payday loans

Kantor Imigrasi Depok

August 1st, 2011

Internet adalah salah satu senjata sekaligus kamus saya belakangan ini. So does every body else mungkin ya. Seperti misalnya ketika saya berusaha menemukan letak kantor imigrasi di kota Depok bulan yang lalu.

Dari beberapa blog yang saya kunjungi, saya menemukan alamat kantor imigrasi depok. Ada yang bilang di dekat kantor walikota, ada yang di Jl. Dahlia, ada juga yang dekat kantor walikota atau di dekat BNI Depok. Baiklah, ketika alamat yang saya temukan di internet itu tidak terlalu berjauhan satu sama lain, maka saya bersepakat dengan teman untuk naik angkot dari arah Margonda. Tetapi alhasil, saya sampai naik angkot 3 kali dan tidak menemukan kantor imigrasi di dekat-dekat ketiga lokasi tersebut, sampai akhirnya saya menanyakan pada seorang petugas keamanan kantor walikota dan mengetahui bahwa kantor imigrasi sudah berpindah ke kota kembang.

Du du du du…

Jadi teman-teman, kalau berniat untuk membuat paspor atau memperpanjang paspor di kota Depok, silahkan ke kantor imigrasi yang alamatnya ada di Jl. Boulevard Grand Depok City di Kota Kembang – Depok. Kantornya berada di lingkungan perkantoran DPRD Depok, persis di seberang kantor Pengadilan Agama Depok.

Mengurus paspor di Kanim Depok ini masih menyenangkan karena antrian tidak terlalu ramai. Petugasnya juga ramah-ramah. Butuh waktu 3 hari untuk menunggu dari proses penyerahan dokumen-dokumen persyaratan untuk sampai di tahap wawancara dan pengambilan foto. Dari pengambilan foto dan wawancara sampai paspor jadi juga cuma butuh waktu 5 hari kerja.

So… we’re ready to travel around the globe now :)

viagra online viagra prescription

Malam ini saya merasa biasa saja menonton kemenangan Manchester United (MU) atas sebuah perhelatan berjudul Liga Primer. Karena saya bukan penggemar MU dan di atas itu semua, saya bahkan sama sekali bukan penggemar sepak bola. Saya menonton sepak bola belakangan ini, karena saya sedang dekat dengan orang yang berhasil memaksa saya menemaninya menonton setiap laga MU.

Tapi malam ini, melihat seluruh kru yang terlibat membangun MU menjadi sebuah tim hebat berdiri di tengah lapangan, menyaksikan satu per satu manusia-manusia berseragam merah dengan senyum bahagia, melihat wajah datar Van der Saar ketika berpamitan, karena dia tak mampu menahan laju usia, menyaksikan angka 19 sebagai lambang berapa kali MU sudah menjuarai Liga tersebut, membuat saya tidak kuasa untuk ikut terharu.

Lebih dari kemenangan-kemenangan yang pernah diraih oleh MU, saya lebih merasa disentuh dengan keras oleh orang-orang yang mendapat kehormatan membawa piala ke tengah lapangan. Seorang laki-laki berseragam tentara dengan dua kaki yang sudah diganti logam, mata tertutup satu, beberapa bekas luka lain di wajahnya, seorang lagi di sebelahnya berjalan tidak setegap tentara pada umumnya. Saya curiga dia juga memiliki salah satu kaki yang sudah diganti. Ya, mereka adalah korban-korban perang yang hari itu mendapatkan penghormatan dengan membawakan piala kemenangan untuk juara Liga Primer tahun ini. Saya menelan ludah.

Boleh dong, kalau saya bermimpi suatu saat negeri ini memiliki hal-hal indah dari peristiwa yang saya saksikan malam ini di televisi?

  • Sebuah tim – tidak hanya sepak bola – yang solid dan jujur dan berjuang sampai titik darah penghabisan.
  • Sebuah penghormatan terhadap mereka yang berjasa pada bangsanya. Maaf OOT, saya jadi ingat penghargaan yang diberikan oleh RCTI pada Taufik Kemas sebagai wakil rakyat tahun ini. Oh… kalau dibandingkan dengan Jusuf Kalla dan kandidat-kandidat lainnya, saya rasa pak Taufik masih harus berjuang lebih keras untuk mendapatkannya. Anyway…
  • Sebuah loyalitas. Saya ingat Ryan Giggs sudah bermain di MU sejak saya belum boleh nonton bola karena terlalu malam acaranya.

Saya rindu itu semua. Karena ketika saya menengok kembali ke negeri saya. Saya merasa masih jauh dari itu semua. Saya jadi berdo’a semoga ponakan saya yang minta dibelikan seragam MU abal-abal beberapa hari lalu, akan menjadi pemain bola yang tangguh dan orang yang jujur suatu saat kelak.Gambar dari sini 

Viagra can you buy viagra online

Tanggal 8 Maret lalu kita memperingati hari perempuan sedunia. Ada apa dengan satu abad peringatan hari perempuan dalam hidup saya? Saya melakukan rutin saja, dan menulis renungan ini untuk mengingatkan diri saya sendiri dan teman-teman bahwa sesungguhnya kita masih terus menghadapi masalah-masalah yang belum ditemukan penyelesaiannya. Memang kondisi perempuan saat ini jika dibandingkan dengan 100 tahun yang lalu jelas berbeda. Banyak hal yang sudah dicapai dalam sejarah perjuangan perempuan. Tapi bahwa kita belum selesai mengatasi masalah kekerasan terhadap perempuan, hak asasi perempuan, terutama masalah kesehatan, dan khususnya HIV.

Sampai detik ini perempuan masih memiliki resiko besar terpapar HIV. Dan menurut WHO, angka kematian tertinggi untuk perempuan usia 15 – 44 tahun adalah karena HIV. Faktor biologis, kurangnya akses informasi & layanan kesehatan, masalah ekonomi, ketimpangan kuasa relasi antara laki-laki dan perempuan membuat perempuan semakin beresiko terpapar HIV.

Menurut PlusNews, ada 5 cara untuk mengurangi resiko terpapar HIV untuk perempuan.

  • Pendidikan, menurut UNAIDS, perempuan yang buta huruf 4 kali lebih percaya bahwa tidak ada cara untuk mencegah penularan HIV, sementara data membuktikan bahwa perempuan di Afrika dan Amerika Latin yang mengenyam pendidikan lebih tinggi, memiliki kecenderungan untuk menunda hubungan seks pertama mereka, dan mempunyai kemampuan untuk memaksa pasangannya memakai kondom. Read the rest of this entry »

lingkaran setan kejahatan

March 2nd, 2011

Hari ini saya bekerja di rumah dan sengaja meniatkan diri untuk meng up date web. Belakangan memang ada hal yang saya harus berikan konsentrasi penuh. Pekerjaan baru, tanggung jawab baru dan itu menyita perhatian penuh saya.

Sebelum menulis ini, saya memperkaya otak sedikit dengan membuka-buka website berita up date. Dan yang paling menarik saya adalah berita tentang orang miskin yang terlupakan dari liputan 6 dot kom. Lagi-lagi korbannya adalah anak-anak. Perempuan dan anak-anak memang sering kali menjadi korban kemiskinan.

Saya jadi ingat – ini sekaligus memenuhi janji saya untuk menceritakan tentang teman-teman baru saya di penjara – dua orang ibu bernama S dan S, yang keduanya baru saja mengabari sahabat saya, kalau mereka baru saja pulang dari penjara. Saya bukan main girangnya mendengar ada teman-teman baru yang berhasil menyelesaikan ‘kuliah’nya di penjara. Tapi sayangnya, berita berikutnya tidak terlalu menyenangkan. Ibu S pertama tidak dijemput siapapun dari rumah, padahal rumahnya 5 jam dari kota tempat dia dipenjarakan, tidak memiliki uang, tidak tahu harus kemana dan bahkan keluarganya tidak tahu kalau dia pulang hari itu. Ibu S kedua terpaksa mencari kos di untuk menambung si teman ini dan kedua anaknya, karena dia diusir dari rumah kontrakannya yang lama.

Cerita selanjutnya kami belum mendapatkan kabar lagi dari mereka karena telpon tidak bisa dihubungi, tapi rasanya saya sudah bisa mereka-reka di atas kepala saya. Mereka akan kembali menjadi sasaran yang empuk bagi jaringan kejahatan, menjadi semakin terpinggirkan, dari orang terpenjara menjadi orang terbuang. Lalu hanya masalah waktu saja yang akan membawa mereka kembali ke penjara.

Ini benar-benar seperti lingkaran setan yang sulit sekali memutuskannya. Bulan lalu saya bertemu seorang sahabat yang sudah 5 kali masuk penjara. Dia bercerita bahwa nyatanya hidup di luar jauh lebih sulit. Memutuskan rantai ketergantungan terhadap ‘bos’nya juga bukan perkara mudah. Ada nyawa dan perut yang dipertaruhkan di sana.

Jadi siapa yang bisa membantu mereka? Saya nggak mau jauh-jauh menengok ke gedung putih atau gedung DPR yang akan direnovasi itu, walaupun kalau mereka punya malu sih, biaya renovasinya bisa dipakai untuk yang lebih berguna dulu, tapi saya mau mengajak menengok ke kiri dan kanan pundak kita saja. Keluarga, saudara, sahabat, tetangga, ada tidak diantara mereka yang mungkin perlu kita bantu seperti kedua ibu S tadi? Kalau ada, yuk, kita bantu bareng-bareng… Supaya lingkaran kejahatan di sekitar kita bisa diputuskan.

Mariiii…

Beberapa hari lalu, sahabat saya baru saja mengikuti sebuah acara yang diadakan oleh US Embassy tentang crime over children. Iya, kejahatan yang mengancam anak-anak kita, dari mulai trafficking, kekerasan fisik, emosional, ekonomi sampai seksual, dan sebagainya yang dilakukan oleh orang dewasa. Sekarang saya mau berkonsentrasi dengan kejahatan yang mungkin menimpa anak kita, sehubungan dengan keramaian dunia maya ini dulu saja.

Sebenarnya bukan dari dunia maya saja, anak-anak kita perlu dilindungi, tapi dari dunia manapun, anak kita membutuhkan perlindungan. Yang saya sebut dengan anak adalah, siapapun yang berusia di bawah 18 tahun, baik anak kandung ataupun bukan (bisa adik, keponakan, anak tetangga, anak teman bahkan anak yang tidak kita kenal tapi bersinggungan dengan kita). Read the rest of this entry »

dimulai dari saya

November 24th, 2010

Ayo… udah pada ikutan kompetisi “dimulai dari saya” belum??
Wah, malah ada yang baru dengar?
Gini gini… Jadi dalam rangka mendukung kampanye global untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan, PBB di Indonesia mengadakan kompetisi online dengan nama ‘Dimulai dari saya!’


Kompetisi ini merupakan sebuah bentuk campaign untuk mengajak laki-laki agar semakin bersuara untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan dengan dimulai dari dirinya sendiri. Laki-laki menjadi sasaran utama karena umumnya mereka yang terlibat upaya menghentikan kekerasan terhadap perempuan adalah para perempuan juga. Campaign ini dibuat dalam bentuk kompetisi online untuk menjangkau masyarakat, terutama laki-laki, yang jarang terpapar isu kekerasan terhadap perempuan. Namun, perempuan juga diajak menjadi peserta dan bersuara untuk mendukung hak mereka hidup bebas dari berbagai bentuk kekerasan. Read the rest of this entry »

Setelah enam tahun menginginkan untuk mengikuti sayembara ini, akhirnya tahun ini tekat saya sudah bulat untuk mengikuti sayembara ini. Ada yang mau menemani saya mengikuti sayembara ini? Ini dia penjelasan detilnya:

Sayembara dua tahunan ini terbuka bagi siapa saja, baik dari pengarang Indonesia yang sudah punya nama maupun pemula, yang memperlihatkan kebaruan dalam bentuk dan isi. Sayembara ini adalah salah satu wujud rangsangan dalam meningkatkan kreativitas pengarang Indonesia dalam penulisan novel. Lewat sayembara ini DKJ berharap lahirnya novel-novel terbaik, baik dari pengarang Indonesia yang sudah punya nama maupun pemula, yang memperlihatkan kebaruan dalam bentuk dan isi. Adapun persyaratannya sebagai berikut:
Read the rest of this entry »

Whoops! Foreplay? Foreplay untuk love making atau having sex maksudnya? Ya iyalah… Kalau foreplay untuk olah raga mah, udah jelas-jelas nggak bisa dilakukan di tempat gelap, kecuali mau kejedot-jedot. Tapi sebenarnya both foreplay ini sama kok konsepnya. Kalau olah raga foreplay-nya nggak boleh di tempat gelap karena kuatir kejedot-jedot, sama, ketika foreplay sebelum making love, juga disarankan di tempat terang, selain biar nggak kejedot-jedot, juga biar paham kondisi satu sama lain. Biar nggak kejedot penyakit yang mungkin menular ke kita. Tapi…

“Yah… nggak romantis dong!!

Ah… malu ahhh…

Aduh, keliatan semua dong, nggak seru…”

Mungkin langsung terdengar teriakan-teriakan itu ya? Let me tell you something, orang mungkin nggak biasa bercinta di bawah terang benderang lampu, dan memilih aman bermain di tempat gelap. Tapi, demi kebaikan kita sendiri, yuwk… mulai belajar foreplay di bawah cahaya lampu yang proper. Kenapa??

Agar kita tahu benar kondisi pasangan kita, dan tentu berlaku sebaliknya, pasangan kita paham kondisi kita. Nah… sampai di sini jangan berpikir bahwa ini berlaku hanya untuk pasangan baru ya. Atau hanya berlaku untuk mereka yang suka berganti-ganti pasangan. Ini berlaku untuk semua umat, laki-laki perempuan, homo hetero, single atau menikah, pasangan tetap atau pasangan sementara. Semuanya. Semua orang yang melakukan hubungan seksual, wajib untuk mengetahui benar apa yang dihadapinya. Misalnya, mengetahui dengan benar kondisi pasangan kita, apakah ada penyakit tertentu di organ seksual pasangan, atau organ yang dipakai sebelum dan ketika berhubungan seksual. Terutama buat perempuan nih, organ seksual perempuan yang memang berada di dalam, cenderung untuk secara pasif menjadi penerima. Belum lagi penyakit-penyakit lain yang mungkin menular ke kita karena bersentuhan. Misalnya penyakit kulit dan lain sebagainya. Read the rest of this entry »

Slow Food

January 31st, 2010

Sadar nggak, bahwa saat ini kita sudah dituntun untuk hidup dalam budaya cepat? Dandan sambil makan, ngetik sambil nerima telpon, ngobrol sama teman di cafe sambil twitteran sama entah siapa, main game di kantor sambil dengerin orang ngomong di meeting, bahkan yang paling parah, naik motor sambil SMS-an. Ah, so…

Kenapa semua itu terjadi? Karena kayaknya 24 jam udah nggak cukup lagi buat kita. Bahkan kalau 24 jam itu kita pakai tanpa tidurpun, rasanya masih kurang. Ada aja yang mesti dikerjakan, semuanya berkejaran. Sehingga muncullah fast lifestyle. Dimana para ibu tidak lagi sempat memasakkan anak-anaknya sayur bayem dan sop cakar, dimana resto cepat saji menjadi tujuan makan siang, pagi dan malam, dimana setiap lemari pendingin di rumah menyediakan sosis dan nugget. Semua yang serba cepat menjadi solusi. Instant generation katanya.

Tapi, pernah terbayang nggak, apa saja kandungan gizi yang ada di makanan cepat saji itu? Bagaimana produsen memastikan kehigienisannya pernahkah menjadi pemikiran? Saya dulu tidak. Tapi belakangan gaya. Suka mikir-mikir aja sendiri. Kok ya, saya tega memasukkan makanan ke dalam mulut saya, tanpa saya tahu asalnya. Fiuh… Apalagi setelah saya ketemu dengan teman-teman hebat di Jogja, prof. Mur, mbak Ambar, mas Deka, cs, yang memperkenalkan dan mengajak saya bergabung dengan komunitas slow food. Read the rest of this entry »

anti social urge

October 30th, 2009

Karena berniat untuk menjadi orang yang sehat supaya tubuhnya bisa diajak mewujudkan mimpi-mimpi, beberapa minggu terakhir ini, selain bangun super pagi, saya juga tidak lagi pergi ke laundry. Hahaha… ini sih alasan karena mau ngirit aja. Saya mencuci baju sendiri, lalu menghidupkan musik dengan volume standard yang bisa saya nikmati tapi tidak mengganggu orang lain, joget-joget sebagai ganti jogging pagi hari, tinju-tinju sana-sini untuk melepaskan emosi, duduk sebentar, membuat susu, menghabiskannya, lalu ngantuk lagi. Jam 8 pagi saya sudah mulai berjalan kaki menyusuri Lempuyangan sampai ke kantor saya di dekat Kridosono. Jangan bayangkan jarah yang jauh ya. Tidak lebih dari 10 menit saya berjalan kaki ke sana sambil ngobrol dengan teman seperjalanan saya, mbak Rini. Tapi sepanjang 10 menit itu, selalu ada hal baru yang saya dapatkan.

Hari ini saya beruntung berpapasan dengan ratusan murid SMA 11 bersama guru-guru mereka, yang beramai-ramai bersepeda. Diantaranya bahkan ada yang memakai becak. Bukan becak dengan mereka sebagai penumpang lho. Tapi becak yang mereka genjot sendiri, dengan teman-teman sebagai penumpangnya, dan saya yakin di titik tertentu mereka akan berhenti dan minta gantian genjot dengan yang lain. Fiuh… masa SMA memang luar biasa indah. Halah! Bukan itu intinya. Di barisan paling belakang dari ratusan murid SMA 11 Jogja itu, saya baru mendapatkan penjelasan dari rombongan sepeda tersebut. Yak, sebuah mobil dengan spanduk di belakangnya bertuliskan SAVE OUR EARTH. Owhhh… mengagumkan. Sebuah kampanye yang indah.

Di hari lain, saya mendapatkan mulut saya harus bungkam dulu karena sebuah motor melintas dengan knalpot racing yang suaranya memekakkan gendang telinga saya. Aduuuhhh… Kamu ada masalah ya nak? Ingin rasanya saya menanyakan itu. Apa sih, yang ada di pikirannya ketika memasang knalpot racing tapi memakai motornya tidak untuk racing. Tadinya saya hanya mengklasifikasikan tindakan-tindakan tersebut sebagai tindakan gaya-gayaan, tapi berikutnya, ketika teman-teman macam pemilik knalpot racing itu mulai mengganggu kehidupan orang lain, mereka mulai masuk kategori egois. Yet, anti social. Dan saya mengenal orang-orang anti social itu dimana-mana dalam bentuk: Read the rest of this entry »



  • Name

    URL or Email

    Message


    -->