Ambar Margi; o. Mumi

Waktu rasanya begitu panjang tetapi aku tidak benar-benar merasa ada di dalamnya. Yang kuingat hanya kami sampai di sebuah motel di pinggiran kota. Seseorang menghampiri kami lalu menanyakan mau berapa lama kami menginap. Aku tidak memahami sepenuhnya pembicaraan lek Minto dan orang itu. Setelah terjadi kesepakatan, orang itu menunjukkan arah, membukakan pintu garasi ke atas lalu segera menutupnya lagi. Kamar kami persis di sebelah garasi pintunya. Seno menyuruhku dan Yudi masuk.

Tanpa diminta dua kali, Yudi menyeret kakinya ke dalam kamar mandi dan dia segera membanjur kepalanya dengan air. Dia keluar dari kamar mandi dengan kepala dan mata basah.

“Aku mateni uwong, Mbar.” (aku membunuh orang). Terus menerus diulangnya kalimat itu dan semakin diulang semakin keras suaranya.

Lalu tangisnya pecah persis seperti bayi sambil terus mengulang kalimat yang sama. Tangannya mencengkeram kedua lenganku. Seno dan lek Minto yang masih ada di garasi segera membuka pintu. Seno segera menyalakan TV keras-keras sementara lek Minto mendekat lalu mengangkat wajah Yudi dan menamparnya keras-keras.

“Kalau nggak diam, kamu yang mati sebentar lagi!” Kalimat itu ampuh untuk mendiamkan Yudi. Wajahnya menatapku meminta perlindungan. Dia pikir aku ibunya?

Sekarang aku yang gusar. Seluruh memoriku masih tertinggal di dalam mobil dan di pinggir jurang tadi. Perutku rasanya teraduk-aduk dan harus mengeluarkannya. Tapi sesuatu menahanku. Entah apa.

Sebentar kemudian orang yang tadi membukakan kami pintu membawakan teh manis hangat dan handuk yang sudah tidak putih lagi warnanya. Tanpa bertanya lagi, aku langsung menyeruput teh tanpa menunggunya dingin. Biasanya aku tidak suka minuman panas.

Begitu rasa hangat masuk ke perutku barulah aku merasakan ada yang bergolak. Di kamar mandi kukeluarkan seluruh isi perutku dari atas dan bawah. Lega rasanya. Begitu keluar dari kamar mandi, aku langsung ndelosor di Kasur. Yudi duduk di lantai di antara Kasur dan meja rias. Aku sama sekali tidak memedulikannya.

Aku bangun dan semua orang tidak ada. TV menyala tapi tanpa suara. Seno dan lek Minto sangat mungkin sudah pergi. Tapi Yudi? Mana berani dia pergi tanpa aku. Jangan-jangan lek Minto melakukan apa yang tadi diancamkannya pada Yudi. Berarti Yudi sudah mati? Setengah hatiku senang tapi setengah lagi segera berpikir jawaban apa yang harus kuberikan pada orang rumah, terutama keluarga Yudi? Aku tidak terlalu peduli kalau dia mati. Ada atau tidak ada dia, hampir tidak ada bedanya bagiku.

Tapi di kamar ada suara air menetes satu per satu. Aku lupa apakah sebelum pergi tidur tadi sudah mematikan kran sampai pol atau belum. Karena kamar sepi, telingaku jadi lebih peka.

“Yud!” panggilku.

Tidak ada jawaban.

“Mas Seno…” suaraku sendiri seperti menggema di ruang kosong.

Gelas teh masih di posisi yang sama. Satu kosong, satu terisi penuh. Belum ada yang meminum gelas kedua itu.

Lirih kudengar suara orang mengerang. Makin lama erangannya makin keras dan mendekat. Bulu kudukku merinding dan darahku seperti mendidih. Seluruh tubuhku kaku karena takut.

Suara itu berasal dari garasi. Dan sepertinya semakin mendekat.

“Yudi! Seno! Lek Minto!” aku memanggil semua orang berkali-kali tapi tidak berani bergerak sedikitpun dari posisiku tidur. Sampai akhirnya pintu yang mengarah ke garasi terbuka dan manusia berbelit lakban berwana coklat muncul sembari menggerang di sana. Dia tidak bisa menahan tubuhnya sendiri. Dia akan jatuh ke arahku. Aku menunggu saat itu tiba dan aku akan mati bersama jatuhnya mumi itu di atas tubuhku.

Tapi di sisi lain aku tahu ini adalah mimpi. Mumi itu tidak akan bisa mengikutiku.

 

“Ambar! Ambar!” Seno menampariku berkali-kali.

Begitu sadar sedang bermimpi, aku bangun dan memeluknya. Posisi kamar masih seperti sebelum kutinggal tidur tadi. Yudi meringkuk di kaki tempat tidur, di antara kakiku dan meja rias. Lek Minto di kamar mandi mencuci mukanya. Teh di dalam gelas belimbing sudah habis semua.

Yudi menyodorkan air putih dalam kemasan padaku.

“Kowe ngimpi.”

Aku tidak menjawab.

Mimpi yang sama mendatangiku dalam berbagai tempat yang berbeda sampai sebulan kemudian. Mumi coklat di dapur Simbah, di WC, di kali, di selepan padi, di rumah Leo, di pematang sawah, di bis kota, di warung bakso satu-satunya di kampungku, di kamarku sendiri, di setiap tempat yang pernah kudatangi, dia muncul dalam bentuk mimpi.

Aku dan Yudi hampir tidak membicarakan peristiwa malam itu. Seno berhenti menghubungiku. Kupikir kami tak akan pernah berbicara lagi. Kupikir, aku tidak akan pernah diajaknya bekerja lagi.

← Bapak Pulang
Ambar Margi; p. Bukan yang Mati yang Perlu Ditakuti →

Author:

Dian adalah penulis novel Kita dan Rindu, Rahasia Hati, Ketika Ibu Melupakanku dan 5 buku lainnya. Lahir 1976, menyelesaikan kuliah di Komunikasi STIK Semarang & Kriminologi UI. Anak ke-2 dari 4 bersaudara. Ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan anak-anak lain. Child Protection Advocacy Specialist di Yayasan Sayangi Tunas Cilik. #dianspoint #geocaching #lifeofawriter #lifeofatraveler #workhardtravelwell #luckybastardian #moviegoer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

Mangga Indramayu dan Exploitasi Tubuh Perempuan

Apa yang muncul di kepala tentang Indramayu? Mangganya yang enak? Perempuannya yang cantik? Atau keduanya secara bersamaan? Dua tahun lalu, pada saat menyelesaikan tugas akhir kuliah, saya menghabiskan beberapa waktu tinggal di Indramayu untuk mengumpulkan data. Indramayu—satu kabupaten di Jawa Barat—bukan tempat yang asing buat saya. Sebelumnya, bersama OnTrackMedia Indonesia,...

Read More →

Ketika Ibu Melupakanku

Lagi-lagi, di saat beberes lapak, saya menemukan bahwa di sini belum pernah tertulis apapun yang berkaitan dengan novel Ketika Ibu Melupakanku. Novel ini diangkat dari kisah nyata DY Suharya yang ibunya terkena demensia. Menurut yang sudah membaca, mengharu biru dan bikin mewek. Saya sendiri ingat beberapa kali nangis dalam proses...

Read More →

Taj Mahal, Monumen Egois

Lebih dari empat tahun lalu saya mendapat kesempatan melakukan perjalanan ke India, untuk mengikuti Konferensi Alzheimer se-Asia. Thanks to ALZI for this. Dan seperti halnya India 1st time traveler, pasti akan menjadikan Taj Mahal sebagai salah satu tujuan wajib. Karena waktu yang kami miliki tidak banyak, maka menyewa seorang pemandu...

Read More →

Semalang di Malaysia

Setiap perjalanan selalu meninggalkan bekas yang berbeda. Begitu juga dengan perjalanan saya ke Malaysia beberapa waktu yang lalu. Perjalanan ini sama sekali bukan perjalanan wisata. Kami empat orang di dalam satu tim yang sedang mengemban misi untuk pengambilan gambar untuk video training calon Buruh Migran Indonesia (BMI) dengan tujuan Malaysia....

Read More →

Rahasia Hati

Baru sadar banget bahwa saya belum pernah menulis apapun tentang Rahasia Hati, novel saya yang ke-4, terbit 2012. Maka karena udah agak terlalu lama buat mereview tulisan sendiri, saya browsing dan menemukan beberapa tulisan yang merupakan review atau sinopsis novel itu. Silahkan dibaca sendiri dan... terima kasih sudah menulis tentang...

Read More →

Adik Sampai Tua

Hari itu suasana GOR lain dari biasanya. Ibu-ibu baik hati yang memakai seragam biru berkumpul semua setelah beberapa diantaranya menjemput teman-temanku. Temanku juga datang semua bersama ibu-ibu mereka. Tapi aku tidak melihat si Bapak. Kami menyebutnya bapak karena dia seperti bapak untuk kita semua. Sebetulnya dia itu sama seperti ibu-ibu...

Read More →