payday loans

condom is your best friend

December 2nd, 2011

Pada suatu hari saya mendengar kalimat tersebut meluncur dari seorang nenek pada cucunya yang berniat meninggalkan keluarganya di sebuah kota kecil dan memutuskan untuk bekerja di New York. Adegan tersebut ada pada sebuah film berjudul Post Grad. Oh, saya sungguh suka gaya nenek itu.

Hal tersebut mengingatkan saya pada suatu hari di Nusa Dua dan di Vienna. Di kedua tempat tersebut saya pernah mengikuti konferensi HIV/AIDS. Dari begitu banyak hal baru berhubungan dengan HIV/AIDS yang saya temui di kedua tempat tersebut, ada satu persamaan besar, yaitu kampanye kondom. Konter kondom bertuliskan CONDOMIZE di konferensi Vienna menyediakan kondom berbagai macam ukuran dan warna. Bahkan ada satu malam dimana mereka menggelar sebuah Condomize party, dimana peserta dari seluruh dunia berkumpul, dengan artificial kondom yang disebar dimana-mana, dance for life action, juga sebuah pagelaran fashion show dengan pakaian-pakaian terbuat dari kondom.

Di Vienna saya juga memperhatikan ada kondom-kondom jenis baru yang mungkin saya lewatkan ketika di Bali, yaitu kondom jari atau findom (singkatan dari finger condom) dan kondom untuk perempuan. Kondom jari itu, kita tahu dong untuk siapa? Betul sekali, untuk orang yang menggunakan mister atau miss Palmer sebagai partner aktifitas seks mereka. Sementara kondom perempuan, sampai saat ini di Indonesia masih belum dijual secara bebas di apotik, tapi kalau penasaran ingin mendapatkannya, saya rasa KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) memiliki persediaan. Itu adalah kondom yang dipakai oleh perempuan, sehingga jika pasangan seksualnya menolak untuk memakai kondom, dia masih tetap terlindungi. Karena kuncinya ada pada perempuan. Hampir semua kondom itu dibagikan secara gratis. Kecuali kondom jari yang dijual 1 Euro untuk 4 buah kondom. Souvenir yang menarik bukan?

Semoga anda tidak langsung melotot dan merasa risih, perangkat yang paling personal itu kita bicarakan di edisi bulan Desember yang setiap tangal 1-nya diperingati sebagai hari AIDS sedunia ya. Karena idealnya kita memang sudah berhenti berkampanye kondom sejak beberapa tahun yang lalu, kalau saja setiap orang yang memang membutuhkan, tidak merasa malu atau enggan untuk menjadi aktifis kondom. Tetapi nyatanya sampai sekarang angka yang mencatat infeksi baru HIV masih terus saja ada. Angka tersebut mayoritas adalah usia produktif, yang juga bisa disimpulkan sebagai usia aktif secara seksual.

Read the rest of this entry »

viagra online viagra prescription

Malam ini saya merasa biasa saja menonton kemenangan Manchester United (MU) atas sebuah perhelatan berjudul Liga Primer. Karena saya bukan penggemar MU dan di atas itu semua, saya bahkan sama sekali bukan penggemar sepak bola. Saya menonton sepak bola belakangan ini, karena saya sedang dekat dengan orang yang berhasil memaksa saya menemaninya menonton setiap laga MU.

Tapi malam ini, melihat seluruh kru yang terlibat membangun MU menjadi sebuah tim hebat berdiri di tengah lapangan, menyaksikan satu per satu manusia-manusia berseragam merah dengan senyum bahagia, melihat wajah datar Van der Saar ketika berpamitan, karena dia tak mampu menahan laju usia, menyaksikan angka 19 sebagai lambang berapa kali MU sudah menjuarai Liga tersebut, membuat saya tidak kuasa untuk ikut terharu.

Lebih dari kemenangan-kemenangan yang pernah diraih oleh MU, saya lebih merasa disentuh dengan keras oleh orang-orang yang mendapat kehormatan membawa piala ke tengah lapangan. Seorang laki-laki berseragam tentara dengan dua kaki yang sudah diganti logam, mata tertutup satu, beberapa bekas luka lain di wajahnya, seorang lagi di sebelahnya berjalan tidak setegap tentara pada umumnya. Saya curiga dia juga memiliki salah satu kaki yang sudah diganti. Ya, mereka adalah korban-korban perang yang hari itu mendapatkan penghormatan dengan membawakan piala kemenangan untuk juara Liga Primer tahun ini. Saya menelan ludah.

Boleh dong, kalau saya bermimpi suatu saat negeri ini memiliki hal-hal indah dari peristiwa yang saya saksikan malam ini di televisi?

  • Sebuah tim – tidak hanya sepak bola – yang solid dan jujur dan berjuang sampai titik darah penghabisan.
  • Sebuah penghormatan terhadap mereka yang berjasa pada bangsanya. Maaf OOT, saya jadi ingat penghargaan yang diberikan oleh RCTI pada Taufik Kemas sebagai wakil rakyat tahun ini. Oh… kalau dibandingkan dengan Jusuf Kalla dan kandidat-kandidat lainnya, saya rasa pak Taufik masih harus berjuang lebih keras untuk mendapatkannya. Anyway…
  • Sebuah loyalitas. Saya ingat Ryan Giggs sudah bermain di MU sejak saya belum boleh nonton bola karena terlalu malam acaranya.

Saya rindu itu semua. Karena ketika saya menengok kembali ke negeri saya. Saya merasa masih jauh dari itu semua. Saya jadi berdo’a semoga ponakan saya yang minta dibelikan seragam MU abal-abal beberapa hari lalu, akan menjadi pemain bola yang tangguh dan orang yang jujur suatu saat kelak.Gambar dari sini 

Viagra can you buy viagra online

Tanggal 8 Maret lalu kita memperingati hari perempuan sedunia. Ada apa dengan satu abad peringatan hari perempuan dalam hidup saya? Saya melakukan rutin saja, dan menulis renungan ini untuk mengingatkan diri saya sendiri dan teman-teman bahwa sesungguhnya kita masih terus menghadapi masalah-masalah yang belum ditemukan penyelesaiannya. Memang kondisi perempuan saat ini jika dibandingkan dengan 100 tahun yang lalu jelas berbeda. Banyak hal yang sudah dicapai dalam sejarah perjuangan perempuan. Tapi bahwa kita belum selesai mengatasi masalah kekerasan terhadap perempuan, hak asasi perempuan, terutama masalah kesehatan, dan khususnya HIV.

Sampai detik ini perempuan masih memiliki resiko besar terpapar HIV. Dan menurut WHO, angka kematian tertinggi untuk perempuan usia 15 – 44 tahun adalah karena HIV. Faktor biologis, kurangnya akses informasi & layanan kesehatan, masalah ekonomi, ketimpangan kuasa relasi antara laki-laki dan perempuan membuat perempuan semakin beresiko terpapar HIV.

Menurut PlusNews, ada 5 cara untuk mengurangi resiko terpapar HIV untuk perempuan.

  • Pendidikan, menurut UNAIDS, perempuan yang buta huruf 4 kali lebih percaya bahwa tidak ada cara untuk mencegah penularan HIV, sementara data membuktikan bahwa perempuan di Afrika dan Amerika Latin yang mengenyam pendidikan lebih tinggi, memiliki kecenderungan untuk menunda hubungan seks pertama mereka, dan mempunyai kemampuan untuk memaksa pasangannya memakai kondom. Read the rest of this entry »

October 23rd, 2010

Seorang teman menelpon saya malam hari dengan suara cemas, dia menceritakan tentang anaknya yang kedapatan membuka website porno di komputer yang sudah sedemikian rupa dipasang di ruang keluarga. Yang jadi masalah adalah, anak itu baru berusia sembilan tahun. Seusia dengan anak saya.

Sahabatnya teman yang lain belum lama juga curhat tentang peristiwa yang baru saja dialaminya. Dia dipanggil oleh kepala sekolah anak lelakinya, karena si anak lelaki dipergoki sedang melakukan masturbasi di kamar mandi sekolah. Taman kanak-kanak lebih tepatnya. Ketika ditanya sedang apa, jawabnya, “Meniru yang dilakukan sama om-om di filmnya mama.”

Kita mendengar seruan tentang keterbukaan sudah sejak awal dekade 90-an. Waktu itu saya sendiri masih berusia belasan, dimana tidak berbeda dengan anak-anak yang saya ceritakan tadi, penuh rasa penasaran, penuh dengan pertanyaan tentang seksualitas. Read the rest of this entry »

vaksin HIV sudah ditemukan

August 11th, 2010

Wow.. Saya bisa terkenal kalau orang hanya membaca judul postingan ini. Tapi apa yang saya tulis sebagai judul di atas beneran lho… Jadi, tolong dibaca sampai akhir ya :)

Di Vienna selama konferensi AIDS bulan lalu, vaksin adalah salah satu hilite yang banyak dibahas di sana. Dan ketika media gathering dengan teman-teman media di Yogyakarta minggu lalu, pak Slamet mengemukakan wacana menarik tentang vaksin. Di luar betapa mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk penelitian vaksin HIV, betapa banyak pro-kontra tentang vaksin dan sebagainya, sebenarnya ada sebuah vaksin yang paling mujarab untuk HIV, yaitu INFORMASI.

Kenapa informasi? Read the rest of this entry »

Whoops! Foreplay? Foreplay untuk love making atau having sex maksudnya? Ya iyalah… Kalau foreplay untuk olah raga mah, udah jelas-jelas nggak bisa dilakukan di tempat gelap, kecuali mau kejedot-jedot. Tapi sebenarnya both foreplay ini sama kok konsepnya. Kalau olah raga foreplay-nya nggak boleh di tempat gelap karena kuatir kejedot-jedot, sama, ketika foreplay sebelum making love, juga disarankan di tempat terang, selain biar nggak kejedot-jedot, juga biar paham kondisi satu sama lain. Biar nggak kejedot penyakit yang mungkin menular ke kita. Tapi…

“Yah… nggak romantis dong!!

Ah… malu ahhh…

Aduh, keliatan semua dong, nggak seru…”

Mungkin langsung terdengar teriakan-teriakan itu ya? Let me tell you something, orang mungkin nggak biasa bercinta di bawah terang benderang lampu, dan memilih aman bermain di tempat gelap. Tapi, demi kebaikan kita sendiri, yuwk… mulai belajar foreplay di bawah cahaya lampu yang proper. Kenapa??

Agar kita tahu benar kondisi pasangan kita, dan tentu berlaku sebaliknya, pasangan kita paham kondisi kita. Nah… sampai di sini jangan berpikir bahwa ini berlaku hanya untuk pasangan baru ya. Atau hanya berlaku untuk mereka yang suka berganti-ganti pasangan. Ini berlaku untuk semua umat, laki-laki perempuan, homo hetero, single atau menikah, pasangan tetap atau pasangan sementara. Semuanya. Semua orang yang melakukan hubungan seksual, wajib untuk mengetahui benar apa yang dihadapinya. Misalnya, mengetahui dengan benar kondisi pasangan kita, apakah ada penyakit tertentu di organ seksual pasangan, atau organ yang dipakai sebelum dan ketika berhubungan seksual. Terutama buat perempuan nih, organ seksual perempuan yang memang berada di dalam, cenderung untuk secara pasif menjadi penerima. Belum lagi penyakit-penyakit lain yang mungkin menular ke kita karena bersentuhan. Misalnya penyakit kulit dan lain sebagainya. Read the rest of this entry »

Road to Europe

June 21st, 2010

Pada suatu hari saya selalu bercita-cita untuk berkesempatan pergi ke Eropa. Any country, dulunya sih begitu cita-citanya. Negara apa aja yang penting Eropa. Tapi kemudian jadi spesifik setelah keseringan membaca Femina dan majalah-majalah jalan-jalan. Saya jadi sangat ingin pergi ke Belanda, Jerman dan Swiss.

Tapi untuk mewujudkan impian jalan-jalan ke negara-negara Eropa, tidak semudah memimpikannya. Saya juga bukan orang yang beruntung dalam hal mengikuti undian berhadiah. Jadi saya memang harus menyusun strategi untuk bepergian ke sana dengan modal yang saya miliki. Jangan tanya modalnya apa ya? Pokoknya modalnya bukan duit aja :)

Lalu terbentanglah jalan itu sedikit demi sedikit. Saya mengawalinya lebih dari lima tahun lalu dengan meletakkan gambar-gambar kampus di Eropa di buku impian saya, kemudian memasang peta-peta dunia di kamar saya, lalu membeli buku-buku perjalanan ke sana, as if saya udah mau berangkat. Ditertawakan orang udah nggak heran lagi, udah kebal. Pokoknya waktu itu saya percaya banget kalau saya akan mendapatkan beasiswa ke Eropa aja. Read the rest of this entry »

Yogyakarta, 16 Mei 2010

Malam Renungan AIDS Nusantara 2010

  Malam itu sekitar 600-an orang berkumpul di Main Hall Balai Kota Yogyakarta. Ibu-ibu dan anak-anak kecil yang digandengnya, suami-suami, remaja cantik dan ganteng, teman-teman dari Vesta, Diadjeng, Dimas, Kebaya, Victory, beberapa Rumah Sakit dan Puskesmas di Yogyakarta, mahasiswa, media dan masih banyak lagi. Kami semua berkumpul di sana malam itu untuk sebuah tujuan, mengenang mereka yang lebih dulu meninggalkan kita karena AIDS dan bersama-sama membaharui komitmen, untuk bergandeng tangan memutus mata rantai penyebaran HIV. Bukan untuk membatasi hak hidup mereka yang memiliki HIV di tubuhnya. Acara diramaikan dengan dance yang menarik tentang bagaimana kita bisa bersama-sama menghadapi HIV dengan cinta dan kasih sayang. Kemudian ada puisi karya pak Slamet yang dibacakan mb Diah dengan cantik, juga penyalaan lilin sebagai tanda kepedulian dan keikutsertaan untuk menghentikan penyebaran HIV.

Malam itu saya bertemu dan berinteraksi dengan banyak teman, diantaranya adalah seorang sahabat yang baru saja mengalami sebuah drama. Dia tinggal di Jogja dan baru saja mengungkap status HIV-nya, dan ternyata warga di sekitarnya justru mendidiskriminasi sahabt saya tersebut dan keluarganya. Fiuh… Yang paling pedih, anak sahabat saya yang masih balita, ikut menerima diskriminasi itu. Si kecil ditutup aksesnya untuk bermain dengan anak-anak lain sebayanya, istri dan keluarganya dipaksa untuk melakukan test, dan berbagai tindakan diskriminatif lainnya.Hal ini jelas melanggar hak asasi sahabat saya dan keluarganya.

Tapi tentu saja kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan warga di sekitar tempat tinggal sahabt saya tersebut. Mungkin selama ini mereka tidak mendapatkan informasi yang tepat mengenai HIV/AIDS, mungkin yang ada di kepala mereka tentang HIV/AIDS adalah penyakit menular yang dengan bersentuhan bisa mentransfer virus ke orang lain, atau mungkin juga yang mereka tahu tentang HIV bahwa orang yang terkena adalah mereka yang dikutuk oleh Tuhan, karena perbuatan mereka yang “dianggap” negatif.

Padahal, siapapun bisa terpapar HIV. Pasien dokter gigi yang terpapar karena peralatan kurang steril yang baru saja dipakai merawat pasien ODHA, orang yang mendapat transfusi dari darah yang terpapar HIV, petugas kesehatan yang banyak berinteraksi dengan HIV, istri yang berhubungan hanya dengan satu suami (tapi ternyata suami terpapar HIV), bayi yang dikandung oleh ibu dengan HIV, bayi yang disusui oleh ibu HIV, mereka yang bergantian jarum ketika memakai narkoba, orang yang berganti-ganti pasangan seksual dan terpapar karena aktifitasnya itu, dan sebagainya. Siapa saja dari kita memiliki kans untuk terpapar HIV, termasuk orang yang melakukan diskriminasi terhadap ODHA maupun keluarganya. Read the rest of this entry »

HIV Test

January 26th, 2010

Minggu lalu saya berhasil mengajak sahabat-sahabat saya untuk tour de Hospital untuk mendapatkan HIV Test. Jam setengah 3 sore kami datang ke RS Sarjito. Well, sebenarnya kami sudah siap membawa ‘sangu’ di kepala kami tentang rumah sakit pemerintah. Label lambat, hening dan kumuh sudah tertempel di kepala kami. Maafkan… tapi, memang seperti itu rasanya yang terbayang di kepala kami pertama kali mendengar nama Rumah Sakit Pemerintah. Iya kan? Ngaku aja!

Nah, begini nih, perbincangan kami dengan ibu resepsionis.

  • Dian: Sore bu, untuk VCT dimana ya?
  • Ibu itu: VCT untuk apa ya?
  • Dian: (dalam hati) emang ada berapa VCT? (diucapkan) VCT untuk test HIV mungkin, bu…
  • Ibu itu: Oh… VCT di ruang edelweiss mbak. Tapi udah tutup. Cuma sampai jam 12 siang. Datang aja lagi besok. Tapi kalo besok cuma sampai jam 11.
  • Dian: Ooooo… (Beneran kagum) Emang buka dari jam berapa bu?
  • Ibu itu: Jam 8.
  • Dian: Oooo… Terima kasih bu.

Lalu kepala saya benjol karena dijitakin tiga sahabat saya. Mereka yang sudah meluangkan waktu dan tentu saja nyali untuk melakukan VCT, semangatnya langsung dipadamkan dengan fakta VCT yang buka cuma setengah hari. “Tulis di surat pembaca nggak!!” Kata mereka. Hihi… saya ketawa aja. Mereka cuma membuat semangat saya jatuh saja, itu adalah ekspresi cinta mereka pada saya. Saya tahu pasti itu. Karena buktinya, waktu saya arahkan ke Panti Rapih, mereka bertiga langsung mengangguk setuju tanpa perlawanan. Tentu saja setelah perut mereka diisi masing-masing 4 potong pisang goreng seberang Sarjito dan teh manis di sana.

Saya langsung terbayang bahwa kejadian semacam ini bisa terjadi pada siapa saja dan dimana saja. masih bagus teman-teman saya tetap bersemangat untuk test. Kebayang aja kalau orang sudah disuruh test ogah-ogahan entah karena takut entah karena malas entah karena nggak peduli, eh… giliran sampe di tempatnya, ternyata sudah tutup pula tempatnya. Untuk balik lagi dijamin nggak sebersemangat sebelumnya. Fiuh… Read the rest of this entry »

Tanggal 9 Januari lalu, di tengah Sabtu saya yang tenang, saya menonton berita di Global TV tentang seorang laki-laki di Blitar yang diasingkan oleh keluarganya di kandang sapi. Dia tidak diijinkan masuk rumah dan bersosialisasi dengan anggota keluarga yang lain. Tidur, makan dan semua kegiatan dilakukan di kandang sapi. Apa gerangan yang menyebabkan laki-laki tersebut mengalami perlakuan sedemikian? Rupanya si bapak tersebut dituduh mengidap HIV, karena menderita TBC selama 6 bulan dan tidak sembuh-sembuh.

Saya mengelus dada. Kok masih ada perlakuan yang mendiskriminasi semacam ini? Lalu apa kabar kampanye yang sudah dilakukan sedemikian rupa. Apakah tidak sampai ke telinga mereka, orang-orang yang memutuskan untuk mengasingkan anggota keluarga, tetangga, dan warga desa mereka, kalau mendapati orang tersebut terinfeksi suatu penyakit? HIV atau apapun lah. Apalagi ini masih tuduhan. Si korban belum lagi mengikuti tes untuk mengecek status HIV-nya, apakah benar positif atau tidak. Read the rest of this entry »



  • Name

    URL or Email

    Message


    -->