Tinggikan Cita-citamu, Nak!

Rabu, 11 Juli 2018 ada 124 anak berusia antara 6 – 7 tahun diwisuda hari ini di Gedung Keong Mas – TMII. Anak-anak lulusan PAUD dari tujuh wilayah Jakarta Utara ini dinyatakan lulus dan siap untuk memasuki bangku sekolah dasar.

Wajah-wajah sumringah memasuki gedung Keong Mas TMII dengan toga yang sudah terpasang di luar seragam PAUD mereka. Para orang tua yang menemani sibuk dari mulai menyuapi, merapikan toga, mengikatkan tali sepatu, sampai memotret anak-anak mereka. Anak-anak ini datang dari Rawa Elok, Muara Angke Eceng, Muara Angke Empang, Cilincing, Marunda Pitung, Marunda Kongsi dan Marunda Kepu. Hajatan wisuda ini diadakan setahun sekali oleh Lembaga Daya Dharma (LDD) yang mendampingi anak-anak dan keluarga tidak mampu di sana.

“Ini adalah wisuda ke-13 yang kami lakukan untuk anak-anak lulusan PAUD. Mengantar anak-anak ini ke gerbang awal pendidikan dasar adalah sebuah kebanggaan. Dan kami akan terus mendampingi keluarga-keluarga anak-anak kita, memastikan agar cita-cita anak tercapai,” Sugiarto, pengurus LDD menyampaikan di dalam pidato pelepasannya. “Tema Tinggikan Cita-citamu, Nak! kami angkat tahun ini untuk mengikat komitmen orang tua agar mewujudkan cita-cita anak dengan sepenuh hati dan tenaga.” Pungkas Sugiarto.

Di dalam acara ini, Diena Haryana dari Yayasan Sejiwa memberikan pembekalan pada orang tua tentang pentingnya melindungi dan mendampingi anak. “Saat ini anak-anak hidup di dua dunia yang berbeda, dunia maya dan dunia nyata. Membiarkan anak tenggelam di dunia maya adalah kesalahan besar, karena kita tidak tahu apa yang mengintai anak-anak kita di sana. Orang tua adalah contoh untuk anak-anaknya. Kalau orang tua sibuk sendiri dengan gadget, maka jangan harap anak tidak melakukan hal yang sama.” Diena dengan berapi-api mengingatkan orang tua.

Program ini dilakukan lebih dari 13 tahun yang lalu, karena merespon keluhan para orang tua yang kesulitan mendaftarkan anaknya masuk SD. Banyak SD yang menolak karena anak-anak tidak memiliki ijazah baik PAUD maupun TK. Sementara di sisi lain para orang tua ini tidak mampu menyekolahkan anaknya di PAUD atau TK. Maka LDD sebagai lembaga sosial yang berwilayah kerja di daerah-daerah tersebut mencoba mencari donatur untuk memecahkan masalah ini. Dengan dana yang diberikan oleh donatur tersebut maka dibentuklah PAUD berbasis komunitas, atau disebut sebagai rumah sekolah.

“Kami mulai mengajak orang tua dengan anak-anak berusia empat tahun ke atas untuk memasukkan anak-anak mereka ke rumah-rumah sekolah tersebut. Di sana anak-anak mendapatkan pendidikan setara PAUD untuk mempersiapkan anak memasuki SD.” Marsudi dari LDD menjelaskan. “Selepas anak lulus dari PAUD ini kami juga tidak melepaskannya begitu saja. Para CL atau community leader kemudian akan membantu anak-anak untuk mendapatkan sekolah di SD yang ada di sana.” tambahnya.

Tantangan yang dihadapi oleh LDD tidak sedikit. Sebagai organisasi yang bernaung di bawah Keuskupan Agung Jakarta, para pegiat pendidikan anak di LDD sudah terbiasa mendapatkan penolakan warga karena kecurigaan bahwa mereka berusaha untuk menyebarkan keyakinan yang berbeda dengan mayoritas penduduk di wilayah tersebut. Dengan kesabaran dan komitmen serius untuk membantu anak mendapatkan hak-haknya atas pendidikan, hal tersebut tidak menghentikan LDD untuk terus mendorong keluarga untuk membuat rumah sekolah terus berjalan.

Saat ini bersama-sama dengan jaringan Proklamasi Anak Indonesia, LDD dan 30 organisasi lainnya sedang mempersiapkan program Festival Suara Anak 2018 yang mengambil tema, Tinggikan Impianmu! dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2018.

← Maemunah, Maimuna, Jumilah
Bapak Pulang →

Author:

Dian adalah penulis novel Kita dan Rindu, Rahasia Hati, Ketika Ibu Melupakanku dan 5 buku lainnya. Lahir 1976, menyelesaikan kuliah di Komunikasi STIK Semarang & Kriminologi UI. Anak ke-2 dari 4 bersaudara. Ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan anak-anak lain. Child Protection Advocacy Specialist di Yayasan Sayangi Tunas Cilik. #dianspoint #geocaching #lifeofawriter #lifeofatraveler #workhardtravelwell #luckybastardian #moviegoer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

Lucky Bastard #4: Lahir di Generasi Musik Terbaik

Sejak kecil saya selalu merasa istimewa. Terserah apa kata orang! Pokoknya saya istimewa :) Well, ain’t we all? Maka untuk membuktikan keistimewaan saya, saya sering menghabiskan waktu untuk mencari apa yang membuat saya istimewa. Dimulailah dengan menanyakan pada Google, what happened on 1976. Maka saya menemukan beberapa kejadian berikut (ini...

Read More →

Selamat Ulang Tahun, Pak

Bapak sayang, Hari ini Bapak merayakan ulang tahun di tempat yang berbeda dengan kami. Aku ingat pada suatu hari Bapak menolak ketika Ibuk mau merayakan hari lahirmu. “Nanti saja kalua sudah bonusan, baru dirayakan.” Bonus yang Bapak maksud adalah kalua sudah lewat dari usia 63 tahun Aku tahu dari mana...

Read More →

Apa Kabar Perlindungan Anak di Abad Pertengahan?

Pada sebuah kunjungan ke Kastil Muiderslot - museum tertua di Belanda, pertanyaan itu secara serius ditanyakan Mike pada saya. "Can you imagine working as child protection specialist at that time, liefje? You'll never be home on time." Atau sesuatu semacam itu kira-kira. Seperti layaknya seorang turis di negeri orang, begitu...

Read More →

Ambar Margi; o. Mumi

Waktu rasanya begitu panjang tetapi aku tidak benar-benar merasa ada di dalamnya. Yang kuingat hanya kami sampai di sebuah motel di pinggiran kota. Seseorang menghampiri kami lalu menanyakan mau berapa lama kami menginap. Aku tidak memahami sepenuhnya pembicaraan lek Minto dan orang itu. Setelah terjadi kesepakatan, orang itu menunjukkan arah,...

Read More →

Bapak Pulang

Beberapa kali saya menulis draft tulisan tentang Bapak, tetapi selalu terdistrak, sampai akhirnya terlambat. Sekarang Bapak sudah tidak akan membaca tulisan ini. Tapi memang Bapak tidak perlu membacanya. Bapak tahu apa yang dilakukannya dan dirasakan oleh anak-anaknya. Saya dilahirkan di kota kecil Salatiga, dikelilingi oleh orang-orang tua yang membentak anaknya,...

Read More →