Ambar Margi: f. Perawan Tua

Aku terus dibesarkan sebagai ‘anak nakal’ ibu. Sedikit sekali kenangan yang kuingat tentang bagaimana aku dan ibu bisa tersenyum bersama. Hampir semua yang kulakukan adalah kesalahan. Membantu mengangkat padi untuk menghindarkannya dari siraman hujan saja, tetap salah. Aku seharusnya tidak meletakkan mereka di dalam rumah lah, bukan begitu cara mengangkat...

Read More →

Ambar Margi; d. Tak Lelo Ledung

Aku tidak ingat bagaimana aku ditimang ketika masih dalam buaian. Aku juga sudah lupa bagaimana bunyi detak jantung ibu ketika mulutku menyecap air susu di dadanya. Ingatan pertamaku adalah ketika ibu mendorong dengan keras aku yang membuat air susunya berwarna kemerahan. Air susu itu bercampur darah karena gigitanku di putingnya....

Read More →

Wong Fu Kie

Dia menarikku turun dari taksi online yang sudah setengah jam tidak bergerak di keramaian pasar, tepat di depan toko yang penuh sesak dengan mainan. Keputusan tepat, hanya lima menit waktu yang kami butuhkan untuk sampai di tujuan. Tetapi dengan mobil, mungkin bisa lebih dari satu jam. Kami meliuk-liuk ala Gal...

Read More →