18.442 orang terinfeksi HIV di Indonesia
December 1st, 2009
Entah berapa 1 Desember yang sudah kita lewati bersama-sama. Sedihnya, setiap tanggal 1 Desember kita masih terus disuguhi bertambahnya angka orang yang terpapar HIV. Yang paling menyedihkan adalah, bukan cuma mereka yang dewasa dan memiliki tanggung jawab penuh atas perilakunya saja yang memiliki resiko tertular. Bahkan istri yang tidak pernah berhubungan seksual dengan orang lain selain suaminya, ternyata juga banyak ditemukan tertular HIV. Tanpa maksud mencari siapa yang salah dan siapa yang terkalahkan, tapi fakta bahwa HIV menjadi semakin common dalam kehidupan kita saat ini, harus mulai disadari bersama-sama.

Di Indonesia, ada 6 propinsi yang dinyatakan sebagai propinsi terkonsentrasi HIV, dimana jumlah orang terpapar HIV sudah mencapai angka lebih dari 5% dari jumlah penduduknya. Propinsi tersebut adalah, Papua, DKI Jakarta, Riau, Bali, Jawa Timur dan Jawa Barat. Yang berada di luar propinsi itu, tidak disarankan untuk langsung berdiri dan bersorak, karena - sekali lagi - fenomena gunung es masih berlaku dalam kasus HIV ini. Sementara teman-teman yang tinggal di enam propinsi tersebut, disarankan untuk segera mengetahui status HIV-nya. Positif ataukah negatif. Read the rest of this entry »
a journalist can save more life than a doctor
September 3rd, 2009
Quote “a journalist can save more lives than a doctor” itu saya dapat di ICAAP 9 di Bali kemarin. Waktu itu seorang jurnalis dari IPCASO yang menetap di Kanada menceritakan pada kami tentang perjuangan sebagai jurnalis di negaranya. Sebentar, nama jurnalis itu adalah Callie Long. Seorang perempuan.

Dia cerita, saat ini di Kanada ada kasus dimana seorang imigran yang sudah 20 tahun hidup di Kanada dan menjadi warga negara di sana selama 10 tahun terakhir ini, belakangan ketahuan positif HIV. Dan karena HIV memang nggak keliatan, dia ‘diduga’ menularkan ke beberapa orang lain. Nah, malangnya si bapak yang lahir di Uganda dan dulunya warga negara Uganda ini, dilaporkan sama orang yang merasa ditulari. Read the rest of this entry »
sex worker is a work
September 1st, 2009
Owh owh owh owh… Judul yang mengundang kontroversi. Ini juga salah satu oleh-oleh saya ICAAP di Bali awal Agustus lalu. Di hari terakhir, ketika akhirnya saya punya waktu untuk jalan-jalan di Asian Pacific Village, yang di hari pertama banyak bagi-bagi souvenir gratis, tapi di hari terakhir itu sudah habis-habisan, ada sebuah demo yang digelar oleh kelompok sex workers baik laki-laki maupun perempuan.

Sebelum saya ceritakan demo itu, saya mundur sehari dulu ya. Hari sebelumnya saya mengikuti symposia yang diadakan oleh ILO. Di dalamnya dibahas tentang pentingnya kita mengajak para pemilik perusahaan, baik kecil maupun besar untuk ikut terlibat dalam upaya pencegahan bertambahbanyaknya penderita HIV. Kenapa? Here is the fact:
- Banyak pekerja proyek yang tinggal semi permanen di gubuk-gubuk bersamaan dengan pekerja lain, baik laki-laki maupun perempuan. Mereka jauh dari keluarga mereka. Ini potensial menjadi kolong-kolong tempat bersembunyinya HIV yang segera siap untuk disebarkan. Read the rest of this entry »
ICAAP 9 day 2
August 28th, 2009
Di ICAAP 9 - Bali kemarin, saya paling hobi keluar masuk kelas-kelas Oral Presentation. Saya sendiri tadinya mengajukan abstraksi untuk Oral Presentation, tapi karena diterimanya Poster Presentation, ya sudah tak apa juga. Poster kan nggak harus all the time ditungguin, maka saya jalan-jalan ke kelas Oral yang lain. Nah, saya satu kelas Oral Presentation yang nancep di kepala saya adalah, tentang kekerasan terhadap perempuan. Waktu itu seharusnya presenter 4 orang, tapi dua orang yang India couldn’t make it, maka cuma dua orang saja. Salah satunya adalah dr. Vu Song Ha dari Vietnam yang sekarang berkorespondensi rutin dengan saya.

DR. Ha ini menceritakan hasil study yang dilakukan sama organisasinya dia, regarding kasus kekerasan yang dilakukan suami di sebuah kota di Vietnam. Fiuh… saya sampe nangis di dalam ruangan itu. As well as other women did. Bayangin aja, beberapa istri itu, ada yang dipaksa melayani suaminya terlalu sering. Kalau menolak mereka akan dipukul, atau di-abuse verbally, dengan bilang, “Heh! Kamu tahu kan, aku nggak cuma tidur sama kamu! Masih untung kamu aku ‘jatah’, jadi jangan pernah nolak lagi!” God… kemana hatinya? Ada lagi yang setiap kali berhubungan selalu melakukan sesuatu yang menyakiti si istri. Padahal umur perempuan itu sudah 45 tahun. Read the rest of this entry »
ICAAP 9 day 1
August 27th, 2009
Ada banyak sekali oleh-oleh yang saya bawa sepulang dari ICAAP 9 (International Congress on AIDS in Asia and the Pacific) di Bali awal Agustus lalu. Maka ijinkanlah saya membuat satu lagi kategori sebagai bukti dari komitmen saya terhadap HIV/AIDS di muka bumi ini.

Hari pertama saya di sana, ikut pre congress forum yang berjudul Woman Including Lesbian Forum. Ada kurang lebih 100 perempuan di dalam ruangan itu. Selesai prosesi standard sambutan dari kepala keamanan dan seorang panitia dari Malaysia, langsung muncul pertanyaan dari peserta: “Kenapa di ruangan ini begitu banyak laki-laki? Padahal ini Woman Forum.” Lalu terjadi pro kontra. Bu Erna dari WHO berpendapat bahwa laki-laki boleh tetap tinggal untuk memberikan dukungan mereka terhadap gender equity, sementara seorang jurnalis dari India tetap keberatan, kecuali suara itu muncul dari laki-laki sendiri.
Sadly, nggak ada laki-laki yang buka suara. Malah dua orang bilang di forum kalau mereka akan keluar, jika memang tidak dikehendaki keberadaannya. Lalu seorang pria malah memegang mic dan bilang, “Without man, there will be no woman.” Waduh… tambah seru lah, insiden pagi itu. Antara memang si bapak itu sangat patriarkis, atau bisa jadi dia nggak paham sama yang diucapkannya. Jadi mari kita maafkan dia.













