Pada suatu pagi, seekor ulat merayap di pohon bunga Matahari. Dia merasa saatnya sudah tiba. Bulu-bulunya harus segera rontok, badannya akan beku. Mungkin dia juga akan kehilangan teman. Mendekam, bersemedi di dalam kepompong. Ulat tidak takut. Cukup sudah hidup yang dijalaninya sebagai ulat. Sekarang saatnya menjadi aneh, asing, beda dan kembali ke dunia yang sama sebagai seekor kupu.
Ulat memutuskan untuk bermeditasi, bersemedi, mengurung diri di batang pohon …
Dia bergeral dan berayun-ayun terus mencoba mengajak sang pohon untuk berbincang. Setidaknya perbincangan terakhirnya sebelum surut dan bermetamorfosa menjadi cantik. Menjadi dirinya sendiri dalam bentuk yang lebih baik, bukan lebih sempurna karena memang tidak ada yang sempurna di muka bumi ini, tapi lebih indah.
Pohon itu, karena sudah berdiri di tempat yang sama, dihinggapi berpuluh-puluh hewan, sama sekali tidak bergeming mendengar ajakan bicara sang Ulat.
Read the rest of this entry »

cerpen lama

March 19th, 2008

Musim panas di Laredo benar-benar mengingatkanku akan Indonesia. Bahkan mungkin Laredo jauh lebih panas dibandingkan negara tempatku dilahirkan. Biarpun begitu, berlibur di Laredo mengikuti kata hati, adalah sesuatu yang tidak akan kusesali.
Semua bermula ketika Dewa, seorang pria yang kupacari selama setahun terakhir membatalkan lamarannya. Sangat memalukan. Seorang perempuan yang sudah waktunya kawin, setelah bertahun-tahun menundanya, hanya untuk menemukan lelaki yang tepat, akhirnya justru ditolak. Menurut ibuku ini yang namanya karma.
“Makanya to Il, ibu kan sudah bilang sejak dulu, jangan suka mempermainkan laki-laki. Kalau sudah begini, bukan cuma kamu kan yang malu. Semua keluarga ikut tercoreng mukanya.” Read the rest of this entry »

Parasit Semut

February 28th, 2008

Aku cuma semut. Kecil, hitam, kotor, tidak berarti dan sering kali dianggap sebagai penganggu. Parasit. Pencuri. Perasaan itu selalu muncul setiap kali aku bertemu orang di dalam rumah ini. Aku merasa mereka akan melihatku seperti melihat semut. Jijik, risih, geli, ingin menepisku, mengibaskan tangan, bahkan seandainya aku matipun, rasanya mereka justru lega. Keberadaanku hanya mengganggu saja. Padahal awalnya tidak begitu.

Mama Lani mengambilku dari panti asuhan waktu aku sudah berumur 10 tahun. Aku waktu itu seperti anak simpanse yang baru saja memiliki keluarga baru. Read the rest of this entry »

spider web

January 24th, 2008

Di toilet
Kamu tahu nggak, ternyata Asri yang tiap pagi ketemu kita di lift itu bisa dipakai juga. Bisik Rini pada Juli di toilet kantor. Ternyata kantor di bawah kita memang sarang cewek-cewek begituan.
Lagi butuh duit kali. Walaupun berlagak cuek tapi Juli memperhatikan juga. Eh, tapi, masak sih? Siapa yang bilang?
Sumber yang bisa dipercaya.
Iya. Tapi siapa?
Masak kamu nggak percaya sama aku? Memangnya aku pernah bohong?
Read the rest of this entry »

sang pencari

January 24th, 2008

Kutemukan sudah apa yang kucari. Selebihnya jadi tidak berarti lagi.
Memandang ke arah kota tempatku dilahirkan seperti merasa lahir kembali dalam dimensi yang berbeda dengan derajat yang lebih tinggi. Sombongkah aku?
Mungkin aku hanya kelewat bangga setelah melalui perjalanan yang panjang dan tidak mudah. Mendaki, menuruni, memanjat, meluncur, terjatuh. Seperti kehidupan yang kujalani saat ini. Read the rest of this entry »

jauh

January 24th, 2008

Jauh
“Berjalanlah… jarak tidak akan tertempuh tanpa kau jalani…”
Tinggi
“Mendakilah… karena ketinggian hanya bisa didaki.”
Dingin
“Sedekaplah… peluk dirimu sendiri.”
Licin
“Berpeganglah agar kau tidak tergelincir.”
Read the rest of this entry »

kota bahagia

January 19th, 2008

Pernahkah kamu masuk ke kota bahagia? Kalau belum, sekarang kubantu kamu untuk membayangkannya. Pejamkan mata. Fokus pada sesuatu yang membahagiakan. Sesuatu seperti kelahiran, jatuh cinta, atau mendapatkan impian. Jangan buka mata sebelum seluruh inderamu merasa rileks dan setiap sentuhan dapat menciptakan getaran. Jangan merasa berada di dalamnya sebelum kamu dapat mengikhlaskan semua perasaan. Pikirkan apa saja sampai setiap kejadian bisa membuatmu tersenyum. Bukan tersenyum pahit atau sinis, tapi senyum yang diberikan oleh seorang bayi pada malaikat penjaganya.
Read the rest of this entry »

kosong

January 18th, 2008

It was all perfect. Was.
Yosi adalah laki-laki yang sempurna untukku. Sepuluh tahun lebih perbedaan usia kami tampak semakin melengkapi kesempurnaan ini.
Pesta itu. Pesta itu tak henti-hentinya menyunggingkan senyum di sudut bibirku. Bahkan sampai saat ini, setelah lima tahun berlalu dan seharusnya aku mengutuk perkawinan ini, aku masih saja mengenang musiknya, aroma berbagai makanan yang ada, siapa saja tamu yang datang. Semuanya. Pesta itu memang tidak layak disebut pesta sama sekali. Tidak ada gaun pengantin, bunga di sana-sini, gamelan megah, dekor meriah, dandan berlebihan dan aroma parfum pengunjung yang berbaur di sana. Read the rest of this entry »

patah

January 18th, 2008

Haruskah langit mendung untuk menggambarkan perasaanku yang hancur saat ini. Matahari bahkan bersinar begitu cerah. Sudah tiga minggu hujan tidak turun. Udara pagi yang indah ini sama sekali tidak bisa kunikmati. Tidak kicau burungnya, tidak juga hangatnya sinar matahari, bukan merekahnya bunga melati. Tidak. Tak ada satupun yang terasa indah di indraku. Yang kuingat masih nafas berat itu. Yang setiap pagi diiringi batuk karena alergi dingin. Bahagiakah aku terbebas dari beban setiap pagi harus membetulkan selimutnya, mematikan pendingin ruangan? Senangkah aku karena tidak harus terbangun setiap kali dengkurnya mengeras?
Bahkan arti senang dan bahagia mulai kabur bagiku saat ini. Rumah indah dengan pagar tanaman seperti mimpi masa kecilku? Tidak lagi setiap jengkal tanah telanjangnya membuat bulu halus di tengkukku meremang. Read the rest of this entry »

olivia dan gadis korek api

January 18th, 2008

Aku tidak mengerti kenapa ibu melakukannya padaku. Setiap kali aku tidak paham apa yang ibu katakan, dia bilang aku bodoh. Padahal sebenarnya aku hanya ingin ibu mengulang sekali lagi perintahnya. Aku sering berpikir ibu tidak sayang padaku. Ibu memang tidak pernah memukulku. Tidak seperti yang sering dilakukan ibunya Ryan atau Fajri kalau mereka pulang sekolah dengan baju dan wajah yang kotor karena baru saja berkelahi. Tapi ibu kedua temanku ini selalu memeluk anak mereka setelah memukul. Kadang aku ingin ibu memukulku, mencubit atau mencakarku kalau ibu mau. Asal setelah itu, ibu mau memelukku.
Read the rest of this entry »