Ambar Margi; p. Bukan yang Mati yang Perlu Ditakuti

Uang yang kudapatkan dari Leo cukup untuk membuatku bisa membayar cicilan motor, memeriksakan bapak ke rumah sakit karena batuknya kembali menjadi dan membeli sabun, odol, gula, susu dan berat. Aku dan Yudi tenang. Tapi setiap malam kami berdua bermandi peluh. Aku terbangun dengan keringat membasahi seluruh tubuh karena “didatangi” mumi....

Read More →

Ambar Margi; o. Mumi

Waktu rasanya begitu panjang tetapi aku tidak benar-benar merasa ada di dalamnya. Yang kuingat hanya kami sampai di sebuah motel di pinggiran kota. Seseorang menghampiri kami lalu menanyakan mau berapa lama kami menginap. Aku tidak memahami sepenuhnya pembicaraan lek Minto dan orang itu. Setelah terjadi kesepakatan, orang itu menunjukkan arah,...

Read More →

Ambar Margi; n. Ujian Pertama

Hari itu matahari bersinar ragu-ragu di kota kecil kami. Aku adalah seorang istri salihah di antara para lelaki di dalam keluarga besar kami. Hari itu aku memakai celana panjang warna hijau tentara, kemeja hitam berhias bunga merah di dada, kerudung merah dengan manik-manik keperakan menempel di kepalaku. Bukan jilbab. Helaian...

Read More →

Ambar Margi; m. Aku atau Kamu?

Setelah hari-hari berat pulang balik rumah – rumah sakit yang kujalani, akhirnya ada juga cerita gembira yang bisa kubagi. Bapak pulang dari rumah sakit. Kondisinya sudah jauh lebih baik. Operasinya berjalan lancar. Air yang dikeluarkan dari paru-parunya dua botol minuman ukuran sedang. Aku tidak habis pikir dari mana asal air...

Read More →

Ambar Margi; l. Sang Pahlawan

Wangi sabun pel lantai. Langkah kaki perawat. Seno tidur sambil duduk tepat di depanku. Pelan-pelan semua inderaku terbangun. Beberapa penghuni kamar yang lain dan keluarganya juga sudah mulai bergerak. Bapak masih tidur. Bahagia melihatnya tidur, karena kalau terbangun yang kudengar hanya batuknya. Aku segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci...

Read More →

Ambar Margi; k. Leo

Dengan semua selipan-selipan yang diberikan pada kami, hanya bapak yang tampak tidak terlalu senang. Dia tidak marah, tidak juga menolak, tapi aku melihat raut yang berbeda padanya. Entahlah, mungkin nalurinya sebagai pencarai nafkah di rumah yang tersenggol. Aku tidak tahu. Belakangan ini Bapak memang jauh berbeda. Bukan hanya karena kehadiran...

Read More →

Ambar Margi; j. Malaikat itu Bernama Seno

Sayangnya, senyum di wajahku tidak berumur lama. Dengan serta merta, hanya dalam hitungan bulan, kami sudah mulai berjumpa dengan masalah baru. Musim hujan ketika itu. Jalanan desa menjadi kubangan yang membentang menghubungkan satu rumah dengan yang lainnya. Satu tikungan ke tikungan berikutnya, sawah yang lebih mirip genangan air sejauh mata...

Read More →

Ambar Margi; i. Witing Tresno Jalaran Soko Kulino

Sembilan bulan kujalani masa kehamilanku dengan kulit leher, perut dan tetek menghitam. Menurut orang-orang di sekitarku, memang seperti itu kalau perempuan sedang hamil. Tetapi untukku ini semua tampak aneh dan aku ingin segera melahirkan anakku. Bukan saja karena aku ingin ruam-ruam hitam di beberapa bagian tubuhku hilang, tapi juga karena...

Read More →

Ambar Margi; h. Sandal Jepit

Yudi, nama suamiku. Dia adalah orang pertama yang berada sedekat ini denganku. Sebelumnya aku tidak pernah merasakan pelukan dari orang yang kusayangi. Aku tidak pernah memiliki pacar, seperti teman-temanku yang kutahu sejak kelas 5 SD sudah berdekatan dengan teman lelaki lain. Aku lebih suka menghabiskan waktu untuk lompat karet dan...

Read More →

Ambar Margi; g. Kawin Muda

Hari itu akhirnya datang juga. Hari dimana akhirnya aku menyerah karena sudah satu tahun berlalu sejak bujukanku pada simbah. Dua laki-laki yang disodorkan pertama padaku, kutolak mentah-mentah. Bangkotan! Sama sekali tidak menarik. Untung mereka tidak langsung datang bersama keluarga dan membawa mahar yang menyilaukan perut keluargaku, jadi aku masih bisa...

Read More →