Dituduh HIV, Diasingkan di Kandang Sapi
January 12th, 2010
Tanggal 9 Januari lalu, di tengah Sabtu saya yang tenang, saya menonton berita di Global TV tentang seorang laki-laki di Blitar yang diasingkan oleh keluarganya di kandang sapi. Dia tidak diijinkan masuk rumah dan bersosialisasi dengan anggota keluarga yang lain. Tidur, makan dan semua kegiatan dilakukan di kandang sapi. Apa gerangan yang menyebabkan laki-laki tersebut mengalami perlakuan sedemikian? Rupanya si bapak tersebut dituduh mengidap HIV, karena menderita TBC selama 6 bulan dan tidak sembuh-sembuh.

Saya mengelus dada. Kok masih ada perlakuan yang mendiskriminasi semacam ini? Lalu apa kabar kampanye yang sudah dilakukan sedemikian rupa. Apakah tidak sampai ke telinga mereka, orang-orang yang memutuskan untuk mengasingkan anggota keluarga, tetangga, dan warga desa mereka, kalau mendapati orang tersebut terinfeksi suatu penyakit? HIV atau apapun lah. Apalagi ini masih tuduhan. Si korban belum lagi mengikuti tes untuk mengecek status HIV-nya, apakah benar positif atau tidak. Read the rest of this entry »
sexy underwear adalah sebuah investasi
January 8th, 2010
Wah, sebuah judul yang agak kurang sesuai dengan hati nurani saya belakangan ini, yang terakhir kali membeli underwear sexy adalah 15 tahun yang lalu. Saya masih 18 tahun waktu itu. Mmmppphhh… Umur 18 tahun adalah umur yang paling sexy menurut saya. Dan itulah kenapa saya selalu memberi ucapan ulang tahun pada teman-teman dekat saya dengan:
You’re not x (merujuk angka ulang tahun sesungguhnya), you’re 18 with x years of experience. x yang kedua ini adalah sisa umurnya setelah dikurangi angka 18.
Dan kembali ke masalah sexy underwear tadi. Saya kemarin mendapatkan kiriman foto di facebook dengan judul serupa judul tulisan ini. Gambarnya adalah seperti ini:

Maaf ya, saudara Dion, I really hope that that’s not your underwear. Cos if it is, I’d tell you something, that that’s not sexy at all. Not even close. Hihihi… Kidding, brader… Karena menurut saya sexy letaknya tetap di dalam kepala. Saya pernah tergila-gila pada orang yang menurut saya sexy, setelah ngobrol dengannya selama 2 jam tanpa henti. Saya beranggapan seorang aktor atau aktris sexy setelah melihat aktingnya di beberapa film. Javier Bardem itu sangat tidak tampan, tapi dia sexy. Karena kalau dia tidak sexy, dia tidak akan bisa tampak mempesona meskipun dalam keadaan lumpuh di salah satu filmnya. Rachel McAdams sangat sexy di film Sherlock Holmes. Karena dia menandingi kecerdasan tokoh utamanya. Dan saya yakin CD punya Dion tadi akan tampak jauh lebih sexy kalau sang empunya sudah menceritakan pada saya, tentang perjalanan dan perjuangan si CD orange itu. Read the rest of this entry »
gitu aja kok repot
December 31st, 2009
Betapa hatiku takkan pilu
Telah gugur pahlawanku
Betapa hatiku takkan sedih
Hamba ditinggal sendiri
Siapakah kini plipur lara
Nan setia dan perwira
Siapakah kini pahlawan hati
Pembela bangsa sejati
Telah gugur pahlawanku
Tunai sudah janji bakti
Gugur satu tumbuh sribu
Tanah air jaya sakti
Gugur bungaku di taman hati
Di hari baan pertiwi
Harum semerbak menambahkan sari
Tanah air jaya sakti Read the rest of this entry »
two face(s)
December 17th, 2009
Senin sore lalu saya mendapat pesan singkat dari sahabat saya, Rani. “Jeng, udah baca parodi-nya Samuel Mulia?” Aha… saya baru ingat bahwa saya belum menyentuh Kompas Minggu saya.
Dan akhirnya saya membaca dan merasa terkampleng-kampleng. “Tapuk!!” Begitu sound efeknya kalau bisa disuarakan. Lalu saya lanjutkan dengan membaca milis berisi pendapat teman-teman pintar, tulisan berbobot mereka yang menggunakan isi kepalanya untuk berpikir dan menganalisa. Lalu saya merasa bahwa saya harus lebih sering menggunakan otak saya sekarang. Untuk berpikir dan belajar menganalisa misalnya. Karena belakangan saya lebih sering memaki, mencela dan mencibir tanpa saya sadari.

Sebenarnya ini adalah sebuah rangkaian dari perbincangan. Dua minggu lalu saya, Wilco dan Maren sedang berargumentasi tentang sponsor sebuah acara lingkungan yang konon kabarnya adalah penjahat hutan terbesar di Indonesia. Lalu tidak hanya berhenti sampai di situ saja, COP (Conference of Parties) 15 Copenhagen Desember tahun inipun, juga dibayang-bayangi masalah serupa. Menurut yang saya baca, di sepanjang lorong bandara di Copenhagen, banyak sekali tulisan-tulisan (baca: iklan) yang beraroma pesan penyelamatan lingkungan. Ironisnya, pesan penyelamatan lingkungan itu disampaikan oleh mereka yang konon sering kali terbukti sebagai penjahat lingkungan paling kejam. Read the rest of this entry »
Belajar dari Lula
December 8th, 2009
Tentu saja bisa Lula siapa saja, termasuk Lula Kamal dan Lula Maya. Oh, itu Luna Maya ya? Tapi yang kali ini saya maksudkan adalah Lula da Silva, atau Luiz Inacio Lula da Silva nama lengkapnya. Dia adalah presiden Brazil saat ini. Kurang lebih sama dengan presiden kita yang sudah terpilih untuk kedua kalinya, Lula juga sedang menjalani periode ke-2nya sebagai presiden. Tapi bedanya adalah, saya merasa di keterpilihan keduanya ini, presiden kita dihajar semakin banyak masalah dan tampaknya masih belum berbuat banyak. Well, mungkin sudah, hanya saja hasilnya yang belum tampak. Owh… semoga ini tidak terdengar seperti membela diri sekali ya. Sementara Lula sudah menunjukan ke mata dunia sampai akhirnya istilah BRIC (Brazil,Russia, India, China) yang muncul di tahun 2001, bisa benar-benar dirintis jalannya, sehingga ekonom Jim O’Neill tidak hanya melontarkan ide kosong saja tentang 4 negara yang dikatakan akan melesat perekonomiannya dan mengalahkan negara-negara G7 sekarang. Karena negara-negara tersebut memang terbukti melesat. Termasuk Brazil.

Dan itulah kenyataannya. Kalau saja singkatan BRIC itu, I-nya stands for Indonesia, mungkin saat ini saya tidak akan membuat tulisan ini. Sayangnya, I dalam BRIC adalah masih India, dan bukan Indonesia. B-nya jelas untuk Brazil, itulah kenapa saya menulis ini. Membayangkan seandainya Indonesia dipimpin oleh seorang negarawan semacam Lula itu, saya sudah bisa mencium aroma sorak sorai yang tulus dari rakyat ketika menyambut presidennya berkunjung. Saya yang akan berada di baris terdepan. Dan bukan teriakan demo menuntut ini itu ketika pemimpin yang seharusnya mereka kagumi datang. Read the rest of this entry »
Koin Keadilan Prita
December 8th, 2009
Beberapa hari ini saya mengalami kerinduan yang memuncak terhadap media. TV (terutama TV One), Internet dan koran. Saya ketinggalan berita karena sedang menyepi di sebuah tempat.
Begitu terpapar media lagi, saya mengapati undangan untuk bergabung dengan koin peduli Prita di facebook, ada website koinkeadilan, dan sebagainya. Tadi pagi dan tadi malam bahkan di TV One terus menerus dibahas tentang pengumpulan koin peduli ini, disamping juga issue makar yang akan terjadi tanggal 9 nanti. Well, bahkan sampai muncul kekhawatiran yang dilontarkan oleh pembawa acara TV One tadi pagi sambil bercanda, “Jangan sampai koin keadilan ini menutupi issue tanggal 9 nanti ya.” Hehe…

Saya langsung menengok celengan kaleng yang saya beli 3 tahun lalu bersama anak saya di Malioboro. Uangnya sangat saya cintai karena semua koin. Terutama yang koin seribuan. Nggak pernah bisa penuh karena menemukan koin 1000-an susah sekali sekarang. Saya langsung terpikir untuk ikut menyumbangkan koin itu. Kalau kemaren-kemaren saya masih berpikir, “kenapa koin?”, setelah mendapat jawabannya tadi malam, saya jadi semangat.
Padi ini saya searching mencari posko pengumpulan koin di Jogja dan belum ketemu, maka dengan ini saya bersama teman-teman akan menyatakan kesediaan membantu menjadi posko pengumpul koin keadilan.
Silahkan menelpon
- saya di 0274-925 3226, atau email ke dian.purnomo@gmail.com
- Jogja Family Radio dengan mas Deka
- atau ke cafe AngkringQ di Jl. Kaliurang Km 5,3 Jogja
Mari kita bantu membuka mata negara hukum ini, dengan kekuatan koin. Kekuatan rakyat kecil. Kekuatan recehan.
Matur nuwun. Saya tunggu siapapun yang berniat membantu.
18.442 orang terinfeksi HIV di Indonesia
December 1st, 2009
Entah berapa 1 Desember yang sudah kita lewati bersama-sama. Sedihnya, setiap tanggal 1 Desember kita masih terus disuguhi bertambahnya angka orang yang terpapar HIV. Yang paling menyedihkan adalah, bukan cuma mereka yang dewasa dan memiliki tanggung jawab penuh atas perilakunya saja yang memiliki resiko tertular. Bahkan istri yang tidak pernah berhubungan seksual dengan orang lain selain suaminya, ternyata juga banyak ditemukan tertular HIV. Tanpa maksud mencari siapa yang salah dan siapa yang terkalahkan, tapi fakta bahwa HIV menjadi semakin common dalam kehidupan kita saat ini, harus mulai disadari bersama-sama.

Di Indonesia, ada 6 propinsi yang dinyatakan sebagai propinsi terkonsentrasi HIV, dimana jumlah orang terpapar HIV sudah mencapai angka lebih dari 5% dari jumlah penduduknya. Propinsi tersebut adalah, Papua, DKI Jakarta, Riau, Bali, Jawa Timur dan Jawa Barat. Yang berada di luar propinsi itu, tidak disarankan untuk langsung berdiri dan bersorak, karena - sekali lagi - fenomena gunung es masih berlaku dalam kasus HIV ini. Sementara teman-teman yang tinggal di enam propinsi tersebut, disarankan untuk segera mengetahui status HIV-nya. Positif ataukah negatif. Read the rest of this entry »
take me out from indonesia
November 30th, 2009
Hari Sabtu lalu dengan amat terpaksa saya menonton Take Me Out Indonesia. Setelah sehari sebelumnya berhasil memaksa Frey, Tasa & Wiwit untuk mengganti channel pada saat finale-nya, hari Sabtu tidak bisa dilakukan penggantian channel, karena yang menonton adalah mertua. Hiks… Kalah awu kalau kata orang Jawa.

Hari Sabtu lalu saya tertarik dengan seorang laki-laki berbadan besar bernama Hutri. Dia dengan jujur bilang, kalau dia sering kali ditolak oleh calon mertua dengan alasan ukuran tubuh yang besar, atau madesu alias masa depan suram, entah untuk bagian mana dari hidupnya. Awalnya masih banyak lampu yang menyala, pertanda bahwa masih ada yang tertarik, setidaknya untuk mendengar penjelasan tentang siapakah mas Hutri ini. Tapi setelah dia menyanyi, dimana hampir semua peserta ikut turun untuk berjoget, lalu Hutri menjelaskan - sekali lagi - dengan jujur tentang siapa dirinya, di kesempatan kedua, semua lampu langsung padam. No one was interested in this humble, honest, big-hearted-person. Read the rest of this entry »
2012
November 18th, 2009
Latah ya? Ikut-ikut ngomongin 2012? Iya… sedikit. Habis saya sudah lama sekali tidak up date majalah saya ini soalnya. Jadi saya harus menulis. Nanti kalau tidak, alter ego saya akan menuduh saya inkonsisten. Karena kalau ibarat majalah beneran, saya mungkin sudah 2 atau 3 edisi mangkir terbit. Untungnya teman-teman yang membaca ini tidak harus membayar. Kalau harus membayar, saya pasti sudah didemo, lalu dilempari telur, lalu dibuat fatwa. Larangan Membuka Web Dian Purnomo Dot Com. Fiuh…
Lalu kejadiannya akan ramai, dan justru orang ramai-ramai buka dian purnomo dot com. Wah, senangnya kalau kejadian yang terjadi benar-benar seperti itu. Dan karena pemikiran ngawur dan sungguh imajinatif ini, saya jadi berpikir bahwa ide untuk melarang nonton 2012 itu justru diam-diam dihembuskan oleh pengusaha bioskop Indonesia. Iya, dibuat issue film ini dilarang oleh sebuah lembaga tertentu yang mengatasnamakan agama, lalu orang malah semakin penasaran, antrian bioskop semakin panjang, dan bioskop jadi untung. Mmmm… seandainya sesederhana itu. Read the rest of this entry »
anti social urge
October 30th, 2009
Karena berniat untuk menjadi orang yang sehat supaya tubuhnya bisa diajak mewujudkan mimpi-mimpi, beberapa minggu terakhir ini, selain bangun super pagi, saya juga tidak lagi pergi ke laundry. Hahaha… ini sih alasan karena mau ngirit aja. Saya mencuci baju sendiri, lalu menghidupkan musik dengan volume standard yang bisa saya nikmati tapi tidak mengganggu orang lain, joget-joget sebagai ganti jogging pagi hari, tinju-tinju sana-sini untuk melepaskan emosi, duduk sebentar, membuat susu, menghabiskannya, lalu ngantuk lagi. Jam 8 pagi saya sudah mulai berjalan kaki menyusuri Lempuyangan sampai ke kantor saya di dekat Kridosono. Jangan bayangkan jarah yang jauh ya. Tidak lebih dari 10 menit saya berjalan kaki ke sana sambil ngobrol dengan teman seperjalanan saya, mbak Rini. Tapi sepanjang 10 menit itu, selalu ada hal baru yang saya dapatkan.
Hari ini saya beruntung berpapasan dengan ratusan murid SMA 11 bersama guru-guru mereka, yang beramai-ramai bersepeda. Diantaranya bahkan ada yang memakai becak. Bukan becak dengan mereka sebagai penumpang lho. Tapi becak yang mereka genjot sendiri, dengan teman-teman sebagai penumpangnya, dan saya yakin di titik tertentu mereka akan berhenti dan minta gantian genjot dengan yang lain. Fiuh… masa SMA memang luar biasa indah. Halah! Bukan itu intinya. Di barisan paling belakang dari ratusan murid SMA 11 Jogja itu, saya baru mendapatkan penjelasan dari rombongan sepeda tersebut. Yak, sebuah mobil dengan spanduk di belakangnya bertuliskan SAVE OUR EARTH. Owhhh… mengagumkan. Sebuah kampanye yang indah.
Di hari lain, saya mendapatkan mulut saya harus bungkam dulu karena sebuah motor melintas dengan knalpot racing yang suaranya memekakkan gendang telinga saya. Aduuuhhh… Kamu ada masalah ya nak? Ingin rasanya saya menanyakan itu. Apa sih, yang ada di pikirannya ketika memasang knalpot racing tapi memakai motornya tidak untuk racing. Tadinya saya hanya mengklasifikasikan tindakan-tindakan tersebut sebagai tindakan gaya-gayaan, tapi berikutnya, ketika teman-teman macam pemilik knalpot racing itu mulai mengganggu kehidupan orang lain, mereka mulai masuk kategori egois. Yet, anti social. Dan saya mengenal orang-orang anti social itu dimana-mana dalam bentuk: Read the rest of this entry »














