Ambar Margi; n. Ujian Pertama

Hari itu matahari bersinar ragu-ragu di kota kecil kami. Aku adalah seorang istri salihah di antara para lelaki di dalam keluarga besar kami. Hari itu aku memakai celana panjang warna hijau tentara, kemeja hitam berhias bunga merah di dada, kerudung merah dengan manik-manik keperakan menempel di kepalaku. Bukan jilbab. Helaian anak rambut yang ngotot keluar dari garis kerudung kubiarkan saja. Beberapa perempuan di kampungku juga berdandan seperti itu ketika mereka pergi pengajian. Yang penting pakaian sudah menutup dari mata kaki sampai ke leher. Aku akan bepergian dengan seorang suami yang usianya jauh lebih tua dariku dan seorang ayah yang terus menerus batuk sepanjang perjalanan. Dia kena TBC karena terlalu banyak merokok. Kami akan mengantar adikku untuk lamaran. Calon istrinya tinggal di Caruban. Begitu skenarionya.
Agar lebih meyakinkan, dua kardus Indomi yang sudah dibungkus dengan kertas kado kami jejalkan diantara tumpukan tas-tas besar di bagian paling belakang mobil. Sebuah tas yang biasa dipakai oleh pemain badminton di TV, serta tas jinjing penuh jejalan pakaian berada di tumpukan teratas bagasi. Tas berisi bekal makanan di dalam setumpuk rantang, termos berisi air yang sudah tidak panas lagi, serta seplastik peyek kacang diletakkan di tengah. Jok paling belakang tidak kami izinkan untuk dilipat karena dalam perjalanan akan ada saudara yang bergabung dengan kami. Untuk membuat bapakku yang TBC duduk dengan nyaman, kami membawa sebuah bantal yang dijejalkan di punggung bagian bawahnya.
Ini adalah ujian pertamaku dan Yudi. Dia tidak perlu akting untuk memerankan calon pengantin yang gugup. Kakinya otomatis bergerak sendiri layaknya orang sedang menjahit dengan mesin manual. Seno berperan sebagai suamiku. Tidak terlalu sulit. Aku berharap dia menghayati perannya seperti aku sangat menikmati menjadi istrinya. Lek Minto berperan sebagai bapakku. Kami semua menyepakati tidak memanggil nama. Seno dan lek minto memanggilku Nduk. Yudi sama sekali tidak mengeluarkan kata-kata sejak masukmobil. Dia seharusnya memanggilku Yu. Lek Minto dipanggil Pak, Seno dipanggil mas oleh semua orang. Sementara Yudi sebagai yang termuda, dipanggil Le. Kependekan dari thole. Anak laki-laki. Nyatanya? Dia benar-benar anak-anak di dalam ujian pertama ini.
Kewajibanku hari itu hanya satu. Duduk di jok tengah, diantara lek Minto dan Seno, berusaha keras untuk tetap melek, sembari menunggu kode dari Seno selaku pemimpin kami. Tidak ada improvisasi yang boleh dilakukan oleh siapapun. Lek Minto dalam skenario ini nanti akan memberi tanda dengan terbatuk-batuk parah, sampai Seno memberi kode padaku untuk meminta berhenti di pinggir jalan agar ‘bapakku’ itu bisa memuntahkan isi perutnya dulu sebelum meneruskan perjalanan.
Sepanjang perjalanan Seno terus mengajak supir travel yang kami sewa berbicara. Aku heran bagaimana Seno bisa mengarang semua cerita itu dengan baik. Bahwa kami sudah lima tahun menikah dan belum dikaruniai momongan, ini adalah perkawinan keduanya. Istri pertamanya kabur dengan tetangga sebelah ke Malaysia. Bapak mertua kami ini dulu adalah guru pencak silatnya, sehingga sebetulnya dia sudah mengincarku dari lama. Aku dan adikku si calon pengantin terpaut cukup banyak usianya, untuk ukuran orang kebanyakan. Itulah sebabnya baru sekarang dia mau kawin. Seno sendiri mengaku berusia sepuluh tahun di atasku.
Aku berusaha keras tidak mendengar satu katapun dari supir yang tidak sadar nyawanya ada di tangan kami hari ini. Tetapi semakin keras aku berusaha tidak mendengar, semakin kuingat semua hal yang dikatakannya. Istrinya yang cantik, anak-anaknya yang sudah masuk SD dan berumur dua tahun, cita-citanya untuk membangun rumah sendiri agar tidak menumpang mertua. Aku bisa memasukkan semua gambar itu ke dalam kepalaku dan membayangkan rupa istri dan anak-anaknya yang akan segera yatim dan janda.
Lek Minto terbatuk makin parah, dia meminta plastik kresek padaku karena merasa akan muntah. Lalu seno meremas tanganku memberi pertanda.
“Mas kita minggir dulu aja ya. Bapak mau muntah. Daripada muntahin mobilnya njenengan.” Kataku.
“Tunggu sampai pom bensin aja ya mbak.”
Lek Minto sudah mulai mengeluarkan suara hoek hoek pertanda mau mengeluarkan isi perutnya.
“Di sini saja mas, ini saya nggak nemu plastik.” Suaraku sudah sangat panik. “Bentar, Pak. Bentar… Ini plastik ditaruh mana to, Le?” aku berusaha melibatkan Yudi. Tapi dia diam saja. Matanya menatap ke arahku meminta bantuan.
Kiri kanan kami adalah perkebunan karet yang gelap. Tanganku berusaha masuk ke dalam tas yang ada di tengah. Seno membantu, tetapi dia tahu benar apa yang akan diambilnya dari dalam tas. Yudi masih diam saja. Dia sama sekali tidak mengeluarkan suara semenjak masuk ke dalam mobil. Lek Minto semakin keras batuknya.
“Sebentar pak… Sabar…” supir itu menengok ke kaca spion sebelah kanannya lalu melihat jauh ke depan dan mencari pinggiran jalan yang bisa diparkirinya dengan aman.
Lek Minto semakin keras terbatuk.
“Sabar nggih, Pak. Sebentar.” Supir itu menepi dan menginjak rem sampai mobil betul-betul tidak bergerak.
Tepat ketika jarinya akan memencet tombol kunci pintu otomatis di sebelah kanannya, Seno sudah mengalungkan tapi pramuka di lehernya dan langsung menarik ke arah belakang dengan arah menyilang. Tidak siap dengan yang dihadapinya, tangan supir itu berusaha meraih tali dan menariknya agar tidak mengikat leher tetapi dia tidak kuat.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Lek Minto yang mendadak berhenti terbatuk segera mengambil bantal dari belakang punggungnya dan membekap mulut sampai seluruh wajah supir itu. Aku terjepit diantara lek Minto dan Seno. Supir itu masih meronta. Aku melihat Yudi tak bergeming. Lalu sebelum hentakan terakhir supir itu aku mencium bau tai. Dan berakhir sudah pemberontakan yang dilakukannya. Tanpa kata-kata lek Minto mengambil lakban dari dalam tas. Seno menidurkan sandaran jok supir ke arah belakang. Bahu membahu dia menarik badan mati itu ke belakang. Aku otomatis ikut membantu tanpa disuruh. Lalu tiba-tiba tubuh lemas itu sudah terduduk di sebelahku.
Lek Minto dan Seno segera membebat seluruh wajah supir itu. Seno menyerahkan gunting padaku, “Gunting semua bajunya.”
Aku mendengar suara Yudi yang sudah berada di luar mobil. Dia memuntahkan seluruh isi perutnya. Seandainya aku bisa melakukan hal yang sama. Tugas yang diberikan Seno padaku mengalihkan mual di perut menjadi tantangan yang berat. Menelanjangi supir ini lalu membebat seluruh tubuhnya dengan lakban sembari bernapas lewat mulut karena bau tai dan keringat kecut yang kuhindari masuk ke hidung.
Entah berapa lama kami akhirnya menyelesaikan tugas ini. Mumi berwarna coklat ini terduduk tegak di sebelahku. Matanya terpejam rapat karena lakban. Mobil terasa begitu lembab. Keringat kami menembus hampir seluruh lapiran joknya. Yudi sudah ada di dalam mobil tapi dia kehilangan seluruh tenaganya. Dia duduk di depan, lemas, sesekali kudengar desahan napasnya. Lek Minto membuka jendela dan menyalakan kreteknya. Seno mengambil alih kemudi.
Kami melanjutkan perjalanan. Aku sudah kehilangan kesadaran akan waktu. Aku merasa jari jemariku seperti mati rasa, mataku kering dan lidahku seperti diganjal kawat agar dia terus menekan langit-langit mulutku. Tepat di sebuah kelokan tajam, Seno melambatkan laju mobil.
“Kene Lek?” Dia memastikan pada lek Minto bahwa lokasinya di tempat itu.
“Iyo.” Jawab lek Minto singkat.
Mobil berhenti. Lek Minto membuka pintu dan meminta Yudi membantunya, tapi dia membatu. Aku bahkan curiga kalau Yudi sudah tidak sadar saat ini. Matanya membuka tapi dia ada di dunia yang berbeda.
Melihat Yudi tak bergeming aku membantu lek Minto mendorong mumi supir ke arah lek Minto yang sudah berada di luar. Meskipun badannya tidak sebesar Seno, tapi tenaganya kuat. Setengah digendongnya badan supir tadi supaya turun ke tanah dalam keadaan berdiri, lalu sekali hentak didorongnya dia ke dasar jurang.
Di antara desau angin aku berusaha mendengar suara berdebam atau kerasak dari tanaman yang tertimpa tubuh mati itu, tapi gagal. Suara detak jantungku sendiri yang terdengar begitu kencang. Lek Minto juga berdiri di luar beberapa saat. Mungkin dia menunggu suara yang sama sepertiku. Tidak ada suara apapun. Hanya desau angin. Lalu dia masuk lagi ke mobil, tidak segera menutup pintunya. Berdiam diri. Lalu menghela napas.
“Wis.” Sudah. Itu katanya.
Tepat sebelum Seno kembali menginjakkan kakinya di pedal gas, sebuah truk dari arah depan melintas. Dibunyikannya klakson dua kali untuk menyapa kita. Seno melambaikan tangan dari jendela yang tidak pernah ditutup lagi sejak saat itu. Darahku serasa berhenti. Begitu truk berlalu aku mendengar hela napasku dan lek Minto. Sementara Seno segera melanjutkan perjalanan.
Sekarang tidak ada lagi istri salihah, suami baik hati, bapak yang kena TBC dan calon pengantin yang gugup. Kerudungku sudah kulepas. Kancing baju kubuka satu. Yudi menangis terguguk menjadi-jadi. Lek Minto membuka jendela dan merokok tidak berhenti. Seno terus mengemudi. Aku tidak mati. Aku lolos ujian pertama. Yudi tidak.

← Lucky Bastard Ep. 1; Hadiah Ulang Tahun ke Bali
Avengers, Thanos & KB →

Author:

Dian adalah penulis novel Kita dan Rindu, Rahasia Hati, Ketika Ibu Melupakanku dan 5 buku lainnya. Lahir 1976, menyelesaikan kuliah di Komunikasi STIK Semarang & Kriminologi UI. Anak ke-2 dari 4 bersaudara. Ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan anak-anak lain. Child Protection Advocacy Specialist di Yayasan Sayangi Tunas Cilik. #dianspoint #geocaching #lifeofawriter #lifeofatraveler #workhardtravelwell #luckybastardian #moviegoer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

figur

Edisi Figur ini akan menjadi chapter baru di dalam hidup blog saya, di mana semua yang ada di dalam kategori ini merupakan persembahan penuh pada orang-orang yang: - Benar-benar ada (bukan tokoh fiksi) - Sangat saya cintai - Berpengaruh dalam hidup saya - Lucunya nggak termaafkan - Memiliki kehidupan yang...

Read More →

Tips Tetap Waras di Dunia yang Menggila

Terpapar informasi-informasi getir tentang terorisme dan bagaimana anak ikut dieksploitasi dilibatkan didalamnya, lalu anak-anak kembali menjadi korban, mau gila rasanya. Lebih gila lagi karena membaca komen-komen di media sosial baik yang pedih getir prihatin dengan kejadian ini, maupun yang nyinyir salah tempat dan akhirnya malah ditangkap yang berwajib. Tergoda untuk...

Read More →

Ambar Margi; n. Ujian Pertama

Hari itu matahari bersinar ragu-ragu di kota kecil kami. Aku adalah seorang istri salihah di antara para lelaki di dalam keluarga besar kami. Hari itu aku memakai celana panjang warna hijau tentara, kemeja hitam berhias bunga merah di dada, kerudung merah dengan manik-manik keperakan menempel di kepalaku. Bukan jilbab. Helaian...

Read More →

Lucky Bastard Ep. 1; Hadiah Ulang Tahun ke Bali

Seri Lucky Bastard ini adalah cerita tentang anak manusia yang super beruntung. Nggak cantik-cantik banget, nggak pinter-pinter banget, nggak gigih-gigih amat, kadang baper, kadang semau udelnya. Tapi seluruh dunia suka gitu aja ngasih dia kado yang dia pengenin. Nggak semuanya juga sih. Karena kalau semua yang dia minta dikasih, sekarang...

Read More →