sebuah catatan

January 12, 2015

Bukan Kita

Filed under: that two cents,the journey,the precious ones — dian @ 12:23 pm

Sebenarnya judul yang pas adalah, it’s never us. Tapi karena saya cinta bahasa Indonesia, maka semoga judul “Bukan Kita” cukup mewakili.
Tulisan ini mestinya sudah selesai hari Minggu lalu, karena pembicaraan yang dirangkum dalam tulisan ini terjadi pada hari Sabtu. Semoga ingatan-ingatan saya belum terkikis-terkikis amat setelah melewati dua kali tidur malam.

Begini ceritanya, awalnya saya bertemu dengan seorang sahabat untuk membicarakan kemungkinan untuk membantunya menulis mengenai sesuatu yang berhubungan dengan Harta Karun Padang (sebut saja demikian). Setelah mendengar panjang lebar mengenai Padang, rumah Gadang, perdatukan dan banyak hal lagi tentang Padang, kemudian pembicaraan bergeser pada takdir. Yay! Sudah berjuta-juta tahun sejak terakhir kali saya berdiskusi tentang masalah ini dengan orang lain.
Pertanyaan sederhananya adalah, “Apakah kita berperan sebesar yang kita pikirkan pada hidup kita?”
Fiuh…
Saya dan kami semua di meja makan itu berargumen mengenai jawabannya.
X: Kalau gue nggak mengejar si A, maka rapat itu nggak bakal kejadian, dan apa yang sudah kita dapatkan ini nggak kejadian dong?
Y: Kalau saya nggak berupaya untuk ketemu sama anak saya, maka dia nggak akan pernah tahu kalau ibunya mencari dia dong?
Z: Kenapa sih, gue harus kerja susah-susah kalau ini semua sudah ditakdirkan? Mestinya kan duduk aja di rumah, kalau kun fayakun, maka ya harta gue datang sendiri dong?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jawabannya sangat debatable.

Kita sering kali berpikir bahwa apa yang terjadi pada diri kita adalah karena kita yang menginginkannya dan karena kita sudah berusaha keras untuk mewujudkannya. Maka alam semesta mengabulkan yang kita inginkan. Saya saat ini, lebih dari kapanpun berpikir sangat seperti itu. Makanya saya marah ketika ada orang yang menurut saya mendholimi saya, saya kecewa ketika ada pihak yang harusnya membantu memudahkan hidup saya, malah menepis dengan kata-kata manis, saya sedih dan diam-diam pundung karena merasa tidak dihargai sebagaimana yang saya harapkan, dan seterusnya.
Tetapi dengan teori yang dikemukakan sahabat saya tadi, seharusnya kecewa, marah dan pundung itu nggak perlu terjadi. Kecewa, marah dan sedih atau perasaan-perasaan lain, bahkan bahagia sekalipun adalah hal-hal yang masih ada di level body dan perasaan. Mestinya kalau sudah ada di level ruh, yang konon kabarnya akan mendekatkan kita pada sang pencipta, maka semua dikembalikan lagi ke atas sana – semoga letaknya memang benar di atas.

Duh, kalau sampai di sini mau mulai berhenti membaca, silahkan lho ;-)
Saya juga mulai pusing. Karena saya orang yang percaya bahwa nasib kita ada di tangan kita. Ini refer pada misalnya, saya adalah korban KDRT, kalau saya tidak berkeinginan untuk keluar dari lingkaran kekerasan, kalau saya tidak minta bantuan LSM, kalau saya tidak menghentikan pelaku melakukan kekerasan, maka nggak ada ceritanya saya berhenti menjadi korban, kecuali nyawa saya berakhir. Misalnya seperti itu.
Demikian juga untuk kasus lain. Kalau saya nggak belajar dengan keras, masa’ iya saya lulus ujian. Eh, tapi banyak orang yang belajar dengan sangat keras dan nggak lulus juga lho. Jadi? Dan saya juga sering berpikir bahwa saya beruntung. Atau, kalau sedang bermasalah, saya sering kali bilang bahwa saya orang paling malang di dunia, atau menyalahkan diri sendiri karena kurang usaha.

Eh, tapi itu ternyata berat ya, untuk menyerahkan hidup kita pada diri kita sendiri. Bikin stress, marah dan nggak let go. Kalau ada yang nggak sesuai sama standar kita, kita marah atau sedih. Duh, capek juga ya… Maka ide bahwa segala sesuatu sudah ada yang mengatur, bahwa siapapun yang sedang kita hadapi sesungguhnya juga bukan dia-dia juga, karena mereka nggak lebih dari kita – sesama wayang, membuat saya bisa bernafas agak lega. Kenapa? Karena kalau ada hal buruk yang terjadi di luar rencana kita, maka kita bisa melepaskan diri dan (kalau mau) menyalahkan pihak lain yang maha bertanggung jawab itu.

Kita semua adalah wayang, gitu sederhananya. Jadi kalau saya mau sombong bahwa saya sudah mencapai a,b dan c, maka alangkah malunya saya, karena kita ini cuma wayang yang digerakkan untuk mencapai a, b dan c. Pemikiran ini juga menyenangkan sekaligus menenangkan. Jum’at malam lalu, ketika saya sedang berpikir dengan level body dan perasaan, saya merancang-rancang apa yang akan saya katakan pada orang yang – menurut saya – menyakiti perasaan dan merenggut hak saya, semua rancangan saya adalah makian dan sumpah serapah. Sekarang? Setelah berbicara panjang lebar dengan sahabat-sahabat saya itu, saya sedikit bergeser, kalau ada yang akan saya katakan pada orang-orang tersebut, maka kata-kata tersebut adalah, “Saya memaafkan kalian.” Lalu lanjutannya di dalam hati, “Toh kalian sama wayangnya dengan saya.”

Satu hal yang menarik dari pembicaraan Sabtu lalu adalah, bahwa ada konsep reinkarnasi dalam setiap ruh. Kalau kita tidak mengerjakan PR kita di kehidupan yang sekarang ini, maka kita akan dihidupkan lagi untuk mengerjakan PR. Jadi, ini artinya bahwa kita yang hidup di bumi sekarang ini adalah ruh dari kehidupan sebelumnya yang bandel dan nggak bikin PR. Duh! Masa’ saya jadi orang bandel terus? Bukan cuma bandel dari kecil, tapi bahkan bandelnya lintas kehidupan gini.
Jadi, gimana dong biar PR-nya selesai? Let go! Percayakan hidupmu pada yang bikin hidup, gitu katanya jawabannya. Aaarrrggghh!! Berat ya… Katanya kita punya free will? Nah, menurut diskusi Sabtu lalu, free will adalah godaan yang lain lagi. Ketika kita berpikir bahwa semua capaian kita adalah berkat free will kita, maka kita belum mengerjakan PR. Hmm… saya jadi ingat, pada suatu masa di tahun 2006, ketika saya selama 3 bulan tinggal sekamar dengan Iteng aka. Niken Puspitaharum, setiap pagi doanya adalah, “Tuhan Yesus, hilangkan free will saya hari ini. Biarkan saya hidup dan berjalan karena kehendakmu.” Atau sesuatu semacam itu. Sekarang saya semakin bisa mengerti kenapa doa teman saya itu seperti itu dulu.

Baiklah, sementara memikirkan kembali tulisan saya di atas tadi, saya akan mulai mengimbangi dengan, benarkah tidak ada andil kita di dalam setiap apa yang terjadi pada diri kita sendiri?
*menunggu waktu diskusi selanjutnya

January 10, 2015

Mulai lagi

Filed under: the journey,the precious ones — dian @ 10:40 am

It’s been forever since my last writing kayaknya. Nggak tahu selama ini kemana aja, sampai nulis pun susah. Padahal janjinya mau jadi penulis. Well… so I started with review tahun 2014 saja.
Tahun 2014 adalah tahun perubahan menurut saya. Bukan hanya perubahan saya sebagai individu, tapi perubahan di banyak hal di muka bumi Indonesia ini. Maaf, harus kembali mundur ke masa Pemilu. Terpilihnya Jokowi membuat saya dan banyak teman sealiran sedikit lega dan memiliki harapan baru. Setelah pemimpin sebelumnya yang selama 10 tahun seperti membuat darah para korban reformasi sepertinya tertumpah sia-sia, semoga yang kali ini adalah jawabannya. Tapi tunggu, 10 tahun yang lalu saya juga mengatakan hal yang sama tentang SBY. Dulu dengan bangga saya bilang ke semua orang kalau saya nyoblos Demokrat. Sekarang saya malu dulu memilih partai yang memberi saya harapan besar itu. Jadi kali ini, saya tidak akan mengulangi khayalan yang sama.
Siapapun presidennya, perubahan di dalam diri saya tidak menunggu dari mereka. Saya akan terus bergerak dan berubah.
Tahun 2014 juga tahun perjalanan. Keduanya semacam keajaiban yang setelah berada di tahun 2015 sekarang, saya nggak habis pikir bagaimana hal seajaib itu bisa terjadi, tanpa campur tangan yang Maha ajaib.

Swiss, Juni 2014
Saya masih belum bisa move on dari perjalanan ke dua negara tersebut. Setelah mendapat undangan dari ADI (Alzheimer’s Disease International) untuk mengikuti Alzheimer University, sebuah training tentang Alzheimer selama 3 hari di Geneva, mereka tidak pernah membalas semua korespondensi kita di e-mail. Jadi ragu-ragu dong, sebenernya diundang bener atau enggak sih. Karena kalau mesti berangkat sendiri, lumayan juga kan pengeluarannya. Kalau under undangan ADI, mereka mensubsidi untuk tiket. Akomodasi di Geneva sih ditanggung sama ADI.
Sudah di e-mail berkali-kali, tidak ada balasan juga. Baru H-2 minggu ketahuan bahwa selama ini mereka tidak menerima korespondensi kita. Cyber-lost ya istilahnya. Jadilah mengurus visa dalam 2 minggu. Setelah mendaftar online, dapat jadwal wawancaranya saja setelah tanggal keberangkatan. Pusing… Nyari orang dalam agak susah, karena memang nggak punya. Lalu setelah direkturnya ALZI dengan magic hand-nya menghubungi duta besar Mexico dan meminta bantuan agar – siapa tahu – sesama duta besar bisa membantu, baru ada pencerahan. Wawancara visa H-2. Visa keluar H-1. Tiket pun resmi dibeli H-1. Harganya? Hahaha… selamat tinggal tiket murah. Kantor jadi harus nombok banyak untuk ini.
Perjalanan di Swiss sudah pasti menyenangkan, walaupun beneran bukan untuk traveling. Tapi bertemu sepasang suami istri Indonesia yang sudah 14 tahun tinggal di Geneva, yang menjamu kita dengan rendang dan nasi putih angetnya, sungguh sesuatu. Satu hal yang saya lihat dari pasangan Anies-Bantan adalah, they’re so lovely. Mengingatkan saya pada iklan KB tempo dulu. Suami istri bahagia dengan anak laki-laki perempuan yang manis-manis. Udah gitu, pernah sekali atau dua kali ya, mas Bantan bisa pulang ke rumah untuk makan siang. What? Di Jakarta ada kejadian kayak gitu? Jangan harap! Di Geneva nggak macet-macetnya acan. Keren.
Saya dan Rokky merasa sangat spesial di Geneva karena last minute dapat akses untuk berkunjung ke dapurnya UN. Thanks to mas Bantan & kakak Anies for this. You are owsem.

Belanda, Juni 2014
Perjalanan ke Belanda juga seperti mimpi. Awalnya saya nggak berniat ke Belanda karena jauh dan mahal. Tetapi karena teman seperjalanan saya mau ke Belanda untuk bertemu ibunya yang sudah 6 tahun bekerja di sana, maka saya tergoda. Well, tergoda banget tepatnya. Madurodam selalu menjadi mimpi saya, Amsterdam adalah salah satu list yang saya masukkan ke dalam daftar wajib dikunjungi before I die. So, dengan bermodal kartu kredit untuk membeli tiket KLM Geneva – Amsterdam, berangkatlah saya ke sana.
Belanda adalah pure jalan-jalan. Nggak masuk ke museum-museum sih, karena waktunya nggak cukup. Karena saya Cuma punya tiga malam di sana. Maka berjalan-jalan menyusuri gang-gang red light district, makan di restoran China dengan sup hangat, mengunjungi dan berfoto di depan kincir angin di kota sudah cukuplah, juga menghabiskan satu hari untuk ke Den Haag dan berkeliling di dalam Madurodam Theme Park. Maka dengan berada di dalam Madurodam yang merupakan replika Belanda itu, saya bolehlah berkata bahwa saya sudah berkeliling Belanda, di tanah seluas beberapa hektar itu.
Last but so so so not least, mengunjungi sahabat saya, belahan hati saya, Icha yang baru saja tiba di Belanda. Dia akan tinggal di sana untuk setidaknya 3 – 5 tahun. Well, Cha… aku sudah mengunjungimu ya. I’m a person of my word, walaupun kayak sulapan yang Cuma beberapa jam saja, sambil merampok padamu untuk minta sangu pulang. Hahahaha… Suatu saat tak tukar ya, 40 Euro-nya. Sungguh, sahabat yang memalukan aku ini. Lagian, siapa suruh negara ini transportasinya semahal itu. Fiuh… Now, be good in there ya…

India, November 2014
Yang ini lebih ajaib lagi. This one is totally my mistake, my bad, and I’ve been punished already. Saya salah menghitung kadaluwarsanya paspor. Seharusnya saya tahu kalau paspor expired April itu, sejak Oktober harus sudah diperpanjang. Dasarnya slordeg, ya sudah… Last minute saya baru panic at the disco. Dan saya harus melakukan adegan jungkir balik untuk bisa mendapatkan paspor itu tepat waktu. Calo? Sudah pasti! Saya nggak punya teman yang duduk di kursi tertinggi imigrasi. Sayangnya, calo saya kurang canggih. Di hari keberangkatan paspor saya belum jadi. Alasannya: terjadi pergantian pimpinan. Saya nangis bombay, jauh sebelum datang ke negeri Bombay. Tapi saya ingat kedua sahabat saya yang super baik, mengajak saya makan malam sambil mentertawakan saya dengan penuh semangat, “Di, if it’s gonna happen, it’s happened.”
And it’s happened. Terlambat satu hari, saya berangkat juga ke India. The drama is over? Not yet! Jangan seneng-seneng dulu. Walaupun hari sebelumnya saya sudah mengganti tanggal keberangkatan, mereka bilang saya cuma bisa sampai di KL, karena KL – Delhi-nya tidak diganti. Duh, ngajak perang nih Malaysia Airlines. Setelah menelepon KL selama 1 jam tanpa hasil, mas Dimas yang baik hati dan ramah di kantornya MAS di Sukarno Hatta justru yang menjadi penolong saya. Makasih ya mas…
Finally, perjalanan ke India cuma semacam legalisasi di paspor, bahwa saya sudah pernah masuk negara itu. Dapat cap datang dan cap pergi.
Sebagai pemanasan, tulisannya sampai di sini dulu lah ya. Lessons learned? Be prepared. Be very prepared.

March 9, 2013

Vietnam oh Vietnam

Di depan kantor pos HCM

Sama sepertu judul album saya di facebook. Oh I love that place, really. Ho Chi Minh lebih tepatnya. Karena memang hanya satu kota itu yang saya tuju di Vietnam. Berbekal tiket murah yang ditawarkan AirAsia setahun lalu, saya memesan perjalanan satu arah ke kota ini. Kemudian berbekal buku petunjuk perjalanan ke Vietnam dan Kamboja, saya mencoba mempelajari beberapa hal supaya perjalanan lebih menyenangkan, diantaranya supaya tidak tertipu taksi dan calo ini itu.

(not) a city girl

Ijo ya tamannya?

Mengingat saya bukan city girl, yang tidak suka pada kota besar dengan gedung bertingkat dan kemacetan, kota ini terutama di district 1 dan daerah-daerah wisata umumnya cukup bersahabat. Dari Pam Ngu Lao tempat saya menginap, saya bisa berjalan kaki sampai Opera House, Notre Dame Church, War Remnant Museum dan beberapa tempat lain. Sepanjang perjalanan saya sering kali bergumam dengan teman Sofni dan Mamik, “Ih, kenapa Jakarta nggak bisa gini ya?”

Kayaknya di Jakarta juga banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi, tapi panasnya itu lho. Belum lagi trotoar yang dipangkas habis. Di Ho Chi Minh saya bisa berjalanan melenggang, foto-foto di trotoar yang lebar dan teduh, tanpa takut terserempet kendaraan. Persamaan Jakarta dan Ho Chi Minh adalah di bagian menyeberang. Kayaknya para pengendara motor di HCM ini diijinkan untuk tidak melihat ke jalan, memakai telpon genggam dan menabrak siapa saja yang menyeberang. Fiuh.. Untunglah saya sudah terlatih menyeberang Margonda setiap paginya.

Di depan Museum Nasional HCM

Satu hal yang saya lihat sangat menarik di HCM adalah taman-taman kota. There are so many public space in the city. Tiap sore banyak orang berkumpul di sana. Orang tua yang momong anak, remaja yang janjian ketemu, grup choir berlatih paduan suara, beberapa orang berlatih wushu, saya yang bengong melihat pemandangan itu, beberapa orang memanfaatkan fasilitas olah raga yang ada di taman itu. Ih, cakep. So beautiful. Teman saya nyeletuk aja, “Ini kalau di Jakarta, kira-kira besi-besi yang buat olah raga itu umurnya berapa tahun ya, sebelum diambilin orang?”

Jleb! Jadi ingat jembatan roboh yang konon kabarnya karena banyak besi yang diambilin orang. Apa memang orang kita yang belum siap ya, dikasih fasilitas bagus? Atau negaranya yang memang nggak mau mempersiapkan warganya untuk memiliki fasilitas bersama?

Saya nggak bisa menjawabnya, nanti dikira nyinyir. Tapi saya punya mimpi, di setiap kota besar di Indonesia ada lebih banyak lagi tempat terbuka hijau yang memungkinkan anak-anak kita berlarian tanpa takut ditabrak kendaraan, ada trotoar yang lebar dan dingin karena dipayungi pohon-pohon rindang, ada lebih banyak fasilitas olah raga di tempat terbuka itu, seperti yang di gambar saya ini, dan lebih bersih tentunya.

Rindu bermain lempar tangkap di taman

Di HCM sebagai kota pertama dari serangkaian perjalanan backpacker pertama saya, bisa dikatakan nilainya memuaskan. Daerah turisnya di sekitaran Pam Ngu Lao saja membuat saya betah berlama-lama di sana. Minum jus durian, makan kaki rajungan atau minum kopi Vietnam di pinggir jalan, hanya menghabiskan paling banyak 50 ribu rupiah, sambil bisa duduk berjam-jam. Pasarnya di Ben Tahn juga asik. Baru kali ini saya melihat pasar dipel sama penjaga tokonya. Itu pasar bersih banget. Terus, begitu melihat muka campuran Jawa-Thailand-Vietnam-Philipina-Kamboja-Melayu saya, mereka segera memanggil dengan “Kaka, buy somsing Kaka? Mura kaka” itu artinya: “Mbak mbak, mau beli apa mbak? Di sini murah-murah lho.” Gitu dia. Bahasa Indonesia rasanya memang sudah perlu menjadi salah satu bahasa wajib di – setidaknya – Asia Tenggara. Mengingat di pasar-pasar Asia Tenggara ini, muka-muka Indonesia banyak sekali kita temui.

Transportasi

Transportasi umum di HCM mudah sekali ditemui, rutenya juga jelas. Setidaknya demikian menurut buku dan pemilik hostel tempat saya menginatp. Tapi sayangnya saya pejalan kaki sejati. Saya memilih berjalan kaki kemana-mana selama itu di dalam kota. Sekalinya saya nyoba naik cyclo, kendaraan semacam becak yang hanya muat satu penumpang, saya dirampok. Maaf kalau saya berlebihan. Tapi demikianlah faktanya.

Pasar Ben Thanh yang bersih

Di depan pasar Ben Tahn saya iseng menerima tawaran tukang cyclo yang bilang kalau berkeliling ke tempat-tempat wisata seperti museum dan opera house di dalam kota per jamnya, hanya 15 dong. Mereka terbiasa menyingkat tiga nol di belakang. Jadi 15 dong itu artinya 15 ribu dong. Yang itu artinya adalah setara 7,500 rupiah. Saya mau dong. Di dalam hati, saya mau kasih tips sampai 50 ribu dong nanti. Tapi saya memang nggak mau kemana-mana. Saya Cuma mau ke riverside dan opera house. Waktu saya bilang, udah ambil sisa waktunya buat kalian, saya mau berhenti di sini saja. saya turun, membuka dompet, and guess what?? Mereka mengambil sendiri uang 500 ribu dong dari dompet saya. Isn’t it a robbery? Waktu saya panic mau ambil uang itu lagi, dia langsung memasukkan ke kantong. “Lady, you have to pay more. It cost 15 hundred thousand per hour.” DZIG. Mamik teman perjalanan saya langsung ngamuk. Di tangan saya yang sedang memegang 100 ribu dong langsung direbut sama dia. Dan dia mencak-mencak pake bahasa Indonesia. Saya kecewa banget, mereka nggak mau kembaliin uang saya, dan saya udah hampir nangis karena marah. Mamik langsung ngajak saya pergi. Saya sedih banget. Yang kayak gini ini, yang bikin perjalanan menyenangkan saya jadi perih. Kenapa sih, orang berbohong ke orang lain? Kenapa mesti menipu sih? Sebagai obat kecewa, saya beli kaos bertuliskan: no cyclo for today and tomorrow.

Sementara itu untuk taksi. Konon kabarnya yang bagus bermerk Vinasun. Tapi saya juga tidak sempat mencobanya. Satu-satunya taksi yang saya tumpangi menipu kami. Jadi begitu sampai di bandara pada malam tanggal 5 Januari, kami bertiga ke konter taksi. Si mbak itu minta uang 180 ribu rupiah, bukan dong. Karena masih dalam keadaan bingung, kami menurut. Dia mengembalikan uang kami yang 200 ribu dengan 20 ribu dong. Ah, penjahat. Lalu begitu turun dari taksi, supir taksinya meminta kembali uang sebesar 200 ribu dong. Damn! Dan kami tidak bisa menolak. Dia tidak bisa bahasa Inggris dan kami tidak bisa bahasa Vietnam. Padahal menurut banyak referensi yang say abaca, dari bandara ke hotel tempat kami menginap, paling mahal 160 ribu dong saja. 80 ribu saja. Jaraknya nggak lebih jauh dari bandara kita ke Slipi gitu.

Makanan

mereka pake kaos tangan waktu ngupas mangga

must try items

Nah akomodasi ini penting nggak penting. Buat backpacker, kadang tidur jadi nggak penting karena kita akan menghabiskan hari untuk jalan-jalan. Tapi buat saya dan Mamik, ini jadi penting. Karena kami membawa pekerjaan sambil berjalan-jalan. Jadi, hotel mesti nyaman juga.Makanan Vietnam relative bisa diterima lidah Indonesia. Pho, sejenis bihun terbuat dari beras tapi teksturnya lebih besar paling enak bisa ditemui di Pho Quynh. Itu terletak di salah satu jalan di Pam Ngu Lao. Bakpao di sepanjang Vietnam yang saya temui dahsyat-dahsyat. Jangan tanya isinya ya, saya juga nggak mau nanya soalnya. Ntar kalau ternyata isinya babi dan saya nggak beli, kan sayang.. #eh. Isi bakpaonya campur-campur, kacang ijo, daging entah apa, telur asin dan telur puyuh. All in one bakpao. Yumm.. Makanan malam harinya adalah berbagai macam kerang, ikan rajungan, jagung rebus, cumi kering, dicemilin aja sambil nongkrong di pinggir jalan. Bahn mi, itu semacam kue bagel tipis panjang, isinya daging. Yummy banget. Not to mention kopinya. Ahhhh… Jadi pengen balik ke sana lagi.

Hotel pertama kami di Backpaker’s Hostel. Tempatnya nyaman, masuk gang, dekat pasar, yang punya bisa berbahasa Inggris. Penting itu! Wifi kenceng di sana, kamar mandi bersih dan ada pool bilyarnya. Tapi sayangnya, kami harus berdebat untuk mendapatkan ijin memegang paspor kami sendiri. Mereka nekat menahan, pertama katanya untuk laporan ke pemerintah, kemudian orang yang lain lagi bilang, kami mencoba menyelamatkan anda. Di HCM banyak pencopet. Daripada paspor anda dicopet? Oh… dan anda sedang mencoba mencopetnya dengan cara halus dari kami? :P

Tapi setelah kami memenangkan perdebatan, so far hostel itu nyaman. Sayangnya – yang juga blessing in disguised – kami harus pindah ke hotel lain. Karena rencana untuk kabur ke Mui Ne di hari kedua batal. Kami pindah ke hostel yang sebelumnya ditinggali Sofni. Namanya Nhat Thao Guest House. This one is even better. Mereka tidak terlalu kekeuh mencoba mendapatkan paspor kami. Tempatnya lebih nyaman, free pisang sepanjang waktu, dan sarapannya juga enak. Roti baquet plus isian yang bisa dipilih. Telur dadar, telur rebus atau telur omelet? :P nggak ada pilihan lain, maaf. Kalau saya harus menyarankan, pilih hostel kedua ini. Lokasinya lebih asik.

Btw, saya sudah merencanakan ke sana lagi. Tinggal nunggu AirAsia memanjakan kami dengan tiket murahnya lagi. Sebelum saya berpanjang-panjang dengan tulisan ini, saya kasih rincian belanja kami di sana ya. Jadi kalau mau backpackeran di sana, biar ada gambaran.

  • 500,000 (one way ticket dengan airasia)
  • 200,000 (hostel per malam – bisa lebih murah)
  • 3,500 (air minum botol 600 ml)
  • 30,000 (pho di Quynh)
  • 30,000 (makan di pinggir jalan semacam warteg pake ikan makarel segede betis saya)
  • 25,000 (kaki rajungan dimasak pedas)
  • 12,500 (sepiring kerang dimasak pedas)
  • 4,000 (sepotong bahn mi)
  • 7,500 (bakpao terenak di dunia)
  • 5,000 (bacang isi telur asin)
  • 10,000 (jus durian)
  • 5,000 (kacang rebus segenggaman)
  • 10,000 (1 buah mangga udah dipotongin, rasanya campuran antara kweni dan arum manis)
  • 100,000 (airport transfer, ini asumsi termahal)
  • 50,000 (total tiket masuk tempat-tempat tertentu, bisa lebih murah banget)
  • 50,000 (t-shirt kualitas 100 ribuan di Jakarta)
  • 20,000 (t-shirt kelas 30 ribuan di Bali)
  • 5,000 – 10,000 (magnet Vietnam)

Nah, silahkan dikalikan sendiri, mau menginap berapa lama di HCM dan mau makan apa aja selama di sana dan mau ngasih oleh-oleh apa buat orang rumah.

Foto-foto lengkap ada di sini yah..

Next saya akan cerita tentang perjalanan lanjutannya: Phnom Penh.

November 7, 2012

Yang Terasa dan Mungkin Tak Terlihat

Hari Sabtu dan Minggu awal November lalu, saya catat sebagai salah satu hari penting dalam perjalanan hidup saya. Setelah lebih dari 18 tahun saya tidak pernah lagi menginjakkan kaki di tubuh gunung Ungaran, hari itu saya kembali datang untuk menyapa Ungaran. Pertama kali saya berada di lerengnya 20 tahun lalu, saya menjalani diksar, pendidikan dasar untuk menjadi salah satu anggota Jagabhumi sebuah wadah persahabatan orang-orang yang suka mendaki gunung di SMA saya. Sekarang saya kembali lagi untuk melihat 21 angkatan di bawah saya menjalani apa yang dulu saya lewati.

Kalau sahabat saya Dhanang menulis tentang apa yang terlihat dan tercatat tentang Diksar angkatan 22 Jagabhumi dengan sangat cantik di blognya, saya ingin mencoba meraba-raba yang tak terlihat tapi dapat dirasakan. Setidaknya saya merasakannya dengan jelas sepanjang perjalanan di Gunung Ungaran.
9 pamitran baru Jagabhumi
Semangat
Apa namanya kalau bukan semangat? Seluruh peserta dan panitia Diksar Jagabhumi disambut hujan deras sehingga membuat perjalanan berhenti dan acara berubah total. Mereka terpaksa berhenti di kebun mawar tanpa bisa menikmati indahnya mawar. Melingkar, kedinginan, saling menghangatkan, saling menguatkan. Sembilan perempuan hebat dengan rackshack yang lebih tinggi dari tubuh mereka kalau sudah digendongkan, tidak menyerah. Mereka bertahan hingga akhir acara.

Sayangnya saya hanya menunggui satu rangkaian acara yang harus mereka lewati. Susur gua. Satu persatu mendapat tugas untuk menyusuri gua jepang yang dulunya digunakan sebagai penjara dan tempat penyiksaan di jaman penjajahan Jepang. Tiap orang mendapat bekal lilin sepanjang 2 cm, 3 batang korek api dan sepotong kecil pemantiknya. Tidak satupun dari mereka surut. Mereka juga tetap tidak menyerah ketika harus merayap menyetubuhi bumi demi mendapatkan sebuah syal abu-abu dengan lambang topi rimba di satu sudutnya. Syal Jagabhumi.

Apa namanya kalau bukan semangat? Guru-guru yang tidak dibayar, ikut mendaki menemani anak-anak mereka, demi memastikan semua berjalan dengan baik dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diharapkan? Kalau bukan semangat, pak Agus, pak Budi dan pak Dimas mungkin memilih tidur di rumah dengan TV meninabobokkan mereka. Tapi dingin ungaran yang dipilih.

Bukan semangat jugakah, jika senior yang membidani Jagabhumi menempuh ribuan kilometer untuk berada di dekat adik-adiknya, memastikan bahwa nyawa persaudaraan bernama Jagabhumi ini masih nyawa yang sama. Semangat untuk membuat olah raga atau hobi mendaki gunung dan mencumbui alam dalam bentuk apapun bukanlah hal yang berbahaya. Meyakinkan adik-adiknya kalau persaudaraan ini suatu saat di masa yang akan datang akan menjadi salah satu ‘sekolah’ mahal mereka, tempat mereka belajar sesuatu. Tepat waktu, manajemen perjalanan, mengamati lingkungan, tidak sombong, penuh persiapan, berani menghadapi tantangan, tidak menyerah dan entah berapa banyak hal baik lain yang dipelajari di dalam pamitran ini.

Baru
Delapan belas tahun lalu, terakhir kali saya berada di desa Promasan, di sekitarnya sangat tandus dan panas. Desa yang letaknya lebih dari 2000 meter DPL ini di siang hari terasa terik. Tapi minggu lalu, hanya warna hijau daun teh yang membentang di sepanjang saya memandang. Kami bahkan sempat tersesat ketika menuju desa Promasan. Karena jalannya sekarang begitu besar dan ada banyak jalur di sela-sela rerimbunan pohon teh.

Yang baru lagi tentu saja adalah wajah-wajah yang saya temui di sana. Mbah Karbin, salah satu sesepuh yang rumahnya 18 tahun lalu kami gunakan untuk menjadi camp sudah tidak ada, bentuk-bentuk rumahnya lebih berwarna-warni dan cantik, juga adik-adik yang baru sekali saya salami dan temui. Saya selalu suka sesuatu yang baru. Memberi semangat bahwa dunia berputar, memberi saya keberanian bahwa kematian adalah ketakutan pada bayangan sendiri. Karena selalu ada yang baru yang akan menggantikan mereka yang pergi.

Jangan bandingkan sama gambarnya Danang ya :(

Rindu
Ada rindu yang terbayar di lereng Ungaran dalam perjalanan mengunjungi dan memberi dukungan adik-adik yang sedang diksar. Rindu bertemu dengan alam yang terbayar, tapi rindu untuk memberi lebih banyak pada generasi baru juga terasa.
Saya tidak punya apa-apa, tapi saya pastikan ada semangat yang akan menyala sampai akhir hayat saya. Maka, adik-adikku di jagabhumi, yang bisa saya berikan adalah semangat dan janji untuk belajar bersama. Saya sedang belajar menulis, jadi kalau ada diantara kalian yang ingin belajar bersama saya, mari…

Saya juga rindu pada sahabat-sahabat dengan siapa saya dulu memperjuangkan syal abu-abu. Icha, Indah, Galih, Sonny, Kecel, AriNur, Ivan, Imam, semuanya. Saya menantikan Desember dan berdoa semoga diberi kesempatan agar bisa berkumpul dengan kalian. Saya ingin membayar rindu saya di pelukan dingin malam di dalam sleeping bag dan tawa-tiwi mengingat masa lalu.

Dekat
Ohya, tentu saja saya merasa dekat kembali dengan alam dan mimpi saya. Saya tidak tahu mimpi yang mana lagi yang saya dekati, tapi setiap saat saya melakukan perjalanan saya merasa bahwa saya sedang mendekati satu dari ribuan mimpi. Kadang saya tidak bisa menjelaskannya tapi mungkin perkenalan dengan seseorang yang begitu berapi-api menjelaskan tentang jamur, dengan guru-guru yang bersemangat menemani anak-anaknya, dengan adik-adik yang sebelumnya hanya saya kenal di facebook, dengan mbak Siwi yang tidak pernah saya kenal tetapi rupanya dia adalah kakak salah satu teman dekat jaman SMA. Semesta mendekatkan kita pada sesuatu dengan sebuah tujuan. Saya masih belum melihat apa dan dimana ujungnya, tapi saya tahu ada arah yang sedang saya datangi.

On top of all, saya merasa bahwa ada nyawa persaudaraan yang tidak pernah dingin. Kami yang lebih tua ini, mungkin tidak bisa menunjukannya setiap saat, tapi percayalah, kami ada di tempat yang sama, mengamati dan mencintai kalian dengan cara kami.

August 8, 2012

kesederhanaan dalam kerumitan

Filed under: environment,that two cents,the journey,the precious ones — dian @ 6:18 pm

Saya masih dilanda demam Baduy sampai detik ini. Baru juga minggu lalu saya ke sana, rasanya sudah ingin kembali lagi. Belum lagi kalau ditambah rasa cemburu saya karena Ari sudah dikontak lagi oleh Juli, ditanyakan kabarnya, sementara saya yang menghubunginya sebelum kami bertemu, tidak dihubungi lagi sama sekali. Huff.. *Tuhan selamatkan aku dari rasa cemburu

Di tulisan kali ini saya pengen menyoroti kehidupan perkawinan dan percintaan Orang Baduy, berdasarkan sekelumit cerita yang saya dapatkan dari beberapa nara sumber yang merupakan pemuda-pemuda Baduy Dalam yang sudah menikah. Tentu saja cerita ini sifatnya sangat subyektif dan mungkin tidak bisa mewakili keseluruhan kisah perkawinan dan percintaan Orang Baduy pada umumnya. Tapi saya pastikan, kalau kisahnya sangat menarik.*promosi

Perjodohan

Orang Baduy rata-rata menikah di usia 18 tahun untuk para lelaki dan 16 tahun untuk perempuannya. Mereka menikah karena dijodohkan oleh orang tua. Jadi perbincangan tentang perkawinan tidak dimulai oleh dua orang yang akan menjalaninya, melainkan dari orang tua yang merasa bahwa anak mereka serasi. Dasar pemilihannya juga bukan karena si calon menantu lebih kaya, tampan, atau pintar. Dasar pemilihan calon menantu murni untuk menjaga silaturahmi antar keluarga.

(more…)

July 30, 2012

Catatan Perjalanan Baduy

Filed under: environment,masterpiece,the journey,the precious ones — dian @ 2:03 pm

28 – 29 Juli 2012 akan saya kenang sebagai sebuah perjalanan yang alami. Sungguh-sungguh alami karena dirancang sedemikian rupa secara spontan, disuarakan pada khalayak sejak mulai direncanakan, mendapatkan 6 peserta pada awalnya, lalu satu persatu berguguran juga untuk alasan-alasan yang alami, akhirnya saya, seorang tokoh lain bernama Indra dan Ari berangkat juga ke Baduy. Padahal, seandainya salah satunya juga dengan alami membatalkan diri, saya tetap akan berangkat sendiri. Meskipun ternyata Ari juga berpikiran sama :)
Perjalanan diawali dengan dua orang yang terlambat, yang singkatnya membuat saya harus membayar suplisi alias denda commuter line 50 ribu rupiah. Ini harga KRL termahal saya :(

Sebagai catatan, kalau teman-teman ingin melakukan perjalanan ke Baduy, dari stasiun Tanah Abang temukan kereta ke Rangkas Bitung. Disarankan dengan kereta Rangkas Jaya, bayar 4000 rupiah, berangkat jam 7.50, menempuh kurang lebih 1,5 jam perjalanan. Sesampainya di stasiun Rangkas Bitung, jalan keluar lalu belok kiri mentok, naik angkot biru ke terminal Aweh. Dari Aweh naik minibus 3/4 ke Ciboleger. Bayarnya 15 ribu, rasanya semacam naik roller coaster di Dufan. Untung saya sedang jaim, jadi saya bisa menahan mual dan mau muntah. Sampai di Ciboleger jam 11.30-an.

Di Ciboleger, kami sudah dijemput oleh dua teman dari Baduy Dalam. Safri dan Juli. Dua anak muda berpakaian bawahan samping aros atau semacam rok bergaris hitam dan atasan berlapis, dalaman putih luaran hitam, serta telekung atau ikat kepala putih dan bertelanjang kaki. Ini yang membedakan Baduy Luar dan Dalam. Baduy Luar bertelekung biru, sedangkan Dalam putih. (more…)

July 23, 2012

tak ada yang abadi

Filed under: that two cents,the journey,the precious ones — dian @ 12:07 pm

Tulisan ini dibuat bukan hanya dalam rangka menyambut kembalinya Ariel ke kancah pertarungan yang sesungguhnya, tapi juga karena belakangan ini saya menyadari lebih dalam bahwa banyak hal yang lewat di depan saya, kadang berhenti sebentar, kadang berlalu begitu saja, dan tidak satupun diantaranya ada yang abadi.

Pada suatu hari saya pernah jatuh cinta dan berpikir bahwa perasaan saya padanya abadi. Lalu tidak berselang lama kemudian saya tidak lagi jatuh cinta padanya. Maka saya berpikir, mana yang lebih abadi ya? Rasa cinta saya atau rasa tidak cinta saya padanya? Karena yang lebih awal adalah rasa biasa saja. Tapi saya berpikir bahwa mungkin saya akan jatuh cinta lagi padanya, dalam kondisi yang berbeda. Walaupun ini sangat tidak disarankan ;-)

Lalu saya bercermin, melihat foto-foto di album lama saya dan melihat bahwa sedikit sekali hal-hal yang abadi di muka bumi ini. Saya melupakan banyak kisah lalu yang diingat baik oleh orang lain, begitu pula sebaliknya. Padahal katanya kenangan itu tertinggal selamanya. Tapi ternyata tidak juga.

Anak-anak yang kita miliki, mereka juga tidak selamanya anak-anak. Mereka akan menjadi teman kita pada titik tertentu nanti, lalu bahkan menjadi guru kita.
Sayangnya, sering kali sulit menerima bahwa ada banyak hal yang tidak abadi. Apalagi kalau itu berkenaan dengan orang lain. Kalau kita yang berubah, sering kali kita berharap orang lain maklum. Kalau orang lain yang berubah, kita emosi jiwa dan nggak terima. Hihihi.. Siapa eluh? Kata hati nurani saya.

Tapi kali ini, saya sedang belajar keras untuk menerima ketidakabadian, dari manapun datangnya. Bahkan dari sejak awal perasaan atau benda atau apapun itu datang.
Dari pekerjaan, kita bisa diberhentikan atau perusahaan koleps,
Dari kehidupan, kita bisa berhenti berdetak jantung dan mati,
Dari sebuah konser, bisa dibatalkan atau diserbu massa,
Dari kendaraan, bisa pecah ban atau ditilang polisi,
Dari percintaan, bisa bosan atau menemukan yang lebih seksi,
Jadi, kenapa mesti ditangisi? Kalau kita sudah tahu bahwa tidak ada yang abadi?

Ini seperti ilmu yang saya dapatkan di Vihara Mendut empat tahun yang lalu. Anicca. Constant change. Hanya perubahan yang abadi. Selamat menikmati ketidakabadian :)

Tulisan ini selain saya tujukan untuk Ariel, juga untuk mas-mas lucu di dalam angkot yang wajahnya mirip Badai yang memakai kaos consina, membawa ransel dan berbicara pada anaknya dengan sangat manis, yang saya tidak pernah tahu namanya.

June 24, 2012

kenangan

Beberapa hari yang lalu, ketika RCTI menyiarkan Maha Karya Ahmad Dhani, saya merasa seluruh jiwa saya tersedot ke kisaran tahun-tahun kejayaan saya. Oh, itu seperti sudah lama sekali mbak? Tanya suara di dalam hati saya. Memang.

Satu hal yang selalu membangkitkan kenangan adalah album-album lama. Terima kasih facebook untuk menyediakan ruang untuk mengaduk kembali kenangan. Seperti beberapa saat belakangan ini, ketika sahabat-sahabat saya yang memiliki file lebih lengkap mulai mengunggah foto-foto masa lalu, ada banyak senyum yang saya terus lemparkan, demi melihat cuplikan hidup saya dan kami ketika itu diulang lagi di sana. Anda masih ingat kan, bagaimana rasanya menjadi remaja? ^_^

Spion

Kenangan seperti kaca spion. Gambarnya tidak lebih besar dari fakta yang ada. Harusnya sih seperti itu ya. Maka kalau kemudian kenangan itu menjadi bergulir dan lebih besar dari yang sesungguhnya pernah terjadi, rasanya kita perlu duduk sejenak dan mungkin mengganti kaca spion itu. Bukan apa-apa, kalau saya yang mengalaminya, saya takut sebenarnya saya sedang hidup di masa lalu saja, yang mungkin memang indah, tapi sudah berlalu.

Idealnya kaca spion adalah pengingat kita tentang apa yang sudah pernah kita alami sebelumnya. Yang kita mestinya hadapi adalah tujuan yang ada di depan dan kendaraan yang sedang kita tumpangi. Mungkin. Setidaknya menurut saya. Tapi Lauren Oliver dalam Delirium bahkan lebih berani memiliki pendapat tentang kenangan. Dia bilang, kenangan adalah sampah. Tidak ada sedikitpun darinya yang perlu kita punguti lagi. Saya tidak setuju. Buat saya, bahkan sampahpun akan tetap saya daur ulang. Sebisa mungkin saya tidak ingin meninggalkan kenangan yang tidak bisa dipakai lagi. (more…)

June 12, 2012

perjalanan = pelajaran

Filed under: environment,the journey,the precious ones — dian @ 7:23 am

Ketika masih sekolah ~ terutama SMA ~ saya ingat sering kali merasa malas untuk belajar di dalam kelas. Tidak sering membolos juga sih, tapi beberapa kali memilih untuk belajar di luar kelas :) . Saya juga lebih sering merasa bahwa pelajaran di kelas sangat membosankan. Dan untuk yang satu ini, saya sering membela diri dengan mengatakan bahwa proses belajar kan tidak harus di dalam kelas.

Saya baru saja melakukan perjalanan yang dulu pernah menjadi momen-momen paling mendebarkan dalam hidup saya. Saya pernah menjadi orang yang sangat menyukai mendaki gunung. Walaupun kalau dibandingkan dengan teman-teman saya yang lain di Jagabhumi, saya tidak ada apa-apanya, tapi saya termasuk sangat tergila-gila pada perjalanan yang buat 95% anggota keluarga saya, adalah perjalanan bodoh. Capek-capek, ngapain? Tidur di rumah enak! Tapi saya tetap melakukannya. Dan sekarang, setelah setua ini, dan setelah lebih dari 15 tahun tidak melakukan pendakian, di pendakian Gunung Gede weekend lalu, saya jadi diingatkan akan sesuatu yang pernah saya lewatkan dan mungkin saya lupa memberinya garis bawah selama ini.

(more…)

May 29, 2012

sisi lain yordania

Filed under: contribution,that two cents,the journey — dian @ 6:56 am

Kalau sebelumnya saya menulis tentang keindahan Yordania dengan Laut Mati, Petra dan kotanya yang nyaman, kali ini mari kita lihat sisi lain dari Yordania.

Selama 12 hari berada di negara yang konon kabarnya paling penuh kedamaian di antara negara-negara Arab itu, ada sudut-sudut remang yang jauh dari rasa damai. Setidaknya itu yang saya rasakan ketika berada di sana. Sudut-sudut yang saya maksud adalah sudut-sudut hati perempuan yang menjadi Pekerja Rumah Tangga di sana. Pekerja Migran lebih tepatnya, atau kita mengenalnya sebagai TKI.

Yordania, walapun memang dikenal sebagai negara yang tenang dan damai, dengan Raja Abdullah yang menyuarakan tentang perdamaian, dengan Ratu Rania yang cantik dan pandai, tetapi negara tersebut bukanlah negara kaya. Sebagai negara yang terletak di jajaran negara Arab, Yordan tidak punya tambang minyak, kecuali secuil yang berbatasan dengan Arab Saudi, yang dikelola oleh perusahaan asing. Tanah di Yordan tidak juga subur untuk bisa menghasilkan pangan untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya. Bahkan pisangpun hanya ada satu macam dan sisanya mereka harus impor ~ bahagianya saya membayangkan negara saya yang berlimpah pisang berbagai macam jenis. Lalu pariwisata? Kalau tidak terjepit diantara Arab Saudi dan Israel-Palestina yang merasa memiliki Yerusalem, mungkin tidak terlalu banyak orang yang akan berkunjung ke Yordan. Well, mereka memang punya Petra, Laut Mati dan beberapa situs keagamaan lainnya, tetapi dibandingkan dengan Indonesia, kalah jauuuuhhhh…

Aduh maaf, saya tidak bermaksud membandingkan, sungguh. (more…)

Newer Posts »

  • Powered by WordPress