sekali, nebus obat yang tidak bisa dibeli setengahnya dulu, ongkos ke rumah sakit, dan masih banyak lagi. Aku bisa saja tidak melakukan itu semua, tapi aku nggak mau bapakku mati. Aku masih pengen lihat dia setiap hari di rumah.
Setiap hari, semakin keras aku berusaha bekerja, tetapi uang tidak pernah cukup untuk membiayai semua kebutuhan. Sampai akhirnya Seno datang lagi. Kali ini dia mengajaku berkencan. Entah kenapa aku menurut saja. Aku sudah tahu dia laki-laki beristri dan aku juga di atas kertas masih istri Yudi. Tapi kuterima saja tawarannya untuk berkeliling dengan motor dan berhenti di sebuah penginapan.
Begitu pintu kamar terkunci, Seno langsung menghimpitku ke tembok dan menciumi seluruh wajahku. Aku membalasnya sambil berjinjit-jintit karena dia jauh lebih tinggi dariku. Satu persatu pakaian kami tanggal, sampai akhirnya bergulingan kami di atas sprei bermotif bunga sampai napas kami tersengal-sengal.
Pedih sekali di bawah sana, tapi aku tidak bisa berhenti melakukannya. Kutunggangi dia berkali-kali sampai tidak mampu lagi. Dibekapnya mulutku karena terlalu keras berteriak. Selama enam jam, lutut kami seperti tak bertulang lagi.
Kami pulang larut sekali tanpa aku mandi dulu. Aku sengaja meninggalkan aroma keringat Seno di tubuhku. Bukan karena aku ingin mengenang apa yang terjadi hari itu, tapi karena aku ingin memancing kemarahan Yudi. Aku ingin, setidaknya sekali ini saja, dia menunjukkan amarah dan mengatakan sesuatu yang seharusnya dia katakan dari dulu. Cerai!
Tapi harapanku keliru.
“Mbar, kamu mandi dulu sana. Keringatmu bau.” Katanya.
“Ini bukan keringatku kok. Lagian udah malam banget, aku nggak mau kedinginan.” Aku mencoba menolak perintah Yudi.
“Tak rebusin air panas ya.”
Tanpa menunggu jawabanku, Yudi berlalu. Dia kembali 20 menit kemudian dengan membawa handuk untukku. Aku terpaksa mandi tanpa berkata-kata lagi. Setelah itu, tiga hari kami tidak bicara. Aku tidak marah, Yudi juga tidak bertanya apapun. Dia benar-benar datar.

Setelah hari ketiga, aku tidak sabar lagi dan membuka pembicaraan dengannya.
“Yud, hutang kita banyak sekali.” Begitu aku memulai kalimat pembuka.
Dia masih diam saja.
“Kamu nggak mau kerja di luar kota?” Aku mengejarnya.
“Aku tak ngojek aja.” Jawabnya singkat.
“Di tempat kerja Seno, gajinya lumayan besar. Apalagi kalau pas ada tugas ke luar kota, sekali nerima bisa satu juta untuk orang baru. Kalau udah tiga bulan kerja, bisa sampai 3 juta. Seno malah udah bisa dapat lebih banyak dari itu. Dan dia keluar kota bisa dua-tiga kali sebulan.”
“Kerja apa yang gajinya segitu?” Katanya sembari berusaha menghindar. Dia berjalan ke arah dapur. Aku mengikutinya. “Lulusan sarjana juga belum tentu dapat gaji segitu.”
“Ya kerja di tempat bosnya itu. Dia bisnismen. Kamu apa nggak berniat ke sana dulu buat tanya-tanya?”
Yudi terus menghindariku, bahkan sampai akhirnya dia tidak bisa menghindar lagi, karena Seno datang ke rumah. Dia ke rumah bukan sebagai laki-laki yang hendak merebut istri orang. Dia datang sebagai kepanjangan tangan dari Leo, laki-laki yang menjadi malaikat di dalam rumah kami, karena sudah memberikan pinjaman uang untuk keperluan pengobatan bapak.
Kami bertiga bicara di bale-bale bambu di depan rumah. Kaki Yudi yang terjulur ke tanah hanya menendang-nendang kerikil diantara gundukan tanah yang tidak beratuan.
“Kamu sama Ambar datang dulu saja. Nanti kalau nggak suka sama kerjaannya, biar salah satu saja. Walaupun kalau bisa dua-duanya, uangnya bisa lebih besar.”
Yudi diam saja. Aku juga diam. Tapi diamku lebih karena memikirkan apa yang pernah kulalui bersama Seno pada suatu hari di sebuah kamar motel. Aku masih ingat aroma keringat yang ditinggalkannya di badanku bercampur dengan aroma lain yang membuatku kembali basah di bawah sana.
Dua hari setelah kedatangan Seno, Yudi mengajakku pergi ke rumah Leo. Aku bukan main girang selama dalam perjalanan ke sana. Kami mengendarai motor Yudi. Aku berpegang pada jaketnya, dengan kepala cenderung melihat ke arah kanan. Semua pemandangan hari itu terasa lebih baik dari biasanya. Hijau sawah yang membentang sepanjang perjalanan, tampak memancarkan warna keemasan di sela-selanya. Aku tahu biasanya itu adalah butir padi, tapi kali ini aku seperti melihat masa depan. Rindang daun-daun di sepanjang jalan seperti menghembuskan hawa kesejukan dan kesejahteraan. Sesampainya di rumah Leo kurasakan gigiku agak kering karena aku lebih banyak tersenyum di sepanjang jalan. Entah bagaimana dengan Yudi, apakah dia juga sebahagia aku selama dalam perjalanan. Kami hampir tidak berbicara satu sama lain.

Leo menyambut kami dengan bersalaman dan mengajak kami duduk di ruang tamu, tempat aku dulu diterimanya. Setelah tiga cangkir teh yang disuguhkan pembantunya, dia memulai dengan basa-basi seputar panen dan usaha selepan, ojek dan penumpang tidak pernah menguntungkan. Karena total penghasilan ojek kalau dikurangi biaya kredit maka hasilnya masih akan minus. Mereka terus bicara sampai akhirnya Leo memulai perbincangan yang sesungguhnya.
Leo adalah laki-laki berkulit putih yang dingin. Dia tidak banyak bicara. Mulutnya lebih sering mengeluarkan asap rokok dibandingkan kata-kata.
“Sekarang kamu mau kerja di sini?”
Yudi diam. Dia hanya mengangguk pelan. Aku melihat kecanggungan dan ketakutan yang melebur di wajahnya.
“Ini bukan pekerjaan biasa lho.”
“Maksudnya, Pak?” Yudi cepat menyahut dengan pertanyaan berikutnya.
“Ya, ini bukan kayak kamu kerja jadi tukang ojek atau jadi buruh tani atau jadi tukang angkat padi di selepan.”
Yudi tidak menyahut kali ini, tapi dia menunjukkan tanda tanya besar di matanya. Dia melihat ke arahku seperti anak menuntut jawaban dari ibunya.
“Di sini, kalau kamu nggak nuruti perintahku, kamu bisa ditangkap polisi.”
Kali ini wajah Yudi sudah benar-benar menunjukkan satu perasaan yang utuh. Takut. Aku gemas sekali melihatnya. Dia itu laki-laki atau bukan sih sebenarnya.
“Maksudnya?” Kali ini mendengar pertanyaan itu dari mulutku sendiri.
“Pekerjaan kita di sini adalah mengambil mobil dari tangan supir rental, lalu menjualnya ke tangan lain.”
Aku merasa ada gada besar yang jatuh dari langit-langit tepat di ubun-ubunku. Perutku tiba-tiba mual. Mungkin wajahku sudah kehijauan sekarang.
“Dan kalau sampai kalian berdua menceritakan tentang kita di sini, kalian tidak akan dipakai lagi dan mungkin…” Leo tidak melanjutkan kalimatnya. Sekarang aku merasa semakin jelas, sedang berada di mana posisi kami. Aku, Yudi, anakku, bapakku, ibukku, seluruh keluargaku. Kami adalah seisi keluarga yang memiliki hutang besar pada ketua komplotan perampok mobil. Sebelumnya nama mereka hanya terdengar saja di telinga kami. Beberapa tahun ini aku sering mendengar ada mobil yang dirampok di sekitar Purwokerto, Cilacap, Kebumen, Temanggung dan beberapa kota lain yang berlum pernah kudatangi. Semua supirnya ditemukan mati di sebuah jurang di pinggiran kota-kota itu. Aku tidak pernah menyangka kalau akan duduk satu ruangan dengan otak atas semua kejadian itu. Dan yang lebih tidak kusangka lagi bahwa aku hanya satu langkah untuk bekerja sama dengannya. Aku bergidik.
Leo memahami kondisi kami. Dia permisi ke belakang. Tanpa keberadaannya diantara aku dan Yudi, tidak membuat keadaan berubah. Aku tetap diam dengan semua pikiran-pikiran di dalam kepalaku yang berenang kemana-mana. Yudi juga tidak bersuara.
Seperempat jam kemudian, Leo muncul kembali dan berkata dengan dingin.
“Kalian pulang saja dulu. Dipikirkan di rumah. Kalau nggak bisa dua-duanya, salah satu juga nggak papa kerja di sini. Tapi ya resikonya, pengembalian hutang kalian jadi lebih lama.”
Aku diam dan kami langsung beringsut permisi. Tapi sebelum benar-benar berlalu di atas motor yang dikendarai Yudi, ekor mataku berusaha mencari-cari Seno. Dia tidak tampak sama sekali.

**
Sepulang dari rumah Leo, aku melihat Yudi sering terbangun di tengah malam seperti terjaga dari mimpi buruk. Aku pura-pura tidak tahu. Mungkin dia memang baru saja bermimpi buruk, bahkan sebelum memulai pekerjaan yang sesungguhnya di tempat Leo. Tapi aku tidak pernah menanyakan apapun padanya. Siang hari adalah tempat kami bersembunyi. Aku bersembunyi dengan mengerjakan pekerjaan di selepan, merawat Gilang dan menyibukkan diri di dapur. Yudi kabur dan berkumpul dengan teman-teman tukang ojeknya. Kami pulang ke rumah, menonton sinetron sampai jam 9 atau 10 malam lalu pergi tidur. Tidak satupun dari kami membahas tentang pekerjaan yang ditawarkan oleh Leo. Sampai SMS dari Seno kuterima. Dia menanyakan bagaimana jawaban kami, karena minggu depan ada pekerjaan yang harus dikerjakan. Dan kalau salah satu atau kami berdua akan bergabung, maka minggu depan kami sudah bisa memulai. Saat itu juga tanganku berkeringat dingin dan gatal. Aku takut sekaligus begitu girang. Aku girang karena pekerjaan berarti uang. Aku takut karena tidak tahu apa yang sedang kuhadapi saat ini.
Kutunjukkan SMS itu pada Yudi. Jawabannya sangat menyedihkanku.
“Kamu aja yang kerja sama Leo. Aku ngurus Gilang saja di rumah sambil narik ojek.” Tanpa menatap mataku dikatakannya kalimat itu.
“Enggak Yud! Kamu laki-laki. Kamu yang harusnya tanggung jawab sama rumah ini.” Aku kaget dengan nada suaraku sendiri. “Kamu ikut sekali ini!” aku membentaknya. Dan itu adalah perintah.
Meski aku tahu nyalinya menciut, tapi dia diam. Diam artinya membiarkan orang lain memilihkan jalan hidupnya. Dan besok akan kugeret dia untuk bekerja.

← Geocaching, Melihat Dunia dengan Cara Berbeda
The Shape of Water, Film Cinta Anti Mainstream →

Author:

Dian adalah penulis novel Kita dan Rindu, Rahasia Hati, Ketika Ibu Melupakanku dan 5 buku lainnya. Lahir 1976, menyelesaikan kuliah di Komunikasi STIK Semarang & Kriminologi UI. Anak ke-2 dari 4 bersaudara. Ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan anak-anak lain. Child Protection Advocacy Specialist di Yayasan Sayangi Tunas Cilik. #dianspoint #geocaching #lifeofawriter #lifeofatraveler #workhardtravelwell #luckybastardian #moviegoer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

figur

Edisi Figur ini akan menjadi chapter baru di dalam hidup blog saya, di mana semua yang ada di dalam kategori ini merupakan persembahan penuh pada orang-orang yang: - Benar-benar ada (bukan tokoh fiksi) - Sangat saya cintai - Berpengaruh dalam hidup saya - Lucunya nggak termaafkan - Memiliki kehidupan yang...

Read More →

Tips Tetap Waras di Dunia yang Menggila

Terpapar informasi-informasi getir tentang terorisme dan bagaimana anak ikut dieksploitasi dilibatkan didalamnya, lalu anak-anak kembali menjadi korban, mau gila rasanya. Lebih gila lagi karena membaca komen-komen di media sosial baik yang pedih getir prihatin dengan kejadian ini, maupun yang nyinyir salah tempat dan akhirnya malah ditangkap yang berwajib. Tergoda untuk...

Read More →

Ambar Margi; n. Ujian Pertama

Hari itu matahari bersinar ragu-ragu di kota kecil kami. Aku adalah seorang istri salihah di antara para lelaki di dalam keluarga besar kami. Hari itu aku memakai celana panjang warna hijau tentara, kemeja hitam berhias bunga merah di dada, kerudung merah dengan manik-manik keperakan menempel di kepalaku. Bukan jilbab. Helaian...

Read More →