Apa Kabar Perlindungan Anak di Abad Pertengahan?

Pada sebuah kunjungan ke Kastil Muiderslot – museum tertua di Belanda, pertanyaan itu secara serius ditanyakan Mike pada saya. “Can you imagine working as child protection specialist at that time, liefje? You’ll never be home on time.” Atau sesuatu semacam itu kira-kira.

Seperti layaknya seorang turis di negeri orang, begitu sampai di Muiderslot saya langsung mencari spot-spot foto terbaik yang bisa dipasang di Instagram. Langit mendukung, kamera nggak terlalu buruk, wajah cerah karena masih pagi. Wonderful, gitu kata teman saya.

Begitu memasuki area kastil, kami memilih untuk menempel pada pemandu wisata agar mendapat lebih banyak cerita. Ruang pertama yang kita masuki adalah sebuah ruang makan. Sebuah meja panjang seperti yang sering kita lihat di film-film abad pertengahan, dua kursi bersandaran tinggi di kedua ujung, kursi bersandaran rendah di satu sisi memanjang dan kursi kayu ala babang bakso kaki lima di sisi memanjang yang lain.

Pak Pemandu meminta anak-anak berusia di bawah 16 tahun untuk berdiri berjajar di sebelah kursi bakso tadi. Lalu dia bercerita bahwa di jaman itu, anak berusia di bawah 16 tahun tidak diizinkan makan sembari duduk. Kemudian saya baca di buku sejarah kastil ini, bahkan anak-anak tidak diizinkan berbicara sepanjang waktu makan. Mike benar. Perjuangan teman-teman dan saya yang pertama adalah melakukan advokasi agar para raja mengizinkan anak-anaknya duduk ketika makan bersama.

Lalu ruang berikutnya yang kita kunjungi adalah dapur dan ruang pertemuan yang juga biasa dipakai sebagai ruang pengadilan, ruang pengambilan keputusan jika ada masalah yang harus diputuskan oleh raja. Tidak banyak hal berkaitan dengan anak di kedua ruang ini. Hanya saja saya agak risih dengan lukisan-lukisan di ruang pertemuan yang menggambarkan pesta-pesta ketika itu. Makanan dan arak terhidang di meja-meja dengan berantakan. Para perempuan berpakaian sehelai dua di cuaca yang dingin. Bagaimana saya tahu kalau dingin? Karena dalam lukisan tungku penghangat ruangan menyala dan para laki-laki memakai pakaian lengkap. Ah… ini perjuangan yang lain lagi.

Ruang terakhir yang kita datangi adalah kamar tidur. Sebuah ruangan besar dengan tungku penghangat ruangan, satu set meja dan kursi layaknya di ruang tamu, sebuah tempat tidur yang ukurannya tidak lebih dari tempat tidur saya yang 160×200 cm, box bayi, dan beberapa lemari.

Anak-anak sangat kritis bertanya. “Dimana anak-anak tidur, kalau kasurnya hanya satu?” Pemandu menjawab bahwa raja, ratu dan anak-anaknya tidur di tempat tidur itu. Mulut anak-anak ternganga. Lalu dia melanjutkan, pada masa itu orang meyakini bahwa darah mengalir dari kepala ke bawah. Manusia bisa hidup dan berpikir karena darahnya masih ada di atas. Mereka tidur dalam keadaan duduk untuk mempertahankan darah tetap di tempat yang lebih tinggi dibanding bagian tubuh lainnya, sehingga mereka masih bisa hidup keesokan harinya. Itulah mengapa, tempat tidur sekecil itu cukup untuk tujuh anak beserta raja dan ratu.

Tujuh anak?

Yes, Raja Floris V dan Ratu Beatrijs van Vlaanderen memiliki 7 orang anak. Tetapi hanya satu yang bertahan hidup melebihi usia 10 tahun. Jan namanya*. Karena usia panjangnya, sebuah lagu nina bobok didedikasikan untuk Jan, judulnya Goodbye, Sweet Jantje. Liriknya kurang lebih seperti ini kalau diterjemahkan dalam bahasa Inggris:  “In The Hague there lives a Count, and his son is called Jantje. If you ask: ‘Where does your daddy live?’, he’ll show you with his hand-tje. With his finger and his thumb, on his hat he wears a feather. On his arm’s a basket, Bye, my sweet Jantje!” Sampai saat ini anak-anak di Belanda masih menyanyikan lagu nina bobok ini.

Di sini pikiran saya kembali ke kantor dan mulai membayangkan teman-teman yang bekerja untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan hak hidup sehatnya. ASI, imunisasi, penimbangan rutin, makanan sehat, pelukan dan kehangatan, kebersihan, pengaturan jangka waktu kelahiran. Duh, apa kabar itu semua ya? Kalau udah gini suka kesel sama yang ngelarang kita merayakan ulang tahun. Tuh ya, lihat… panjang umur itu beneran berkah!

Masih di kamar yang sama ada pertanyaan lain, lalu bagaimana raja dan ratu bisa punya banyak anak, sementara mereka semua tidur di dalam kamar yang sama. Rupanya menurut pak pemandu, pada masa itu orang tidak mengenal rasa malu. Produksi anak bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun. Bahkan di menara-menara yang kemudian kami kunjungi, toilet-toilet dibuat di area terbuka. Dan konon kabarnya kalau kita berkunjung ke rumah orang yang sedang berhajat di kamar mandi, maka kita tetap bisa berbincang-bincang bahkan sang empunya rumah juga tak segan mengeluarkan kepalanya dari celah pintu – kalau kamar mandinya berpintu, begitu pula sebaliknya. Tamu boleh melongokkan kepala ke dalam kamar mandi. Iyuh…

Aduh, apa kabar modul kesehatan seksual dan reproduksi yang dibuat tim OTMI ya? Susah-susah kita bilang sama orang agar memiliki pintu yang layak antar kamar, supaya anak tidak terpapar kegiatan seksual orang dewasa di sekitarnya. Selesai sudah kerja kami kalau hidup di abad itu.

Begitu keluar dari kastil, kepala saya langsung pening. Setengah karena membayangkan nasib anak-anak di jaman itu, yang nyaris tidak dianggap. Setengahnya lagi karena langsung dihajar hawa dingin.

Cerita dari Muiderslot mungkin berakhir di sini**. Kita tidak pernah bisa mundur dan memperbaiki apa yang kita anggap keliru, yang bisa kita perjuangkan dan lakukan sekarang adalah agar kita tidak pernah lagi kembali ke masa itu. Anak-anak adalah manusia utuh yang bersama mereka melekat hak-hak sebagai manusia dan sebagai anak.

*kebetulan Jan juga nama tengah Mike 🙂

**sampai di Ciganjur ibu saya punya cerita sendiri tentang panjang umur yang akan saya tuliskan di postingan lain

← You Ate Half of the Moon
Selamat Ulang Tahun, Pak →

Author:

Dian adalah penulis novel Kita dan Rindu, Rahasia Hati, Ketika Ibu Melupakanku dan 5 buku lainnya. Lahir 1976, menyelesaikan kuliah di Komunikasi STIK Semarang & Kriminologi UI. Anak ke-2 dari 4 bersaudara. Ibu dari Vanya Annisa Shizuka dan anak-anak lain. Child Protection Advocacy Specialist di Yayasan Sayangi Tunas Cilik. #dianspoint #geocaching #lifeofawriter #lifeofatraveler #workhardtravelwell #luckybastardian #moviegoer

  1. ‘Barbar’ sekali ya peradaban saat itu.

    Saya jadi penasaran, 200 tahun lagi, bagaimana peradaban zaman itu berpikir tentang kehidupan kita saat ini.

  2. What I find interesting is how we look at the past, and what we determine is good and what is bad looking back from the time we live in. Some things are clearly bad (5 out of 6 children didn’t make it into adulthood in the case of PC Hooft, owner off the castle), complete lack of any hygiene that would cause loads of diseases, etc … But there are other things like a ‘lack’ of shame for example that are strange when you think about it, maybe the shame we know these days will be considered in 300 years from now as weird behavior. It’s hard to imagine now what people in the future will find weird and bad behavior ? Children had to do homework ? You had to actual do physical work ? They did what ? Cut people open when they performed surgery ? I would be curious how in 300 years we look back at this time, and what surprise thoughts there will be

  3. Exactly. Maybe someone should try to invent a window from the death. So dead people who are curious with the future can still look back from that window and win their bet 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

What to Read Next

Mangga Indramayu dan Exploitasi Tubuh Perempuan

Apa yang muncul di kepala tentang Indramayu? Mangganya yang enak? Perempuannya yang cantik? Atau keduanya secara bersamaan? Dua tahun lalu, pada saat menyelesaikan tugas akhir kuliah, saya menghabiskan beberapa waktu tinggal di Indramayu untuk mengumpulkan data. Indramayu—satu kabupaten di Jawa Barat—bukan tempat yang asing buat saya. Sebelumnya, bersama OnTrackMedia Indonesia,...

Read More →

Ketika Ibu Melupakanku

Lagi-lagi, di saat beberes lapak, saya menemukan bahwa di sini belum pernah tertulis apapun yang berkaitan dengan novel Ketika Ibu Melupakanku. Novel ini diangkat dari kisah nyata DY Suharya yang ibunya terkena demensia. Menurut yang sudah membaca, mengharu biru dan bikin mewek. Saya sendiri ingat beberapa kali nangis dalam proses...

Read More →

Taj Mahal, Monumen Egois

Lebih dari empat tahun lalu saya mendapat kesempatan melakukan perjalanan ke India, untuk mengikuti Konferensi Alzheimer se-Asia. Thanks to ALZI for this. Dan seperti halnya India 1st time traveler, pasti akan menjadikan Taj Mahal sebagai salah satu tujuan wajib. Karena waktu yang kami miliki tidak banyak, maka menyewa seorang pemandu...

Read More →

Semalang di Malaysia

Setiap perjalanan selalu meninggalkan bekas yang berbeda. Begitu juga dengan perjalanan saya ke Malaysia beberapa waktu yang lalu. Perjalanan ini sama sekali bukan perjalanan wisata. Kami empat orang di dalam satu tim yang sedang mengemban misi untuk pengambilan gambar untuk video training calon Buruh Migran Indonesia (BMI) dengan tujuan Malaysia....

Read More →

Rahasia Hati

Baru sadar banget bahwa saya belum pernah menulis apapun tentang Rahasia Hati, novel saya yang ke-4, terbit 2012. Maka karena udah agak terlalu lama buat mereview tulisan sendiri, saya browsing dan menemukan beberapa tulisan yang merupakan review atau sinopsis novel itu. Silahkan dibaca sendiri dan... terima kasih sudah menulis tentang...

Read More →

Adik Sampai Tua

Hari itu suasana GOR lain dari biasanya. Ibu-ibu baik hati yang memakai seragam biru berkumpul semua setelah beberapa diantaranya menjemput teman-temanku. Temanku juga datang semua bersama ibu-ibu mereka. Tapi aku tidak melihat si Bapak. Kami menyebutnya bapak karena dia seperti bapak untuk kita semua. Sebetulnya dia itu sama seperti ibu-ibu...

Read More →