The Shape of Water, Film Cinta Anti Mainstream

Nonton film kelas Oscar itu biasanya membuat saya tertidur, sehingga kehilangan beberapa scene. Kalau mau maksa banget, saya bisa menonton film-film Oscar beberapa kali, untuk memastikan tidak ada bagian-bagian penting yang saya lewatkan ketika tertidur. Dan itupun biasanya saya tonton setelah nyaris memasuki masa Oscar tahun berikutnya.
Tetapi tahun ini Oscar berpihak pada saya. The Shape of Water membuat saya gagal tertidur karena saking cantiknya film ini. Sinopsisnya tentu bisa kita baca di banyak referensi, dari mulai versi pendek ala situs bioskop, sampai versi agak panjangan ala IMDB, maupun versi blog-blog lain yang penuh spoiler. Silahkan pilih sendiri. Sejauh yang saya tangkap, inti film ini adalah tentang seorang perempuan tuna wicara yang bekerja sebagai petugas kebersihan di lab penelitian yang jatuh cinta pada mahluk amfibi, yang disebut-sebut sebagai Amphibian man.
Dari awal film ini dikemas dengan menarik, dunia di dalam air dengan narasi dari sahabat Eliza. Kemudian flashback pada keseharian Eliza, yang sepertinya membosankan sebagai petugas kebersihan. Sampai dia bertemu dengan Amphibi-man yang dianggap sebagai aset negara dan akan menjadi mahluk percobaan untuk dikirim ke luar angkasa. Singkat cerita mereka bersahabat.
Ok, saya nggak akan bahas detail ceritanya, tapi ada beberapa hal pribadi yang menarik untuk dilihat dari film ini buat saya. Seperti,

1. Out of the box. Sementara kisah cinta atau persahabatan lain masih berkutat antara manusia dan manusia, atau paling jauh binatang dengan manusia, TSoW (untuk selanjutnya judul film saya singkat begini ya, biar hemat karakter) ini mengisahkan persahabatan yang berujung cinta antara manusia dan mahluk ampibi. Dilarang? jelas! Mengalami kesulitan? sudah pasti.
Ada dialog-dialog menarik antara tokoh antagonis yang merupakan otoritas tertinggi di lab itu dengan Eliza. Kurang lebih dia mengatakan bahwa mahluk di dalam itu mungkin menarik, tapi percayalah dia menjijikkan. Dia tidak lebih dari mahluk percobaan yang akan segera dibedah, atau semacamnya.
Lalu dialog antara Eliza dan sahabatnya, Zelda. Demi melihat wajah Eliza yang bersemu-semu merah, dia bertanya, “Does he have…?” Yang dimaksud mungkin penis. Karena Amphibi man ini kan tidak berpakaian, jadi orang bisa melihat bahwa tidak ada alat kelamin apapun yang tampak jelas di bawah perutnya.
Kemudian Eliza menjawab dengan bahasa isyarat tentang sesuatu yang keluar dari cangkang dan mereka tertawa. Apapun artinya itu.

2. Sindiran pada dunia. Ini pasti. Meskipun banyak orang yang bilang kalau film ini adalah sindiran buat Donald Trump, menurut saya bukan cuma Trump yang sedang disentil, tapi banyak manusia lain yang juga perlu ditonjok dengan film ini. Di dunia kita yang fana ini, semakin banyak bukti menunjukkan bahwa orang-orang takut dengan perbedaan. Beda warna kulit, takut. Beda agama, saling menjelekkan. Beda preferensi politik, nyinyir. Beda preferensi seksual, menghujat. Nggak capek ya? Nah film ini kalau orang agak mau sensitif dikit, lumayan ngebuka mata, kalau nggak nyolok sih.. dengan cara yang manis.
Kenapa sih semua harus seragam?
Di film ini, tokoh Giles – sahabat Eliza adalah seorang homoseksual. Dia menyukai pemilik bar yang rupanya homophobic dan rasis. Kalau dalam keseharian di sebuah negeri Ketimuran, mungkin Giles sudah dihujat sana-sini. Tapi di TSoW justru dialah yang memiliki nurani dan mau membantu Eliza dalam proses penyelamatan Amphibi man. Dan semua orang yang terlibat di dalam proses penyelamatannya adalah orang-orang minoritas. Zelda yang berkulit hitam dan dokter Russia yang baik hati.

3. Romantisme jaman now. Hmm.. not quite right sih sebenernya. Setting film ini tahun 60-an, ketika Neil Armstrong belum mendarat di bulan, jadi mungkin jaman old kali ya. Tapi sudahlah. Film ini adalah film romance yang akan saya ingat sepanjang hayat. The love bird – Eliza dan Amphibi man – sama-sama tidak mengeluarkan kata-kata. Mereka berbicara dengan bahasa isyarat yang hanya mereka pahami sendiri. Yang satu karena tuna wicara, yang satu karena memang tidak mengeluarkan suara seperti manusia. Tapi deep down mereka memahami apa yang dirasakan satu sama lain. Aw aw aw… Kalau ada yang mau ngajakin saya nonton film ini lagi, saya mau lah. #kodesuperkeras

Akhir kata, saksikanlah film ini kalau kamu perlu hiburan di akhir pekan dan hidupmu mulai menyesakkan dan kisah cintamu terasa hambar dan gajian masih terlalu jauh diharapkan. Ajaklah seseorang yang sedang kamu incar untuk dijadikan pacar, biar dia tahu kamu sedang memberinya kode. Atau ajak bapak-mamakmu yang tidak juga memberikan restu karena bibit-bobot-bebet yang belum sesuai. Atau ajak temanmu yang homofobik supaya dia tersedak-sedak tapi kemudian sadar bahwa cinta itu nggak pake batasan. Atau tontonlah sendiri sambil ngekepin popcorn banyak-banyak sambil nyeruput soda.
Sudah. Itu saja.

← Ambar Margi; m. Aku atau Kamu?
Kenapa Harus Bule? Kenapa Enggak? →

Author:

Dian adalah penulis novel Kita dan Rindu, Rahasia Hati, Ketika Ibu Melupakanku dan 5 buku lainnya. Lahir 1976, menyelesaikan kuliah di Komunikasi STIK Semarang & Kriminologi UI. Anak ke-2 dari 4 bersaudara. Ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan anak-anak lain. Child Protection Advocacy Specialist di Yayasan Sayangi Tunas Cilik. #dianspoint #geocaching #lifeofawriter #lifeofatraveler #workhardtravelwell #luckybastardian #moviegoer

  1. Setujuuuuuuuuuuu…
    Aku pun suka film ini. Guillermo del Toro sebagai script writer, screenplay, sutradara dan produser, meramu dengan apik film ini. Sangat imajinatif, dan pesannya dalam banget! Memang layak Best Picture Oscars 2018 disabet oleh film ini.

    Tulisan nan elok, Mbak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

Taj Mahal, Monumen Egois

Lebih dari empat tahun lalu saya mendapat kesempatan melakukan perjalanan ke India, untuk mengikuti Konferensi Alzheimer se-Asia. Thanks to ALZI for this. Dan seperti halnya India 1st time traveler, pasti akan menjadikan Taj Mahal sebagai salah satu tujuan wajib. Karena waktu yang kami miliki tidak banyak, maka menyewa seorang pemandu...

Read More →

Semalang di Malaysia

Setiap perjalanan selalu meninggalkan bekas yang berbeda. Begitu juga dengan perjalanan saya ke Malaysia beberapa waktu yang lalu. Perjalanan ini sama sekali bukan perjalanan wisata. Kami empat orang di dalam satu tim yang sedang mengemban misi untuk pengambilan gambar untuk video training calon Buruh Migran Indonesia (BMI) dengan tujuan Malaysia....

Read More →

Rahasia Hati

Baru sadar banget bahwa saya belum pernah menulis apapun tentang Rahasia Hati, novel saya yang ke-4, terbit 2012. Maka karena udah agak terlalu lama buat mereview tulisan sendiri, saya browsing dan menemukan beberapa tulisan yang merupakan review atau sinopsis novel itu. Silahkan dibaca sendiri dan... terima kasih sudah menulis tentang...

Read More →

Adik Sampai Tua

Hari itu suasana GOR lain dari biasanya. Ibu-ibu baik hati yang memakai seragam biru berkumpul semua setelah beberapa diantaranya menjemput teman-temanku. Temanku juga datang semua bersama ibu-ibu mereka. Tapi aku tidak melihat si Bapak. Kami menyebutnya bapak karena dia seperti bapak untuk kita semua. Sebetulnya dia itu sama seperti ibu-ibu...

Read More →

Lucky Bastard #4: Lahir di Generasi Musik Terbaik

Sejak kecil saya selalu merasa istimewa. Terserah apa kata orang! Pokoknya saya istimewa :) Well, ain’t we all? Maka untuk membuktikan keistimewaan saya, saya sering menghabiskan waktu untuk mencari apa yang membuat saya istimewa. Dimulailah dengan menanyakan pada Google, what happened on 1976. Maka saya menemukan beberapa kejadian berikut (ini...

Read More →

Selamat Ulang Tahun, Pak

Bapak sayang, Hari ini Bapak merayakan ulang tahun di tempat yang berbeda dengan kami. Aku ingat pada suatu hari Bapak menolak ketika Ibuk mau merayakan hari lahirmu. “Nanti saja kalua sudah bonusan, baru dirayakan.” Bonus yang Bapak maksud adalah kalua sudah lewat dari usia 63 tahun Aku tahu dari mana...

Read More →